
"Kamu masih menyangkal bahwa ini adalah anak mu?" Ucap Virda.
"Baik, aku akan mengatakan kepada Diya dan orang tua mu bahwa aku ini sedang mengandung anak mu" Ancam Virda lagi.
"Oh ya silahkan. Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman yang kamu berikan. Toh kamu juga yang akan merasa malu nanti nya" Ucap Ivan kembali mengancam.
"Merasa malu? Apa maksud nya? Apa dia berpikir bahwa aku malu telah melakukan itu kepada nya dan mengakui bahwa aku sedang hamil ini?" Batin Virda bertanya-tanya.
"Ah, sudah lah aku tidak akan malu. Yang penting, aku akan mengatakan semua nya di depan Diya dan tante serta om Aku sedang mengandung anak nya Ivan. Terserah mereka memikirkan apa tentang ku. Yang jelas, aku akan mendapatkan Ivan dan Diya akan pergi meninggalkan Ivan" Tambah nya lagi.
"Apa yang kamu pikir kan? Apa ragu untuk mengatakan semuanya? Silahkan kamu mengatakan apa pun. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada mu" Tegas Ivan.
"Kamu kejam Van, kamu sama saja seperti laki-laki mana pun yang hanya mau enak nya saja dan tidak mau bertanggung jawab jika sudah seperti ini" Ujar Virda dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mohon maaf ya Vir, aku bukan seperti laki-laki seperti apa yang kamu katakan tadi. Aku akan bertanggung jawab jika memang aku yang melakukan nya. Tapi masalah nya aku tidak pernah menyentuh mu" Ujar Ivan.
"Apa kamu lupa malam itu kita melakukan nya?" Ujar Virda.
"Tidak pernah terjadi apa-apa kepada kita pada malam itu"
"Kita memang melakukan nya. Kita sama-sama suka untuk melakukan itu"
"Gak, aku gak pernah melakukan nya bersama kamu. Aku menganggap kamu sebagai adik ku sendiri. Tidak mungkin aku menodai adik ku sendiri" Bela Ivan lagi.
"Terus kamu pikir aku adalah wanita apaan melakukan hal itu bersama lelaki lain?"
"Iya, itu lh kenyataan nya. Kamu melakukan nya bersama lelaki lain dan kamu meminta pertanggung jawaban kepada ku atas apa yang tidak aku perbuat"
"Oke, terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas ini memang anak mu. Dan bukti nya juga cukup jelas yaitu hasil tes DNA itu" Ujar Virda.
"Aku akan mengatakan semua nya kepada mama dan papa mu. Dan aku juga akan memastikan bahwa Diya akan mengetahui hal ini juga. Pasti Diya akan meninggalkan mu" Tambah nya lagi.
"Terserah, tapi jangan salah kan aku jika kamu yang nanti nya akan malu sendiri" Ujar Ivan.
"Dan aku pastikan mereka akan membenci kamu" Tambah nya lagi.
"Kamu yang akan malu Van. Bukan aku" Ujar Virda beranjak meninggalkan Ivan.
***
"Virda, kenapa kamu mengumpulkan kita di sini?" Tanya Ajeng yang merasa heran tiba-tiba Virda mengajak mereka ketemuan.
"Ada yang mau aku bicarain sama kalian semua. Ini masalah penting menyangkut masa depan ku dan Ivan" Ujar Virda.
Deg....
Jantung Diya berdegup cepat mendengar apa yang di bicarakan oleh Virda barusan.
"Apa? Masalah Ivan dan Virda? Menyangkut masa depan nya?" Apa maksud dari semua ini?" Batin Diya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Herman.
"Kami tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan" Tambah nya lagi.
Ivan sedari tadi hanya duduk santai tidak menanggapi apa yang di katakan Virda.
Merasa takut pun tidak akan Virda yang mengatakan bahwa diri nya sendang mengandung anak nya.
"Van, apa maksud dari ucapan Virda barusan? Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Diya kepada Ivan.
"Biarkan dia menjelaskan semua nya ya sayang. Setelah itu baru aku akan menjelaskan yang sebenar nya. Ikuti saja permainan nya" Bisik Ivan kembali kepada istri nya.
Diya menatap Ivan dengan bingung.
"Sudah sayang dengerin aja dulu. Inti nya kamu jangan percaya dengan apa yang dia katakan. Biarkan aku yang akan menunjukkan kebenaran nya" Ujar Ivan.
Diya tersenyum hambar dan mengganggu mengerti. Gadis yang kini sudah bergelar sebagai istri nya Ivan itu memang terlihat bingung. Namun, ia percaya kepada suami nya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Om, tante, Diy, kalian semua harus tahu apa yang terjadi kepada ku" Virda memulai ceritanya.
Semua yang ada di sana saling pandang dan masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, Ivan masih tetap santai dan bersikap tenang seolah-olah tidak ada yang perlu di takuti lagi seperti dulu.
"Waktu itu aku sedang sakit. Dan aku meminta Ivan untuk menemani ku di apartemen ku. Kalian tahu sendiri kan, aku tidak mempunyai kenalan siapa-siapa di sini. Hanya om, tante dan Ivan yang aku kenal dan sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri" Ujar Virda menampak kan ekspresi sedih nya.
"Jadi pada malam itu kami sudah melakukan kesilapan yang sangat fatal. Dan Diya juga mengetahui atas hal itu" Ujar Virda.
Diya kaget mendengar apa yang di katakan Virda.
"Apa maksud nya kejadian pada waktu itu? Yang Virda mengirimkan aku sebuah foto tentang kebersamaan nya dengan Ivan. Tapi bukan kah itu semua hanya omong kosong nya saja. Dan jika benar mereka melakukan itu, bukan kah dia sendiri yang bilang bahwa mereka sudah sering melakukan nya. Tapi kenapa dia hanya mematok kan kejadian hanya di malam itu" Batin dia bertanya-tanya.
"Fatal? Fatal bagaimana?" Tanya Herman.
"Aku dan Ivan sudah, sudah..." Ujar Virda berakting sedih tidak bisa melanjutkan perkataan nya.
"Sudah apa? Sudah apa Diy?" Tanya Ajeng panik.
"Van sudah apa?" Tanya nya kepada Ivan.
"Tanya saja kepada Virda ma. Dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi" Ujar Ivan tetap santai sambil menggenggam jari istri nya yang duduk di samping nya.
Virda menutupi wajah nya. Ia menyembunyikan wajah nya yang penuh dengan air mata buaya nya.
"Aku dan Ivan sudah melakukan hubungan suami istri" Ujar Virda.
Deg...
Terasa seperti petir di siang bolong menyambar hati semua orang yang ada di sana.
"Tunggu" Diya ikut berbicara.
__ADS_1
"Bukankah waktu itu kamu mengatakan bahwa kalian sering melakukan hal itu ketika kalian masih kuliah dulu. Tapi kenapa kamu patokan kejadian itu hanya terjadi di malam itu" Tanya Diya mulai menyelidiki.
Bagaimanapun ia harus bisa mempertahankan suaminya dan menjaga kehormatan suaminya agar tidak dituduh berbuat hal yang bukan-bukan. Apalagi ini menyangkut harga diri suaminya.
"Soal nya aku sedang mengandung anak nya karena kejadian itu" Jawab Virda dengan lantang.
Deg...
Kembali mereka semua merasa kaget dengan apa yang di jelaskan oleh Virda.
"Hamil?" Ulang Ajeng.
"Van, benar apa yang di katakan Virda?" Tanya Ajeng.
"Jika kalian tidak percaya, ini ada tes DNA yang kami lakukan kemaren" Virda menyerahkan hasil tes DNA itu kepada Ajeng.
Mata Ajeng membulat membaca hasil tes DNA itu. Seakan-akan tidak percaya bahwa anak semata wayang nya telah berbuat hal segila itu bersama Virda. Gadis blasteran yang sudah di anggap sebagai saudaranya sendiri.
"Ivan tidak mau bertanggung jawab atas anak ini tante om, dia tidak mau menikahiku karena dia tidak percaya bahwa anda yang aku kandung ini adalah anaknya. Padahal hasil tes DNA itu sudah menunjukkan bahwa anak ini adalah anaknya" Jelas Virda sambil menangis karena merasa dirinya adalah sebagai korban dari laki-laki seperti Ivan yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya.
Diya menatap Ivan dengan perasaan terluka di hati. Mulut nya seakan terkunci tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun setelah ia membaca hasil tes DNA itu.
Ivan tersenyum membalas tatapan dari istri nya.
"Tidak seperti apa yang kamu pikirkan sayang" Ucap nya pelan.
"Om, tante, Diy aku mohon sama kalian. Tolong buat aku dan Ivan menikah. Aku tidak mau anak yang ada di dalam kandungan ku lahir tanpa seorang ayah. Aku juga tidak mau jadi omongan para tetangga jika mereka melihat aku hamil tanpa seorang suami. Dan bagaimana aku jelaskan kepada papa dan mama ku tentang semua ini" Ujar Virda memohon.
"Van, apa-apaan ini? Bisa kamu jelaskan semua ini? Bisa-bisanya kau melakukan itu sama Virda. Bukankah kamu sudah menganggap Virda sebagai adikmu sendiri? Tapi kenapa kamu menodai dia dan membuat dia hamil seperti ini? Bahkan yang lebih kejamnya, kamu tidak mau bertanggung jawab atas anak yang dikandung oleh Virda" Herman terdengar murka.
"Oke, sekaran biar aku yang berbicara. Karena kalian sudah banyak berbicara, maka izin kan aku menjelaskan semua nya" Ucap Ivan santai.
"Pertama aku tidak pernah menyentuh Virda sedikitpun. Karena apa? Karena aku tidak mencintainya aku hanya menganggap nya sebagai adikku saja tidak mungkin aku bisa melakukan hal itu kepada adikku sendiri"
"Terus bagaimana dengan hasil tes DNA ini yang menunjukkan bahwa kamu adalah ayah biologis dari anak yang dikandung sama Virda? Bisa-bisanya kamu menyangkal bahwa kamu ini bukan ayahnya dan tidak pernah menyentuh Virda sama sekali" Ujar Ajeng dengan rasa kecewa.
Diya hanya diam tidak bisa berkata apa pun. Diri nya masih tidak percaya bahwa Ivan telah menghianati nya.
"Ma dengerin dulu" Ujar Ivan.
"Dan yang kedua, hasil tes DNA itu adalah palsu"
Deg ..
Virda kaget mendengar ucapan Ivan. Mata nya membulat menatap Ivan.
"Virda telah membayar orang untuk mengubah hasil tes DNA itu agar hasil nya menyatakan bahwa aku lah ayah dari anak itu" Jelas Ivan.
"Van, bisa-bisa nya kamu menuduh ku melakukan hal itu? Tega sekali kamu Van" Ujar Virda membela diri.
"Tante, om, lihat lah Ivan. Dia menuduh ku bukan-buka seperti ini. Aku sungguh merasa kecewa kepada nya" Ujar Virda menangis.
"Aku tidak menuduh mu, aku mempunyai bukti" Ujar Ivan.
"Maaf kan saya, saya hanya di bayar untuk melakukan tugas menipulasi hasil tes DNA itu atas nama pak Ivan karena di perintahkan oleh bu Virda" Ujar petugas rumah sakit itu.
"Tolong pak, jangan laporkan saya kepada atasan saya. Bisa-bisa saya di pecat dan saya akan kehilangan pekerjaan saya. Saya tidak mau pak, anak dan istri saya juga butuh makan" Ujar nya lagi memohon.
"Bagaimana Vir, apa masih kurang?" Tanya Ivan.
"Aku tidak tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Tapi yang jelas itu bukan anak ku. Aku tidak pernah melakukan hal yang tidak bermoral seperti itu kepada wanita mana pun kecuali bersama istri ku" Ucap Ivan lagi.
Virda terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Diri nya tidak menyangka rencana nya gagal total. Padahal ia sangat yakin bisa mendapatkan Ivan dengan berbuat hal ini. Namun, harapan nya sia-sia.
"Selama ini aku telah mencari kebenaran nya. Dan aku sudah meminta orang-orang suruhan ku menyelidiki tentang kamu. Dan apa kamu lupa, jika rumah sakit tempat kita melakukan tes DNA kemarin adalah milik sahabatku" Ujar Ivan.
Lagi lagi Virda hanya menunduk diam tidak bisa berkata apa-apa karena Ivan telah mengetahui segalanya.
"Virda, tante benar-benar tidak menyangka kamu bisa menuduh Ivan melakukan hal sekeji itu kepada kamu. Padahal tante sudah sayang sama kamu dan menganggap kamu sebagai anak sendiri. Tapi ini balasan kamu?" Ucap Ajeng merasa kecewa dengan perbuatan Virda.
"Tante, aku melakukan semua itu karena aku mencintai Ivan. Aku sangat mencintainya aku telah menunggunya selama ini. Namun apa yang kudapat Ivan malah menikah dengan Diya gadis kampung ini dan meninggalkan aku dalam sendirian seperti ini. Cinta aku tidak terbalas tante rasanya sakit" Ujar Virda dengan rasa pedih di dada.
"Tapi tidak dengan menuduh Ivan seperti itu. Kamu telah berbuat hal yang sekeji itu dengan laki-laki lain. Namun kenapa kamu menuduh Ivan lah pelakunya. Itu namanya pencemaran nama baik. Kamu bisa saja kami tuntut" Ujar Ajeng merasa kesal dengan Virda.
"Maafkan aku tante, maafkan aku om. Tapi aku telah banyak berkorban untuk Ivan aku telah meninggalkan pekerjaanku dan pindah ke sini hanya ingin bersama Ivan"
"Aku rela menunggu Ivan selama ini agar dia bisa membuka hatinya kepadaku. Aku rela meninggalkan semuanya hanya untuk Ivan. Bahkan aku rela menyerahkan harga diriku hanya untuk bersama Ivan. Tapi apa yang kudapat dia malah menikah dengan wanita lain yang baru saja datang di dalam kehidupannya tanpa memikirkan perasaanku" Ujar Virda menangis meratapi nasib nya.
"Aku tidak pernah memintamu untuk pindah dan berkorban banyak hal untukku. Kamu sendiri yang mau melakukan itu. Tapi kenapa kamu malah meminta pertanggung jawabannya kepadaku padahal Ini semua adalah keinginan kamu sendiri dan aku tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini"
"Jelas ada Van. Aku melakukan semua ini karena kamu dan hanya untuk kamu. Jadi kamu ada sangkut pautnya tentang semua ini. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadaku" Ujar Virda terus menangis.
"Kamu meminta pertanggung jawaban tentang apa? Tentang kehamilan mu?" Sindir Ivan.
"Bagaimana aku mau bertanggung jawab sedangkan anak itu bukan anakku. Jika kamu mau melaporkan aku atas tuduhan pemerkosaan, silakan! Aku sama sekali tidak takut karena aku mempunyai bukti juga aku tidak pernah melakukan apapun dan kamu yang telah manipulasi hasil tes DNA itu jadi aku bisa saja menuntut kamu balik" Ujar Ivan terdengar mengancam.
"Terus bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan ku? Siapa yang harus bertanggung jawab" Ujar Virda frustasi.
"Kamu cari saja siapa ayah sebenarnya dari anak yang kamu kandung. Jangan kamu menuduh aku dan minta pertanggungjawaban kepadaku karena aku tidak pernah melakukan hal itu kepada kamu. Kamu mengerti" Ujar Ivan emosi.
"Sudah ya Virda, tante tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut kamu. Yang jelas tante dan om sangat kecewa sama kamu. Tante minta sama kamu tolong pergi dari rumah kami" Ujar Ajeng.
"Tante, tante mengusir ku?"
"Tante sudah kecewa sama kamu. Padahal malam ini tante mengundang kamu makan malam ke sini untuk mengatakan bahwa om dan tante setuju jika kamu tinggal di sini. Tapi apa? Kamu sudah menuduh Ivan yang bukan-bukan dan membuat om dan tante kecewa sama kamu. Jadi tante minta dengan sangat tolong angkat kaki dari rumah ini" Ujar Ajeng.
"Tante tolong jangan berbuat seperti ini kepadaku"
"Jadi kamu mau tante bersikap seperti apa kepadamu? Mau tante bersikap seperti biasanya? Tentu saja tante tidak bisa melakukan itu karena kamu telah membuat anak tante malu dan menuduh anak tante melakukan hal seperti itu kepada kamu. Tante sudah sangat kecewa sama kamu. Jadi tante mohon sama kamu tolong pergi dari rumah ini dan jangan pernah kamu kembali lagi. Atau perlu tante memanggil satpam untuk mengusir kamu dari rumah tante?" Ujar Ajeng lagi.
"Tante, tante ingat kan bahwa aku ini anak dari sahabatnya tante. Jadi aku mohon tolong jangan bersikap seperti ini tante" Ujar Virda memohon.
__ADS_1
"Keluar Virda" Teriak Ajeng.
"Tante"
"Keluar" Ujar Ajeng menyeret Virda keluar dari rumah nya
***
"Van, aku tidak menyangka Virda bisa melakukan hal seperti itu untuk menuduh mu" Ujar Diya saat mereka berada di dalam mobil untuk pulang.
"Begitu lah Virda. Aku sangat mengenal nya. Dia gadis yang keras kepala dan pasti akan melakukan hal apa pun untuk mendapat kan keinginan nya" Jelas Ivan.
"Aku minta maaf ya Van. Tadi aku meragukan kamu" Ujar Diya merasa bersalah kepada suami nya.
"Tidak mengapa sayang Semua orang pasti juga akan berpikir hal hang sama dengan mu. Tapi untung saja aku sudah mengetahui nya secepat ini. Jadi aku mempunyai bukti bahwa aku tidak bersalah" Ujar Ivan.
"Dan aku juga mau minta maaf sayang kepada mu aku sudah menyembunyikan semua ini kepada kamu. Aku hanya ingin mencari bukti yang jelas seperti sekarang ini jadi aku bisa menceritakan dan menjelaskan bahwa aku tidak bersalah"
"Sejujurnya aku takut kamu salah paham kepadaku Diy, dan kamu akan meninggalkan aku. Aku tidak mau kamu meninggalkan aku untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau kehilangan kamu. Kamu adalah sebagian darinya hidupku. Jika kamu tidak ada, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada hidupku nanti" Ujar Ivan.
"Sayang, sekarang aku sudah menjadi istri kamu jadi tidak mungkin aku akan meninggalkan kamu. Kamu sekarang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Dan bagaimanapun aku pasti akan percaya kepada kamu karena kamu adalah suamiku. Dan aku akan berusaha membela kamu bagaimanapun caranya" Ujar Diya menggenggam erat jari suaminya untuk meyakinkan kepada suaminya bahwa dirinya akan senantiasa berada di samping suaminya apapun yang terjadi.
"Terima kasih ya sayang, terima kasih atas kepercayaan kamu kepadaku" Ujar Ivan lagi.
Diya tersenyum memandang suami nya dan menyandarkan kepalanya di pundak suami tercinta nya.
"Oh ya sayang, besok kamu jadi membawa ibu cek kembali ke rumah sakit?"
"Jadi, jika tidak ada halangan aku dan ibu akan ke rumah sakit pagi besok" Ujar Diya.
"Semoga saja ibu sudah membaik ya sayang" Ujar Ivan.
"Aamiin itu yang kita harap kan"
***
"Sudah pulang?" Ujar Mirna melihat anak dan menantu nya.
"Sudah buk. Ibu kok belum tidur sih?" Tanya Diya.
"Ibu menunggu kalian pulang"
"Ya ampun buk, ibu istirahat saja, ibu kan baru sehat. Dan besok kita melakukan cek ulang lagi" Ujar Diya.
"Yuli, dan orang tua nya sudah tidur?"
"Sudah nak"
"Oh ya besok malam keluarga Zaki akan datang ke rumah kita untuk membahas pernikahannya bersama Yuli"
"Berarti besok kita mempersiapkan jamuan untuk kedatangan keluarga nya Zaki" Ujar Diya.
"Kita buat kue-kue aja ya buk"
"Iya ibu setuju"
***
"Alhamdulillah ya buk, seperti nya darah tinggi ibu sudah mulai stabil. Dan ibu harus menjaga makanan nya ya buk. Jangan sampai nanti tekanan darah ibu naik lagi" Ujar dokter yang memeriksa ibu.
"Baik dok, terima kasih" Ujar Diya.
"Ini ada beberapa obat untuk ibu minum agar tekanan darah ibu terus stabil. Meski ada obat ini, ibu harus tetap menjaga makanan yang ibu konsumsi ya" Jelas dokter itu lagi.
"Baik dok, terima kasih" Ujar kedua beranak itu.
"Tuh dengar buk apa yang di katakan dokter. Yang jelas ibu harus jaga makanan dan juga harus istirahat yang cukup" Ujar Diya.
"Iya nak, ibu pasti akan menjaga pola makan ibu dan istirahat yang cukup"
"Aku gak mau ibu sakit lagi" Ujar Diya sedih.
"Sudah nak, jangan sedih begitu. Ibu baik-baik saja. Tuh dengar apa kata dokter barusan ibu sudah baikan kan?" Ujar Mirna menenangkan hati putri nya.
"Iya, tapi tetap saja harus jaga pola makan nya. Jangan di paksa kerja bila sudah lelah" Ujar Diya lagi.
"Iya, iya anak ibu ini bawel banget sih" Mirna mencubit gemes pipi putri nya itu.
Diya tersenyum mendapat perlakuan dari ibu nya.
"Ya sudah ayo kita pulang buk" Ajak Diya.
Kedua ibu dan anak itu pun pergi pulang.
***
"Sayang, bagaimana keadaan ibu?" Tanya Ivan menghubungi Diya saat Diya dan ibunya berada di dalan taksi menuju pulang.
"Kata dokter tekanan darah ibu sudah stabil kembali. Dan tadi dokter juga memberikan obat untuk menstabilkan darah ibu. Namun, ibu harus tetap menjaga pola makan nya. Jangan memakan makanan yang di larang dan harus istirahat yang cukup" Jelas Diya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Senang mendengar ibu baik-baik saja" Ucap Ivan.
"Ya sudah sayang. Aku tutup dulu telfon nya. Aku harus pergi meeting dulu. Klien aku sudah menunggu. Dan maaf ya sayang" Ujar Ivan merasa bersalah.
"Maaf untuk apa?"
"Karena tidak bisa menemani kamu dan ibu ke rumah sakit"
"Ya ampun sayang. Gak apa-apa kamu kan sedang sibuk di kantor. Gak mungkin aku paksakan kamu harus menemani aku dan ibu"
"Terima kasih ya sayang. Kamu istri yang pengertian. Aku beruntung mempunyai istri seperti kamu"
__ADS_1
Diya tersenyum senang mendengar pujian dari suami nya.