
Virda sudah merencanakan niat nya untuk membuat Ivan meninggalkan Diya. Dia memikirkan matang-matang tentang rencana yang ia buat.
Ivan tampak masih tidur dengan pules nya. Entah berapa banyak ia mencampurkan obat tidur di dalam teh nya Ivan hingga laki-laki itu belum juga sadarkan diri.
Pagi hari, ketika waktu sudah menunjukan pukul tujuh. Ivan perlahan membuka mata nya yang masih terasa berat. Ia gosok matanya yang terasa masih mengantuk itu. Mencoba mengingat di mana ia berada saat ini.
Mata nya tertuju dengan tangan yang melingkar di perut nya yang sixpack. Betapa kaget nya Ivan mendapati ada Virda tidur bersama nya.
"Virda? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ivan dengan kaget nya.
"Van, kamu sudah sadar?" Ujar Virda dengan suara lemah nya.
"Kamu, aku? Kenapa bisa aku berada di kamar mu? Apa yang terjadi?" Ujar Ivan masih dengan kaget nya.
"Pakaian ku di mana?" Tanya Ivan mencari keberadaan pakaian nya. Ia langsung menyambar kemeja yang tergeletak di lantai kamar Virda.
"Kenapa gugup begitu Van. Kita sudah melewati malam ini bersama. Kamu begitu lihai dalam memanjakan ku" Ujar Virda mencoba mengingat kejadian yang tidak pernah terjadi itu.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukan itu bersama kamu. Aku tidak sadar sama sekali, bagaimana bisa aku melakukan itu bersama mu?" Jawab Ivan tidak percaya.
"Ya karena kamu tidak sadar itu kamu melakukan nya? Kamu tidak bisa menjamin kan jika kita tidak melakukan itu? Kamu sendiri yang bilang kamu tidak sadar akan hal itu" Ujar Virda meyakini Ivan.
Ivan tampak berpikir.
"Tidak mungkin aku melakukan itu Vir. Aku tidak percaya. Aku tidak pernah menyentuh mu" Ujar Ivan lagi.
"Van, aku sedang sakit waktu itu. Kamu yang datang dan langsung meminta untuk di layani. Aku juga tidak mengerti kenapa kamu bisa melakukan itu kepada ku. Kita sudah melakukan nya Van. Kamu jangan mengelak nya seperti itu dong" Ujar Virda.
"Kamu harus bertanggung jawab" Tambah nya lagi.
"Tidak aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Apa yang kamu lakukan pada ku hingga aku bisa seperti ini?" Tuduh Ivan yang memang benar ada nya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Bagaimana mungkin kamu menuduh ku seperti itu, sedang kan kamu tahu sendiri untuk bangun saja aku tidak bisa Van" Bela Virda.
"Gak, gak aku tidak percaya. Sulit untuk ku percaya dengan semua ini. Kami pasti berbohong" Ujar Ivan tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong, di sini aku sebagai korban. Apa untung nya aku berbohong Van? Kamu jangan mengelak seperti itu dong Van. Mau enak nya saja tapi tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan" Virda menitikkan air mata buaya nya. Ia berakting selayaknya ia lah korban di sini. Padahal Ivan lah yang terjebak dan harus bertanggung jawab dengan apa yang tidak ia lakukan.
"Van, kamu harus bertanggung jawab Van. Kamu telah merenggut masa depan ku. Dan bagaimana jika nanti ada benih mu di perut ku?" Ujar Virda lagi terus mendesak Ivan.
"Tidak Vir, aku masih belum yakin dengan apa yang terjadi. Maaf kan aku" Ujar Ivan langsung berlari keluar dari apartemen nya Virda.
Ivan memesan taksi online untuk pulang ke rumah nya.
"Aku tidak yakin aku telah melakukan hal serendah itu kepada Virda. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun kepada nya. Bagaimana mungkin kami bisa melakukan itu tanpa rasa cinta" Ujar Ivan dalam hati nya saat ia telah berada di dalam mobil taksi.
***
Virda tersenyum puas melihat Ivan penuh dengan keraguan seperti itu. Hati nya sangat senang karena ia telah berhasil dengan rencana nya.
"Sekarang kamu telah masuk ke dalam perangkap ku Van. Kamu tidak akan pernah bisa lari dari ku" Ujar Virda dengan tersenyum puas.
***
"Lo Van, baru pulang? Dari mana saja kamu? Tumben gak kabari mama sama papa jika gak pulang ke rumah" Ujar Ajeng heran melihat anak nya dalam keadaan yang kusut begitu baru pulang ke rumah pagi ini.
"Aku ketiduran ma di kantor saat lembur tadi malam" Ivan berbohong.
"Aku ke kamar dulu ya ma, mau bersih-bersih dan berangkat ke kantor" Ujar nya lagi.
"Masih ngantor juga? Lebih baik libur saja hari ini. Kamu sudah lembur tadi malam. Jaga kesehatan nak jangan memikirkan kerjaan terus yang tidak ada usai nya. Kata nya mau nikah. Harus fit dong badan nya" Ujar Ajeng lagi.
"Gak apa-apa kok ma, jangan khawatir aku baik-baik saja kok" Ujar Ivan langsung naik ke lantai dua tepat dimana kamarnya berada.
"Apa mungkin aku telah melakukan itu sama Virda? Seingat ku, aku hanya merasa ngantuk saat selesai makan malam. Dan langsung tertidur di sofa. Tapi kenapa aku bisa pindah di kamar nya Virda?" Ivan duduk di tepi tempat tidur nya mengingat kejadian tadi malam yang menurut Virda ia telah melakukan hal yang tidak harus ia lakukan kepada Virda.
"Gak mungkin, ini semua pasti bohong. Ini semua hanya akal-akalan Virda saja" Ujar nya lagi meyakini diri nya.
__ADS_1
Ivan bangkit dari duduk nya dan pergi menunju kamar mandi.
Selesai mandi Ivan pun memakai handuk nya dengan bertelanjang dada. Roti sobek nya tampak begitu jelas. Setelah memakai jelana nya, Ia pun memakai kemeja nya dan betapa terkejut nya ia saat menatap di cermin dimana di bagian dada nya terdapat bekas kepemilikan warna merah pertanda Virda telah memberikan hal itu kepadanya.
"Ha? Apa-apaan ini? Kenapa ada bekas ini di sini?" Ujar Ivan mencoba menghapus bekas itu namun tetap saja tidak bisa. Bekas itu hanya bisa hilang dengan sendirinya.
"Virda, apa benar kita telah melakukan nya?" Ujar Ivan lagi.
Kling...
Notifikasi ponsel nya Ivan berbunyi. Terdapat Virda mengirimkan sebuah foto.
Ivan membuka pesan itu. Dan betapa kaget nya ia Virda mengirim foto di bagian leher nya terdapat juga bekas kepemilikan. "Van, lihat apa yang kamu lakukan? Bagaimana aku bisa ke kantor jika bekas kepemilikan mu tinggal di leher ku?" Pesan dari Virda.
Ivan tidak merespon. Laki-laki itu sungguh tidak percaya apa yang ia lihat.
Entah lah itu benar atau tidak, Tadi lagi dirinya tidak terlalu memperhatikan leher Virda karena masih syok dengan apa yang terjadi.
"Van, siapa lagi yang melakukan ini jika buka kamu? Hanya kamu yang ada di apartemen ku tadi malam. Kamu harus bertanggung jawab Van. Kamu harus menikahi ku" Pesan dari Virda lagi masuk.
Lagi-lagi pesan gadis indobel itu hanya di baca oleh Ivan.
"Apa kamu mau melihat bekas kepemilikan yang kamu buat pada tubuh ku yang lain?" Pesan Virda lagi.
"Jika mau aku akan mengirim nya" Tambah pesan nya lagi.
Kling....
Pesan berupa foto kembali masuk ke dalam ponsel nya Ivan. Dengan tidak ada rasa malu lagi Virda mengirimkan diri nya yang bertelanjang dada. Memperlihatkan bagian-bagian mana saja yang telah di beri tanda kepemilikan oleh Ivan.
Ivan membulatkan mata nya saat melihat foto itu. Dengan cepat ia pun menghapus foto itu. Yah memang tadi pagi ia tidak melihat tanda itu di bagian tubuh nya Virda karena Virda membaluti tubuh nya dengan selimut.
***
Virda tersenyum senang karena telah membuat Ivan sedikit percaya dengan apa yang ia katakan. Gadis itu memang telah merencanakan ini semua.
Tadi malam, ia memang berkerja keras membuat tanda itu dengan alat kerik kerok elektrik di beberapa bagian tubuh nya agar lebih menyakinkan Ivan bahwa memang mereka telah melakukan nya.
***
"Assalamualaikum" Salam Ivan saat dirinya telah sampai di depan pintu rumah Diya.
"Walaikumsalam. Eh nak Ivan" Ujar Mirna membuka pintu.
"Buk" Ivan menyalami calon ibu mertua nya.
"Apa Diya masih di rumah buk?" Tanya Ivan.
"Diya sudah berangkat tadi. Belum juga lama" Jawab Mirna.
"Ibu pikir kamu berangkat nya bareng Diya. Karena tadi ibu sibuk di dapur gak melihat juga Diya pergi dengan siapa" Tambah nya lagi.
Ivan tampak gelisah mendengar apa yang di katakan Mirna barusan.
"Kenapa? Apa kalian berantem nak?" Tanya Mirna.
"Gak kok buk. Kami baik-baik saja" Ujar Ivan tersenyum dengan ramah nya.
"Saya permisi dulu ya buk berangkat ke kantor" Tambah nya lagi.
Mirna hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apa Diya tahu semua ini? Kenapa dia tidak mau mengangkat telfon ku? Bahkan tidak menunggu ku untuk berangkat ke kantor? Apa Diya marah kepada ku?" Batin Ivan tampak gelisah.
"Pak kita ke kantor sekarang" Perintah Ivan kepada pak Udin saat dirinya telah masuk ke dalam mobil nya.
***
__ADS_1
"Diy, Diya....." Ujar Ivan saat melihat Diya tampak sibuk di meja kerja nya. Ivan menghampiri gadis itu.
"Diya" Ujar nya lagi.
Diya menoleh. Tak sengaja ia melirik sebuah bekas merah di lehernya Ivan. Sontak hal itu membuat nya menjadi percaya atas apa yang di sampaikan Virda tadi malam. Diya menunduk dan melanjutkan pekerjaan nya. Bekas yang ia lihat membuatnya semakin teringat dengan kejadian tadi malam.
"Diy, Ada yang mau aku jelaskan ke kamu. Ayo ke ruangan ku" Ujar Ivan.
"Menjelaskan apa? Tidak ada yang perlu di jelaskan. Semua nya sudah jelas kok" Ucap Diya sambil melanjutkan pekerjaan nya tanpa melihat Ivan.
"Diy, tidak enak jika berbicara masalah ini di sini" Ujar Ivan masih dengan lembut nya.
"Semua nya sudah jelas kok Van. Tidak perlu kamu jelaskan lagi" Ujar Diya masih keras kepalanya.
Melihat Diya yang masih keras kepala, Ivan menarik paksa calon istri nya masuk ke dalam ruangan nya"
"Van, Apa-apaan sih kamu lepasin" Diya memberontak. Namun Ivan tidak peduli dengan ocehan nya Diya. Ia terus menarik hingga sampai ke ruangan nya dan menutup pintu itu.
Diya menghela napas berat.
"Ada apa? Lanjut berapa ronde kamu semalam?" Tanya Diya mulai mengintrogasi.
"Aku tidak melakukan apa pun sama Virda Diy. Aku tidak mungkin melakukan hal itu" Jelas Ivan.
"Terus bekas di leher mu itu apa? Itu kan sudah membuktikan jika memang kalian melakukan nya. Bahkan sering melakukan nya"
"Sering? Tunggu, Tunggu, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?"
"Virda yang mengatakan nya kepada ku. Tadi malam aku juga ke apartemen nya Virda. Keadaan kamu yang berantakan, Virda tubuhnya yang hanya di baluti oleh selimut. Di tambah dengan bekas itu di leher mu" Ujar Diya dengan cemburunya.
"Diy, sumpah demi apa pun aku tidak pernah melakukan hal itu bersama gadis mana pun. Apa lagi Virda aku telah menganggap nya sebagai adik ku sendiri tidak mungkin aku merusak adik ku sendiri" Jelas Ivan.
Diya tampak berpikir.
"Ini pasti akal-akalan nya Virda untuk memisahkan kita berdua" Ujar Ivan lagi.
Kembali Diya teringat dengan semua foto-foto yang di kirim oleh Virda kepada nya.
"Coba kamu lihat ini. Apa dia sengaja mengirimkan foto ini untuk membuat aku cemburu?" Ujar Diya memperlihatkan foto-foto yang dikirim oleh Virda tadi malam.
"Apa? Jadi dia mengambil semua foto-foto ini dan mengirimkan nya pada mu?" Tanya Ivan.
Diya mengangguk.
"Bukan nya ia sedang sakit tadi malam? Bahkan untuk bangun saja dia tidak sanggup" Ujar Ivan.
"Berarti tidak salah lagi Diy, Virda memang telah menjebak ku Tadi lagi dia yang mengatakan jika aku lah yang meminta itu kepada nya. Namun, dengan foto-foto ini tampak jelas dia lah yang telah menjebak ku"
"Karena foto ini juga aku mencari mu ke apartemen nya untuk memastikan kamu baik-baik saja. Namun Virda menghalangi ku untuk bertemu dengan mu yang memang terlihat begitu pulas nya tidur" Ujar Diya.
Ivan tersenyum senang mendengar betapa perhatian nya Diya kepada nya tadi malam.
"Percaya lah kepada ku Diy, aku hanya mencintai mu. Tidak mungkin aku bisa melakukan hal itu dengan orang yang tidak aku cintai" Ujar Ivan memegang kedua belah pipi gadis itu.
Diya tersenyum menatap dalam bola mata lelaki yang ada di depan nya. Lama mereka saling menatap hanya jarak beberapa senti meter saja.
Getaran-getaran di hati keduanya bermunculan lagi. Ivan mendekatkan wajahnya yang tampan ke wajahnya Diya. Hingga hawa panas napas mereka terasa di pipi masing-masing.
Degup jantung kedua nya semakin kencang.
Diya memejamkan matanya. Menantikan apa yang akan terjadi selanjut nya. Pasrah dengan semua yang akan terjadi.
Dalam hitungan beberapa detik saja, Ivan menempelkan bibirnya yang seksi ke bibirnya Diya yang basah, hangat dan lembut. Saling memejamkan mata menikmati hangat nya kedua nya. Lama mereka saling *******, mengulum.
Diya membuka matanya saat ciuman itu berakhir. Ivan tersenyum lembut menatap wajah gadis yang ia cintai.
"Untuk saat ini, hanya itu saja yang bisa kita lakukan. Aku tidak akan melakukan nya lebih sebelum kamu aku halal kan" Ujar Ivan menarik gadis itu kedalam dada nya yang bidang.
__ADS_1
"Diy, begitu banyak cobaan nya akan memisahkan kita. Rintangan halangan pasti akan terjadi saat ini kepada kita. Jadi aku mohon, kita saling percaya. Kita saling menjaga. Jangan gampang terpengaruh dengan omongan mereka yang belum ada bukti yang jelas" Ujar Ivan mempererat pelukan nya.
"Aku mencintai mu Diy" Ucap Ivan mengecup lembut pucuk kepala gadis itu.