
"Yang benar Ran?"
"Iya...Selama beberapa hari ini gue lihat. Sobat kita satu ini sedang kasmaran alias jatuh cinta" Tambah Randi dengan tawa nya yang khas.
"Kalau gitu, selamat deh yo. Gue doain hubungan kalian awet" Kata Ferdi mengulurkan tangannya turut bahagia mendengar berita itu. Ferdi tahu kalau selama ini Tio memang naksir berat sama Kethrine. Yah...bisa di bilang naksir nya itu seberat satu ton. Malahan bisa di bilang lebih dari itu. Tapi yang membuat Ferdi curiga, masa sudah jadian wajah Tio masih murung begitu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi sama hubungan mereka? Atau, Kethrine menolak lagi kisah cinta Tio? Ah...Kasihan Tio" Fikir Ferdi simpati.
"Kalau benar sudah jadian, lo harus senang dong. Masa murung begitu" Ujar Taufik.
"Iya...Setidak nya traktir kita dong. Makan-makan gitu sebagai tanda suka cita. Iya gak?" Seru Randi bersemangat.
"Iya...Iya...Gue traktir ni. Tapi sorry ya gue cabut dulu. Lagi gak enak badan nih" Jawab Tio sedikit berat dan beranjak dari duduknya.
"Tunggu Tio" Cegah Ferdi merasa tidak enak dan simpati.
"Lo gak apa-apa kan" Tanya nya kasihan melihat tampang Tio yang kusut begitu.
"Gak apa-apa. Gue cuma ingin istirahat saja"
__ADS_1
"Lebih baik lo pulang saja jika benar-benar gak sehat. Gue antar ya" Tio tersenyum walau senyum itu tampak hambar dan tawar.
"Gak usah deh Fer. Gue gak apa-apa kok terima kasih. Gue hanya ingin sendiri"
"Ya udah, terserah lo aja. Jika ada apa-apa, kasih tau sama kami. Kami ada di sini"
"Terima kasih Fer. Lo baik sekali" Ujar Tio menepuk bahu Ferdi dan beranjak dari situ.
"Kenapa dengan Tio ya? Kok tampangnya kusut begitu?" Tanya Randi heran melihat punggung sobatnya menjauh dari mereka.
"Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dari kita. Ah....Baikan gue susul dia" Ujar Randi lagi bangkit dari duduknya.
"Biar dia sendiri dulu. Mungkin, dia lagi butuh ketenangan"
"Tapi, gue kasihan melihat dia seperti itu"
"Tio gak apa-apa. Nanti jika dia sudah baikan, dia akan cerita sendiri apa masalahnya" Randi menghembus nafas berat.
"Iya...Deh" Jawab Randi duduk kembali dan menyedot teh esnya sampai ludes.
__ADS_1
"Kasihan Tio, ada saja masalah yang menimpanya" Ujar Taufik simpati.
"Mudah-mudahan masalahnya cepat teratasi"
"Aamiin" Seru mereka serentak.
*****
"Otak lo udah miring apa? Masa mau buka rahasia kita ini?" Bentak Kethrine disaat Tio menemuinya sembunyi-sembunyi digudang sekolah.
"Gue gak tega melihat penderitaan ibunya Keth, apa lagi Diya, Diya benar-benar menderita merasa terhina di cemooh sama teman-teman"
"Apa urusannya sama lo ha? Lo kasihan sama Diya? Naksir Diya? Kalau begitu, kita putus aja. Cukup sampai disini hubungan kita" Sergah Kethrine kesal.
"Bukan begitu Keth, gue cuma mau mengaku kesalahan gue dan gue mau minta maaf sama mereka. Gara-gara kita mereka menderita seperti itu"
"Kita?" kata Kethrine tersenyum mengejek.
"Iya kita....Bukan kah lo yang sudah merencanakan semua ini"
__ADS_1
"Apa maksud lo ha? Bukan kah kita sudah berjanji tidak akan membuka rahasia ini. Dan lo sudah mendapatkan apa yang lo mau. Apa itu belum cukup untuk menutup mulut busuk lo itu?" Kethrine mencibir sok jadi malaikat.