Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Mengalah


__ADS_3

"Beneran gila ni orang, mau kemana lagi dia tu? Ujar Ivan mulai terlihat cemas dan masuk kedalam mobil nya bermaksud untuk mengejar taksi yang di tumpangi oleh Virda tadi.


"Sebenarnya mau ke mana dia? Apa dia beneran nekat ingin menggugurkan kandungan nya? Virda kamu benar-benar gila" Ucap Ivan lagi terus mengikuti taksi tersebut.


Virda mengetahui bahwa Ivan mengikuti nya dari belakang. Ia sengaja melakukan drama ini agar Ivan bisa luluh kepada nya.


Virda tersenyum sinis melihat mobil nya Ivan terus mengikutinya.


"Aku tahu Van, kamu gak mungkin bisa membiarkan aku menyakiti diriku sendiri. Bagaimana pun, kamu pasti akan meminta ku untuk menghentikan semua ini. Aku sangat mengerti kamu Van. Aku sangat mengenali mu" Ujar Virda tersenyum puas.


"Ini kan daerah Rumbai. Yah di sini menang terkenal tempat aborsi. Berarti Virda tidak bohong dengan ancaman nya" Ivan tampak gelisah. Meski pun dia tidak mencintai Virda, namun tetap saja dia tidak mungkin membiarkan Virda melakukan hal nekat seperti ini. Apa lagi bisa membahayakan nyawa nya sendiri.


Dia pasti tidak akan bisa memaafkan diri nya sendiri karena telah membiarkan Virda melakukan hal nekat itu.


Yah bagaimana pun dia juga manusia dan masih mempunyai hati. Jelas tidak mungkin tega membiarkan Virda sahabatnya yang telah membuat nya kesal dan jengkel itu.


"Ya ampur Vir....Kenapa sih kamu menjadi egois seperti ini. Kenapa kamu memaksakan kehendak mu seperti ini" Ujar Ivan benar-benar habis pikir dengan tengkah laku gadi blasteran itu.


Mobil taksi yang di tumpangi oleh Virda berhenti di sebuah rumah panggung berwana coklat muda. Di depan nya terbadap berbagai bunga yang menghiasi halaman rumah tersebut.


Virda sengaja memperlambat gerak nya untuk turun dari taksi itu dengan harapan Ivan mengejarnya dan menghalangi nya untuk melakukan hal nekat itu.


"Yes, seperti nya usaha ku berhasil. Dengan begini, Ivan pasti mau menikahi ku" Batin Virda bersorak senang.


Melihat mobil Ivan berhenti di belakang mobil taksi nya, Virda pun turun dari taksi tersebut. Berlagak seperti orang kesal dan sedih dengan Ivan yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan nya.


"Virda, Vir....kamu jangan gila seperti ini dong Vir" Ujar Ivan menarik lengan Virda yang mau masuk ke rumah itu.


"Lepasin aku Van" Brontak Virda.


"Bukan nya ini yang kamu mau? Kamu tidak mau mengakui anak yang ada di dalam kandungan ku ini. Untuk apa aku mempertahan kan nya? Toh dia terlahir tanpa seorang ayah juga" Ujar Virda dengan berakting sedih.


"Ini bisa membahaya kan kamu juga Vir. Anak ini tidak bersalah. Kamu sudah melakukan dosa, dan jangan kamu tambahkan dosa mu dengan menggugurkan kandungan mu" Ujar Ivan menasehati.


"Aku? Kamu bilang aku? Jelas kita Van. Kita melakukan nya sama-sama. Dan kamu melimpahakan semua kesahalan itu kepada ku. Ini tidak adil, sangat, sangat tidak adil" kata gadis yang memiliki rambut pirang itu dengan tersenyum sinis mengejek.


"Kamu masih mengatakan bahwa aku lah menyebab kan kamu seperti ini. Stop menyalahkan aku dan meminta aku untuk bertanggung jawab atas apa yang bukan aku lakukan" Ujar Ivan kembali kesal.


"Terus, harus aku yang menanggung ini semua? Enak nya kita sama-sama, kenapa yang tidak enak nya hanya aku yang dapat? Cukup adil kah itu?"


"Vir, aku gak bisa lagi mengenal diri mu seperti ini. Ya emang kamu memang gadis yang keras kepala. Tapi sekerang nya kamu dulu, kamu tidak melakukan hal gegabah seperti ini"


"Jadi kamu meminta ku untuk bagaimana? Harus aku pertahankan kandungan ini dan berhenti untuk tidak menyalahkan kamu. Ei, Van ingat kamu pelakunya. Mana mungkin anak ini terjadi dengan sendirinya. Emang nya kisah ku ini kisah Mariam ibu nya nabi Isa. Bisa hamil tampa seorang ayah?" Ujar Virda berlagak dia lah yang paling benar, dan sebagai korban dari Ivan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Padahal anak nya itu adalah anak dari bos nya terdahulu.


Ivan memijit kening nya yang terasa pusing. Entah bagaimana lagi dia harus membela diri saat ini. Kenapa Virda sangat bersi keras ingin dirinya yang bertanggung jawab.


"Kamu gak mau jawab kan? Jadi jangan halangin aku untuk melakukan hal ini. Setelah semua nya selesai, kamu juga yang senang kan gak di minta pertanggung jawaban dari aku. Bisa tuh kamu hidup senang-senang sama istri kamu yang dari kampung itu"


"Cukup ya Vir. Jangan kamu hina Diya seperti itu. Diya memang gadis kampung. Tapi dia tidak kampungan dan yang jelas dia gadis baik-baik"


"Oh, bela saja dia. Semenjak kamu mengenal Diya, kamu berubah Van. Kamu tidak pernah lagi luangkan waktu untuk ku. Aku pindah ke sini dan aku telah mengorbankan semua nya demi kamu. Termasuk kehormatan ku" Ujar gadis indobel itu lagi.


Yah, benar dia telah mengorbankan kehormatan nya. Tapi bukan bersama Ivan. Hanya bersama bos nya. Bos nya yang terkenal dengan mata keranjang hidung belang. Yang rela melakukan hal apa pun untuk memuaskan nafsunya. Termasuk dengan membiarkan Virda pergi dari perusahaan nya sebelum kotrak nya habis.


Semua itu gadis berhidung mancung itu lalukan hanya untuk bersama lelaki bernama Ivan yang kini telah menjadi suami nya Diya.


"Ya ampun, kenapa menjadi ribet gini sih? Otak ku benar-benar buntu saat ini. Apa aku harus membiarkan Virda melakukan aborsi? Tapi ini juga akan membahayakan nyawa nya. Jika terjadi pendarahan hebat hingga membuat dia kehilangan nyawanya bagaimana? Aku tidak akan bisa memaafkan diri ku. Bagaimana pun Virda adalah sahabat ku, dan orang tua nya telah mempercayai dia kepada keluarga ku. Pasti nanti papa dan mama akan di salahkan juga" Batin Ivan bergejolak.

__ADS_1


"Tapi jika dia tidak melakukan hal ini, pasti dia akan terus-terusan meminta pertanggung jawaban kepada ku. Dan dia pasti akan menemui mama dan papa menceritakan hal yang tidak ku lakukan. Belum lagi nanti dia bertemu dengan Diya dan menceritakan hal ini. Pasti Diya akan kecewa kepadaku. Dan pasti nanti nya Diya juga akan meninggalkan ku. Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau Diya meninggalkan ku lagi. Sekarang Diya telah menjadi istriku. Dan tidak mungkin aku melepaskan nya begitu saja" Batin nya lagi.


"Kenapa masalah ini datang ketika aku sudah menikah dengan Diya? Aku jad pusing harus berbuat apa. Apa lagi pernikahan ku yang akan dilakukan secara hukum tinggal menghitung hari" Ujar Ivan lagi dala hati.


Melihat Ivan diam Virda beranjak meninggalkan Ivan. Dan melangkah ingin masuk ke dalam rumah aborsi itu.


Sedetik, dua detik Ivan masih sibuk dengan pikiran nya yang tidak tahu jalan keluar atas masalah yang dia hadapi.


Virda masih dengan akting nya. Yah dia berjalan dengan perlahan agar Ivan kembali mencegah nya.


"Ayo dong Van, larang aku untuk masuk dan melakukan ini" Batin nya berharap penuh kepada Ivan.


Namun yang di harap tak kuncung bergerak. Ia masih sibuk dengan pikiran nya yang entah kemana-mana. Virda mengetuk pintu rumah itu.


Sekali, dua kali Virda mengetuk. Namun belum ada respon dari dalam. Virda ingin mengetuk untuk yang ke tiga kali nya.


Namun tangan Virda di cegah oleh Ivan.


"Ngapain kamu Van? Jangan halangi aku"


"Oke, oke Vir. Aku, aku akan bertanggung jawab semua ini"


"Maksud kamu?" Virda pura-pura tidak mengerti.


Ivan memijit kening nya lagi.


"Aku akan bertanggung jawab dengan semua yang terjadi kepada kamu. Jadi ku mohon, kamu jangan melakukan hal nekat seperti ini. Kamu harus membatalkan niat mu ini" Ujar Ivan akhirnya mengalah.


"Benar?"


"Jadi kamu akan menikahi ku?"


Ivan masih diam tidak bisa menjawab.


Lama Virda menunggu jawaban dari Ivan.


"Kenapa diam? Tidak bisa memastikan hal itu?" Tanya Virda.


"Oke, aku akan menikahi mu" Akhirnya keputusan itu keluar dari mulut Ivan. Berat yah memang berat namun apa lah daya hal itu di lakukan hanya tidak mau Virda melalukan hal yang sangat nekat ini.


***


Ting.....


Sebuah gelas jatuh saat Diya hendak menyusun gelas tersebut pada tempat nya.


"Ya Allah nak, kenapa sayang? Kamu gak apa-apa? Ada yang terluka" Ucap Miran yang memang dari tadi berada di samping anak nya.


"Gak kok buk. Aku baik-baik saja. Tadi gelasnya tersenggol buk" Ujar Diya memberi alasan


"Aku beresin ini dulu ya buk. Nanti kita bisa keinjek bling nya lagi" Tambah nya lagi.


"Iya, hati-hati ya nak" Ujar Mirna.


Diya memungut satu persatu bling gelas tersebut, tanpa di sadari jari telunjuk nya terluka tergores oleh bling tersebut.


"Ah" Diya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Nak kenapa?" Tanya Mirna lagi.


"Gak apa-apa kok buk" Bohong Diya.


Mirna melanjutkan pekerjaan nya yaitu mencuci piring.


"Kenapa perasaan ku tidak enak ya? Kenapa pikiran ku dari tadi tidak lepas dari Ivan? Apa yang terjadi kepadanya? Apa dia baik-baik saja?" Batin nya.


***


Virda tersenyum puas mendengar jawaban yang sangat ia harap kan.


"Kamu gak bohong kan Van? Beneran kan ini Van? Jangan kamu mempermainan aku ya Van?" Ujar Virda dengan tatapan meminta kepastian.


"Iya, aku tidak berbohong. Aku akan menikahi mu tapi dengan syarat"


"Apa?"


"Aku mau ketika anak itu sudah tiga atau empat bulan dalam kandungan mu. Kamu harus melakukan tes DNA. Untuk memastikan ini beneran anak ku atau bukan. Dan aku juga minta sama kamu, jangan kamu ceritakan hal ini kepada mama, papa terutama Diya. Rahasiakan kehamilan kamu kepada semua orang" Pinta Ivan.


"Maksud kamu, kamu akan menikahi ku selama tiga atau empat bulan lagi?" Ulang Virda.


"Iya" Jawab Ivan


"Lama dong Van. Emang kamu mau melihat kandunganku semakin hari semakin membesar dan aku akan dipandang rendah sama orang-orang karena tidak mempunyai suami" Ujar Virda penuh dengan kekesalan.


"Aku akan melakukannya tes DNA besok agar kamu percaya bahwa anak yang ada di dalam kandunganku ini adalah anakmu dan kamu tidak bisa mengelas lagi dengan berbagai alasan apapun."


"Pokoknya aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Aku mau kamu secepatnya menikahi aku. anak ini butuh ayahnya bukan hanya ibunya" Tambah nya lagi.


"Apa kamu sudah gila ya Vir, nggak mungkin kan aku menikahi kamu. Kamu tahu sendiri aku akan menikahi Diya dalam waktu beberapa hari ke depan dan tidak mungkin aku menikahi kamu secepat ini." Alasan Ivan.


"Menikahi Diya? Bukan kah kamu sudah menikah sama Diya?"


Ivan memijit kepalanya yang pusing dengan berbagai tingkah nya Virda.


Baru ia sadar bahwa Virda tidak mengetahui antara dirinya dan Diya hanya melakukan nikah siri agar gadis blasteran itu tidak mengusik hidup nya lagi.


Ternyata ia salah besar Virda masih saja mengganggunya Bahkan sekarang ia nekat untuk mendapatkan keinginannya menikah dengan Ivan dengan alasan dia telah mengandung anak Ivan.


Harapan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Iya kamu memang sudah menikah tapi saat ini kami hanya menikahi dan nikah secara hukum dan juga resepsinya akan diadakan beberapa beberapa hari ke depan" Jelas Ivan akhirnya jujur karena telah pusing dengan semua ini.


"Oh, ternyata kalian hanya nikah siri itu artinya kamu tidak akan sulit untuk bercerai dari Diya bukan? sejarah kalian tidak menikah secara resmi dan biarkan saja hubungan kalian seperti ini yang penting sekarang kamu harus menikahi aku di mata hukum agar anak ini memiliki ayah banyak Kamu sendiri yang tadi sudah berjanji kepadaku akan bertanggung jawab dengan semua yang terjadi kepada diriku" Ujar Virda.


"Aku tahu kamu bukan laki-laki yang pengecut. Yang hanya bisa berjanji tapi tidak bisa menepatinya. Aku tahu kamu bukan tipe orang seperti itu. Kamu akan melakukan Dan menepati segala janji dan ucapan kamu kepadaku bukan kamu tidak berubah kan Van"


"Iya aku akan menepati Janjiku kepadamu. Tapi beri aku waktu. Aku tidak mungkin tidak menikahi Diya secara sah. Jika kamu mau aku bertanggung jawab? Aku mohon, lakukan keinginan ku" Ujar Ivan.


"Jika kamu tidak mau melakukan itu, dan bersih keras untuk meminta ku menikahi mu secepat itu. Aku minta maaf aku tidak bisa. Dan terserah kamu mau mengugurkan kandungan mu atau tidak. Aku sudah capek dengan semua peringai mu yang semakin hari semakin gila ini" Ujar Ivan yang merasa lelah.


"Oke, Oke aku akan melakukan apa yang kamu mau. Aku akan merahasiakan kehamilanku ini dan aku tidak akan mengugurkan kandunganku ini dan kamu boleh menikah sama Diya dalam waktu yang dekat ini. Tapi kamu harus ingat ketika aku sudah membuktikan aku mengandung anakmu dengan tes DNA itu aku minta kamu harus meninggalkan Diya dan menikah denganku secara sah. Aku tidak mau menjadi yang kedua, aku tidak mau dipoligami dan aku yakin Diya juga seperti itu. Diya tidak mau dipoligami oleh gadis manapun"


"Lo, itu kan Ivan?" Ujar Yuli yang tidak sengaja lewat di tempat itu saat diri jalan bersama Zaki.


"Ngapain dia di sini? Dan siapa gadis itu? Tampak nya mereka ngobrol serius" Ujar Yuli lagi.

__ADS_1


__ADS_2