
"Diy, aku sudah tiba di rumah" Pesan dari Yuli.
"Oke, sampaikan sala ku kepada kedua orang tua mu ya" Balas Diya.
"Oke" Jawab Yuli.
"Buk, pak, Diya titip salam" Ujar Yuli.
"Waalaikumsalam" Jawab kedua nya.
Suasana di rumah Yuli saat ini ramai di kunjungi oleh saudara-saudaranya dan juga para tetangga untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan di rumah itu.
Para tetangga yang datang mengambil pekerjaan mereka masing-masing ada yang memilih beras, memasang bangsal hidang, mengupas mengupas bawang atau bumbu-bumbu lainnya dan ada juga yang membuat kue-kue kering untuk acara rewang yang akan diadakan dua hari sebelum hari H.
Suasana di rumahnya Yuli itu meriah dan heboh sini sana karena banyak yang orangnya ngumpul di rumah itu para anak-anak kecil pun ikut berlarian bermain kejar-kejaran dengan teman-teman mereka yang ada di sana.
"Yul, Zaki, makan dulu nak" Tawar buk Rahayu kepada anak dan juga calon menantu nya.
"Hari juga sudah lewat makan siang ini. Kalian pasti lapar" Tambah nya lagi.
"Iya buk" Jawan Zaki dan Yuli.
Sehidang makanan pun datang yang di sajikan oleh Joko.
"Ya ampun pak, repot-repot saja. Saya bisa mengambilnya di belakang" Ujar Zaki merasa sungkan.
"Gak apa-apa nak. Lagi pun kamu juga pasti sungkan pergi ke belakang lantaran ramai orang"
"Ya sudah, silahkan di nikmati" Ujar Joko lagi.
***
Ivan tersenyum menggoda saat Diya baru saja masuk ke kamar nya. Ternyata laki-laki itu sudah menunggu kedatangan nya sejak tadi.
"Van, kenapa kamu memandang ku seperti itu" Ujar Diya merasa ada yang aneh.
"Sini deh"
Diya mendekati suami nya.
"Diy, aku pengen" Ujar Ivan spontan.
Diya ingin menjawab bisakah dirinya itu membersihkan dirinya terlebih dahulu atau bahkan hanya sekedar menggosok gigi.
Namun apalah daya kalimat itu tidak lulus keluar dari mulut mungil wanita yang sudah berstatus sebagai seorang istri itu karena mulut nya telah ditutupi dengan mulut sang suami dengan gerakan-gerakan yang sen sual dan menggoda sehingga membuat Diya terbuai dengan sentuhan-sentuhan itu.
Apa. lagi tubuh gadis itu telah dikuasai secara sempurna oleh sang suami di mana tangan kanannya menekan pinggang sang istri dan tangan kirinya menarik tengkuk sang istri agar sensasi pemanasan itu semakin hangat dan semakin dalam.
Ci*man mereka semakin dalam tak kalah rongga m*lut kedua nya saling terbuka dan l*dah kedua nya telah masuk ke dalam rongga m*lut pasangan nya masing-masing di mana di sana lah tempat ring mereka untuk bergelut l*dah.
Dengan gerakan spontan tangan Diya melingkar ke lehernya Ivan dan mengikuti permainan demi permainan sang suami dengan sangat perlahan.
Mereka menikmati permainan m*lut dan juga p*rgelutan l*dah dengan dibumbui oleh keringat yang membasahi tubuh keduanya.
Cukup lama p*rgelutan antara m*lut dan l*dah itu mereka lakukan hingga akhirnya perbuatan itu terlepas dan beralih untuk menelusuri setiap jengkal demi jengkal l*her nan jenjang yang dimiliki sang istri.
Sapuan m*lut sang suami terlalu indah hingga menciptakan sensasi yang berbeda yang Diya rasakan saat ini. Bahkan l*dah sang suami tidak sungkan untuk menjilati setiap jengkal demi jengkal kulit yang menempel di lehernya sang istri menyapu dengan bersih hingga membuat sang istri terbuai dan membuat detak jantungnya tidak mau berhenti saat itu juga.
Apa lagi saat itu Salah satu tangan sang suami menekan salah satu da.....da indah milik sang istri membuat santri semakin terbuai perasaan.
Terlalu indah hingga menciptakan getaran-getaran energi setrum yang kini menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"aakh... "
__ADS_1
Satu d*shan berhasil lolos keluar dari mulut Diya saat l*dah sang suami berhenti di salah satu permen berwarna merah mudah yang terletak di puncak gunung kembar nya membuat sang pemilik gunung mengg*linjang dan bagian itu sama sekali tidak menolak untuk di sentuh melain kan memberi respon yang positif dengan semakin memeluk kepala sang suami dan meremas lembut rambut sang lelaki.
Membuat Ivan semakin bersemangat untuk memainkan dua buah permen yang terdapat di kedua belah gunung kembar yang tegak menantang. Permainan itu menciptakan bunyi se.... Sapan lidah yang bergemuruh di dalam kamar milik mereka itu sebagai saksi bisu percintaan mereka di malam yang dingin ini.
"Ivan.... "
Suara lemah dan menggoda berhasil lolos keluar dari mulut sang istri karena semakin lemah dan semakin pasrah atas permainan demi permainan di mainkan oleh sang suami.
Mendengar itu Ivan mengulum senyumannya karena merasa senang melihat sang istri semakin ke basahan dengan permainan yang ia tunjukkan pada malam ini.
Ivan terus bergerak menyisapi satu persatu permen berwarna merah muda yang ada di puncak gunung kembar milik sang istri secara bergantian yang terlihat mengeras dan terus menantang untuk dimainkan.
Sensasi demi sensasi tercipta semakin panas tak kalah jika tangan akan Ivan mulai bergerak turun menelusuri setiap jengkal kulit hingga menuju ke bawah lubang penyimpanan di bawah sana. Dimana terdapat lembah kenikmatan yang membuat para lelaki manapun akan kehilangan arah dan tidak bisa berpikir jernih saat membayangkan itu.
Ivan tida terlalu sulit untuk membuka kain penutup milik sang istri karena di malam ini Diya hanya memakai rok selutut yang menghiasi kaki jenjang nya. Ia hanya perlu menyingkap sedikit saja kain penutup yang menempel di bagian bawah sana dan mulai dengan jari nya yang nakal bergerak menyelusuri setiap celah-celah yang ada.
Ivan mengamati ekspresi wajah Diya tak kalah satu hari berhasil masuk ke dalam gawang nya. Membuat Diya semakin memejamkan mata dan melukiskan satu gigitan manis di bibir bawah nya membuat sang suami semakin meng....ga...irah....kan.
Laki-laki itu terus berpacu di bawah sana dengan jari nya bergerak maju mundur yang akan membuat satu cairan magma panas akan meledak di bawah sana.
"Aaakh.... Ivan"
Lagi-lagi satu de..sahan berhasil lolos dari mulut nya. Suara lembut dan meng...gai...rahkan membuat tongkat penopang milik sang suami berhasil berdiri dengan tegak dan kokohnya.
Diya ingin meraih tangan sang suami dan mengatakan bahwa berhenti lah seperti ini namun hati nya berkata teruslah bermain seperti ini karena kenikmatan yang sangat nyata bagi nya telah ia kembali rasakan. Hati dan pikiran nya saat ini sangat bertolak belakang dengan sentuhan demi sentuhan yang membuaikan diri nya saat ini.
"Ivan... mau keluar" Ujar Diya dengan manja nya.
Namun, ucapan sang istri semakin membuat sang suami bersemangat bergerak lincah di bawah sana.
"Keluarkan saja sayang, aku menanti nya" Ujar Ivan terus berpacu dengan jarinya.
Ivan menarik jari nya. Jika Diya berpikir Ivan telah selesai bermain ternyata wanita itu salah besar. Kini ia kembali membuka ka....ki sang istri yang sedang terbaring tak berdaya di sana untuk menyelusuri celah demi celah yang terdapat di ruang penyimpanan itu dengan li...dah nya.
Diya meraih dan menekan kepala Ivan agar bermain lebih dalam lagi di sana. Ini kali pertama ia merasakan sensasi lain dari sang suami kepada nya. Ia semakin menggila dengan permainan itu.. Membuatnya semakin terus dan terus berada di dalam permainan ini.
Ivan bermain di benda kecil itu dengan sempurna hingga l*dah nya mulai menekan ke dalam hingga membuat Diya membuka mulut dan mata nya karena kaget dengan rasa yang begitu sulit untuk di ungkapkan.
"Aakh.... " Lagi-lagi ******* itu keluar.
Ivan semakin bersemangat menantikan pelepasan lava yang akan membuat pengemasan bagi dirinya nanti. Ketika istrinya sudah mencapai puncaknya.
Dan ternyata benar saja tidak lama setelah itu satu cairan panas keluar dari di ruang penyimpanan di bawah sana menghasilkan sebuah pengemasan yang akan membuat Ivan dengan mudah untuk menelusuri daerah itu dengan tiang penopang miliknya.
Ivan kembali menyambar bibir sang istri untuk beberapa waktu. Sampai akhirnya tiap penopang itu berhasil menambus gawangnya di bawah sana.
keringat dingin mengalir di tubuh keduanya hawa panas pun tercium di tubuh masing-masing menikmati permainan malam yang panas ini.
Ivan bergerak sesuai dengan irama nada cinta yang gemercik sebagai musik pengiring di ruangan itu.
Kembali Ivan menyelusuri l*her jenjang milik sang istri.
Semakin laju-laju dan laju memacu hingga pada akhirnya.
"Aakh.... " Kedua nya saling memuntahkan lava panas milik masing-masing.
Napas kedua nya terhengah-hengah mengakhiri permainan malam yang panas ini.
Diya tersenyum senang mendapat sensasi baru dari sang suami yang membuatnya semakin ketagihan dan ingin merasakan sensasi itu lagi. Bahkan ia ingin mencoba sensasi-sensasi baru yang mungkin akan membuatnya semakin ketagihan.
"Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu? Sensasinya berbeda dari yang kemarin" Ujar Diya berbaring di samping sang suami.
"Dari film-film yang ku tonton. Aku hanya ingin mencoba nya bersama mu. Dan ternyata kamu suka" Jawab Ivan membelai lembut rambut sang istri.
__ADS_1
"Kamu memang pintar membuat ku basah seperti ini" Ujar Diya memuji.
"Ivan tersenyum senang memeluk tubuh mungil sang istri tak lupa ucapan hangat mendarat di puncak kepala sang istri.
***
"Yuli, bangun nak sudah pukul eman pagi. Ayo siap-siap, hari ini kamu dan Zaki ada jadwal penataran di kantor KUA" Ujar Rahayu membangunkan putrinya yang masih terlelap tidur di kasur empuknya.
"Ibu, baru juga jam 06.00 Bu penatarannya kan pukul 08.00 pagi aku masih ngantuk bu" Seru Yuli dengan suara serak karena baru bangun tidur. Nyawa nya belum sepenuhnya berkumpul di dalam tubuhnya ia masih setengah sadar saat itu.
"Iya, tahu tapi kamu harus ingat Zaki ada di kampung kita. Kamu harus bangun pagi-pagi dong untuk menyiapkan sarapan calon suami kamu. Nggak mungkin kan dia kelaparan menunggu kamu mengantarkan sarapan di sana. Sebagai calon istri kamu harus belajar dari sekarang untuk melayani suami kamu dan bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan suami kamu serta anak kamu nantinya" Jelas Rahayu.
"Aduh buk, pasti pak cik (paman) juga sudah mempersiapkan sarapan untuk Zaki di sana. Nggak harus menunggu aku juga kan Bu"
Memang Zaki tinggal di rumah pamannya Yuli untuk sementara waktu sampai acara pernikahan itu selesai.
"Aduh, ini bagaimana sih masa kamu nggak mau bangun pagi-pagi dan lihat keadaan Zaki di sana kamu kan calon istrinya"
"Iya buk, untuk saat ini izinkan aku untuk tidur sebelum aku menjadi istrinya Zaki nanti ketika aku sudah menjadi istrinya. Aku akan bangun pagi-pagi menyiapkannya sarapan dan melayaninya, menyiapkannya baju untuk ke kantor. Jadi aku nggak bisa tidur pulas bu. Oleh karena itu alangkah baiknya aku menikmati masa-masa terakhir aku lajang ini bu"
"Aduh, Gimana sih ini anak gadis lagi mau menikah malah semakin malas seperti ini bisa-bisa nanti calon suami kamu kabur. Mau suaminya kabur dari perawan tua tuh kamu" Ujar Rahayu terdengar mengancam.
"Eh ibu, Kok ngomongnya gitu sih bu? Masa doain aku jadi perawan tua. Ibu nggak sayang ya sama aku? Masa doain anaknya yang nggak-nggak sih seperti itu" Ujar Yuli bangkit dari tidur nya dan menggosok-gosok matanya yang masih terasa berat.
"Ibu nggak mau mendoakan kamu yang bukan bukan. Ibu hanya menasehati kamu agar kamu itu terbiasa bangun pagi untuk melayani suami kamu nantinya"
"Iya, iya deh buk. Aku bangun, aku mandi dulu baru nanti ke rumah pak cik (paman) untuk mengantarkan sarapan untuk Zaki ya" Ujar Yuli mengalah.
"Gitu dong, masa gitu aja repot. Oh ya mulai hari ini kamu pakai baju kurung ya atau gamis gitu pokok nya yang sopan jangan baju harian seperti biasa nya" Ujar Rahayu lagi.
"Aduh ngapain sih pakai baju seperti itu ribet tau buat aku jadi gerah. Pakai baju biasa aja kan nggak masalah bu. Yang penting sopan" Ujar Yuli masih ngeyel.
"Yuli anakku sayang di mana-mana orang yang mau menikah itu dan mau menjadi pengantin baru itu pakaiannya itu ya harus baju kurung atau baju gamis sebelum hari H hingga seminggu setelah hari H agar terlihat sopan. Itu kan sudah menjadi adat istiadat kita Dan kamu harus melestarikan adat kita itu. Kamu lihat deh di kampung kita ini adat itu masih terlaksana. Jika kamu tidak melakukannya kamu malah akan menjadi bahan omongan orang nantinya jangan kebiasaan kota kamu bawa ke sini" Ujar Rahayu.
"Iya buk, iya Aku akan mendengar nasehat dari ibuku tersayang. Ya sudah ya bu aku mau mandi dulu dan aku mau melihat keadaan calon suamiku di sana. Apakah dia sudah sarapan atau belum" Ujar Yuli berlalu dari hadapan ibunya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
"Zaki" Tegur Yuli saat melihat calon suaminya duduk di teras rumah pak cik (paman)
"Eh Yuli"
"Kamu sudah sarapan? Ini aku bawakan sarapan untuk kamu nasi goreng buatan ibu. Semoga kamu suka ya"
"Wah, Terima kasih banyak Yuli belum apa-apa kamu sudah perhatian banget sama aku seperti ini. Beruntung banget ya aku mempunyai calon istri yang perhatian seperti kamu" Puji Zaki kepada calon istrinya.
Yuli tersenyum senang mendapat pujian dari sang calon suami.
"Wah pulang dari sini aku harus berterima kasih sama ibu. Karena ibu telah membangunkan aku pagi-pagi dan menyuruhku untuk mengantar sarapan buat Zaki. Sehingga Zaki memujiku seperti ini" Batin Yuli senang karena dipuji oleh Zaki. Di hatinya kini telah bermekaran bunga-bunga Indah akibat ujian dari sang calon suami.
"Eh, ada Yuli" Ujar mak cik (bibi) ya Yuli yang tiba-tiba nongol dari arah dapur.
"Ini teh untuk calon suami mu" Ujar nya lagi memberikan secangkir teh hangat untuk Zaki.
"Terima kasih ya mak cik" Jawan Zaki.
"Oh ya, ayo sarapan bersama. Mak cik sudah masakan nasi goreng untuk kita"
"Iya mak cik, ini Yuli juga bawakan aku nasi goreng buatan ibu nya.. Kita makan sama-sama di dalam" Ujar Zaki.
"Ayo, ayo" Ajak mak. cik. Yuli lagi.
Mereka pun masuk ke dalam rumah yang sederhana itu untuk sarapan bersama.
__ADS_1