
Diya turun dari mobil di ikuti oleh Ivan.
"Terima kasih ya Van" Ucap Diya lagi.
"Dari tadi terima kasih terus" Canda Ivan.
Diya hanya tersenyum salah tingkah.
"Becanda Diy" Ucap Ivan mengerti.
"Ya sudah kamu masuk gih, sudah malam. Cuci kaki dan tangan, gosok gigi dan ganti pakaian mu dengan baju tidur ya" Pesan Ivan kepada Diya sambil mengajak sedikit rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Diya menjalin sedikit kesal dengan pesan Ivan barusan.
"Emang aku anak kecil?" Tanya Diya sedikit bercanda.
"Hahaha....Kan aku hanya memberi pesan Diy. Takut nya kamu lupa." Ivan tertawa terbahak.
"Ya sudah masuk gih"
"Siap komandan" Ucap Diya memberi hormat seperti pada inspektur upacara.
"Selamat malam Diy, selamat istirahat mimpi yang indah ya gadis ku" Ucap Ivan lembut dengan senyuman manis nya.
Tentu saja ucapan sederhana itu membuat hati Diya berbunga-bunga. Tampak rona merah mulai keluar di pipinya. Yah Ivan sungguh bisa membuatnya lupa akan masalah dan kesedihan yang baru di alami.
"Dada Ivan..." Ucap Diya melambaikan tangan.
"Dada Diy" Balas Ivan. Perlakuan mereka sungguh seperti anak ABG yang sedang kasmaran.
"Dada Diy" Lagi-lagi Ivan mengucapkan hal yang sama. Pelahan mundur menuju pintu mobil nya. Kejadian itu berulang beberapa kali.
Diya hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya.
Sampai akhirnya Ivan masuk ke dalam mobil nya dan melaju membelah jalan raya di kota itu.
Diya menggeleng kepalanya sambil tersenyum sendiri mengingat kelakuan Ivan yang memang seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Dengan raut wajah yang senang Diya perlahan menuju teras rumahnya dan membuka pintu.
"Eh tidak di kunci. Apa Yuli sudah pulang?" Tanya Diya dalam hati mendapati pintu rumahnya tidak di kunci.
"Assalamualaikum Yul..." Ucap Diya perlahan membuka pintu.
"Doommmm" Yuli mengagetkan Diya. Ternyata dari tadi gadis gendut itu menunggunya di balik pintu.
"Astaghfirullahal'azim Yul ngagetin aja. Kalau aku jantungan gimana?" Diya kesal.
"Hahaha...maaf-maaf habis nya pegel kaki ku berdiri di sebalik pintu nungguin kamu masuk" Balas Yuli.
Diya tidak menanggapi. Gadis itu berlalu meninggalkan Yuli menuju dapur untuk mengambil air minum. Yuli mengikuti sahabatnya. Mereka duduk di meja makan.
"Cie....." Yuli mulai menggoda.
"Cie apa?"
"Kamu dan Ivan. Serasi sekali"
"Baru tahu ya" Balas Diya.
"Jadi kamu dan Ivan......" Yuli menggantung perkataan nya sambil menyatukan kedua jari telujuk nya. Bermaksud bahwa Diya dan Ivan sudah jadian.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Diya pura-pura tidak mengerti.
"Ya ini" Lagi-lagi Yuli menyatukan telunjuk nya.
"Belum"
"Yah...." Yuli kecewa.
Diya mengerutkan kening nya.
"Kenapa kamu yang kecewa?"
"Aku berharap lo Diy kamu dan Ivan akan jadian dan bahagia. Bahkan sampai berumah tangga"
Mendengar kata rumah tangga kembali Diya memikirkan Ferdi. Impian berumah tangga dengan lelaki cinta pertamanya itu kini kandas di tengah jalan.
Gadis itu kembali dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu kenapa Diy?" Tanya Yuli.
"Kamu tahu, tadi sewaktu di bioskop aku bertemu dengan kak Ferdi"
"Ha?" Yuli kaget.
"Dia masih hidup?" Ucap nya lagi.
"Kenapa kamu bisa bicara begitu Yul?"
"Habisnya selama ini hilang tiada kabar. Sewaktu kamu mau move on dia malah datang lagi. Mau nya apa sih tu orang" Yuli kesal.
"Dia gak salah kok Yul"
"Belain aja terus"
"Malas ah jika membahas Ferdi. Padahal aku sudah sangat senang melihat kamu dan Ivan" Yuli bangkit dari duduk nya merasa enggan mendengar cerita tentang Ferdi yang telah membuat sahabatnya menderita selama ini.
Baru saja hendak melangkah.
"Kak Ferdi hilang ingatan"
Deggg......
Yuli kaget. Spontan matanya terbelalak membesar. Yuli kembali duduk di kursinya.
"Hilang ingatan gimana?" Sahut Yuli.
"Aku gak tau pasti Yul. Yang jelas tadi sewaktu dokter keluar dari ruang UGD saat kak Ferdi pingsan dia mengatakan hal itu" Jelas Diya.
"Pingsan? Emang Ferdi pingsan?" Ternyata otak Yuli sudah mulai somplak tidak terkoneksi lagi dengan jaringan karena terlalu syok mendengar tentang Ferdi.
"Tadi sewaktu di bioskop tidak sengaja aku ketemu dengan kak Ferdi. Lama kami saling menatap terus dia terasa punsing kemudian pingsan tidak sadarkan diri" Jelas Diya.
"Terus?" Kini Yuli tampak serius mendengarkan cerita Diya.
"Ya kami bawa lah ke rumah sakit. Kata dokter nyeri di kepala nya itu biasa proses dia untuk memulihkan kembali ingatan nya" Lanjut Diya.
"Jadi Ferdi gak salah dong ya"
Diya menggeleng.
"Diya melupakan ku karena memori tentang kenangan kami hilang di pikiran nya Yul. Pantas saja kak Ferdi tidak memberi kabar selama ini kepadaku" Diya menunduk sedih.
__ADS_1
"Itu karena kedua orang tua nya tidak merestui kami Yul. Mendapat kesempatan kam Ferdi hilang ingatan membuat kedua orang tua nya pindah ke sini untuk menghapus semua tentang aku dan kak Ferdi" Kembali pedih di hati di rasakan oleh Diya. Beberapa butir air mata mulai menetes di pipinya.
"Sabar ya Diy. Kamu harus kuat jika berjodoh pasti kalian bersatu" Yuli memberi semangat. Mengetahui kenyataan bahwa Ferdi tidak bersalah rasa benci di hati Yuli mulai pudar.
"Gak Yul, itu tidak mungkin. Kami tidak mungkin bersatu"
"Lo kenapa?"
"Pertama orang tua kak Ferdi tidak merestui kami Yul. dan yang kedua kak Ferdi sudah menikah. Dia sudah mempunyai seorang anak laki-laki dan sekarang istrinya sedang hamil anak kedua" Jelas Diya.
Deggg.....
Kembali Yuli kaget mendengarnya.
"Jadi selama ini kamu menantikan suami orang Diy?"
Diya mengangguk membenarkan.
"Lima tahun mereka menikah dan tujuh tahun aku menunggu nya. Ternyata semua sia-sia" Diya tertawa mengejek dirinya sendiri yang sangat bodoh itu.
"Kamu tahu, ternyata istri kak Ferdi adalah Sonia. Adik sepupunya Ivan"
"Ha?" Yuli ternganga mendengar hal itu.
"Apa Ivan tahu semua itu?"
Diya mengangguk lagi.
"Tentu saja tahu. Karena itu Ivan tidak berani menceritakan hal sebenarnya kepada ku. Takut aku nya kecewa dan sakit hati. Biarlah aku yang mengetahui ini sendiri" Sambung cerita Diya.
"Tunggu, tunggu, Ivan tahu Ferdi laki-laki yang kamu tunggu? Tahu dari mana?"
"Dari buku diary ku. Tidak sengaja dia menemukan diary ku saat kami membereskan barang-barang untuk pindah rumah kemaren. Disana terdapat foto kak Ferdi juga"
Yuli mengangguk mengerti.
"Rumit sekali ya Diy kisah cinta mu" Komentar Yuli.
"Jika nanti Ferdi mengajak mu untuk bertemu gimana?" Tanya Yuli penasaran.
"Ya ketemuan saja. Aku ingin mendengarkan penjelasan nya selama ini. Apa saja kejadian yang menimpanya sampai ia hilang ingatan seperti itu. Namun, jika dia meminta ku untuk kembali, jelas hal itu tidak mungkin terjadi. Aku tidak mau menjadi duri di dalam rumah tangganya. Ada anak kecil yang tidak bersalah akan menjadi korban. Tidak, aku tidak mau itu Yul"
"Bagus, aku dukung hal itu. Mending sama Ivan saja" Sahut Yuli.
Diya tersenyum entah mengapa jika mendengar nama Ivan membuat hatinya geregetan.
"Cie...senyum, senyum sendiri" Goda Yuli.
"Ivan laki-laki yang baik Yul. Semoga saja kami berjodoh ya" Sambut Diya lalu pergi menuju kamarnya meninggalkan Yuli.
"Ye...pakai nyelonong aja" Protes Yuli.
"Ngantuk Yul aku mau istirahat"
"Ya udah aku juga"
Note:
Mohon maaf kepada para pembaca. Sudah lama author tidak update kelanjutan ceritanya karena author sedikit sibuk. Ada acara keluarga. Sekali lagi mohon maaf ya 🙏.
Dan author mohon selalu setia mendukung karya author agar author semangat untuk update nya. Mohon tinggalkan komentar dan like nya ya untuk membuat author semakin bersemangat 🙏😇
__ADS_1
Terima kasih 😇