Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Ke rumah sakit


__ADS_3

Diya mematung. Matanya membulat melihat ibu dan anak itu menangis memeluk Ferdi.


"Sayang bangun kamu kenapa?" Ucap wanita itu menangis.


"Papa bangun" Terdengar suara anak kecil yang ganteng itu bergema.


Semua orang yang berada di situ tampak diam. Melihat mereka namun tidak mau menolong. Begitu pun dengan Diya. Diya bukan tidak mau menolong. Gadis itu masih bingung dan syok mendapati lelaki yang selama ini ia tunggu namun telah mengkhianati penantian nya. Karena telah memiliki wanita lain bahkan mereka telah menikah dan memiliki anak hasil buah cinta mereka.


Ingatan Diya berputar mengingat mimpinya. Yah Mimpi dimana ia bertemu dengan Ferdi kembali. Diya memanggil Ferdi namun lelaki itu terus berjalan meninggalkan nya hingga ia bertemu dengan seorang wanita. Mereka bergandeng tangan meninggalkan Diya dalam kesendirian. Diya menangis menatapi nasibnya. Hingga Ivan datang menjadi penolong untuk Diya yang patah hati.


"Ada apa?" Tanya Ivan melihat Diya bengong menatap dengan tatapan kosong.


"lo, Sonia, Ferdi" Kata Ivan melihat kearah dimana Diya menatap dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Senang, sedih, kecewa, dan takut kini memenuhi hati Diya saat ini. Tubuh nya kaku tidak bisa bergerak. Mulutnya tidak bisa berkata apa pun seperti di kunci oleh seseorang.


Mendengar ucapan itu membuat Diya beralih pandang ke arah Ivan dengan tatapan penuh tanda tanya. Mulut Diya terbuka kaget karena Ivan mengenali mereka berdua.


Ivan tidak menghiraukan tatapan Diya. Ivan berlari mendekati Sonia dan Ferdi.


"Ayo kita bawa Ferdi kerumah sakit" Ucap Ivan kepada Sonia. Sonia mengangguk.


"Tolong bantu suami sepupu saya. Tolong angkat di ke mobil saya" Ucap Ivan kepada beberapa pengunjung lelaki di bioskop itu.


Mereka setuju. Tanpa meminta dua kali, para lelaki itu mengangkat Ferdi menuju mobil Ivan.


"Sini Junior jagoan om. Jangan menangis, papa pasti baik-baik saja" Ucap Ivan menggendong anak lelaki dari saudara sepupunya.


"Om, adik sepupu?" Tanya Diya heran.


"Nanti aku jelaskan. Sekarang ayo kita kerumah sakit. Memastikan Ferdi baik-baik saja" Ucap Ivan melangkah cepat menuju mobilnya.


Diya mengikut dari belakang.


Di bangku belakang terlihat Ferdi yang berbaring di pangkuan Sonia istrinya. Sungguh pemandangan itu membuat hati Diya hancur berkeping-keping. Memang Diya sudah mulai membuka hatinya untuk Ivan.


Namun tetap saja Ferdi masih tertanam di hati nya dengan harapan kembali kepadanya. Akan tetapi harapan itu sirna, mendapati Ferdi telah memiliki keluarga kecil bersama gadis lain.


***

__ADS_1


Kembali ketika mereka pulang dari tour di kota Pekanbaru. Kenangan itu bermain di layar ingatan Diya.


"Jika kamu masih ngantuk, tidur aja Diy....Perjalanan kita masih jauh" Kata Ferdi melihat gadis itu banyak diam.


"Belum ngantuk. Aku mau menikmati pemandangan diluar sana" Jawab Diya seraya memandang ke luar jendela.


"Kamu suka?" Diya mengangguk.


"Aku punya ide. Jika kita menikah nanti, kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Ferdi serius. Diya tersenyum geli mendengarnya.


"Aku serius Diy, bukan becanda"


"Iya...Iya..." Jawab Diya masih dalam tawanya.


"Dimana?"


"Dimana ya?" Gadis itu tampak berpikir.


"Aku ingin pergi berlayar ke seluruh dunia"


"Maksudmu bulan madunya di atas kapal pesiar?" Diya mengangguk.


"Kak....Kak Ferdi kenapa?" Tanya nya melihat pemuda itu tampak bengong.


"Permintaanku terlalu berlebihan ya?" Katanya lagi.


"Gak..." Jawab Ferdi singkat.


"Aku senang mendengarnya. Mudah-mudahan impian kita akan terkabul" Diya tersenyum.


"Kak Ferdi percaya dengan perkataan ku tadi?"


"Iya...Kenapa?" Diya tersenyum lagi malahan ia tertawa lepas.


"Ya gak lah kak...Mana mungkin gadis seperti aku bisa berfikir seperti itu"


"Kenapa tidak? Aku akan membuktikan nya nanti"


"Tidak kak...Tidak....Aku tidak mau semua itu, aku hanya ingin kamu selalu di sampingku. Dengan sebuah rumah kecil yang hanya kita berdua saja di sana. Yah....Cuma itu saja yang aku mau"

__ADS_1


"Benarkah?" Diya mengangguk lalu merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.


"Yah...Hanya itu yang aku mau kak, tidak yang lain"


"Mudah-mudahan apa yang kita impikan akan terlaksana, kita hanya merencanakan tapi ALLAH lah yang menentukan. Betulkan?" Kata Ferdi mengelus lembut rambut gadis itu. Diya mengangguk.


Sungguh indah kenangan itu. Diya memejamkan matanya. Tanpa terasa beberapa butir air bening mengalir di pipinya.


Janji yang Ferdi ucapkan akan memenuhi keinginan bulan madu mereka di kapal pesiar. Hanyalah sebuah kenangan. Impian itu kini tertanam bersama kenangan mereka di masa lalu yang tidak akan bisa di putar kembali.


Meski pun Ferdi nanti mengingat kembali masa lalu nya dan ingin meninggalkan Sonia demi Diya. Gadis itu tetap tidak akan bisa terima. Karena tidak mungkin ia menyakiti hati wanita lain demi kebahagiaan nya. sendiri. Terlebih ada anak kecil yang tidak berdoa akan menjadi korban atas keegoisan nya.


Junior dalam pangkuan Diya melihat gadis itu menangis.


"Tante, tante kenapa menangis?" Tanya anak polos itu.


"Gak, kok sayang. Mata tante hanya perih karena kemasukan debu" Bohong Diya.


Ivan yang menyetir sesekali melihat iba kepada gadis yang di sampingnya.


Ivan memberanikan diri memegang jari lentik gadis itu memberi semangat untuk hati yang telah hancur karena penantian yang gadis itu lakukan hanya sia-sia.


Diya tersenyum lirih di. Di wajahnya terlihat raut kesedihan namun berusaha untuk tersenyum. Menguatkan hati yang telah rapuh.


Junior masih lekat menatap gadis manis yang memangkunya.


Diya tersenyum. Di peluknya erat anak kecil itu erat-erat melepaskan rindu yang terpendam terhadap Ferdi yang tak mungkin lagi ia gapai. Diya mengecup pucuk kepala Junior.


"Van, lebih cepat van" Ucap Sonia panik.


"Akhir-akhir ini Ferdi sering ngeluh dengan nyeri di kepalanya. Aku takut Van sesuatu akan terjadi sama dia" Ucap Sonia menangis.


"Tenang lah Sonia, pasti Ferdi baik-baik saja. Dia laki-laki yang kuat. Tidak mungkin ia akan meninggalkan mu dan Junior Terlebih kalian juga menunggu kelahiran anak kedua kalian. Pasti dia kuat kok San" Ucap Ivan menenangkan Sonia.


Deggg....


Perih bagai tertusuk sembilu itu lah yang di rasakan Diya saat itu. Ivan menatap Diya sayu. Tersenyum manis kepadanya.


Diya membalas dengan senyuman yang sedikit di paksakan menahan gejolak hati yang menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2