
"Setengah delapan" Diya kaget spontan gadis itu bangkit dari baring nya.
"Kenapa? Kamu tidak sholat subuh tadi ya?" Tanya ibunya lembut.
"Sholat buk, selesai sholat aku tidur lagi" Marni bergumam.
"Oh ya, cepat rapikan rambut mu. Ada tamu yang ingin bertemu dengan mu"
"Siapa?" Tanya Diya was-was.
"Jangan-jangan....Oh....Tidak...." Fikirnya menebak.
"Katanya orang tua nak Ferdi" Kata Marni tidak memperhatikan perubahan wajah anak nya.
"Tu kan benar....Wah gawat nih...Apa yang harus aku lakukan?" Fikir gadis itu masih termagu-magu. Melihat anaknya masih bengong, wanita paruh baya itu berujar lagi.
"Ayo cepat....Temui tamu mu. Ibu akan buatkan minuman ya" Kata Marni lagi langsung keluar dari kamar anak nya dan menuju dapur.
__ADS_1
"Duh....Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan jika mereka bertanya tentang kak Ferdi?" Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah merapikan rambutnya dan membedaki wajahnya meski pun belum mandi, Diya pergi keluar menemui tamunya yang sejak tadi menunggu.
Beberapa kali gadis itu menghembuskan nafas panjang. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Tapi gadis itu harus bisa bersikap setenang mungkin di hadapan orang tua kak Ferdi. Dengan langkah was-was Diya datang dan menyapa dengan ramah.
*****
"Baik-baik saja kok nak" Walau sedikit berat ia menjawab.
Diya tersenyum kejut lalu duduk di hadapan tamu nya dengan perasaan yang sungguh-sungguh tidak menyenang kan hati.
"Maaf nak Diya, kami datang secara tiba-tiba. Dan kami tidak tahu harus kemana lagi untuk bertanya tentang Ferdi. Kamu sebagai teman dekat Ferdi, setidak nya tahu dimana Ferdi berada" Kata Agus memulai bicaranya.
"Haruskah aku berkata jujur kepada mereka? Ataukah aku harus berbohong" Gadis itu gelisa. Dan,
__ADS_1
"Maaf om, tante aku benar-benar tidak tahu dimana kak Ferdi sekarang. Memang tadi malam ia menelefon ku, tapi dia tidak mau mengatakan dimana ia akan pergi sekarang" Jawab gadis itu deg-degan.
"Ini semua gara-gara kamu" Bentak Mira.
"Jika saja kamu tidak mendekati anak ku, ini semua pasti tidak akan terjadi. Dan ingat, jika sesuatu terjadi kepada Ferdi, kamu yang pertama kali aku salahkan" Ancam wanita itu penuh kebencian.
"Dan satu lagi, jangan pernah kamu mendekati Ferdi lagi. Jika kamu berani mendekatinya lagi. Kamu dan ibumu akan celaka. Faham itu" Tuding Mira lagi membuat Diya menjadi kecut.
"Ma....Sudah lah ma...Sabar" Potong Agus menenangkan istrinya.
"Pertengkaran tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus bersikap sabar dan bersikap bermusyawarah. Ngomong baik-baik tidak harus membentak Diya seperti itu"
"Ini semua salah papa. Papa selalu membela anak itu. Sekarang lihat....Lihat pa...Apa yang dilakukan Ferdi kepada kita" Mira menangis kesugukan.
"Ini semua gara-gara Diya, gara-gara gadis kampung ini" Kata Mira berontak ingin mencelakan Diya. Tapi Agus cepat menahan nya. Diya jadi takut dan berundur beberapa langkah ke belakang. Wajah gadis itu berubah pias.
"Andai saja kamu tidak mendekati Ferdi. Anak ku tidak akan lari dari rumah" Mira terduduk lemas dan menangisi nasib nya.
__ADS_1