
Pagi yang begitu indah kicauan burung bernyanyi di reranting pohon, udara yang masih sejuk menusuk kulit setiap orang yang ada di kampung itu.
Ivan duduk di teras depan rumah Diya. Menikmati tiupan angin pagi yang terasa masih asli karena masih tidak terlalu di padati dengan polusi yang di timbulkan oleh kendaraan.
"Van, kebetulan weekend bagaimana kita keliling kampung untuk menikmati pemandangan sekitar. Kebetulan ada tempat wisata baru buka di komplek Pertamina. Danau buatan nama nya "Telaga suri perdana" Air nya yang jernih dan tempat nya juga asyik untuk tempat tongkrongan dan juga bisa lah untuk berfoto ria di sana. Ada wahana bebek juga di sana, Sepeda air, sampan, dan mobil-mobilan untuk anak-anak. Ayo kita ke sana" Ajak Diya.
"Wah, bagus juga ayo kita ke sana sekalian menenangkan pikiran yang kabut" Ujar Ivan setuju.
"Ya sudah mandi dulu sana" Perintah Diya.
Tanpa di suruh kedua kali Ivan pun bangkit dari duduk nya menuju ke kamar mandi.
"Diy, kita sarapan di luar yuk. Aku mau merasakan suasana makan di warung-warung di kampung mu" Ujar Ivan berbisik ke telingan Diya saat dirinya berpas-pasan dengan Diya hang berdiri di ambang pintu rumah nya.
"Iya, tapi mandi dulu sana. Ini handuk nya" Diya menyodorkan handuk yang ia pegang tadi kepada Ivan.
"Belum menjadi istri saja kamu sudah perhatian mengambil handuk ku. Jika sudah menikah nanti kita boleh dong mandi bareng?" Bisik Ivan menggoda.
"Udah ah jangan berbicara yang bukan-bukan. Halalin aja dulu baru boleh menghayal" Ujar Diya tersipu malu.
Ivan tersenyum mendengar perkataan dari calon istri nya itu.
***
"Kita sarapan dulu ya Diy. Aku lapar" Ucap Ivan saat mereka dalam perjalanan menuju tempat wisata yang di maksud. Tidak begitu jauh memang dari rumah Diya. Hanya memakan waktu beberapa menit untuk sampai di "Telaga suri perdana" tempat wisata yang baru di buka beberapa tahun belakangan ini.
Danau itu terbentuk karena terjadinya hujan lebat di kampung halaman Diya dan mengakibat kan banjir. Sehingga di tempat danau itu yang dulunya adalah semak belukar tergenang air. Hingga para pihak pertamina yang berada di desa itu menggali lagi tempat itu sehingga terbentuk lah danau buatan. Dan kini danau tersebut di lengkapi dengan berbagai wahana sebagai tempat hiburan di desa itu.
Hanya saja wisata itu buka dari hari senin sampai jumat pukul satu siang hingga pukul lima lewat tiga puluh sore. Dan hari libur seperti sabtu dan minggu dan hari libur tanggal merah akan buka dari pagi pukul sembilan pagi sampau pukul lima tiga puluh sore. Setiap ingin menaiki wahana juga murah hanya mengeluarkan biaya sepuluh ribu rupiah per sepuluh menit saat banyak pengunjung namun ketika sepi pengunjung maka sepuluh ribu bisa sepuasnya memainkan satu wahana yang kita pilih. Ayo datang beramai-ramai di "Telaga suri perdana." (Promosi sedikit ya mak) 😇
"Diy sarapan yang enak di mana Diy" Tanya Ivan.
"Itu di warung bik yah saja Van. Di situ soto nya enak lo. Ada nasi lemak dan lontong juga di sana. Tapi favorit ku soto nya" Jawab Diya.
"Oke tunjukin aku ya di mana tempat nya" Ujar Ivan fokus menyetir mobil nya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di warung bik Yah yang sederhana namun bersih dan nyaman pasti nya bagi para pengunjung.
"Eh, Diya sudah lama tidak datang. Kemana aja?" Tanya bik Yah si pemilik warung.
"Iya bik, sedang sibuk kerja bik" Jawab Diya singkat.
"Diy, siapa?" Tanya bik Yah sedikit berbisik.
"Ivan bik" Jawab Diya.
"Calon nya ya Diy?" Tanya bik Yah menggoda.
"Iya bik. Inshaallah doai ya bik" Ucap Diya tersenyum.
"Aamiin.....Di doakan semoga lancar ya Diy" Jawab bik Yah ikut tersenyum.
"Mau makan apa Diy?" Tanya bik Yah.
"Biasa bik soto campur lontong nya ya bik" Sahut Diya.
"Kamu mau makan apa Van?" Tanya Diya kepada lelaki yang duduk di depan nya.
"Sama aja dengan mu" Ujar Ivan.
"Minum nya apa?" Tanya Diya lagi.
"Teh hangat aja" Jawab Ivan.
"Bik, soto campur lontong nya dua, teh hanget nya juga dua ya" Ujar Diya.
"Oke sebentar ya Diy" Jawab bik Yah langsung menyajikan makanan yang di pesan oleh kedua anak manusia yang berlainan jenis kelamin itu.
"Ini pesanan nya, silahkan di nikmati" Ujar bik Yah menghidangkan menu yang di pesan.
"Makasih ya bik Yah" Jawab Diya.
"Ayo Van cobain soto nya. Aku yakin kamu pasti suka" Ujar Diya tersenyum.
Ivan mulai menyodorkan sesendok kuah soto ke dalam mulut nya.
"Hmm.....enak Diy, pas banget rasanya" Ujar Ivan mengangguk-angguk setuju dengan tempat yang di ajukan Diya tadi.
"Tuh kan aku bilang juga apa. Kamu pasti suka dengan makanan nya" Ujar Diya tersenyum senang.
Meraka pun menyantap makanan yang mereka pesan sampai ludes tak bersisa.
***
"Wah, bagus juga tempat wisatanya ya Diy" Komentar Ivan melihat tempat wisata yang mereka kunjungi.
__ADS_1
"Iya dong....Ayo kita naik wahana bebek nya" Ajak Diya.
Diya memegang tangan Ivan menarik nya menuju tempat wahana yang ia maksud.
Yah begitu lah kegiatan mereka hari itu. Menikmati semua wahana yang bisa mereka main di sana dengan sangat gembira.
Puas bermain mereka pun duduk di tempat duduk yang telah di sediakan oleh pihak "Telaga suri perdana" sebagai tempat nongkrong di pinggir-pinggir danau.
"Sebentar ya Diy, aku belikan kamu minuman dulu" Ujar Ivan meninggalkan Diya yang duduk menikmati suasana danau yang lumayan ramai pengunjung nya itu.
"Diy, kamu kah itu?" Tegur seseorang
Diya menoleh mencari sumber suara.
"Dimas" Ujar nya mengetahui siapa yang menegur nya tadi.
"Apa kabar Diy, sudah lama tidak ketemu" Sapa nya duduk di hadapan Diya.
"Aduh, celaka enam belas. Ni anak ngapain di sini. Malah duduk lagi di hadapan ku. Nanti jika Ivan salah paham gimana" Batin nya merasa tidak enak karena takut terjadi salah paham kedepan nya bersama Ivan.
"Diy, kok melamun di tanya malah bengong" Dimas bertanya kembali. Yah Dimas laki-laki yang pernah mengincar Diya saat SMA dulu sewaktu Ferdi telah pergi di dalam hidup Diya. Ada Dimas yang berusaha mencuri hati gadis itu. Hanya saja saat itu Diya masih menutup rapat-rapat hati nya untuk lelaki mana pun karena masih mengharap kan Ferdi kembali.
"Eh, aku kerja di Pekanbaru" Jawab Diya seadanya.
"Oh...pantesan gak kelihatan lagi di kampung ini" Ucap Dimas.
"Oh ya apa kabar?" Tambah nya lagi basa basi.
"Yah, seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja kok" Jawab Diya lagi.
"Bagaimana pendapatmu tentang tempat ini. Aku kerja di sini lo" Ujar Dimas mempromosikan dirinya sendiri.
"Oh, kamu kerja disini? Tempat ini bagus kok. Tempat yang nyaman dan indah untuk bersantai" Komentar Diya.
Ivan merasa sedikit cemburu melihat Diya di hampiri oleh seorang laki-laki yang ia tidak kenal itu siapa.
"Hay" Tegur Ivan basa basi kepada Diya.
"Ini minuman nya?".Katanya lagi memberikan segelas minuman dingin kepada gadis nya.
"Makasih ya" Sambut Diya langsung menyedot minuman yang di berikan oleh Ivan.
Ivan duduk di samping Diya.
"Oh ya Van kenalin Dimas kakak kelas ku dulu sewaktu SMA. Dimas ini Ivan....." Diya memperkenalkan kedua laki-laki itu.
"Oh, ternyata kamu sudah mempunyai calon suami ya Diy. Kalau begitu selamat ya" Ucap Dimas salah tingkah.
Bermaksud ingin melakukan pendekatan kembali dengan Diya, malah ia kalah satu langkah dengan Ivan.
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Ada yang harus aku urus" Ujar Dimas pamit.
Diya dan Ivan mengangguk setuju.
"Aduh Diy, baru sebentar kamu aku tinggal nya membeli minuman. Udah di samperin aja kamu sama laki-laki ya" Canda Ivan yang memang benar adanya.
Diya tersenyum mendengar apa yang di katakan Ivan.
"Kamu cemburu?"
"Cemburu itu sih iya, rasa cemburu itu pasti ada lah Diy nama nya juga aku cinta sama kamu. Sedikit banyak nya pasti ada lah kan. Kamu juga begitu kan?" Tanya Ivan.
"Iya sih, aku juga cemburu jika kamu dekat sama cewek lain" Jawab Diya.
"Termasuk sama Virda?"
Diya mengangguk membenarkan.
"Kamu tenang ya sayang, sekarang Virda telah pindah ke apartemen nya sendiri. Aku akan menjaga jarak sama Virda untuk menjaga perasaan kamu" Ujar Ivan meyakinkan Diya.
"Gak perlu gitu juga kok Van. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan kamu dan Virda. Secara kalian sudah bersahabat sejak lama" Ucap Diya merasa tidak enak hati.
"Yah aku dan Virda memang bersahabat sejak lama. Tapi semakin kesini Virda bersikap seenak nya. Aku jadi sedikit was-was dengan nya" Jelas Ivan.
Diya hanya terdiam tidak menanggapi apa yang Ivan katakan barusan.
***
"Assalamualaikum" Sapa Diya dan Ivan sampai di rumah.
"Nah ini dia orang nya. Baru saja kami membicarakan tentang kalian sudah nongol aja. Panjang umur" Kata Mirna tersenyum.
"Lah, membicarakan apa ayo" Canda Ivan.
"Ini kami menunggu kalian untuk makan siang bersama. Ayo kita makan dulu" Ujar Ajeng.
__ADS_1
"Gimana wisata nya? Seru?" Tanya Ajeng.
"Seru dong ma, apa lagi pergi nya berdua sama kekasih hati. Jelas semua akan terasa indah" Jawab Ivan.
"Iya nama nya juga sedang kasmaran buk. Jadi semua terasa indah" Jawab Mirna.
"Lo, papa mana?" Tanya Ivan.
"Oh iya, Diy, panggil pak Herman dulu ya, Diya lagi berada di rumah paman mu" Ujar Mirna. Yang kebetulan rumah paman nya Diya memang berjarak beberapa rumah saja. Karena di rumah Diya tidak ada laki-laki untuk di ajak ngobrol, sehingga Herman memutuskan untuk pergi berkunjung ke rumah paman nya Diya yang merupakan adik dari ibu nya Diya.
"Iya buk, sebentar" Ujar Diya berlalu dari mereka.
Tak begitu lama Diya pun kembali dengan Herman bersama nya.
"Ayo pa makan" Ajak Ajeng.
Ajeng mengambil sepiring nasi tak lupa beberapa lauk pauk dan juga sayuran untuk sang suami tercinta.
"Oh ya buk, besok ibu ikut kita ya ke kota. Jadi kan buk?" Tanya Diya memastikan.
"Iya ibu akan ikut kemana anak ibu pergi. Toh ibu juga sendirian tinggal di sini" Jawan Mirna tersenyum.
"Oh ya, Yuli dan Zaki bagaimana? Apa mereka juga ikut pulang besok?"
"Yuli bilang Zaki pulang nya hari ini. Jadi besok hanya Yuli yang ikut pulang bareng kita" Jawab Diya.
Ivan mengangguk mengerti.
***
Mirna, Ajeng, Herman, Ivan dan Diya sedang berkumpul di ruang tamu setelah mereka selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim yaitu solat magrib secara berjamaah.
"Pa, ma, buk bagaimana malam ini kita makan di luar" Saran Ivan.
"Aku pengen merasakan makanan di warung di kampung ini. Yah bisa di bilang sambil wisata kuliner" Tambah nya lagi.
"Boleh juga Van. Papa juga mau jalan-jalan melihat keadaan kampung ini bagaimana nya" Ujar Herman.
"Nah kalau begitu ayo kita siap-siap" Ajak Ajeng.
Mereka pun bersiap-siap untuk pergi melaksanakan apa yang di sarankan oleh Ivan tadi.
"Diy, makan yang enak di mana?" Tanya Ivan lagi saat ia mulai menjalan kan mobil nya.
"Kita makan pecel lele aja ya. Enak lo pecel lele nya. ada ayam, bebek dan beberapa ikan juga di sana sebagai menu nya. Ramai juga para pengunjung di sana" Jelas Diya.
"Oke mari kita ke sana" Jawab Ivan.
Memang benar apa yang di kata kan Diya. Warung itu memang di penuhi oleh pengunjung. Tempat nya besar, bersih, dan nyaman.. Lokasinya berada di pasar Sungai Pakning samping SMP satu negeri Sungai Pakning. di pinggir jalan. Tidak selalu sulit untuk menemukan lokasi itu.
"Benar ya Diy, ramai juga pengunjung ya" Ujar Ivan.
"Iya Van. setiap hari tempat ini memang di penuhi oleh para pengunjung"
Mereka lebih memilih duduk di lesehan yang berada di warung itu.
"Mau pesan apa?" Tanya salah satu pelayan yang datang membawa menu makanan.
"Sebentar ya" Jawab Diya.
"Ibu mau pesan apa buk ayam, bebek, ikan lele, ikan nila, gurame juga ada buk" Tanya Diya membacakan menu makanan yang di bawa oleh pelayan tadi.
"Ayam aja Diy" Jawab Mirna.
"Kalau om dan tante?"
"Om ikan gurame saja"
"Tante bebek goreng saja ya" Ajeng ikut mengutarakan pesanan nya.
"Ivan kamu mau apa?"
"Ikan nila saja Diy"
"Oke, jadi Ikan nila dua, bebek nya satu, gurami nya satu, ayam nya satu ya" Ujar Diya kepada pelayan tadi.
"Kalau minum nya apa?"
"Di samain aja semua nya teh es" Jawab Ajeng.
"Minuman nya teh es semua ya dan tolong air mineral nya juga ya" Ujar Diya berkata sopan.
"Baik, tunggu sebentar ya" Jawab pelayan tadi.
"Diy, mulai sekarang biasakan diri mu ya memanggil om sama tante dengan sebutan mama. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu kami. Masa calon menantu panggilan nya masih om dan tante" Ujar Ajeng memberi saran.
__ADS_1
"Baik tan, eh ma maksud nya" Ujar Diya.