
"Cie...yang lagi kasmaran. Kalau sudah ada Ivan, ngapain kamu mikirin kak Ferdi?" Ucap Yuli.
Diya hanya tersenyum menanggapi. Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa.
"Yul, tugas mu mencuci piring ya. Kan aku sudah memasak, jadi kamu yang harus nyuci ya. Bagi tugas ya" Ucap Diya tersenyum ramah.
"Iya, iya aku tahu kok Diy tampa kamu suruh juga aku akan melakukan nya" Yakin Yuli.
"Malam cantik, lagi ngapain sih?" Ucap Ivan melalui chat WhatsApp nya. Diya tersenyum membaca chat itu yah tentu nya dengan hati yang berbunga-bunga.
"Lagi makan" Balas Diya dengan emod tersenyum..
"Cantik nya" Chat Ivan.
Yuli sedikit heran melihat sahabatnya yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila memainkan ponsel nya.
"Kamu kenapa Diy?" Tanya Yuli sibuk mengunyah makanan nya.
"Dapat chattingan dari Ivan" Jawab Diya sibuk memainkan ponsel nya.
"Widih, bahagia nya.....Udah jadian belom kalian?"
Diya menghentikan kegiatan nya memainkan ponsel nya.
"Belum" Jawab nya pelan menggelengkan kepala.
"Emang nya Ivan gak mengungkapkan perasaan nya lagi ke kamu?" Tanya Yuli penasaran.
"Enggak" Jawab Diya spontan.
"Karena itu, aku gak ada hak untuk marah dengan dia saat mau dekat dengan siapa pun. Yah termasuk malam ini Ivan lagi jalan tuh sama Virda" Ucap Diya.
Yuli yang sedang minum pun spontan menyemburkan jurusan air nya mendengar apa yang Diya katakan.
"Virda? Yang kata mu gadis indobel itu? Yang kata mu sahabat nya Ivan saat mereka masih kuliah di Australia itu? Yang kata mu gadis yang suka sama Ivan itu?" Pertanyaan itu mulus keluar dari mulut nya gadis gendut itu.
"Aduh....Yul pertanyaan kamu ini banyak banget padahal jawaban nya cuma satu kata (iya) gak perlu lah banyak-banyak bertanya seperti itu" Diya kesal.
"Aku hanya memastikan kok Diy" Yuli nyengir.
"Kamu gak cemburu?" Tanya Yuli lagi.
"Aku tidak punya hak untuk cemburu kok. Toh Ivan dan aku tidak mempunyai ikatan apa pun"
"Tapi kalian kan saling suka Diy"
"Iya, tapi kan kami tidak mempunyai kejelasan atas hubungan ini"
"Diy, tadi kalau gak salah kamu bilang si Virda itu suka sama Ivan. Jangan-jangan untuk memenangkan hati Ivan gadis itu menggunakan taktik wanita saksi untuk mendapatkan Ivan" Tuduh Yuli.
"Taktik wanita seksi? Apa itu? Batu denger deh"
"Aduh...Diya kamu ini ya masa itu aja gak tahu sih. Taktik wanita cantik itu seorang gadis yang merayu untuk memikat hati lawan nya dengan mengandalkan kecantikan nya. Jika taktik wanita seksi yang itu dengan mengandalkan keseksian tubuh nya. Merayu dengan tubuh nya gitu" Jelas Yuli berlenggok kan badannya seolah-olah menjadi wanita seksi.
"Husss...kamu jangan asal nuduh deh Yul. Gak mungkin lah si Virda seperti itu"
"Bisa saja kan Diy. Jika sudah cinta pasti menghalal kan berbagai cara toh"
"Udah lah Yul gak usah di bahas lagi"
"Lah, perlu lah di bahas. Diy, kamu itu harus lebih hati-hati. Ferdi sudah mempunyai istri dan sekarang kamu hanya punya Ivan. Jangan sampai Ivan juga di rebut toh"
"Aku percaya kok Ivan bisa menjaga hati dan mata nya untuk ku" Diya tersenyum penuh dengan keyakinan.
"Belum tentu, bisa saja dia tergoda kan"
"Yul, tidak ada sehelai daun bisa terbang di tiup angin tanpa izin dari Allah. Meski angin itu sangat kencang dan pohon nya bergoyang. Jika tidak Allah izin kan makan daun itu akan tetap berada di posisinya berdiri kokoh pada ranting yang ia tepati. Ngerti kan?" Ucap Diya.
"Iya sih....Wah, sekarang sudah menjadi puitisi ya. Kata-katanya sangat menyentuh" Yuli bertepuk tangan kagum.
"Belajar dari mana?" Tanya nya lagi.
"Enggak ada belajar dari siapa-siapa. Hanya keluar begitu saja" Ucap Diya acuh.
"Ya sudah, sekarang kamu cuci piring ya. Aku ke kamar dulu" Diya berlalu dari hadapan Yuli yang masih sibuk mengigit potongan ayam yang di masak oleh Diya.
***
Virda melihat sinis ke arah Ivan yang sedari tadi sibuk dengan ponsel nya.
"Ivan gimana sih, dari tadi sibuk dengan ponsel nya terus. Padahal malam ini malam terakhir aku di sini. Masa dia gak menghargai itu. Pasti sibuk dengan gadis kampungan itu. Lagian apa bagus nya itu cewek. Tampang pas-pasan dan gaya kampungan masa Ivan bisa jatuh hati sama dia" Batin Virda masih dengan tatapan sinis ke arah Ivan saat mereka sedang makan malam berdua di sebuah restoran.
"Tuh pakai acara senyum-senyum segala lagi. Apa gadis itu telah mengguna-gunakan Ivan ya sampai-sampai dia begitu penting di mata Ivan. Malam ini harus nya malam dimana waktu kami berdua masih juga Ivan sempat-sempatkan waktu untuk tuh cewek. Jadi sebel deh" Batin nya lagi.
"Sepertinya, aku harus menjalankan rencana ku agar bisa membuat gadis itu jauh dari Ivan. Bahkan hilang dari kota ini. Sudah cukup lama aku bersabar untuk cinta Ivan kepada ku. Dulu tidak masalah jika Ivan tidak Ivan tidak membalas cinta ku. Yah karena Ivan tidak pernah dekat dengan gadis manapun selain aku. Tapi sekarang aku tidak terima waktu Ivan telah terbagi seperti ini. Bahkan lebih banyak waktu Ivan bersama gadis itu dari pada aku. Gara-gara gadis itu, Ivan selalu menghindar dan berubah saat aku hubungi. Gak, itu gak boleh terjadi. Aku harus bertindak secepat nya. Aku harus menjalankan rencana ku agar bisa terus bersama Ivan. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi" Ucap nya lagi dalam hati penuh dengan penekanan.
"Van, kamu chatting sama siapa sih? Sibuk banget dari tadi. Tuh makanan nya juga sudah dingin" Virda berkata dengan nada sedikit kesal.
"Sama Diya" Ucap Ivan masih sibuk dengan ponsel nya.
"Diya lagi, Diya lagi. Hanya Diya, Diya, Diya, selalu Diya yang kamu pikirkan. Harus nya malam ini malam kita Van. Kamu harus nya meluangkan waktu untuk ku buka untuk gadis itu. Toh besok aku sudah harus pulang bukan. Kamu seperti tidak menghargai ku sekarang ya Van. Sejak kenal sama Diya kamu benar-benar berubah. Tidak mempunyai waktu untuk ku bahkan hanya sebentar" Virda marah mengeluarkan semua unek-unek yang ada di pikiran nya.
Ivan menarik napas dalam-dalam dah di hembusnya kuat-kuat agar kesabaran nya terjaga dengan sikap cemburu yang ada di dalam hati Virda. Jujur saja Ivan tidak suka di atu-atur oleh Virda seperti itu. Sungguh rasa risih dan sangat tidak nyaman kembali menyelimuti hati Ivan. Namun Ivan berusaha bersikap tenang agar Virda tidak tersinggung.
"Ya sudah ayo makan" Ucap Ivan meletak kan ponsel nya di atas meja dan menikmati hidangan yang telah di pesan nya tadi.
"Ayo makan! Kenapa malah bengong sih?" Ucap Ivan.
"Udah hilang seleraku mau makan karena mu. Aku udah dandan cantik-cantik begini untuk menikmati malam spesial bersama mu, kamu malah sibuk chattingan dengan gadis lain" Virda cemberut.
"Kamu seperti tidak menghargai aku yang bela-belain datang ke sini hanya untuk bertemu dengan mu" Ucap nya lagi.
"Adu Vir...." Ivan memijit kening nya yang terasa pusing dengan sikap Virda barusan.
"Kamu kenapa sih marah-marah gak jelas seperti itu? Pusing aku mendengar nya. Kita lagi makan malam lo Vir, ayo makan" Ucap Ivan dengan tenang.
"Apa kamu bilang? Marah-marah gak jelas kata kamu. Van kamu chattingan dengan gadis lain lo di acara makan malam kita. Dimana malam ini harus kita habiskan berdua saja tampa ada gangguan dari mana pun dan siapa pun" Ucap Virda emosi.
"Vir, aku gak menghargai kamu seperti apa sih Vir. Aku sudah turuti lo keinginan mu untuk makan malam bersama mu. Aku capek lo Vir sebenarnya mau istirahat tapi karena kamu meminta ku untuk makan malam bersama mu jadi aku turuti. Jika aku tidak menghargai kamu, aku tidak akan mau makan malam dan mengajak mu jalan malam ini. Lebih baik aku istirahat di rumah" Ucap Ivan dengan tenang dan penuh kedewasaan
"Tapi kan tidak harus chattingan dengan Diya juga. Ngapain juga kamu chattingan dengan gadis kampung seperti dia"
"Vir, jaga bicara mu. Jangan merendahkan Diya di hadapan ku. Aku tidak suka, Diya memang gadis kampung tapi dia tidak kampungan seperti apa yang kamu pikirkan.. Lagian kamu tidak mempunyai hak apa pun untuk melarang ku chatting dengan siapa pun termasuk Diya. Begitu dengan ku tidak berhak melarang mu untuk berhubungan dengan siapa pun.. Kita akan selamanya menjadi sahabat kamu sudah aku anggap sebagai adik angkat ku tidak lebih" Tegas Ivan.
Deggg....
__ADS_1
Hati Virda sungguh perih mendengar Ivan berkata seperti itu kepadanya. Baru kali ini Ivan berbicara dengan nada yang tinggi karena lebih membela gadis bernama Diya itu. Biasa nya Ivan bersikap lembut dan penuh perhatian kepada nya. Semenjak kehadiran gadis itu membuat Ivan menjauh dari nya. Virda semakin sakit hati dengan Diya.
Virda menggenggam kuat tangan nya menahan emosi yang membuat nya sangat di rendah kan oleh Ivan karena Diya.
"Awas kamu Diy, aku akan membalas semua ini. Aku tidak terima Ivan bersikap seperti ini. Aku akan balas semua Diy, semua gara-gara kamu" Ucap Virda dalam hati mengigit geraham nya menahan amarah.
"Ayo makan!" Perintah Ivan melanjutkan menyodorkan sesendok spaghetti ke dalam mulut nya. Virda masih melamun berpikir ingin melakukan rencana nya kepada Diya.
"Masih gak mau ni kamu makan? Atau kita pulang saja gak jadi kita jalan-jalan malam ini" Ucap Ivan yang habis kesabaran nya itu.
Virda menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat menenangkan hati yang sedang emosi saat itu.
Dengan hati yang jengkel, Virda melanjutkan makan malam nya.
"Nah gitu dong. Gak usah ngambek-ngambek. Kamu dulunya gak ngambek seperti ini lo Vir"
"Iya iya lah dulu nya aku gak seperti itu. Secara kamu nya selalu ada untuk ku. Kita berdua selalu menghabiskan waktu bersama. Kamu selalu menuruti apa saja kemauan ku. Bagaimana mungkin aku ngambek jika kamu bersikap manis kepada ku. Beda hal nya dengan sekarang. Kamu berubah" Batin Virda mengunyah makanan dengan kasar.
***
"Sudah jam sepuluh malam. Ivan sama Virda sudah pulang belum ya?" Tanya Diya melirik jam di kamarnya yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Apa aku tanya aja ya udah pulang belum nya mereka" Ucap nya lagi pelan seperti pada dirinya sendiri sambil memegang ponsel nya.
"Gak ah, nanti aku malah menganggu mereka lagi" Ucap nya lagi meletakan kembali ponsel nya di meja samping tempat tidurnya.
Diya merebahkan tubuhnya di tempat tidur nya yang empuk. Memandang langit-langit berwarna putih di dalam kamarnya.
"Ivan" Seru nya.
"Apa aku benar-benar sepenuhnya telah mencintai Ivan ya? Saat ini yang aku rasakan bukan sakit hati membayang kan kak Ferdi bersama istrinya. Namun sakit hati ini tertuju pada Ivan dan Virda. Apa aku benar-benar mencintai Ivan? Apa aku telah melupakan kak Ferdi?" Satu per satu pertanyaan mulai memenuhi benak nya. Bingung akan perasaan nya saat ini.
Diya tersenyum sendiri membayang kan semua kenangan manis nya bersama Ivan. Dulu dia berusaha menghindar dari Ivan tapi sekarang ia jatuh di dalam pelukan lelaki itu.
"Ivan benar-benar telah berhasil membuat ku move on dari kak Ferdi" Diya tersenyum sendiri.
Diya memejamkan matanya membayangkan wajah tampan bertubuh sixpack bos nya itu.
"Kira-kira, kapan ya Ivan akan mengungkapkan perasaannya lagi terhadap ku? Apa aku harus memberikan kode kepadanya agar dia mengungkapkan perasaan itu kepada ku?"
"Gak, gak, gak, itu gak boleh terjadi. Hello aku ini perempuan. Malu dong masa ia seperti itu. Mau tarok di mana muka ku?" Ucap Diya memukul pelan otak nya yang somplak.
"Aduh Ivan.....Cepat dong ungkapin perasaan mu kepada ku. Kita resmi kan hubungan kita. Kita kuat kan status kita sebagai kekasih" Diya mengulum senyuman nya. Menutup mulut nya merasa malu dengan apa yang baru ia katakan tadi. (Maklum ya mak, orang lagi kasmaran jadi ya begitu lah mak jadi nya. Jatuh cinta berjuta rasa hati terasa berbunga-bunga. Membayangkan wajah nya saja sudah sangat senang ya mak) 😂.
Diya mengambil ponsel nya lagi. Duduk di samping tempat tidur nya. Melihat ponsel nya apakah ada pesan dari Ivan.
"Aduh, kemana sih Ivan gak ada kabar nya. Apa benar ya apa yang di katakan Yuli tadi. Virda melakukan taktik wanita seksi untuk memikat hati Ivan?" Diya tampak berpikir.
"Ah, masa iya sih Ivan seperti itu? Gak mungkin lah kan. Ivan hanya anggap Virda adik angkatnya tidak lebih. Mana mungkin kan dia bisa seperti itu. Lagian sudah tujuh tahun lo dia menunggu ku setelah bertemu dengan ku gak mungkin dong semudah itu berpaling. Toh kenapa gak selama ini saja mereka dekat bukan?" Yakin Diya kepada dirinya sendiri.
"Tapi bisa saja kan selama ini Ivan menunggu ku hanya karena penasaran. Secara dulu kami hanya bertemu sebentar hal itu yang membuat nya penasaran. Dan sekarang saat dirinya telah bertemu kembali dengan ku sehingga membuat semua rasa penasaran nya hilang karena tiap hari bertemu. Jadi nya dia......"
"Ah....udah jangan berpikir yang tidak-tidak. Aduh Diy, buang jauh-jauh pikiran kotor mu kepada Ivan" Ucap nya kembali memukul pelan kepalanya.
"Aduh Ivan....Kemana sih kamu?" Ucap nya lagi berbicara pada ponsel nya yang terus menyala memamerkan foto Ivan yang berada di profil WhatsApp nya Ivan.
"Sudah jam sebelas kurang. Udah ah mendingan aku tidur. Capek menunggu hal yang tidak pasti. Ibarat pepatah mengatakan mencari sungai tak berhulu" Ucap nya meletak kan ponsel nya dan kembali berbaring.
"Mending aku tidur" Diya menyelimuti tubuh nya dengan selimut berwarna coklat.
Kling....
Notifikasi pesan dari WhatsApp nya berbunyi. Mungkin karena terlalu memikirkan Ivan untuk memberi kabar kepadanya jadi dengan mudah Diya terbangun hanya mendengar sekali ponselnya berbunyi.
Diya meraih ponsel nya di atas meja samping tempat tidur nya. Mata nya membulat melihat siapa yang memberikan pesan kepada nya.
Diya bergegas bangkit dari tidur nya dan duduk bersandar di pinggir kasur.
"Sudah tidur?" Isi pesan dari Ivan.
"Udah" Balas Diya.
"Jika sudah tidur, jadi yang balas chat nya siapa? Apa sendang mengigau?" Canda Ivan dengan emod tertawa.
"Tadi memang sudah tidur, dengar ponsel ku berbunyi jadi kebangun" Balas Diya.
"Maaf ya menganggu mu yang sudah tidur. Ya sudah kamu tidur saja lagi. Sudah malam juga"
"Tadi kamu chat aku, sekarang setelah aku bangun kamu tinggalin aku. Menyuruh ku untuk tidur, kantuk ku sudah bilang" Balas Diya dengan emod kesal.
"Iya, iya..maaf" Ivan.
Diya melirik jam yang ada di dinding kamar nya. Pukul sebelas malam berarti aku belum terlalu lama tidur. Pikirnya.
"Dari mana saja? Baru ingat mau memberi kabar? Baru pulang sudah?" Diya memberi pesan masih dengan emod kesal.
"Iya maaf. Aku benar-benar minta maaf. Hanya ada sedikit masalah tadi" Balas Ivan dengan emod memohon maaf.
"Masalah apa?"
"Sudah jangan di bahas lagi. Yang penting masalah nya sudah selesai. Capek mengingat hal itu" Balas Ivan.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Tebak Ivan melalui chat nya.
"Gak, aku cuma khawatir aja" Sangkah Diya. Jika Ivan melihat wajah Diya, mungkin Ivan akan tersenyum mendapati wajah gadis itu berubah seperti kepiting rebus karena Ivan mengetahui bahwa dirinya sedang cemburu.
"Bener gak cemburu?" Yakin Ivan.
"Bener kok. Aku tidur dulu ya. Ngantuk" Diya mencari alasan untuk mengakhiri chattingan nya bersama Ivan agar lelaki itu tidak memberikan pertanyaan yang membuat nya semakin salah tingkah.
"Tadi kamu bilang ngantuk nya sudah hilang. Sekarang mau tidur karena ngantuk. Gimana sih sebenarnya?" Pesan Ivan dengan emod menggoda.
"Iya barusan ngantuk nya datang datang lagi. Nih sudah mendarat di hadapan ku menyuruhku masuk ke alam mimpi nya lagi" Diya beralasan dengan sedikit bercanda.
Ivan tersenyum membaca pesan dari gadis impian nya itu.
"Ya sudah, tidur lah jika kamu sudah ngantuk"
"Selamat tidur Diya. Hadir kan aku dalam mimpi indah mu ya" Pesan Ivan memberi emod love.
Diya tersenyum.
"Oke, kamu akan selalu hadir dalam setiap mimpi indah ku" Balas Diya dengan emod malu.
Diya merebahkan tubuhnya kembali. Hati nya kini merasa senang dan tenang karena Ivan telah memberi kabar kepadanya. Tidak seperti tadi yang sangat memikirkan dan khawatir kepada lelaki itu.
__ADS_1
Kemungkinan-kemungkinan buruk terus saja menghatui nya. Namun, saat ini sudah tidak lagi. Sekarang Diya bisa memejamkan mata nya dengan nyaman.
***
"Hai Fer, sudah lama menunggu?" Sapa Ivan kepada Ferdi dimana pada hari ini adalah hari yang mereka janjikan untuk bertemu di caffe milik Ferdi.
"Gak lama kok. Aku juga baru sampai. Lagian aku juga senang mengawasi karyawan ku dan para pelanggan di caffe ini" Ucap Ferdi.
"Owh gitu,. aku juga baru pulang dari kantor dan langsung ke sini"
"Ayo kita ke ruang private ada hal yang ingin aku tanyakan dan meminta tolong kepada mu. Tidak enak jika ngobrol di sini" Ucap Ferdi menuntun Ivan menuju ruang private nya. Ivan mengikuti dari belakang.
"Aku sudah pesan kan makanan ringan dan minuman andalan di caffe ku ini" Ucap Ferdi duduk di kursi setelah mereka sampai di ruang private nya.
Ivan tersenyum sebagai respon. Jujur saja dirinya sengat deg-degan saat Ferdi mengajak nya ketemuan seperti ini. Takut jika nanti Ferdi mengigat kembali masa-masanya bersama Diya gadis yang selalu di impikan nya itu.
"Apa ini semua ada kaitan nya ya dengan Diya? Kenapa aku berdebar begini sih?" Batin Ivan.
"Ada apa Fer, apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ivan.
"Baiklah, aku akan menceritakan semua yang terjadi ku saat ini." Ucap Ferdi sejenak merangkai kata untuk bercerita.
Degg....
Kembali jantung Ivan berdetak.
"Apa Ferdi sudah mengingat semua nya?" Batin Ivan.
"Kamu tahu Van, selama ini aku mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan malam itu. Sebagian memori dalam ingatan ku hilang. Termasuk memori ku bersama seorang gadis yang sangat aku cintai"
Degg....
Jantung Ivan semakin kencang berdetak.
"Aku lupa semua tentang Diya Van. Mama dan papa tidak merestui hubungan ku dan Diya. Yah nama gadis itu adalah Diya. Kamu juga pernah bertemu dengan nya waktu kami melakukan tour di kota ini sewaktu SMA dulu" Jelas Ferdi.
"Malam itu di saat acara ulang tahun ku. Aku mengenalkan Diya kepada mama dan papa. Mereka tidak setuju atas hubungan kami. Mama dan papa telah menjodohkan ku dengan gadis lain" Cerita Ferdi dengan tatapan kosong membayangkan kejadian yang sangat memilukan malam itu.
Ivan masih setia menunggu kelanjutan cerita dari suami adik sepupunya itu.
"Setelah acara itu, aku dan mama bertengkar hebat. Aku masih tetap mempertahan kan hubungan ku dengan Diya hingga akhirnya aku lari dari rumah. Saat di jalan aku mengalami kecelakaan yang membuat ku hilang sebagian memori ku. Dengan kecelakaan itu mama dan papa mempunyai kesempatan untuk memisahkan ku dan Diya. Mereka membawa ku pindah di kota ini. Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Sonia. Aku menjalani hubungan dengan nya dan menikah dengan adik sepupu mu" Lanjut cerita Ferdi.
"Saat di bioskop, aku melihat Diya. Ketika melihat nya membuat semua ingatan ku kembali. Aku mengingat kembali masa bersama Diya. Namun saat aku tersadar dari rumah sakit, aku tidak bisa menemukan nya lagi. Aku yakin, dia pasti menunggu ku. Dia tipe gadis yang setia dan memegang teguh pada janji setia kami" Yakin Ferdi.
"Bagaimana kamu bisa bertemu kembali dengan nya sedangkan mama mu yang telah mengusir gadis ku dengan sangat tidak sopan" Batin Ivan.
"Aku ingin bertemu dengan nya kembali. Aku ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada ku selama ini hingga membuat ku tidak pernah mengabari nya. Aku yakin Van, Diya pasti bisa mengerti" Ferdi berkata penuh keyakinan.
Degg....
"Apa? Bertemu dengan nya? Dengan gadis ku? Terus bagaimana dengan Sonia? Apa dia akan meninggalkan Sonia dan kembali kepada Diya? Tidak itu tidak boleh terjadi. Kamu sudah mempunyai kehidupan baru Fer, jangan mengganggu kebahagiaan ku dan Diya. Lagian jika kamu kembali bersama Diya apa kamu bisa memberikan jaminan bahwa mama mu akan bisa menerima Diya? Gak, itu gak mungkin. Melihat apa yang terjadi kemaren di rumah sakit sangat tidak mungkin mama mu akan menerima Diya. Diya pasti akan meremehkan dan merendahkan gadis ku lagi. Tidak, itu tidak boleh terjadi" Batin Ivan.
"Van, kenapa kamu malah melamun sih? Kamu bisa membantu ku? Bantu aku untuk bertemu dengan Diya"
"Bagaimana dengan Sonia? Apa kamu akan meninggalkan nya?" Tanya Ivan.
"Aku belum tahu, aku butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Sulit bagi ku untuk menerima semua ini Van. Aku tahu Sonia tidak bersalah. Aku paham dia tidak ada hubungan nya dengan apa yang terjadi. Tapi entah mengapa untuk saat ini sulit bagi ku Van. Aku butuh waktu" Kata Ferdi.
"Jika kamu sudah bertemu dengan Diya, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan meminta maaf dan mejelaskan semua yang terjadi. Aku tidak mau dia membenci ku bahkan salah paham terhadap ku"
"Apa kamu ingin kembali bersama Diya?" Pertanyaan Ivan penuh dengan selidik.
Ferdi tampak berpikir.
"Jika aku mengatakan ya pasti Ivan tidak mau membatu ku. Pasti dia tidak ingin Sonia adik sepupunya tersakiti." Batin Ferdi.
"Aku hanya ingin menjelaskan tentang semua yang terjadi. Tidak memaksa nya kembali" Ucap Ferdi. bertentangan dengan hati nya yang masih mencintai dan mengharapkan Diya masa lalu nya kembali.
Ivan menatap lekat wajah Ferdi memastikan Ferdi tidak berbohong. Ivan menarik napasnya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat untuk memberikan keyakinan pada diri nya bahwa Ferdi berkata jujur.
"Apa aku harus jujur atau berbohong?" Ivan kembali berpikir.
Setelah berpikir lama, Ivan merasa tidak tega kepada Ferdi. Toh Ferdi hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada nya selama ini. Dan mungkin dengan mereka bertemu akan membuat Diya bisa lebih tenang dengan mengeluarkan unek-unek nya yang selama tujuh tahun ini terpendam. Pikir Ivan.
lagi-lagi Ivan menarik napas nya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat.
"Di kantor ku ada juga ada seorang gadis yang bekerja sebagai sekretaris ku. Nama nya juga Diya. Mungkin dia adalah gadis yang sama. Jujur saja aku sudah lupa dengan wajah gadis yang kamu maksud. Secara pertemuan kita sudah tujuh tahun yang lalu. Tentu saja banyak perubahan yang terjadi selama tujuh tahun ini" Ivan berbohong bahwa lupa dengan gadis itu sewaktu SMA. Padahal selama ini ia selalu membayangkan wajah cantik gadis itu di malam-malam nya.
Jika ia berkata jujur bahwa dia sudah mengetahui semua tentang Ferdi dan Diya. Dimana Diya setia menunggu nya dengan harapan bahwa Ferdi kembali sungguhlah tidak mungkin. Pasti akan banyak pertanyaan lagi yang keluar dari mulut Ferdi. Alangkah lebih baik nya Ferdi bertemu dengan Diya dengan alasan seperti apa yang ia katakan tadi. Pikir Ivan.
"Benar kah Van? Di kantor mu ada juga gadis bernama Diya? Pasti Diya orang yang sama. Entah mengapa aku yakin itu" Yakin Ferdi.
"Yah, memang dia memang orang yang sama. Gadis mu dulu yang kini telah menjadi gadis mu. Gadis impian ku" Batin Ivan.
"Kapan aku bisa bertemu dengan nya Van?"
"Besok kamu bisa bertemu dengan nya. Selesaikan lh masalah mu dengan gadis itu agar tiada lagi kesalah pahaman di antara kalian dan juga jangan sampai kamu menyakiti adik ku. Aku tidak akan terima itu" Ancam Ivan.
Degg....
Ferdi sedikit kaget mendengar ancaman itu. Diri nya memang berniat untuk kembali dan merayu Diya agar kembali kepada nya melanjutkan kisah cinta mereka yang sempat tertunda. Jelas hal itu akan membuat Sonia tersakiti.
"Ah...sudah lah aku hanya harus berpikir bahwa besok aku harus bertemu dengan Diya dan memastikan bahwa Diya di kantornya Ivan adalah Diya ku. Untuk selanjutnya aku akan memikirkan nya lagi" Batin Ferdi.
Salah satu Karyawan Ferdi yang bekerja di caffe nya datang mengantarkan makanan dan minuman yang di pesan nya tadi.
"Coba Van kamu cicipi makanan ringan terbaru dari caffe ku. Namanya Jamur Krispy. Ada berbagai rasa juga, ada original, balado, BBQ, dan masih banyak lagi" Jelas Ferdi mempromosikan menu terbaru nya.
"Oh ya Van, kemaren waktu kita bertemu kamu pernah mengatakan sedang dekat dengan seorang gadis. Siapa?"
"Ah itu, lupakan saja" Jawab Ivan.
"Lo, kenapa? Apa dia sudah mempunyai kekasih? Apa dia menolak cinta mu?" Tanya Ferdi menyelidik.
"Tidak, hanya saja aku ingin mengungkapkan perasaan ku di depan orang tua nya. Aku ingin mengatakan dengan orang tua nya dan meyakini mereka bahwa aku akan menjaga anak gadis nya dengan sepenuhnya. Aku akan melakukan apa pun untuk nya bahkan nyawa pun sanggup ku korban kan untuk nya" Mantap Ivan berkata.
"Wah, bagus sekali. Aku salut kepada mu. Apa gadis itu tinggal di kota ini?"
"Tentu saja, dia bekerja di kota ini. Dia berasal dari kampung, orang tua nya berada di kampung halaman nya. Hal itu yang membuat ku belum sempat untuk bertemu dengan orang tua nya. Rencana nya aku akan mengatur waktu untuk pergi bersama nya ke kampung menemui orang tua gadis ku. Kalau bisa, aku ingin langsung melamar nya" Ucap Ivan mantap.
"Wah, kamu benar-benar mencintai gadis itu ya Van. Selama itu kamu menunggu dan masih setia kepadanya. Padahal banyak gadis-gadis lain yang cantik dan menarik mendekati mu. Seperti Virda" Kata Ferdi.
Mendengar nama gadis indobel itu membuat Ivan teringat apa kah Virda jadi pulang hari ini. Tadi pagi dirinya belum sempat ketemu dengan gadis itu. Saat ia berangkat ke kantor gadis itu masih pulas dengan tidur nya. Terlihat pintu kamar nya masih terkunci dari dalam saat bik inah pembantu di rumah Ivan mengajak nya untuk sarapan pagi.
__ADS_1