
Mira meninggal kan Ivan dan Diya yang berdiri mematung di tempatnya.
"Ayo Diy" Ucap Ivan lembut menuntun gadis itu keluar dari rumah sakit. Diya mengikuti ajakan Ivan tanpa di suruh dua kali.
Dia duduk di kursi taman rumah sakit itu. Pikiran nya masih kalang kabut. Hati nya kini perih, nyeri bahkan hancur mendapat kenyataan yang sangat menyakitkan ini.
Diya bingung harus berbuat apa. Ferdi tidak bersalah haruskah dia membenci nya? Namun jika ingin seperti dulu itu sungguhlah tidak mungkin karena Ferdi telah memiliki kehidupan nya sendiri.
"Diy, kamu baik-baik saja?" Tanya Ivan lembut menyentuh bahu gadis impian nya. Ivan duduk di samping Diya.
Tangisan yang ia tahan dari tadi kini pecah seketika. Raungan yang menyayat hati menggema di taman rumah sakit itu. Tidak peduli dengan orang yang lalu lalang di taman itu. Yah dengan seperti itu menangis nya membuat hati nya lebih lega karena mengeluarkan kegundahan di hati nya. (begitu lah kira-kira ya mak. Author kalau sudah kalut pikiran nya dalam keadaan hati yang sedih, pasti seperti itu nangis nya ya mak-curhat ni ye).
Diya memeluk Ivan yang duduk di samping nya masih meraung menangis.
"Menangis lah Diy, jika tangisan itu membuat mu lebih tenang" Ucap. Ivan lembut mengelus-elus rambut Diya dengan penuh kasih sayang.
Lama mereka saling berpelukan. Hingga akhirnya tangisan Diya berhenti. Hanya sesekali terdengar sedu tangisan yang tersisa pada gadis itu.
"Sudah tenang Diy?" Tanya Ivan lembut. Diya mengangguk.
"Kita pulang sekarang?" Tanya lelaki itu lagi Lagi-lagi Diya hanya mengangguk.
Mereka berdua menuju ke parkiran mobil.
__ADS_1
"Van, boleh aku bertanya?" Tanya Diya saat mereka telah masuk kedalam mobil.
"Apa?"
"Jadi Sonia dan Ferdi sudah berapa lama mereka menikah?" Tanya Diya dengan hati yang terasa perih.
"Lima tahun"
Degg....
Kembali hati Diya terasa di tusuk-tusuk.
"Lima tahun, Jadi selama ini aku menunggu suami orang?" Batin Diya. Tatapanya lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Diy, maaf kan aku tidak memberi tahu mu kebenaran ini" Ucap Ivan dengan perasaan yang bersalah. Diya mengalih pandangan nya ke arah Ivan dengan bingung.
"Yah, aku tahu laki-laki yang kamu tunggu itu adalah Ferdi suami dari adik sepupuku. Kemaren waktu kita membereskan barang-barang mu untuk pindah rumah, tanpa sengaja aku menemukan diary mu dan di sana terdapat foto Ferdi" Jelas Ivan.
"Maafkan aku Diy, aku lancang telah membaca diary itu. Karena itu aku meminta mu untuk melupakan Ferdi. Aku tahu dia telah bahagia bersama keluarga nya. Aku tidak mau menceritakan ini karena aku takut kamu tersakiti. Aku tidak mau membuat hati mu hancur Diy. Aku tidak mau kamu sedih. Aku tidak rela melihat mu terpuruk seperti ini" Ucap Ivan lagi tulus. Diya hanya diam mendengarkan penjelasan dari Ivan.
Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. Kecewa yah benar dia kecewa karena Ivan telah membaca buku pribadi nya dan mendapati Ivan telah merahasiakan keberadaan Ferdi hanya tidak mau membuatnya terluka membuat hati Diya sedikit terharu. Sungguh lelaki itu sangat mencintainya dengan tulus hingga bersikap sedemikian nya. Pikir Diya.
"Tapi, aku sungguh tidak tahu jika Ferdi telah hilang ingatan Aku tidak begitu dekat dengan nya. Aku hanya mengetahui dia adalah suami adik sepupuku. Kami jarang ketemu selama ini. Maaf kan aku Diy jika kenyataan ini membuat mu kecewa. Harus nya malam ini adalah malam spesial untuk mu. Aku ingin membuat mu bahagia bukan malah seperti ini. Maaf kan aku" Ivan berkata dengan raut penuh penyesalan..
__ADS_1
Diya tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu masih bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Hati nya kini pun merasa bersalah karena Ivan begitu menyesal. Padahal apa yang terjadi malam ini bukan lah kesalahan Ivan.
Diya memeluk Ivan. Lelaki itu kaget karena mendadak di peluk oleh Diya. Padahal Ivan membayang kan Diya akan memarahi nya atau bahkan menamparnya karena telah lancang membaca buku harian gadis itu.
"Terima kasih Ivan. Kamu selalu ada untuk ku. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini" Ucap Diya. Ivan tersenyum membalas pelukan gadis itu.
"Diy, apa pun akan aku lakukan untuk mu" Ucap Ivan mantap.
Diya melepaskan pelukan nya dan tersenyum manis terhadap lelaki di samping nya. Hati nya kini mulai terasa tenang saat Ivan berkata manis dengan nya. Kecewa dan hancur di hati saat mendapati peristiwa tadi perlahan hilang seketika.
"Ya sudah ayo kita pulang. sudah malam. Nanti apa kata tetangga melihat mu pulang malam-malam" Diya mengerut kening nya tidak mengerti. Saat ini otak nya tidak bisa berpikir apa yang di maksud Ivan.
"maksud nya. Urusan sama tetangga apa?" Tanya Diya heran.
"Iya lah Diy, kamu seorang gadis. Pulang malam pasti seperti ini bersama lelaki lagi. Terus para tetangga melihat mu seperti itu pasti memikirkan yang bukan-bukan tentang mu. Apa lagi kamu pendatang. Ya paham kan masud ku" Jelas Ivan.
Diya mengangguk mengerti. Hati nya semakin tersentuh oleh perlakuan Ivan. Bagaimana tidak Diya saja tidak berpikir sampai kesana tentang dirinya. Akan tetapi Ivan telah berpikir ke arah situ. Takut jika gadis nya nanti jadi bahan omongan tetangga.
Ivan menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Di perjalanan mereka hanya diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Van, terima kasih ya atas semua nya. Kamu sungguh lelaki yang baik. Maafkan aku yang selalu memberikan harapan tanpa kepastian dari ku terhadap mu. Maaf kan aku belum bisa menerima mu sepenuhnya" Batin Diya melirik ke arah Ivan yang fokus menyetir.
"Tapi ketahuilah perlahan namun pasti aku bisa menerima mu. Saat ini posisi mu kini berada di ruangan yang sama dengan kak Ferdi di dalam hati ku. Bantu aku Ivan, bantu aku untuk melupakan kak Ferdi. Meski aku mengetahui dia tidak bersalah. Dia melupakan ku karena hilang ingatan nya. Tapi tetap saja aku tidak bisa bersama nya karena telah menjadi milik orang lain. Aku tidak mungkin menghancurkan keluarga nya. Ada orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban. Terlebih lagi kedua orang tua nya tidak pernah menyukai ku. Dari dulu Van, dari dulu sampai sekarang rasa benci mereka tetap sama kepada ku. Harus nya dari dulu aku harus move on. Namun rasa cinta ku ke kak Ferdi begitu besar sehingga aku lupa dengan kebencian kedua orang tua nya" Tambahnya lagi dalam hati.
__ADS_1