
"Buk, Ibuk" Ujar Diya mencari-cari ibu nya yang si dapur. Namun yang di cari tidak nampak sama sekali batang hidung nya. Pagi itu menunjukan kan pukul sembilan. Di mana ketika jam itu hanya tinggal dia dan ibunya saja di rumah sedangkan Yuli dan Ivan sudah berada di kantornya masing-masing untuk bekerja.
"Ibu kemana ya? Biasanya jam segini ibu sibuk di dapur?" batin dia terus mencari ibunya ke dalam kamar mandi halaman belakang dan kini dia mencari ibu ke dalam kamar ibunya.
"Ibu" Diya membuka pintu kamar Mirna yang tidak di kunci.
"Astaghfirullah ibu, ibu kenapa?" Ujar Diya saat melihat Mirna terbaring lemas di tempat tidur nya.
"Diya, nak" Ucap. Mirna dengan suara yang lemah.
"Bu, Ibu kenapa bu?" Ucap Diya mendekati Mirna di tempat tidur dengan hati yang cemas.
"Nggak tahu nih Diy, tiba-tiba kepala ibu merasa pusing"
"Apa kolesterol Ibu naik lagi atau tensi ibu? Kalau begitu ayo bu kita ke rumah sakit untuk periksa" Ajak Diya.
"Gak apa-apa kok nak. Ibu baik-baik saja. Nanti juga pasti akan sembuh" Ucap Mirna menolak ajakan anak nya.
"Gak boleh gitu buk, lebih baik kita periksa penyebab kepala ibu pusing begini. Jangan di biarkan penyakit nya ibu. Nanti malah semakin parah lagi. Ayo buk kita ke rumah sakit" Ajak Diya lagi.
"Tapi Diy"
"Udah deh buk, jangan menolak ajakan ku. Sebentar ya buk. Aku siap-siap dulu" Ucap Diya berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah sakit membawa Mirna periksa.
***
"Hallo Van" Ujar Diya saat ponsel nya terhubung dengan orang yang ada di seberang sana.
"Iya sayang, ada apa?"
"Van, aku minta izin ya sama kamu untuk keluar. Aku mau ke rumah sakit membawa ibu. Kata ibu kepala nya pusing. Aku takut kolesterol atau tensinya ibu naik lagi. Makanya aku harus membawa ibu ke rumah sakit untuk periksa boleh kan?"
"Tentu saja boleh sayang. Tapi aku minta maaf, aku gak bisa anterin kamu sama ibu ke rumah sakit lantaran pekerjaan ku masih banyak di kantor"
"Atau gini aja, aku meminta pak Udin untuk pulang menjemput kamu dan ibu untuk pergi ke rumah sakit kalian dianterin sama pak Udin nggak papa ya?" Saran Ivan kepada Diya.
"Nggak usah deh Van, nggak apa-apa aku sama ibu pergi menggunakan taksi aja ya. Kamu lanjutin aja pekerjaan kamu dan jika aku menunggu pak Udin menjemput kami di rumah, nanti malah kelamaan jadi lebih baik aku menggunakan taksi saja pergi ke rumah sakitnya bersama ibu nggak papa kan?" Ujar Diya.
"Ya sudah terserah kamu saja kamu dan ibu hati-hati ya ke rumah sakitnya"
"Iya sayang. Kamu juga hati-hati kerja nya. Jangan telat makan ya nanti" Ucap Diya penuh perhatian kepada suami nya.
"Iya sayang. Love you" Ucap Ivan dengan hati yang berbunga-bunga.
"Love you too" Jawab Diya menutup ponsel nya.
***
"Ibu duduk di sini dulu ya biar aku ambil nomor antrian nya" Ucap Diya mempersilahkan ibu nya duduk di kursi tunggu yang berjejeran di ruang tunggu.
"Diya" Tegur seseorang dari belakang setelah Diya selesai mengambil nomor antrian.
Diya menolah, Diya kaget mengetahui siapa yang menegur nya barusan.
"Hei, apa kabar?" Tanya orang tadi yang tak lain adalah Ferdi kekasih lama nya Diya.
"Kak Ferdi, baik kok kak" Jawab Diya canggung.
"Aku dengar, kamu sudah menikah sama Ivan. Selamat ya atas pernikahan kamu dan Ivan. Semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah dan warohmah. Dan maaf saat itu aku nggak bisa datang dia acara resepsi pernikahan kalian karena ada pekerjaan yang tak bisa ku tinggalkan" Ujar Ferdi.
"Iya nggak apa-apa dan terima kasih atas doanya untuk keluarga kami" Jawab Diya.
"Oh ya kamu ngapain ke sini? Siapa yang sakit?" Tanya Ferdi.
"Ibu. Kepalanya pusing makanya aku bawa dia ke sini untuk periksa Aku khawatir kolesterol atau tensinya kambuh lag" Jelas Diya.
"Oh Ibu. Titip salam ya sama ibu" Ujar Ferdi lagi.
"Iya nanti Akan ku sampaikan salam Kakak sama ibu"
"Kakak sendiri ngapain ke sini?"
"Aku di sini bersama Sonia untuk pemeriksaan rutin kehamilannya"
"Dimana Sonia nya?"
__ADS_1
"Di poli kehamilan menunggu di panggil" Jawab Ferdi.
"Oh gitu. Ya udah aku duluan ya kak. Kasihan ibu kelamaan menunggu" Ujar Diya meninggalkan Ferdi di sana.
"Iya" Jawab Ferdi singkat.
"Buk, maaf ya lama" Ujar Diya ketika sudah sampai di ruang tunggu bersama ibu nya.
"Gak apa-apa kok nak"
"Buk, tadi aku ketemu sama kak Ferdi"
"Nak Ferdi? Ngapain? Apa dia mencoba mengusik mu lagi?" Selidik Mirna.
"Gak kok buk, dia malahan mengucapkan selamat atas pernikahan aku dan Ivan. kelihatannya kak Ferdi sudah menerima bahwa aku tidak bisa bersamanya lagi. dan kelihatannya juga dia sudah bisa deh menerima Sonia sebagai istrinya. Soalnya dia di sini bersama suaminya untuk memeriksa kehamilannya" Jelas Diya.
"Syukurlah kalau begitu nak. Ibu senang mendengarnya dia sudah bisa menerima istrinya. Dan sekarang kamu juga sudah bisa hidup tenang tanpa diganggu sama Ferdi lagi bersama Ivan"
"Iya Bu aku juga senang melihat keadaan Kak Ferdi sekarang" Ujar Diya.
***
"Ibu Mirna, setelah saya periksa ternyata tensi ibu tinggi yaitu 150/90 ini cukup tinggi ya Bu. Jadi ini saya berikan obat tensinya dua macam yang ini diminum pagi hari dan yang ini diminum malam hari sebelum tidur dan ini berupa vitamin. harap diminum dengan rutin ya bu. Dan setelah obatnya habis ibu diharapkan untuk check up kembali keadaan ibu di sini. Ibu harus banyak-banyak istirahat jangan bekerja terlalu berat ya" Ujar dokter yang baru saja memeriksa keadaan ibu.
"Karena tensi ibu yang tinggi inilah yang membuat kepala ibu pusing dan terasa berat. jadi ibu harus mandi istirahat dan jangan terlalu banyak bergerak dulu ya bu karena takutnya nanti jika jika Ibu terjatuh maka saya takutkan akan terjadi struk ringan sama ibu-ibu juga harus jaga pola makan seperti jangan memakan yang terlalu asin, makanan olahan kaleng atau kemasan, acar mentimun, makanan cepat saji, daging merah dan kulit ayam, makanan atau minuman yang mengandung perisa buatan, kopi atau minuman yang mengandung kafein, minuman beralkohol" Jelas dokter itu panjang lebar.
"Jadi dok, Adakah makanan yang bisa Ibu saya konsumsi untuk menurun hipertensinya?"
"Oh tentu saja ada. Sayuran hijau seperti bayam, kale, lobak hijau, sawi, dan selada, mengandung kalium, magnesium, dan serat sehingga cocok sebagai makanan untuk pengidap darah tinggi. Beberapa jenis buahan yang dapat menurunkan tekanan darah sehingga cocok untuk dikonsumsi penderita hipertensi. Pilihan buah yang bisa Anda konsumsi meliputi pisang, buah bit, buah berry, alpukat, tomat, jeruk, dan semangka. Yoghurt merupakan salah satu produk susu. Karena itu, kandungan kalsiumnya yang tinggi cocok untuk penderita hipertensi. Menurut beberapa penelitian, yoghurt juga mengandung probiotik tinggi yang diyakini dapat membantu menurunkan tekanan darah. Susu skim juga tinggi kalsium dan rendah lemak sehingga dapat Anda jadikan sebagai minuman penurun tekanan darah. Kentang termasuk salah satu bahan makanan yang tinggi akan kandungan kalium, magnesium dan serat. Ketiga zat ini mampu menurunkan tekanan darah dan cocok untuk pengidap hipertensi. Oatmeal merupakan makanan yang rendah natrium dan lemak serta tinggi serat sehingga cocok sebagai penurun tekanan darah tinggi. Adapun ikan dan juga olahan ikan yang mengandung omega 3 juga dapat menurunkan hipertensi. Kacang lima cocok dijadikan sebagai makanan penurun darah tinggi. Kacang lima juga mengandung serat dan protein yang tentu baik untuk penderita hipertensi. Kandungan omega-3 dalam biji rami atau flaxseed juga dipercaya dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Cokelat hitam kaya akan flavonoid, antioksidan yang dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Gandum utuh dan kacang pistachio juga bisa menurunkan hipertensi" Jelas dokter tadi panjang lembar.
"Aduh Diy, gak ngerti ibu apa yang di jelasin sama dokter ini. Panjang banget Diy" Bisik Mirna ke telinga putri nya.
"Iya buk, aku juga kurang paham sih buk apa yang di jelasin sama dokter ini. Nanti kita cari lagi info nya di google ya" Diya balas berbisik.
"Terima kasih ya dok. Kami pamit dulu" Ujar Diya beranjak dari tempat duduk nya bersama Mirna.
***
"Sekarang ibu istirahat saja. Biar Diya yang masak untuk hari ini ya" Ujar Diya.
Mirna mengangguk. Kemudian berbaring di tempat tidur nya.
***
"Ya ampun buk, kenapa ibu ke sini. Tadi kan dokter bilang ibu harus banyak istirahat"
"Gak apa-apa nak. Badan ibu terasa pegal-pegal kebanyakan berbaring di kamar" Jawab Mirna.
"Sini ibu bantu meracik bumbunya"
"Gak usah buk. Ibu istirahat saja di kamar agar cepat sehat. Diya gak mau lo sakit ibu makin parah nanti nya" Ujar Diya.
"Tapi nak... "
"Sudah ya buk. Ibu denger deh apa yang Diya bilang. Jangan terlalu banyak bergerak. Ibu istirahat saja" Ujar Diya lagi.
"Ayo Diya antar ke kamar" Diya menuntun ibu nya untuk kembali ke kamar.
***
"Sayang" Tegur Ivan saat pulang dari kantor nya.
"Eh Van. Sudah pulang?" Ujar Diya.
"Iya, sengaja aku pulang untuk makan siang di rumah. Lagian aku mau melihat keadaan ibu" Jawab Ivan.
"Gimana ibu? Apa kata dokter?"
"Ibu lagi istirahat di kamar. Kata dokter tekanan darah ibu tunggi 150/90. Itu yang membuat kepala ibu terasa pusing dan berat" Jelas Diya.
"Oh begitu, Emang dokter gak menganjurkan untuk ibu di rawat saja? Lebih baik ibu di rawat deh Diy"
"Gak perlu Van. Ibu hanya perlu rawat jalan saja. Nanti kata dokter jika obatnya sudah habis, dokter menganjurkan untuk ibu check up kembali"
"Ya sudah, lebih baik kita makan siang nya sama-sama ya" Ajak Diya.
__ADS_1
"Ibu sudah makan?" Tanya Ivan.
"Sudah kok Van. Setelah makan dan minum obat ibu langsung tidur" Ujar Diya.
"Van jika nanti ibu belum juga sembuh, apa kita tunda saja ya bulan madu nya di kapal pesiar seperti rencana kita kemaren. Aku khawatir jika meninggalkan ibu dalam keadaan tidak sehat seperti ini" Tambah nya lagi.
"Iya, kamu benar Diy, jika terjadi sesuatu sama ibu dan kita tidak ada di sini, malah tepot nanti nya"
"Iya, meski pun Yuli ada di sini sama ibu, tetap saja aku khawatir."
"Iya aku ngerti kok. Lagian liburan nya bisa kita rencanakan lain hari. Tapi kesehatan ibu lebih di utamakan" Ujar Ivan.
"Sini piring nya" Pinta Diya kepada Ivan untuk mengambil nasi yang ada di meja makan.
"Segini cukup?"
"Cukup kok sayang" Jawab Ivan.
"Mau ikan goreng, ayam goreng, atau ayam bakar?" Tanya Diya.
"Ayam goreng aja sayang. Tolong sayur nya juga ya" Pinta Ivan.
Diya mengambil sayur lodeh yang ia masak tadi ke dalam piring Ivan.
"Ini sayang" Diya memberikan piring yang berisi nasi, lauk dan sayuran kepada Ivan.
"Terima kasih ya sayang" Ivan langsung menyodorkan sesuap demi sesuap nasi kedalam mulut nya.
"Enak, seperti biasanya" Puji Ivan kepada masakan istri nya.
"Menghina atau menghibur nih?"
"Nggak menghina dan enggak juga menghibur. Ini adalah faktanya kamu memang pintar memasak dan aku adalah suami yang paling beruntung di dunia ini karena mempunyai istri yang cantik dan juga pintar masak seperti kamu" Ujar Ivan.
"Bisa aja kamu Van. Selalu membuat ku terbang melayang deh" Ujar Diya.
"Diy, bagaimana sebelum aku pergi kerja, kita sama-sama terbang melayang ke langit ke tujuh" Ujar Ivan dengan tatapan menggoda nya.
"Maksud nya?" Tanya Diya tidak mengerti.
"Masa gak ngerti sih sayang. Yang begituan" Ujar Ivan.
Diya menatap Ivan dengan tatapan bingung.
"Kok kamu melihat ku seperti itu sih Diy"
"Karena aku gak ngerti maksud kamu tuh apa Van. Terbang ke langit ke tujuh bagaimana sih"
"Seperti yang kita lakukan di hotel kemaren" Ujar Ivan mengangkat sebelah alis nya.
"Mau?"
"Mau dong Diy, mana bisa aku menolak surga dunia itu" Ujar Ivan.
Diya tersenyum mendengar kejujuran yang di ucapkan oleh suami nya..
Sejujurnya juga dia ingin kembali merasakan surga dunia itu lagi.
Kling....
Notifikasi ponsel nya Ivan berbunyi. Ivan melirik ponsel nya.
"Virda lagi, Virda lagi" Batin nya.
"Gak bisa apa sehari saja jangan mengganggu kehidupan ku?" Batin nya lagi.
"Siapa Van?" Tanya Diya.
"Virda" Jawab Ivan.
"Gak bisa apa sehari aja jangan menganggu kehidupan ku" Ujar Ivan dengan kesal.
"Capek aku di ganggu mulu sama ni cewek" Tambah nya lagi.
Ivan menonaktifkan ponsel nya.
__ADS_1
"Kok di matikan sih Van.? Jika ada klien yang telepon atau orang kantor yang nelpon kamu nanti gimana?"
"Nanti setelah aku habiskan waktu bersama kamu aku akan mengaktifkan kembali ponselku. jadi saat ini aku mau makan siang dan menghabiskan waktu yang ku bersama istri tercintaku. Dan aku nggak mau ada yang mengganggunya" Ujar Iva lagi.