
"Ya sudah ayo kita pergi" Kata Ivan mengangkat beberapa kardus yang berisi barang-barang gadis impian nya itu.
"Yuli kapan pulang nya Diy?" Tanya Ivan sambil menyusun semua barang-barang kami di bagasi mobil nya.
"Katanya sih dalam beberapa hari ke depan" Jawab ku masih dengan sibuk memberikan kardus-kardus yang tergeletak manja di luar mobil dan memberikan nya kepada Ivan untuk di susun.
"Nah, Yuli belum pulang kan, apa kamu tidak takut tinggal sendiri di rumah baru?" Celoteh Ivan mulai menakuti.
"Ni, maksudnya apa coba. Tadi dia sendiri yang meminta ku untuk tinggal di rumah nya. Sekarang malah menakuti seperti ini. Cari masalah ni orang" Batin gadis itu berkata dengan mata yang sedikit menjalin ke arah Ivan minta penjelasan apa maksud dari perkataan nya barusan.
Ivan terkekeh kecil melihat ekspresi Diya yang baginya sangat lucu. Yah nama nya juga jatuh cinta, seburuk mana pun ekspresi gadis di depan nya itu tetap lah membuat nya gemes dan makin jatuh hati. Ibarat kata pepatah (kalau sudah cinta melekat, taik kucing pun rasa coklat).
__ADS_1
"Apa nya yang lucu" Diya sedikit memajukan mulut nya sebagai protes karena Ivan terkekeh seperti itu.
"Gak Diy, kamu cantik sangat cantik dengan ekspresi seperti itu" Jawab nya kembali membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
Entah mengapa pujian atau bisa di sebut itu gombal nya Ivan selalu membuat jantung gadis itu berpacu dengan cepat. Yah semenjak kejadian Ivan menolong nya dari dua preman yang berniat buruk pada nya. Semenjak itu Diya sedikit demi sedikit ingin membuka hati nya untuk Ivan.
Dan entah mengapa juga pujian bahkan gombalan itu seperti nyanyian syair yang merdu menenangkan hati dan pikiran membuat Diya terbang melayang ke udara.
"Maaf ya Diy, bukan bermaksud ingin menakuti kamu. Aku hanya bercanda" Ivan akhirnya mengalah.
Diya kembali tersenyum mendengar permintaan maaf Ivan. Untuk apa juga marah-marah tak ada guna nya. Toh Ivan selama ini sudah banyak membatu nya. Begitu lah kira-kira pikiran Diya.
__ADS_1
"Oke, semua sudah beres. Ayo kita berangkat" Ivan beranjak menutup bagasi mobil dan berlalu masuk ke dalam mobil mewah nya yang di ikuti oleh Diya.
Dalam perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kedua muda mudi yang berlainan jenis kelamin itu.
"Van, makasih ya kamu udah banyak bantuin aku selama ini" Akhirnya kalimat itu keluar lancar dari mulut Diya memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
"Iya sama-sama. Apa yang tidak buat kamu" Jawab Ivan tersenyum menatap lekat ke wajah Diya. Dan tanpa sengaja mereka saling bertatap muka. Ke dua bola mata saling bertemu.
"Celaka enam belas, tatapan itu lagi" Pikir Diya.
Yah tatapan yang bisa di artikan bahwa Ivan benar menyukai gadis berambut sepinggang itu. Diya langsung memutuskan tatapan mata mereka. Takut tahu-tahu Ivan bisa membaca bahwa di hati nya saat ini sedang bergemuruh perasaan yang ia pun tidak mengerti perasaan apa sebenarnya.
__ADS_1