
Diya merebahkan tubuhnya di kasur. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Diya" Panggil bu Marni saat membuka pintu kamar anaknya.
"Lo, Kok pada tiduran sih? Dari tadi ibu nungguin kamu di meja makan" Ujar wanita itu masuk kedalam kamar anaknya. Diya tidak menjawab.
"Kamu kenapa sih Diy? Sakit?" Tanya wanita itu lagi cemas.
"Tidak biasanya Diya pulang sekolah mengurung diri dikamar" Fikir wanita paruh baya itu.
"Gak kok buk" Jawab dia malas.
"Capek aja" Tambahnya lagi.
"Naik motor capek?" Tanya bu Marni tersenyum.
"Tadi Diya pulang jalan kaki lo buk"
"Nak Ferdi kemana?" Tanya bu Marni heran.
"Mungkin dia ada keperluan mendadak jadi pulang duluan" Bu Marni mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Ya udah" Ujarnya
"Bener kamu belum mau makan?" Diya mengangguk.
"Nanti kalau Diya lapar, Diya ambil sendiri" Jawabnya terus berbaring.
"Ya udah, kalau begitu ibu ke pasar dulu mau belanja keperluan warung" Lagi-lagi gadis cantik itu menjawab dengan anggukan. Bu Marni menutup kembali pintu kamar anaknya saat ia keluar. Lagi-lagi gadis itu menarik nafas panjang dan dihembuskan kuat-kuat. Di pandangi langit-langit kamar yang putih bersih itu. Gadis itu teringat kata-kata Yuli tadi.
"Pacar kak Ferdi kali. Makanya kak Ferdi mau mengantarnya pulang" Kata-kata itu masih tengiang di telinganya.
"Lagian, semua orang juga pada tau kalau kak Ferdi dan Kethrine udah lama pacaran" Kata Yuli waktu pulang bareng tadi. Cemburu itu memang ada di hati gadis itu. Tapi ia barusaha bersikap biasa dan santai di hadapan Yuli agar sobatnya tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap pemuda yang bernama Ferdi itu.
"Apa benar kak Ferdi udah punya pacar?" Tanya nya dalam hati.
*****
"Assalammualaikum" Tegur seseorang membuat gadis itu buyar dari lamunan. Diya keluar dari kamarnya.
"Wa'alaikumsalam" Jawab nya langsung menuju pintu depan dimana suara itu berasal.
Diya mengerut keningnya melihat Ferdi berdiri disitu. Pemuda yang di fikirnya tadi. Ferdi tersenyum melihat gadis itu menyambutnya.
__ADS_1
"Maaf ya Diy, aku gak bisa antarin kamu tadi" Ujar pemuda itu datang menghampiri gadis itu. Diya terpaksa menjawab dengan senyuman walau senyuman itu kelihatan hambar.
"Gak apa-apa kok kak. Aku maklumi kok" Ferdi duduk di kursi teras di ikuti Diya.
"Tadi pulang sama siapa?"
"Yuli"
"Jalan kaki?" Diya mengangguk.
"Gimana lukamu"
"Udah baikan" Diam sejenak.
"Sebaiknya mulai besok kak Ferdi gak perlu mengantar dan menjemputku ke sekolah lagi" Setelah agak lama berfikir Diya pun berani berkata.
"Kenapa? Kamu marah sama aku?"
"Gak, gak enak aja" Jawab Diya ragu-ragu.
"Lagian luka ku udah baikan kok. Jadi aku gak mau merepotkan kak Ferdi lagi" Katanya hati-hati agar pemuda itu tidak tersinggung. Ferdi tidak menjawab pemuda itu tampak berfikir.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" Tanya nya setelah lama terdiam dan tampak kecewa. Diya mengangguk. Pemuda macho itu menghembuskan nafas panjang.
"Tapi...." Ferdi tidak jadi meneruskan kata-katanya karena ponselnya berbunyi.