Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Rumah mertua


__ADS_3

"Assalamualaikum" Ucap salam kedua orang tua Yuli.


"Waalaikumsalam" Jawab Mirna.


"Eh, buk Rahayu dan pak Joko sudah sampai? Silah kan masuk" Ujar Mirna lagi mempersilahkan kedua orang tua Yuli masuk.


"Terima kasih" Ujar kedua nya.


"Silahkan duduk"


"Terima kasih"


"Diya, Diy, ini buk Rahayu dan pak Joko sudah tiba" Teriak Mirna.


Diya keluar dari kamar nya


"Sudah sampai buk, pak" Ujar Diya mencium punggung tangan kedua orang tua nya Yuli.


"Ya nak baru saja tiba" Jawab Rahayu.


"Bagaimana keadaan nya buk? pak? Sehat?"


"Alhamdulillah nak seperti yang kamu lihat. Ibu dan bapak sehat-sehat saja" Jawab Joko.


Diya tersenyum mendengarnya.


"Oh ya, maaf ya nak kami tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu dan suami mu kemaren. Soal nya bapak sedang demam waktu itu" Jelas Joko.


"Iya gak apa-apa kok pak, buk saya ngerti kok. Yuli sudah menceritakan semua nya" Ujar Diya.


"Sebentar saya buatin minuman nya dulu" Ujar Diya berlalu dari hadapan mereka.


"Wah Mirna, besar juga ya rumah menantu kamu" Ujar Rahayu memperhatikan setiap sudut ruangan rumah itu.


"Iya buk, alhamdulillah. Ivan memang sudah mempunyai rumah sendiri sewaktu masih bujangan dulu. Jadi setelah ia menikah dengan Diya, mereka sudah mempunyai rumah ini" Jelas Mirna.


Joko dan Rahayu mengangguk mengerti.


"Mana menantumu Mir, Apa masih belum pulang kerja?" Tanya Rahayu.


"Iya belum pulang kerja paling sebentar lagi juga dia pasti pulang biasanya sih jam 05.00 gitu pulangnya" Ujar Mirna.


"Yuli juga Sebentar lagi pasti akan pulang" Tambah nya lagi.


"Ini bu, pak minumannya sekalian ini cemilannya silakan dicicipi" Ujar Diya menyajikan minuman yang ia buat tadi serta cemilan nya.


"Terima kasih ya Diy" Ujar kedua orang tua Yuli.


Diya duduk di samping ibu nya.


"Alhamdulillah ya Diy, kamu sudah tinggal di rumah sendiri" Ujar Rahayu.


"Iya buk, alhamdulillah"


"Assalamualaikum" Ujar Yuli masuk ke rumah.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka serentak.


"Eh, ibu dan bapak sudah datang?" Ujar Yuli mencium punggung kedua orang tua nya.


"Iya nak, belum lama juga tiba nya" Jawab Joko.


"Bagaimana perjalanan kalian? Lancar?"


"Gak begitu lancar-lancar amat sih Yul, ibu mu mabuk. Kebanyakan berhenti perjalanan nya" Ujar Joko.


"Iya Yul, sebab itu lah ibu gak mau kemana? Apa lagi menggunakan mobil. Lebih baik kemana-mana menggunakan motor dari pada mobil Yul" Ujar Rahayu.


"Demi kamu aja ni ibu bela-belain ke sini" Tambah nya lagi.


"Jadi kapan Zaki nya ke sini bersama keluarga nya?" Tanya Joko memastikan.


"Besok pak" Jawab Yuli.


"Bapak sama ibu sudah sepakat bahwa saat acara pernikahan kamu akan di adakan di kampung kita saja. Agar para saudara kita bisa hadir semua"


"Iya lebih baik di kampung saja. Jika kita buat acara nya di sini, pasti saudara-saudara kita tidak bisa datang. Selain dengan perjalanan nya yang jauh, juga masalah biaya. Pasti mereka akan merasa keberatan nanti nya" Tambah Rahayu lagi.


"Iya Yul, benar apa yang di katakan oleh bapak dan ibu mu. Alangkah baik nya acara pernikahan kamu di kampung saja. Kamu lihat acara pernikahan ku kemaren hanya sebagian saudara ku saja yang datang." Ujar Diya.


"Iya buk, pak. Aku setuju dengan acara itu kita laksanakan di kampung halaman saja"


"Assalamualaikum" Ujar Ivan tiba di rumah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" Diya menyambut kepulangan suami nya dengan tersenyum dan tak lupa mencium punggung tangan suami nya.


"Sayang, ini bapak sama ibu nya Yuli" Diya memperkenalkan mereka.


"Ibu, pak, ini Ivan suami saya"


"Wah, ganteng juga suami kamu Diy, pinter kamu memilih pasangan ya" Ujar Rahayu memuji.


Diya hanya tersenyum mendengar pujian dari Rahayu.


"Maaf sebelum nya, saya permisi mau ke kamar dulu ya. Soal nya mau bersih-bersih. Udah pada gerah" Ujar Ivan lagi berpamitan.


Semua yang ada di sana mengangguk mengizinkan.


"Ya sudah ibu, pak. Kalian pasti capek kan? Lebih baik kalian istirahat saja di kamar. Kalian istirahat di kamar ku ya buk, pak" Jelas Yuli.


***


"Sayang, kita sudah lama gak pergi ke rumah papa dan mama mu" Ujar Diya.


"Iya, aku juga sudah lama gak berkunjung ke rumah papa dan mama. Bagaimana besok malam kita ke sama. Yah sekalian untuk makan malam" Saran Ivan.


"Gak bisa sayang, besok malam Zaki akan ke rumah bersama keluarganya. Gak mungkin kan kita pergi saat ada tamu dan acara seperti ini di rumah kita"


"Oh, jadi besok malam Zaki datang nya"


Diya mengangguk.


"Jika begitu malam ini saja kita ke rumah mama dan papa. Bagaimana?"


"Oke malam. ini ke sana" Ivan setuju.


"Kamu sudah membawa ibu ke rumah sakit lagi tadi pagi?"


"Sudah kok. Kata dokter ibu sudah lebih baik. Yang penting makanan ibu harus di jaga" Jelas Diya.


"Bagus lah jika begitu. Itu artinya kita jadi bulan madu nya di kapal pesiar" Ujar Ivan.


"Iya, insha allah jadi. Maka nya aku mau ke rumah papa dan mama untuk memberi tahu mereka tentang rencana kita bulan madu ke kapal pesiar"


***


"Assalamualaikum" Ujar Ivan dan Diya tiba di rumah Ajeng dan Herman.


"Waalaikumsalam" Jawab Ajeng.


"Ayo kita makan bersama. Kebetulan mama dan papa lagi mau makan malam ini" Ujar Ajeng mengajak anak dan menantu nya ke ruang makan.


"Wah, kebetulan kami lapar. Aku juga sudah kangen banget dengan masakan mama" Ujar Ivan.


"Kamu sih terlalu sibuk, gak sempet-sempet mampir ke rumah" Ujar Ajeng.


"Iya ma, aku memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan yang menuntut harus di selesaikan secepatnya." Jelas Ivan.


"Van, Diy" Ujar Herman yang memang sedari tadi sudah duduk di kursi makan nya.


Diya dan Ivan mencium punggung tangan Herman.


"Ayo kita makan sama-sama" Ajak nya lagi.


Mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing.


"Oh ya, semenjak menikah, kalian belum pernah kan pergi liburan bulan madu nya" Tanya Herman.


"Lebih baik, kalian pergi honeymoon masa-masa liburan berdua saat sudah menikah. Jangan terlalu sibuk kamu bekerja Van. Sesekali pergilah untuk liburan hitung-hitung sebagai refreshing pikiran kita yang sudah mumet dengan pekerjaan pekerjaan di kantor" Saran dari Herman.


"Nah kebetulan Papa bilang tentang honeymoon, kami memang sudah mempunyai rencana untuk pergi honeymoon minggu depan. Tapi kali ini kami hanya di kapal pesiar ingin menikmati pemandangan di tengah laut yang lepas menikmati Sunset dan taburan bintang di tengah malam di atas langit" Ujar Ivan.


"Kapal pesiar Sepertinya seru tuh kenapa dulu kita tidak kepikiran untuk bulan madu ke kapal pesiar ya Pa?" Ucap Ajeng.


"Jadi ceritanya kamu juga mau honeymoon ke kapal pesiar?" Tanya Herman.


"Jika papa setuju sih pa" Ajeng nyengir.


"Assalamualaikum" Ujar Virda.


Deg...


Jantung Ivan dan Diya berdegup cepat. Melihat sosok gadis indobel itu muncul di hadapan mereka.


"Waalaikumsalam" Jawab Ajeng.


"Eh Virda. Ayo duduk kita makan bersama" Ujar Ajeng.

__ADS_1


Virda duduk di hadapan Ivan. Menatap Ivan dengan sulit untuk di artikan. Diya memperhatikan gerak-gerik gadis indobel itu.


Sejujurnya Diya sangat tidak nyaman ketika gadis itu datang.


"Ayo silahkan di makan" Tawar Herman.


"Terima kasih om" Ujar Virda mengambil makanan yang ada di atas meja.


Virda terus saja menatap Ivan. Namun yang di tatap bersikap biasa saja. Malahan ia semakin bersikap romantis kepada istrinya.


"Sayang, tolong dong ambilin sayurnya" Ujar Ivan kepada Diya.


"Terima kasih ya sayang" Ujar Ivan saat Diya sudah menyendok kan sayuran di dalam piring nya Ivan.


"Sayang, coba deh kamu rasain sayurnya. Ini enak banget lo. Masakan mama emang enak" Ujar Ivan menyodorkan sesendok sayuran di mulut istrinya.


"Iya enak" Jawab Diya mengunyah sayuran itu di mulut nya.


"Kurang ajar kalian berdua, berani-beraninya bersikap romantis di hadapan ku"


"Van, tolong dong ambilin ayam goreng nya" Ujar Virda bersikap manja.


"Ambil saja sendiri. Kamu mempunyai tangan kan?" Ujar Ivan.


Ajeng dan Herman sedikit heran melihat peringai Ivan anak semata wayang nya. Biasanya anak itu selalu memanjakan Virda selayak adik nya. Kini semua nya berubah. Mungkin karena Ivan sudah menikah dan menjaga perasaan istinya. Pikir kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu.


"Kurang ajar kamu Van. Kamu sudah membuat aku di permalukan di depan Diya. Kamu benar-benar tidak takut apa yang akan aku lakukan? Kamu menguji kesabaran ku" Batin Virda menatap Ivan dengan penuh kemarahan.


Ivan melihat Virda yang menatapnya dengan penuh ancaman seperti itu. Semakin Ivan membuat Virda panas dengan membelai rambut istrinya.


"Berani-berani nya kamu membuat aku panas seperti ini Van. Kamu mau menunjukkan keromantisan kamu bersama istri kampungan kamu ini? Sepertinya kamu tidak takut dengan ancaman-ancaman yang aku berikan" Batin Virda lagi.


"Kamu harus bisa menerima bahwa aku sudah memiliki istri dan aku sangat mencintai istri ku. Aku harap dengan sikap ku seperti ini, kamu bisa sadar bahwa kamu tidak akan bisa memisahkan kami" Ucap Ivan dalam hati nya.


***


"Van" Tegur Virda saat menemui Ivan di tepi kolam yang berada di halaman belakang rumah nya.


Ivan menoleh dengan sikap santai nya.


"Kamu sengaja ya membuat aku panas seperti tadi? Kamu sengaja memancing emosiku dan menguji kesabaran ku?" Ucap Virda dengan penuh emosi.


"Kenapa? Apa yang salah jika aku bersikap romantis kepada istriku meskipun di depan kalian Diya sah milikku dan hanya milikku. Jadi tidak ada satupun yang berhak mengarang aku dan Diya untuk berperilaku romantis seperti tadi. Termasuk kamu" Ujar Ivan menunjuk di wajah nya Virda.


"Jangan kamu menunjuk ku seperti itu. Kamu tidak pantas memperlakukan aku seperti ini. Apa kamu lupa bahwa aku sudah mengandung anakmu? Jadi kamu nggak boleh semena-mena terhadap aku" Ujar Virda dengan penuh ancaman.


"Kapan kamu akan menikahi ku? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Ucap Virda meminta kejelasan.


"Perut ku semakin hari akan semakin membesar. Benih yang kamu tanam akan semakin kelihatan nanti nya"


"Kamu masih meminta aku untuk mempertanggungjawabkan atas apa yang terjadi kepada kamu? Aku minta maaf Virda. Aku belum bisa menikah sama kamu karena aku masih mempunyai waktu untuk bersama Diya. Bukankah kamu sendiri yang memberikan aku waktu selama 3 bulan untuk menikmati masa-masa ku bersama Diya? Jadi kamu jangan menuntut ku untuk menikah sama kamu secepat ini" Ujar Ivan.


"Iya, aku memang meminta mu waktu. Tapi setidak nya pikirkan anak yang ada di dalam perut ku. Setidak nya kamu harus menikahi ku secara siri. Setelah kamu berpisah dengan Diya, aku akan memberitahu tentang apa yang terjadi pada ku karena ulah kamu" Ujar Virda terdengar mengancam.


"Kamu masih ingat kan Van bukti kuat ada bersamaku" Ancam Virda lagi.


"Oke, gini saja aku akan menikah denganmu. Tapi aku mau kita melakukan tes DNA ulang di rumah sakit yang berbeda juga dan aku yang akan menentukan di mana rumah sakit itu"


Deg...


mata Virda membulat mendengar bahwa Ivan ingin melakukan tes DNA ulang.


"Apa kamu sudah gila Van? Itu artinya kamu akan membuat resiko aku dan janin ini kehilangan nyawanya. Bukankah kemarin kita sudah melakukan tes DNA dan itu sudah cukup bukti untuk menunjukkan bahwa benar anak yang di dalam kandungan ini adalah anakmu" Ujar Virda menolak.


"Gawat, jika Ivan meminta ku untuk melakukan tes DNA lagi, semua nya pasti akan ketahuan jika aku telah berbohong selama ini" Batin Virda mulai gelisah.


"Lagian, aku tidak tahu lagi di mana rumah sakit yang akan di tentukan Ivan. Bagaimana aku bisa bekerja sama dengan pihak rumah sakit seperti kemaren" Tambah nya lagi.


"Kenapa? Kenapa kamu bengong? Kamu takut?" Tebak Ivan.


Virda hanya tertunduk diam. Pikiran nya tengah berselabut saat ini. Ia bingung harus bagaimana. Jika dia setuju, ia takut akan ketahuan selama ink ia telah berbohong. Namun jika ia menolak nya Ivan pasti semakin curiga kepadanya.


Sedangkan saat ini bukti yang Virda miliki berupa hasil tes DNA kemaren saja tetap tidak membuat Ivan tidak percaya.


"Harus bagaimana lagi aku bertindak? Mana si tua bangka itu sedang mencari ku di sini" Batin Virda semakin gelisah.


"Kenapa diam? Apa kamu takut? Aku belum bisa percaya sepenuh nya jika aku belum melakukan hasil tes DNA ulang" Ucap Ivan.


"Tega kamu Van. Kamu tidak mengakui anak mu sendiri. Jika kamu seperti ini, kenapa kamu menghalangiku untuk menggugurkan anak ini? Harusnya kamu biarkan saja aku waktu itu untuk melenyapkan anak ini dari rahimku. Toh kamu juga tidak mengakuinya kan sebagai anak kamu"


"Waktu itu pikiranku masih kabut.. Dan aku tidak bisa berpikir jernih waktu itu karena aku belum menikah dengan Diya secara sah oleh hukum. Jadi ya aku bermaksud hanya ingin menyelamatkan kamu dan anak yang ada dalam kandungan kamu itu saja" Jelas Ivan.


"Tapi sekarang pikiranku sudah jernih dan pikiranku sekarang juga sudah terbuka. Dan tidak bisa menerima bahwa anak itu adalah anakku karena aku merasa aku tidak pernah melakukan hal itu sama kamu" Jelas Ivan lagi.

__ADS_1


__ADS_2