Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Yuli pulang


__ADS_3

"Yuli....." Seru Diya menghambur ke dalam pelukan sahabatnya. Yah Yuli baru sampai di rumah baru nya.


.


"Katanya kamu pulang nya siang tadi, jika siang jelas sampai nya sore. Ini malah malam sampai nya" Cerutu Diya.


"Tadi ada keperluan sedikit Diy, jadi tunda penerbangan nya hingga sore hari" Jelas Yuli. Lama penerbangan dari Jakarta ke Pekanbaru adalah tiga sampai empat jam.


"Oh gitu. eh ayo masuk" Diya mempersilahkan Yuli masuk.


"Gimana? kesulitan cari lokasi rumah nya?" Tanya Diya saat mereka sudah duduk santai di ruang tamu.


"Gak juga kok. Kan sekarang sudah ada google maps jadi gak terlalu sulit lah mencarinya. Ngomong-ngomong aku haus ni. Buatin minum dong" Pinta Yuli mengusap kerongkongan nya yang mulai kering.


"Bari nyampe udah perintah-perintah" Protes Diya.


"Ya udah tunggu sebentar ya" Tambahnya lagi.


"Ini dia minuman nya jus jeruk aja ya" Diya memberi segelas jus jeruk kepada sahabatnya. Belum segelas jus itu mendarat di meja, Yuli dengan sigap langsung menyambar dan meneguk nya hingga tak tersisa.


"Ya ampun Yul, pelan-pelan. Kamu ini seperti orang kesurupan aja minum nya kayak gitu" Protes Diya.


"Maaf Diy, aku benar-benar haus. Tadi belum sempat minum dan makan Diy. Jadi sekarang aku sudah mulai lapar. Ada makanan di dapur?" Dengan ekspresi tidak bersalah Yuli berkata seperti itu. Dengan memamerkan deretan gigi putih nya kepada Diya.


"Ada kok, kebetulan aku masak tadi dan aku juga belum makan. Ayo kita makan sama-sama" Ucap Diya senang.


"Asyik....oke deh kalau gitu" Mereka pun pergi ke meja makan untuk menyantap sajian lezat yang di buat oleh Diya. Nampak ayam masak kecap dan tumis daun bayam di sana, ada berbagai jenis buahan juga yang tergeletak manja di atas meja makan itu. Bisa di katakan empat sehat lima sempurna. Yah begitu lah yang di sediakan oleh Ivan. Tentu saja semua makanan yang tersaji itu dari persediaan yang ada di dalam lemari es di rumah itu. Ivan telah memenuhi kebutuhan dapur gadis itu selama seminggu saat mereka berbelanja ke pasar tempo hari.


Ivan tidak mau gadis impian nya mengonsumsi makanan yang kurang sehat. Tentu saja ia memberikan hal yang terbaik untuk sang pujaan hati.


"Diy, besok-besok kita makan bakso yuk. Kangen banget lo aku dengan bakso ibu mu" Seru Yuli dengan mulut yang masih penuh oleh makanan.


"Ia aku juga kangen sama ibuk" Raut wajah sedih mulai terpancar di wajah cantik nya.


"Jangan sedih dong Diy, kan ada vidio call sekarang. Kamu bisa vidio call sama ibu mu" Yuli memberi solusi.


"Kamu benar juga Yul. Tapi aku tidak sanggup jika vidio call sama ibu. Setelah vidio call sama dia, pasti hati ku sedih. Jangan kan vidio call telfon biasa saja aku juga sedih" Diya menunduk sedih.


"Kita pulang kampung aja Diy, kebetulan bulan depan aku ngambil cuti selama yah seminggu lah. Jadi bisa pulang kampung deh"


"Kamu iya ada cuti nya Yul. Aku kan baru kerja beberapa minggu, jika aku minta cuti sama Ivan, bisa di pecat aku nya"


"Gak bakal deh Ivan itu pecat kamu. Aku jamin itu, toh selama ini dia selalu nungguin kamu kok. Masak udah ketemu seperti ini mau di lepaskan lagi" Ujar Yuli asal.


"Tahu dari mana kamu soal itu?" Tanya Diya. Mendengar perkataan Yuli membuat Diya kembali terpikir tentang perkataan Ivan yang mengetahui masa lalu nya. Apa lelaki itu juga mengetahui siapa lelaki yang Diya tunggu selama ini? Pikirnya.


"Aku asal tebak aja sih. Aku yakin kok Ivan naksir kamu. Kamu nya aja sok jual mahal. Orang ganteng dan mapan kaya gitu di anggurin. Entar soul out baru tahu kamu. Nyesel, nagis, gak ada gunanya" Cerewet Yuli.


Memang benar apa yang di katakan Yuli, tidak salah dan benar seratus persen. Toh Ivan sendiri juga telah mengakui nya. Namun Diya tetap tidak mau mengatakan jika Ivan telah .mengungkapkan perasaan nya untuk yang ke sekian kalinya. Karena saat ini hati nya masih ragu dan belum mantap untuk menerima Ivan seutuhnya. Bayangan Ferdi dan cinta nya untuk pemuda itu masih terus mengisi sanubarinya.


Diya menarik nafas dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat.


"Aku belum berani mau minta cuti sama Ivan. Terlepas benar atau tidak nya yang kamu katakan tadi, aku harus tetap profesional dalam bekerja. Mentang-mentang Ivan menyukai ku, aku seenaknya bertingkah di kantor nya. Toh selama ini dia sudah banyak membantu ku" Jelas Diya.


"Tunggu, tunggu, jadi benar apa yang aku katakan tadi? Ivan suka kamu kan? Iya kan Diy. Apa aku bilang kamu gak percaya sih" Yuli bersemangat.


"Aku gak bilang dia suka aku kok. Kan aku ngomong terlepas benar tidak nya dia suka aku. Kamu gimana sih? Asal ngomong aja kamu nya" Protes Diya cemberut.


"Iya, iya...maaf ya....Tapi Diy, aku senang banget deh lihat kalian dekat lagi. Semoga Ivan bisa membuatmu lupa akan masa lalu mu" Kata Yuli kembali melanjutkan makan malamnya.

__ADS_1


Kembali Diya teringat dari mana Ivan mengetahui tentang masa lalu nya.


"Tunggu, tunggu, sehubungan kamu membahas tentang masa lalu ku, apa kamu menceritakan masa lalu ku kepada Ivan?" Tanya Diya mengintimidasi.


"Masa lalu? Maksud kamu tentang Ferdi?"


Diya mengangguk pelan membenarkan.


"Ya ampun Diy, ya gak lah. Ngapain juga aku menceritakan tentang Ferdi kepada nya. Gak ada kerja banget sih aku. Aku gak mau mengungkit-ungkit masa lalu mu yang menyakitkan itu kepada orang lain. Apa lagi kepada Ivan. Lagian, aku tidak pernah menghubungi Ivan. Nomor nya saja tidak punya. Apa lagi ketemu" Jelas Yuli.


Diya tampak berpikir. Jika bukan Yuli, terus dari mana Ivan mengetahui masa lalunya? Dari mana Ivan mengetahui bahwa dirinya menunggu kekasih hati yang tidak jelas keberadaannya? Dari mana Ivan tahu jika kekasih nya tidak pernah memberi kabar? Bagaimana Ivan tahu kesedihan di hati begitu dalam saat ini yang Diya rasakan? Dari mana dan dari mana? Satu persatu pertanyaan mulai menghantui di pikiran Diya saat ini.


"Woi kok malah bengong" Sergah Yuli menepuk kedua tangan di hadapan Diya membuat lamunan Diya hilang seketika.


"Kenapa?" Tanya Yuli penasaran.


"Gak, bukan apa-apa kok"


"Ayo lah Diy, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Ada apa? Ayo lah cerita kepada ku. Aku kan sahabat kamu Diy" Pinta Yuli.


Diya menggeleng kepalanya. Sedikit enggan ingin bercerita tentang Ivan dan dirinya.


"Ayo lah Diy, masa pakai rahasia-rahasia seperti ini dengan ku. Cerita ya" Rengek Yuli.


Diya menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya kuat-kuat.


"Ivan tahu tentang masa lalu ku Yul"


Sontak Yuli menyemburkan minuman yang baru di teguknya.


"Yuli....kok kamu jorok gini sih...." Sontak Diya terkena semburan mau dari Yuli secara ia duduk di depan Yuli.


"Kamu serius? Kok bisa? Bagaimana mungkin?" Tanya Yuli penasaran.


"Ya aku gak tahu sih Yul. Tiba-tiba saja Ivan meminta ku untuk melupakan masa lalu ku. Dia bilang dia akan membuat ku melupakan masa lalu yang menyakitkan itu. Dia tidak mau aku tersiksa karena itu. Dia juga bilang jangan menunggu lelaki yang tidak pasti itu. Jika dia benar mencintai ku, tentu saja dia akan memberi kabar kepada ku. Dan sekarang, sudah tujuh tahun. Tujuh tahun lama nya dia tidak ada kabar berita" Diya menunduk sedih.


"Nah, nah kan, itu benar apa yang di katakan Ivan. Bukan nya aku selalu bilang seperti itu juga? Tapi kamu gak dengar omongan ku. Sekarang sudah Ivan yang berkata demikian apa kamu masih tidak mau mendengarkan?" Tanya Yuli sedikit kesal kepada Diya yang memang selama ini tidak mau mendengarkan ucapan nya untuk melupakan Ferdi.


Diya hanya diam tampa bersuara.. Ia tampak berpikir apa yang di katakan sahabat nya. Memang benar apa kata Yuli sampai kapan aku harus terpuruk dalam kesendirian.


"Tuh kan, bengong lagi. Pasti lagi mikirin kak Ferdi kan? Udah deh Diy, lupa kan saja Kak Ferdi. Coba buka hati mu untuk Ivan"


"Tidak semudah itu Yul. Aku telah mencoba membuka hati untuk Ivan. Namun, bayangan kak Ferdi masih terus menghantui ku. Banyak kenangan manis yang kami lalui bersama" Diya sedih mengingat masa nya bersama Ferdi.


"Ya Diy, aku tahu. Tapi harus sampai kapan kamu seperti ini. Kamu mau jadi perawan tua? Siapa tahu di luar sana Ferdi sudah menikah. Bahagia bersama keluarga kecilnya. Sedangkan kamu, hanya terpuruk dalam kesendirian menunggu dirinya kembali" Cerutu Yuli.


"Aduh, pusing aku Diy, gak paham sama jalan pikiran kamu. Entah bagaimana lagi harus ku katakan sama kamu tentang masalah ini. Pusing jadi nya" Yuli kesal.


"Ya aku tahu Yul. Aku akan mencoba untuk membuka hati ku untuk Ivan. Aku sudah meminta nya untuk membantu ku melupakan masa lalu ku. Semoga saja Ivan bisa membuat ku move on"


"Nah, gitu dong. Aku kan jadi senang mendengarnya. Dengan begitu kamu kembali bisa ceria seperti dulu. Aku doain kamu dan Ivan berjodoh. Aamiin kan dong Diy"


Diya tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum mendengar doa tulus dari sahabatnya itu. Sejujurnya hati nya masih menyimpan perasaan kepada Ferdi Sedikit banyak nya dirinya masih mengharapkan Ferdi kembali. Namun, kini harapan itu tidak begitu besar lagi. Karena keberadaan Ivan yang sedikit demi sedikit bisa mengobati dan mengisi hati yang pernah kosong. Oleh karena itu dia tidak mau menjawab doa sahabat karib nya tadi. Ia hanya ikut kemana arus takdir membawa cinta nya


"Hmm.....Diy, jika nanti kamu menikah dengan Ivan, apa aku masih boleh tinggal di sini?" Tanya Yuli tiba-tiba.


"Aduh Yuli, kan belum tentu aku dan Ivan berjodoh. Ada-ada aja deh kamu" Protes Diya.


"Kan seandainya Diy. Apa salahnya aku bilang begitu. Siapa tahu salva ku masin dan terkabulkan. Jadi nyonya Ivan deh kamu" Seru Yuli.

__ADS_1


"Sudah ya Yul. Habis kan saja dulu makanan kamu. Nanti baru kamu ngomong lagi" Pinta Diya.


"Ini sudah mau habis kok Diy"


Masih saja ngerocos ni orang. Pikir Diya.


"Besar juga ya Diy, rumah nya. Bagus banget" Yuli kembali membahas tentang rumah yang di tempatnya sekarang.


"Orang kaya ya Diy, rumah besar dan mewah kayak gini di bilang sederhana. Eh, ngomong-ngomong kamu pernah pergi ke rumah Ivan?"


"Ngapain aku kerumah Ivan Yul?"


"Ya ketemu sama orang tua nya lah Diy"


"Belum Yul, lagian hubungan kami belum resmi kok. Tidak mungkin aku ke sana" Jelas Diya.


"Aduh....kapan sih aku jadi kamu ya Diy. Beruntung banget di kelilingi sama laki-laki tampan. Aku jadi pengen seperti itu juga deh"


"Sudah Deh Yul, cepat lah makan nya. Setelah itu kamu mandi lalu istirahat. Aku juga sudah capek mau meluruskan pinggang ku yang sedikit bengkok kelamaan duduk dan dengar ocehan kamu dari tadi" Kata Diya bercanda.


"Yei,,,, emang omongan aku apa sampai bisa membuat pinggang mu encok kayak gitu" Kesal Yuli.


"Eh, Diy, apa besok Ivan menjemput mu?"


"Katanya sih gitu. Kenapa?"


"Aku boleh nebeng ya....Aku pengen ketemu sama Ivan"


"Kan kantor kita berlawanan arah Yul. Kasihan kan Ivan mengantar mu ke kantor terus putar balik untuk pergi ke kantornya"


"Iya juga ya Diy. Jadi besok aku harus naik taksi online ni untuk ke kantor?" Tanya Yuli meminta keyakinan kepada sahabat nya itu.


"Terserah kamu"


"Hmm gimana ya. Boleh lah Diy aku nebeng ya" Rengek Yuli.


"Aku gak tau Yul. Coba deh besok kamu bilang ke Ivan nya langsung. Aku gak bisa memastikan. Toh aku saja nebeng sama Ivan. Masak aku sok-sokan memberi tumpangan ke kamu"


"Iya juga ya Diy. Ya udah deh kalau gitu. Aku pergi naik taksi online aja. Toh jika ada aku, pasti kalian terganggu. Secara orang mau melakukan tahap pendekatan gitu loh" Sindir Yuli.


"Apaan sih kamu Yul" Diya sedikit malu.


"Ya sudah, aku mau mandi dulu ya. Dimana kamar ku Diy?" Seru Yuli membersihkan sisa makanan yang ada menempel di mulut nya.


"Di sana" Tunjuk Diya mengarah pada kamar yang kosong.


"Oke, terima kasih ya Diy. Aku mau bersih-bersih dulu. Eh, tapi gak apa-apa kamu yang beresin ini semua" Tanya Yuli tidak masalah kah jika hanya Diya yang membereskan sisa makanan uang mereka santap tadi.


"Iya gak apa-apa. Kami istirahat saja. Kan perjalanan yang kamu tempuh cukup jauh" Kata Diya tersenyum.


"Benar ni?" Yuli kembali bertanya.


"Iya, sudah pergi sana" Usir Diya kepada Yuli.


"Oke deh kalau gitu. Terima kasih ya nyonya Ivan" Ejek Yuli.


"Aduh Yul jangan bilang gitu deh, malu-maluin tahu" Protes Diya.


Yuli tertawa riang mendengar protes Diya dan langsung meninggalkan sahabatnya yang mulai membereskan sisa makanan yang ada..

__ADS_1


__ADS_2