Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Pekanbaru


__ADS_3

"Apakah aku harus melupakan nya buk?" Gumamnya pelan tidak bersemangat seperti kehilangan pegangan dan kepercayaan diri.


"Tidak nak, kamu boleh mengingatnya dan melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk mu dan untuk masa depan mu. Dengan begitu, penantian mu tidak lah sia-sia walau harus dengan sedikit pengorbanan" Ucap Marni lembut.


"Percayalah nak, kalau rezeki, jodoh, dan maut itu di tangan ALLAH. Kalau kalian memang berjodoh, ALLAH akan mempertemukan kalian. Tapi, jika tidak segala sesuatu sudah di tentukan oleh Nya. Kita tidak dapat menolaknya" Kata Marni dengan tersenyum lembut. Diya mengangguk lalu memeluk ibunya. Ada kesejukan yang tiba-tiba meresap dikalbunya.


"Terima kasih buk, ibu sudah menyadarkan ku. Selama ini, aku tidak menghiraukan nasehat ibu. Maaf kan aku ya buk..." Katanya mencium tangan ibunya. Marni mengangguk dan mencium kening anak nya dengan penuh kasih sayang. Yuli terharu dan mengusap air matanya yang sempat mengalir membasahi pipinya.


"Jadi kamu setuju menerima pekerjaan ini?" Tanya Yuli merubah topik pembicaraan tidak mau terlalu larut dalam kesedihan.


"Iya, aku terima" Jawab Diya mengusap air matanya dan yakin kalau ia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak selemah yang Yuli bayangkan.


"Kapan kita bisa berangakat" Tanya nya mantap dan penuh semangat.


"Besok"


"Besok? Kenapa cepat sekali?"

__ADS_1


"Iya...Besok kita harus berangkat ke Pekanbaru dan mengurus segala sesuatunya. Dan lusa kamu sudah di interview"


Diya bergumam pelan.


"Apakah aku diterima nanti Yul?" Katanya kurang yakin.


"Nah...Tu kan...Mulai lagi"


"Yah...Aku kan belum ada pengalaman dalam hal kerjaan" Katanya lagi mendesah.


"Kamu harus yakin dengan kemampuan mu. Aku rasa, kamu bisa melakukan nya" Jawab Yuli dengan penuh keyakinan jika Diya bisa lulus dalam interview nanti.


*****


"Hati-hati ya nak...." Kata Marni melepas kepergian anak satu-satunya walau terasa berat untuk berpisah. Namun, demi masa depan dan kelangsungan hidup putrinya, ia rela walau terlalu sakit.


"Sesampainya disana, jangan lupa telfon ibu ya. Jaga diri baik-baik" Kata Marni dengan deraian air mata.

__ADS_1


*****


Yuli menarik tangan Diya saat sampai dirumah kostnya di ibu kota provinsi itu.


"Ayo masuk! Aku akan kenalkan kamu dengan ibu kost nya" Kata Yuli lagi. Diya mengikuti dari belakang.


Ini adalah hari pertamanya menginjak kan kaki di kota ini setelah beberapa tahun yang lalu dimana ia dan teman-teman nya berkunjung di SMU 2 Pekanbaru waktu itu dan meninggalkan ibunya pergi mengadu nasib di kota orang.


"Diya, kenalkan ini bunda. Ibu kost kami" Kata Yuli mengejutkan gadis itu.


"Bunda, ini Diya. Diya akan menempati kost saya setelah saya pindah nanti" Kata Yuli memperkenalkan mereka.


"Oh ya, silahkan masuk nak" Kata bunda itu yang sudah tiga kali berangkat haji. Diya tersenyum dan mengikuti langkah orang tua itu sampai di pintu kost.


"Selamat datang ya nak...Mudah-mudahan kamu betah di sini"


"Terima kasih bunda" Jawab Diya membalas dengan senyuman. Setelah orang tua itu meninggalkan mereka, barulah kedua sahabat itu masuk kedalam kost mereka.

__ADS_1


"Gimana? Apa kamu suka dengan kost ini?" Tanya Yuli meletak kan tas nya di atas kasur. Diya memandang sekeliling kost.


"Jelas aku suka, kamu yang punya" Diya duduk di tepi pembaringan. Yuli tersenyum senang.


__ADS_2