
"Semoga saja ini benar hanya perasaan ku saja" Katanya dalam hati seraya bangkit dan bergerak dari situ.
*****
"Kemana aja sih? Di cari-cari dari tadi. Emangnya beol mu batu apa" Gerutu Yuli ketika melihat Diya datang dan duduk disampingnya.
"Iya....Semen juga ada, kerikil, pasir yang paling lama nungguin tukangnya pada susah keluarnya" Tambah Diya bercanda membuat Yuli jadi kesal dan cemberut.
"Gimana? Tim mana yang lebih tinggi nilainya?" Tanya Diya tidak perduli dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
"Masih seri" Jawab Yuli acuh.
"Dan...Ye....Eh...." Teriak para pendukung dari tim sekolah mereka kegirangan karena nilainya ditambah 2 lagi. Menjadi 10 untuk tim tuan rumah dan 12 untuk tim pendatang.
Ferdi tersenyum bangga dengan keberhasilannya mencetak angka bagi timnya. Begitu juga dengan Diya dan Yuli mereka berdua saling berpelukan bahagia. Cheerleaders (tim sorak) memberi semangat menambah semarak pertandingan dengan tariannya.
Ivan tersenyum saat matanya beradu pandang dengan Diya. Tanpa diduga spontan pemuda itu menempelkan jarinya ke bibir lalu ditunjukkan kepada Diya yang sempat kaget dengan sikap Ivan yang rada-rada nekat. Wajah Diya spontan berubah merah. Dipandangi Yuli dan sekitar tempat itu. Mudah-mudahan tidak ada seorang pun yang melihat sikap pemuda itu kepadanya apa lagi Ferdi.
Diya menghembus nafas lega karena Yuli dan semua penonton fokus melihat aksi para Cheerleaders (tim sorak) memberi semangat. Diya jadi tidak enak hati dengan Ivan.
Kok berani-beraninya pemuda itu bersikap kurang sopan didepan orang banyak. Apa lagi kalau cuma berduaan. Ih.....Gadis itu sempat merinding bila membayangkan apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Diya mulai berfikit keras bagaimana caranya untuk keluar dari para penonton dengan alasan apa yang harus ia berikan kepada Yuli dan kak Ferdi bila mereka bertanya nanti.
Diya mendapat ide, gadis itu mendekatkan mulutnya ke kuping Yuli lalu berbisik.
"Aku keluar sebentar ya"
"Kenapa?"
"Aku lupa, kalau ibu Yani memanggil ku tadi" Diya beralasan.
"Kenapa?"
"Aku ikut ya"
"Gak usah, kamu disini aja. Ntar kalau kak Ferdi tanya gimana?"
"Jadi aku harus bilang apa?" Tanya Yuli.
"Ya itu tadi" Yuli menghembuskan nafas panjang.
"Ya udah...Jangan lama-lama ya" Kata Yuli lagi.
__ADS_1
"Ya deh..." Jawab Diya bangkit meninggalkan Yuli yang masih memandangnya pergi.
*****
Sesampainya di luar, Diya jadi bingung sendiri tidak tau kemana arah tujuannya kini.
"Kemana ya?" Kata gadis itu dalam hati.
"Ah....Lebih baik duduk aja di taman sambil baca buku" Katanya mendapat ide.
Diya pun pergi mengambil buku didalam tasnya dan duduk santai ditaman sekolah yang tampak sejuk dan sepi karena semua murid dan guru menghadiri pertandingan dan memberi suport kepada timnya masing-masing.
Jadi, Diya bisa leluasa menikmati suasana hening seperti ini. Hanya sesekali terdengar sorakkan para penonton dari arah arena basket. Itu tidak membuat Diya terpengaruh, yang penting ia merasa nyaman ditaman itu.
"Sendirian? Boleh aku temani?" Ujar seseorang mengagetkan gadis itu. Diya jadi tidak enak bila mengetahui siapa yang menegurnya tadi. Ivan....Ya pemuda yang rada-rada nekat itu. Ah...Diya jadi gelisah. Tapi ia berusaha bersikap biasa saja di hadapan pemuda itu.
"Pertandingannya sudah selesai" Tanya Diya heran.
"Kok cepat sekali" Fikir Diya
"Tadi baru saja dimulai" Tambahnya.
__ADS_1