
Lama pemuda itu menatap bola mata gadis blasteran itu. Untuk mencari kepastian. Namun, terlihat dari bola mata gadis itu dia begitu serius akan ucapan nya. sehingga membuat Ivan jadi bimbang.
"Emangnya posisi apa yang harus aku berikan kepada mu Vir? Semua posisi di kantorku tidak sesuai dengan posisi yang kamu dapatkan sekarang di kantor tempat mu bekerja" Ivan jadi gelisah.
"Aku ingin menjadi sekretaris kamu"
"Apa? Bagaimana dengan Diya?" Tanya Ivan kaget dan merasa tidak enak hati.
"Terserah, mau kamu pecat dia atau di pindahkan ke posisi yang lain, terserah kamu sebagai GM nya" Jawab Virda membalas Ivan dengan gayanya yang cuek. Pemuda ganteng itu diam dan tampak berpikir.
"Yah, gak mungkin Vir kamu jadi sektretaris ku. Posisi kamu sekarang lebih bagus dari itu. Dan posisi yang kamu ingin kan tidak sesuai dengan pendidikan mu. Bagaimana kamu kamu....."
"Gak mau, pokok nya aku mau jadi sekretaris mu titik" Potong Virda bersikeras. Ivan diam melihat keras kepala gadis indobel itu.
__ADS_1
"Aku gak suka melihat mu dekat-dekat sama gadis lain. Apa lagi dia cantik. Itu sangat membuat ku sakit"
"Vir, kamu kan tau kalau kita....."
"Iya, iya aku paham kok, hanya sahabat dan kamu menganggap ku sebagai adik mu, tidak lebih dari itu" Potong Virda cepat.
"Terus?"
"Kamu seperti anak kecil saja. Padahal usia mu sudah 25 tahun" Pemuda itu geleng-geleng kepalanya. Hatinya juga geli mendengar pengakuan Virda yang blak-blakan. Sudah berapa kali gadis itu menyatakan hal yang serupa bahkan Ivan tidak dapat mengingat lagi karena terlalu banyak nya.
Melihat Ivan tersenyum, Virda jadi cemberut.
"Tersenyumlah, hari ini kau boleh tersenyum. Besok-besok kaj akan bertekuk lutut kepadaku dah memohon-mohon kepadaku agar mau menjadi kekasih mu" Kata Virda mantap dengan gaya seperti di sinetron saja. Ivan tertawa lepas melihat peringan gadis itu.
__ADS_1
"Oke deh....percaya, percaya" Sahut Ivan mencubit pipi Virda dengan gemes. Pemuda itu paling suka mencubit pipi Virda bila gadis itu sedang cemberut.
"Jadi, aku di terima ni?" Ujar Virda kegirangan.
"Iya....iya....apa sih yang gak buat kamu" Jawab Ivan akhirnya mengalah dan bimbang juga.
"Terima kasih ya Van. Kamu benar-benar sahabat ku." Virda memeluk Ivan dengan erat.
Sejak tadi Diya hanya berdiri mematung di tempat nya mendengar percakapan Ivan dan Virda dari tadi. Bukan bermaksud untuk menguping, tapi mendengar pembicaraan mereka yang sangat serius tidak mungkin Diya merusak nya dan mengganggu dengan kehadiran nya di sana. Tiba-tiba perasaan tidak enak muncul di hati gadis cantik itu. Diya mengambil ponsel dari tasnya lalu menekan salah satu nomor. Terdengar suara tersambung dari ponsel di tangan nya.
"Selamat siang pak, Maaf sebelumnya" Sapa Diya saat mendengar sapaan hello dari seberang.
"Sekarang jam istirahat makan siang kan pak? Maaf sekali lagi saya mohon izin ada keperluan mendadak jadi gak bisa makan bersama bapak. Tapi setelah urusan saya selesai saya akan langsung ke kantor pak. Mohon Izin ya pak" Jelas Diya.
__ADS_1