
"Udah jangan bengong.. Ayo bangun dan mandi sana!" Perintah Ivan.
Diya masih bengong dan tersenyum sendiri memikirkan bahwa diri nya sekarang telah menikah.
"Malah bengong dan tersenyum sendiri. Atau mau aku mandiin?" Goda Ivan.
"Ha?" Diya kaget.
"Gak, gak aku bisa mandi sendiri" Ujar Diya bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Ivan tersenyum melihat perangai istri nya.
***
"Selamat pagi buk" Sapa Ivan melihat ibu mertua nya sedang menyiapkan sarapan untuk semua penghuni di rumah itu.
"Pagi nak. Duduk nak Ivan. Ini ibu sudah siapkan makanan untuk kita sarapan. Ayo silahkan di makan dulu" Tawar Mirna.
"Nanti aja buk, tunggu yang lain. Biar kita sarapan bersama-sama" Ujar Ivan.
"Oh gitu, ya sudah. Oh ya Diya masih belum bangun nak?" Tanya Mirna.
"Udah bangun kok buk. Lagi mandi Diya nya" Jawab Ivan.
"Selamat pagi semua" Sapa Yuli yang nongol dari arah kamar nya.
"Pagi" Jawab Ivan dan Mirna.
"Wah, sarapan sudah siap nih kelihatan nya" Kata Yuli langsung duduk di meja makan.
"Oh ya, Diya mana Van?" Tanya Yuli kepada Ivan.
"Lagi mandi Diya nya"
"Oh....." Jawab Yuli sambil tersenyum-senyum.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" Tanya Ivan mulai curiga.
"Gak, gak ada apa-apa" Jawab Yuli ngeles.
Padahal gadis sedikit gendut itu mulai memikirkan apa yang pasangan suami istri ini lakukan malam tadi.
"Maaf menunggu lama" Kata Diya yang baru nongol dengan rambut nya yang basah.
Semakin kuat lah kecurigaan Yuli kepada mereka berdua.
Kembali Yuli tersenyum menggoda kearah Diya sambil kedua alis nya di naik turun kan.
"Kamu kenapa Yul? Senyam senyum begitu" Ujar Diya sedikit heran melihat perangai sahabat nya.
"Gak, gak ada apa-apa. Ayo makan sudah lapar ini" Ujar nya masih dengan tersenyum menggoda ke arah Diya.
"Hari ini apa kalian akan masuk kerja?" Tanya Mirna kepada anak dan menantu nya.
"Oh gak kok buk, hari ini aku dan Diya libur buk. Kami mau melihat persiapan untuk acara resepsi yang akan di adakan beberapa minggu lagi. Jadi yah mau memastikan mana yang kurang" Jawab Ivan.
"Iya buk, gak mungkin lah mereka langsung kerja. Pasti mau menikmati masa-masa berdua" Goda Yuli lagi.
Diya mengerti maksud dari sahabat nya yang mulai berpikir mes*m itu.
Diya menjalin tajam ke arah Yuli mengartikan bahwa dirinya tidak suka dengan pikiran Yuli barusan.
Yuli mengerti, ia langsung tunduk dan melanjutkan menyantap sarapan nya seraya tersenyum sendiri.
"Diy, hari ini kita akan melihat gaun pengantin yang akan kita gunakan di acara kita nanti. Selanjutnya kita akan melihat persiapan hotel yang kita pesan kemaren. Berapa persen persiapan nya. Dan terakhir kita akan pergi ke tempat pembuatan undangan. Kamu yang pilih semua nya ya, Terserah mau undangan seperti apa. Aku akan menuruti semua keinginan mu" Ujar Ivan.
"Oke" Ujar Diya tersenyum.
***
"Cie yang pengantin baru" Goda Yuli saat Diya sibuk membereskan piring kotor saat mereka makan tadi pagi.
Diya tidak menanggapi ocehan sahabat nya itu. Gadis berambut sepinggang itu masih sibuk melanjutkan pekerjaan nya.
"Diya, gimana? Sukses?" Tanya Yuli lagi.
"Sukses apa nya?" Diya sedikit kesal dengan pertanyaan sahabat nya itu. Meski ia tahu kemana arah pertanyaan Yuli, namun gadis itu pura-pura berlaga bodoh saja.
"Itu lo Diy, tadi malam itu lo. Sukses belum gini-gini nya?" Tanya Yuli lagi sambil kedua tangan nya di satukan mempraktekan arah hubungan suami istri.
"Gak" Jawab Diya singkat. Lalu melanjutkan untuk mencuci piring.
"Gak? Gak gimana maksud kamu? Gak sukses kalian nya?" Yuli kaget.
"Apa punya Ivan gak bangun? Atau bagaimana? Ini kan malam bersejarah untuk kalian masa gak sukses sih" Celoteh Yuli.
"Lo, kenapa emang nya Yul? Orang belum mau kok. Kenapa kamu yang sewot sih" Ujar Diya sedikit kesal.
"Dari kamu berisik seperti ini, mendingan bantu aku cuci piring kotor ini" Ujar Diya.
"Aduh Diy, untuk masalah nyuci piring aku gak bisa bantu. Kamu lihat sendiri aku sudah siap untuk berangkat kantor. Nanti pakaian ku jadi basah lagi" Yuli ngeles.
__ADS_1
"Alasan" Ujar Diya.
Yuli nyengir seperti kuda nil.
"Tapi beneran lo Diy, aku jadi penasaran. Kok bisa malam pertama kalian gagal ya" Ujar Yuli tampak berpikir keras.
"Aduh Yul, ngapain sih kamu pikirin masalah kami berdua? Lebih baik kamu pergi kerja sana. Nanti kamu terlambat lagi" Ujar Diya.
"Bentar lagi lah Diy, lagian Zaki belum jemput juga" Jawab Yuli.
"Diy, beneran deh, ayo cerita sama aku. Aku benar-benar penasaran. Lagian jika tadi malam kamu gagal, kenapa pagi ini kamu mandi basah rambut ayo" Ujar Yuli lagi menyelidik.
"Ya ampun Yul. Aku mandi dengan basah rambut gak seharus nya kan aku melakukan itu. Gak semua orang juga kan pagi-pagi basah rambut lantaran seperti itu. Kamu kepo banget deh. Udah pergi sana kerja" Usir Diya lagi mulai risih dengan pertanyaan Yuli.
"Ya ampun Diy, aku kan cuma pengen tahu aja. Lagian kamu kan gak pernah rahasia-rahasiaan sama aku selama ini"
"Iya aku tahu, tapi ini kan masalah lain Yul. Masa ia aku menceritakan masalah ranjang ku bersama Ivan dengan mu. Apa lagi kamu belum menikah. Nanti kalau kamu pengen gimana? Jadi aku yang berdosa kan karena kamu jadi seperti itu" Jelas Diya.
"Mendingan, kamu siapkan mental mu dulu untuk malam pertama mu dengan Zaki ketika kalian sudah menikah kelak" Tambah nya lagi.
"Iya juga sih. Tapi beneran deh kasih aku klue. kenapa bisa gagal biar aku gak kepikiran"
"Ya udah, aku gak mau karena aku dan Ivan belum nikah secara hukum lagian aku belum siap untuk melakukan itu. Dan Ivan mengerti. Diya akan menunggu sampai aku siap. Puas" Ujar Diya.
"Oh, begitu ya, yah sayang sekali deh. Padahal aku mau belajar dari kamu bagaimana cara menyenangkan suami di ranjang. Yah agar aku bisa memuaskan suami ku nanti di ranjang juga" Yuli cengengesan.
"Aduh Yul, kalau masalah itu gak perlu belajar deh kayak nya. Nanti juga pasti bisa sendiri. Lagian, aku juga belum pernah melakukan hal itu. Jadi untuk masalah itu kamu salah bertanya sama orang nya ya" Ujar Diya.
"Jika kamu mau bertanya, coba tanya sama ibu" Tambah nya lagi.
"Ya malu lah Diy, masa tanya sama ibu sih"
"Ya udah kalau malu, atau gak belajar aja di internet. Banyak tuh cara-cara nya"
"Yuli, ini nak Zaki sudah datang menjemput mu" Teriak ibu dari ruang tamu.
"Iya buk, sebentar" Jawab Yuli.
"Diy, aku pergi dulu ya. Calon suami ku sudah datang menjemput" Tambah nya lagi.
"Ya udah pergi sana" Ujar Diya.
Yuli pun bergegas pergi meninggalkan dapur.
Diya melanjutkan mencuci piring nya yang sempat tertunda oleh ocehan Yuli tadi.
"Belum selesai sayang" Ucap Ivan memeluk Diya dari belakang.
"Maaf sayang jika membuat mu kaget" Kata nya lagi dengan lembut.
"Mau ku bantu?" Tawar Ivan.
"Gak usah deh Van, sebentar lagi juga akan siap kok" Tolak Diya.
"Beneran?"
"Iya, beneran"
"Oke kalau begitu, aku mau ke kamar dulu ya. Mau ngecek email yang masuk" Ujar Ivan. Tak lupa mencium kening istrinya tercinta.
Diya mengangguk tanda setuju.
***
"Ivan pasti senang melihat aku datang dengan membawa makanan kesukaan nya. Dia pasti belum sarapan" Ujar Virda membayangkan kedatangan nya akan di sambut hangat oleh Ivan.
"Ivan sudah datang apa belum ya?" Tambah nya lagi setelah sampai di halaman kantor Ivan.
"Ah lebih baik aku langsung masuk saja dan menunggu di ruangan nya. Pasti nanti nya dia akan kaget melihat ku di sana" Ujar Virda langsung masuk ke ruangan Ivan.
Pukul 09.00 wib batang hidung Ivan belum juga kelihatan. Virda duduk gelisah di sofa yang ada di ruangan Ivan.
"Aduh, Ivan mana sih? Masa jam segini belum datang juga" Sahut nya.
"Gak biasa nya dia datang kesiangan. Apa Ivan ada meeting dengan klien dan langsung pergi ke sana?" Tebak nya lagi.
"Atau Ivan malah gak masuk kerja lagi. Aduh, mana nomor nya gak bisa di hubungin lagi" Ujar Virda mulai gelisah.
"Lo, buk Virda" Sapa seorang OB yang masuk ke ruangan Ivan bermaksud ingin membersikan ruangan itu.
"Ada apa buk?" Tanya nya lagi.
"Eh, aku mau tanya, kamu tau gak Ivan kemana? Dari tadi aku tungguin kok dia gak datang-datang ya?" Tanya Virda kepada OB tersebut.
"Oh, pak Ivan. Pak Ivan nya hari ini libur buk. Mungkin besok atau lusa dia kembali bekerja" Jawab OB itu.
"Libur? Kenapa? Apa dia sakit?" Virda tampak sedikit khawatir.
"Gak kok buk, pak Ivan sehat kok buk. Ibu tidak tahu ya kalau kemaren pak Ivan dan ibu Diya menikah"
"Apa?" Virda kaget.
__ADS_1
"Menikah?" Ulang nya lagi.
"Iya buk, mereka menikah buk"
"Kurang ajar Ivan, berani-berani nya dia menikah dengan gadis kampungan itu tampa memikirkan keadaan ku" Geram Virda menggenggam erat jari jemari nya.
Virda tampak marah ia pun langsung berlalu meninggalkan ruangan Ivan.
OB yang bersamanya tadi tampak sedikit bingung dengan sikap Virda yang tampak marah seperti itu.
***
"Ini aku buatin kamu teh hangat" Ujar Diya menyuguhkan secangkir teh hangat di meja tempat Ivan bekerja yang berada di dalam kamar mereka.
"Iya, terima kasih ya sayang" Ucap Ivan.
"Ya sama-sama. Ada email yang masuk?" Tanya Diya.
"Iya ada beberapa email yang harus aku kerjakan. Gak apa-apa ya kita pergi nya agak lambat. Soal nya ini email sangat penting" Jelas Ivan.
"Gak apa-apa kok. Kerjain aja dulu. Lagian waktu masih panjang kok" Ujar Diya.
Kring....kring....
Ponsel Ivan berbunyi.....
"Siapa?" Tanya Diya.
Ivan mengambil ponsel nya yang tergeletak di meja kerja nya untuk melihat siapa yang menelepon nya.
"Lo, kok gak di angkat sih Van?" Tanya Diya melihat Ivan kembali meletakan ponsel nya.
"Dari Virda. Palingan dia buat ulah lagi" Ujar Ivan.
"Tapi mana tahu ada hal penting" Ujar Diya.
"Gak ada hal yang penting dari dia. Palingan dia berulah lagi itu. Buat kepala ku pusing aja nanti" Ujar Ivan melanjutkan pekerjaan nya.
Kring....Kring...
lagi-lagi ponsel Ivan berdering....
Kembali Ivan mengacu panggilan dar Virda.
"Kurang ajar Ivan, berani-beraninya dia tidak mengangkat telpon ku. Sekarang Ivan benar-benar telah di butakan sama gadis kampungan yang tidak tahu diri itu" Ujar Virda geram.
Tak putus asa, Virda mengirim pesan untuk Ivan.
[Van, kenapa kamu tidak mengangkat telfon ku?] Pesan dari Virda.
Lama gadis indobel itu menunggu balasan dari Ivan. Namun tidak ada balasan dari lelaki yang ia cintai itu. Bahkan pesan nya pun tidak di baca.
"Ya ampun Ivan, bahkan pesan ku saja tidak mau baca. Sehebat apa sih Diya sampai kamu berubah seperti ini?" Ujar Virda lagi tampak sangat kesal.
[Ivan, kenapa sih kamu berubah seperti ini. Kamu kejam Van, kamu tidak memperdulikan aku lagi. Ivan, jika kamu masih bersikap seperti ini kepada ku, kamu akan menyesal. dan akan menyadari apa dampak dari perbuatan mu. Kamu akan malu seumur hidup] Acam Virda.
Ivan menyatukan alis nya membaca ancaman dari Virda.
"Apa sih mau nih anak?" Ucap Ivan.
"Kenapa Van?" Tanya Diya melihat Ivan kesal seperti itu.
"Coba kamu lihat ancaman yang Virda kasih ke aku. Aku gak ngerti deh kenapa dia bersikap seperti ini?"
"Aku jadi bingung padahal dia yang berubah selama ini. Dan aku menjadi seperti ini juga karena ulah nya yang seenak nya kepada ku" Jelas Ivan lagi.
[Apa mau mu?] Balas Ivan.
Virda tersenyum sinis melihat pesan nya di balas oleh Ivan.
"Akhirnya kamu balas juga pesan mu"
[Aku hanya minta pertanggung jawaban mu dengan apa yang kamu lakukan kepada ku kemaren malam. Apa kamu lupa?] Pesan dari Virda.
[Kamu jangan mengarang cerita. Aku tidak pernah menyentuh mu]
[Bukan nya kamu tidak sadar saat melakukan hal itu?]
[Aku telah di jebak oleh mu, jadi kamu jangan mengarang cerita yang bukan-bukan terhadap ku. Kamu jangan menghalal kan segala cara untuk mendapatkan keinginan mu. Karena itu tidak akan mungkin terjadi]
[Ya, aku tahu. Apa itu semua karena kamu sudah menikah dengan gadis kampungan itu?]
Ivan tampak kaget. Yah dari mana Virda tahu tentang pernikahan nya dengan Diya.
"Kenapa Van?" Tanya Diya yang dari tadi setia duduk di samping Ivan.
"Ini coba kamu lihat, dari mana Virda tahu kalau kita sudah menikah?"
"Ya, aku juga gak tahu Van" Jawab Diya.
[Ivan, jika aku tidak mendapat kan kamu, makan semua gadis di dunia ini pun tidak akan bisa mendapatkan kamu] Ancam Virda lagi.
__ADS_1
[Aku telah banyak berkorban untuk kamu Van. Ini balasan kamu terhadap ku? Aku kecewa sama kamu Van. Kamu lihat saja apa yang akan terjadi sama kamu] Ancam Virda lagi.