Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Berinai curi


__ADS_3

"Diya.... Akhir nya sampai juga kamu dan ibu" Ujar Yuli menyambut hangat kedua ibu dan anak itu di rumah nya.


"Iya, nih Alhamdulillah kami sudah tiba dengan selamat" Jawab Mirna.


"Ayo masuk dulu ke rumah"


"Nanti aja ya Yul, kau dan ibu mau pulang ke rumah ku dulu. Mau lihat keadaan rumah yang telah lama kami tinggalkan" Ujar Diya.


"Oh, jadi kalian gak nginap di rumah ku?"


"Ya enggak lah Yul rumah kami kan ada di sini Jadi kami nginepnya di rumah kami aja" Ujar Diya.


"Ya udah, aku sama ibu pulang dulu ya mau bersih-bersih rumah. Setelah itu kami akan datang ke sini untuk bantu-bantu"


"Oke" Jawab Yuli.


***


Diya berdiri di halaman rumah nya saat mereka sudah tiba di rumah yang penuh kenangan itu. Warung bakso yang sudah tutup itu masih berdiri kokok. Warung ini lah yang sebagai sumber penghasil uang untuk Mirna menyekolahkan putri semata wayang nya.


"Kak siti masih tinggal di sini buk?" Tanya Diya kepada Mirna.


"Oh Iya, ibu lupa bilang sama kamu, siti sudah gak tinggal di sini lagi nak. Semenjak menikah dia pergi mengikuti suaminya di kota Bengkalis"


Diya mengangguk. Ternyata Kak siti yang dulu sering membantu ibu mengurus warung bakso ini sudah menikah.


"Sudah lama kak Siti menikah buk?"


"Lumayan juga lah nak, sebelum kamu dan Ivan menikah. Mungkin hampir setahun juga"


Mirna masuk kedalam rumah mereka.


Diya berdiri di teras rumah nya. Di sini lah tempat di mana Ferdi selalu menunggu nya ketika mereka punya janji untuk jalan bersama.


Kembali Diya tersenyum mengenang masa indah itu.


Diya masuk ke dalam rumah nya. Di ruang tamu masih tertata seperti dulu. Ada kursi dan meja di sana. Di sini pernah menjadi tempat saksi bisu di mana getaran-getaran halus muncul di hati Diya dan Ferdi saat Ferdi membantunya untuk mengerjakan tugas matematika yang saat itu Diya tidak mengerti karena saat guru menjelaskan Diya nya malah sibuk memikirkan Ferdi dan Khetrin gadis yang suka dengan Ferdi dan yang telah di jodohkan oleh Mira untuk Ferdi.


Kembali senyuman terukir di bibir wanita itu. Jika di ingat memang sangat indah. Dan ingin rasanya terulang kembali masa-masa itu. Namun apa lah daya, itu hanya lah tinggal kenangan bagi kedua nya.


"Diy, kamu sudah bilang sama Ivan kalau kita sudah sampai di kampung. Nanti dia malah khawatir dengan keadaan kita jika kamu tidak memberitahunya" Ujar Mirna membuat lamunan Diya tentang masa lalu nya hilang.


"Oh iya buk, aku hampir saja lupa" Ujar nya lagi. Langsung merogoh tas nya untuk menghubungi sang suami.


"Hallo sayang"


"Hallo sayang, apa kamu dan ibu sudah tiba di kampung halaman?" Tanya Ivan.


"Sudah kok sayang, aku dan ibu belum lama juga tiba di kampung dan sekarang kami sudah berada di rumah dan sekarang mau bersih-bersih rumah nanti setelah itu kami mau pergi ke rumah Yuli untuk bantu-bantu di sana" Jelas Diya.


"Syukurlah jika kalian sudah sampai dengan selamat. Aku jadi tenang di sini. Kamu dan ibu hati-hati di sana ya. Lusa aku akan menyusul kalian berdua" Ujar Ivan.


"Iya sayang. Kamu tenang saja aku dan ibu pasti akan baik-baik saja di sini"


"Ya sudah sayang, aku tutup dulu ponsel nya ya. Klien ku sudah tiba" Ujar Ivan.


"Oke sayang, kamu hati-hati kerja nya" Diya menutup ponsel nya.


Diya masuk ke dalam kamarnya merebahkan dirinya yang terasa lelah di atas kasur yang ada di dalam kamar yaitu sambil melihat langit-langit atap rumahnya


Reflek kenangan-kenangan bersama seperti dimulai berputar kembali di benaknya saat berada di kamar itu.


Tanpa sengaja ia melihat lemari tempat pakaiannya. Ia baru ingat bahwa di atas lemari itu terdapat sebuah kotak di mana di dalam kotak itu terisi sebuah baju gaun yang pernah Ferdi berikan kepadanya untuk ya kenakan di saat acara ulang tahunnya Ferdi di hari terakhir mereka bertemu.


Diya bangun dari rebahannya mengambil kotak yang ada di atas lemari itu untuk melihat pakaian yang pernah diberikan kepadanya apakah masih bagus atau sudah rusak karena dimakan rayap.


Perlahan Ia membuka kotak itu. terdapat sebuah plastik yang membungkus pakaian gaun itu ia membuka plastik itu dan mengambil baju gaun itu.


"Ternyata masih bagus pakaian nya" Batin Diya tersenyum.


Kembali memori indah kenangan itu bermain di benak nya.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa kakak tidak memberi tahu ku kalau hari ini adalah hari ulang tahun kak Ferdi? Ya setidak nya aku akan membawakan kakak hadiah" Katanya mencoba tersenyum.


"Sebenarnya, aku mau memberikan kejutan untuk mu. Tapi gara-gara mama yah...Jadi berantakan deh" Jawab pemuda itu sedikit kecewa.


"Oh ya, emang nya apa yang akan kamu berikan kepada ku di hari ulang tahun ku ini?" Tanya Ferdi mulai menggoda. dan wajahnya pun sedikit ceria tidak murung seperti tadi.


Diya sedikit kaget.


"Apa?" Tanya nya berpura-pura.


"Hadiah? Sekarang memang gak ada. Tapi kalau besok pasti aku akan memberikan nya untuk kakak"


"Gak perlu besok" Ujar Ferdi.


"Sekarang kamu sudah membawanya untuk ku"


"Sekarang? Apa?" Tanya Diya heran dan berfikir bahwa dirinya tidak membawa apa-apa untuk di berikan kepada pemuda itu.


"Ada" Jawab Ferdi serius dan menatap mata gadis itu dengan penuh perasaan yang bergejolak di jiwa. Pelan-pelan wajah pemuda itu mendekat, mendekat, dan mendekat.


"Dulu, aku pernah bilang padamu bahwa aku akan meminta sesuatu padamu. Ingat itu Diya?" Ucap nya lembut. Diya mengangguk, jantung nya berdegup kencang. Desah nafas Ferdi menyentuh pipinya. Seketika bulu kuduk nya pun berdiri.


"Apa aku boleh memintanya sekarang?"


"Apa?" Tanya Diya deg-degan. Ferdi tidak menjawab. Wajah nya semakin mendekat. Diya pasrah apa yang akan dilakukan Ferdi padanya.


Gadis itu memejamkan matanya saat bibir Ferdi menempel di bibirnya yang basah, hangat, dan lembut. Lama mereka saling menglumat, melepaskan dahaga yang sejak lama mereka impikan. Diya membuka matanya saat ciuman itu berakhir. Ferdi tersenyum lembut kepadanya.


"Terima kasih Diy" Ucap nya lirih.


"Kamu telah memberi hadiah yang sangat berharga bagiku yang akan selalu ku kenang sampai kapan pun" Katanya dengan senyuman yang sangat di sukai gadis itu.


"Aku sangat mencintai mu Diy, Aku takut sekali kehilangan mu" Katanya lagi.


"Aku juga kak" Jawab Diya membalas tatapan pemuda itu. Mereka sama-sama tersenyum, sama-sama merasakan kebahagiaan yang tidak akan terlupakan. Bulan sabit menampak kan cahaya nya yang samar-samar di balik awan yang hitam. Ia menjadi saksi kisah cinta dua insan yang lagi kasmaran. Beberapa muda mudi berpasang-pasangan meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Ferdi dan Diya. Di roro itu lah mereka mengucapkan janji setia nya.


Kini, kisah itu akan hanya menjadi kenangan bagi keduanya karena mereka telah memiliki kehidupan dan pasangan mereka masing-masing.


"Diy, ayo bantu ibu bersih-bersih. Jika selesai dengan cepat kita bisa pergi cepat ke rumah Yuli. Pasti banyak pekerjaan yang harus kita bantu" Ujar Mirna.


"Iya buk" Jawab Diya, langsung pergi membantu ibunya untuk mem bersih-bersih rumah yang penuh kenangan itu.


***


"Cie, yang sebentar lagi akan bergelar sebagai seorang istri. Pasti perasaannya sedang campur aduk ada bahagia, ada sedih, ada gelisah dan masih banyak lagi ya kan?" Diya menggoda sahabatnya yang sedang duduk bersantai di dalam kamar pengantin nya.


"Eh Diy. kamu bener banget Diy, saat ini perasaanku sedang bercampur aduk aku juga bingung kenapa seperti ini"


"Ya iyalah Yul, Semua orang yang mau menikah pasti akan merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Itu wajar kok aku juga seperti itu dulunya" Jelas Diya.


"Oh ya, Malam ini acara berinai curi kamu dan Zaki kan?"


"Zaki di sini juga melakukan inai curinya?"


"Iya Diy, kami melakukan berinai curinya di rumah ini bersama-sama"


Diya mengangguk.


"Oh ya, keluarga Zaki sudah ada yang tiba di kampung kita Yul"


"Zaki bilang sih mereka berangkatnya siang ini mungkin tibanya sore atau malam nanti ke sini sebelum acara berinai curi. Kan acaranya selepas Isya nanti"


"Berinai curinya diiringi dengan bermain apa?"


"Rebana, Setelah itu dilanjutkan dengan bermain kompang. Soal nya pak cik ku merupakan salah satu anggota kompang di kampung ini. Jadi ya Ayah memilih untuk bermain kompang saja setelah bermain rebana nanti" Jelas Yuli.


"Waw, seperti nya akan meriah sekali. Kamar pengantinmu juga sudah dihiasi dengan sangat indah" Ujar Diya memperhatikan hiasan kain serta bunga yang ada di kamar itu yang berdomisilir dengan warna putih dan biru.


"Aku sangat merindukan kampung halaman kita. Apalagi acara-acara seperti ini yang mengundang kekompakan dan kebersamaan yang membuat aku sangat merindukannya"


"Iya Diy, aku juga rindu dengan kampung kita ini yang mempunyai banyak kenangan kenangan kita di sini"

__ADS_1


.


"Ya sudah, aku ke belakang dulu ya mau lihat apa saja pekerjaan yang bisa ku bantu. Mau ngumpul-ngumpul juga dengan saudara-saudara serta tetangga-tengga kita yang sudah lama tidak bertemu" Ujar Diya.


Yuli mengangguk membenarkan.


***


"Diy," Tegur Santi yang dulu nya adalah teman sekolah Yuli dan Diya sewaktu SMA.


"Eh, San apa kabar"


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Wa kamu kelihatan makin cantik aja ya semenjak menikah dengan orang Pekanbaru" Ujar Santi.


"Alhamdulillah Jika kamu melihatnya seperti itu. Berarti aku bahagia hidup bersama suamiku"


"Terus, ini siapa?" Tanya Diya melihat bocah kecil perempuan yang digendong oleh Santi dari tadi.


"Anak ku" Jawab nya.


"Udah punya anak? Baru ini yang pertama?" Tanya Diya.


"Sudah dua kok, abang nya berusia 4 tahun, dan ini baru 5 bulan" Jawab Santi.


"Wah, ternyata sudah mempunyai penghibur hati kamu ya. Dua lagi"


"Iya, Alhamdulillah diberi kepercayaan oleh Allah menitipkan dua malaikat kecil kepadaku dan suamiku"


"Iya, semoga saja ya, aku juga diberi kepercayaan sama Allah dan ia meniupkan roh ke dalam rahimku secepatnya"


"Aamiin" Jawab Santi.


***


Para tetangga dan para saudara satu persatu berdatangan ke rumah Yuli untuk menyaksikan acara berinai curi antara Yuli dan Zaki.


Keluarga Zaki baru saja tiba pukul 07.00 malam ini mereka disambut dengan hangat oleh keluarga pihak mempelai perempuan.


Tiba lah rebana yang berbentuk seperti kompang itu di mainkan, acara inai curi pun di mulai. Jari tangan dan kaki serta telapak tangan Yuli dan Zaki di baluri dengan daun inai yang telah di haluskan.


Berbagai nyanyian rebana pun ikut bergema di rumah Yuli.


Yuli dan Zaki berbaring sambil jari kaki dan jari tangan mereka di baluri dengan inai oleh para tetangga yang hadir dan para saudara mereka yang ada di sana.


Semua yang hadir di sana serta keluarga kedua belah mempelai terlihat sangat bahagia menyaksikan akan rangkaian acara di rumah mempelai perempuan.


***


"Sayang, kamu sudah pulang dari rumah Yuli?" Tanya Ivan.


"Sudah kok sayang, baru saja tiba di rumah"


"Baru satu hari kamu pergi meninggalkan aku. Aku merasa sepi, sunyi dan sangat merindukan kamu di sini untuk menemani malam-malam ku" Ujar Ivan bernada manja kepada sang istrinya.


Diya tertawa geli mendengar ucapan manja yang dikatakan oleh sang suami kepadanya. Bagaimana tidak, tubuh gagah yang dipenuhi dengan roti sobek di dadanya kini bertingkah seperti anak kecil yang manja akibat kekurangan kasih sayang oleh kedua orang tuanya.


"Iya sayang, Aku juga kangen sama kamu. Oh ya sekarang kamu di mana?"


"Aku nginep di rumah mama dan papa karena jika aku ke rumah kita aku akan merasa semakin kesepian karena nggak ada siapa-siapa di rumah hanya aku sendiri. Ya akhirnya aku memutuskan untuk nginep di rumah mama dan papa setidaknya aku ada mama dan papa untuk menemani aku menjelang ku tidur nanti" Jelas Ivan.


"Oalah kasihan sekali suamiku. Oh ya Kamu sudah makan apa belum. Baru satu hari aku tinggal seperti ayam kehilangan induk saja kamu" Goda Diya.


"Iya nih sayang, aku bener-bener nggak sanggup kehilangan kamu. Sebentar saja kamu meninggalkan aku seperti ini. ku seperti orang kehilangan arah" Ivan berkata jujur.


"Aku gak akan pergi lama kok sayang. Lagian lusa juga kamu akan datang ke sini menjemput aku dan ibu kan"


"Iya sayang, tapi aku benar-benar gak bisa pisah dari kamu. Biasanya setiap aku pulang kerja ada sesosok wanita yang aku cintai menyambut ku pulang dengan senyuman manisnya. Tapi malam ini nggak ada"


Diya tersenyum geli mendengar perkataan dari sang suami nya. Baru kali ini suami nya bertingkah seperti anak kecil dan selalu minta di perhatikan seperti ini.


"Sayang, meskipun aku tidak berada di samping kamu dan bersama kamu saat ini. Tapi yakinlah bahwa aku akan selalu berada di hati kamu untuk selamanya. Begitu juga dengan sebaliknya Kamu akan selalu berada di hati aku untuk selamanya" Ujar Diya.

__ADS_1


Ivan tersenyum senang mendengar rangkaian kata-kata romantis dari sang istri tercintanya.


__ADS_2