
"O....O..." Lagi-lagi Ratna bergumam.
"Baiklah semoga berhasil"
"Terima kasih ma...."
"Bersemangat" Ujar Ratna lagi seperti dalam drama bersiri Full House. Ivan tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkan mamanya yang tersenyum gembira melihat anaknya bersemangat dalam meraih cintanya.
*****
Acara sudah dimulai dengan kata sambutan dari kepala sekolah tuan rumah dengan di ikuti sepatah dua kata dari kepala sekolah SMA pendatang. Neni sebagai protokol gelisah melihat Ivan belum datang. Gadis itu sudah bertanya-tanya kepada teman-teman nya kemana pemuda itu. Tapi, tidak satupun yang melihatnya.
"Wah...Gawat ini" Ujar Neni cemas.
"Setelah ini kan dia yang memberi kata selamat jalan mewakili teman-teman kita. Tapi Ivan kemana ya?" Tanya nya kepada Rony sahabat karib Ivan.
"Tahu..." Jawab Rony ikutan cemas.
"Lo udah coba menghubungi ke ponselnya?" Tanya Rony lagi.
"Udah tapi gak di angkat"
"Lo.....Kemana ya?" Gumam Rony berfikir.
__ADS_1
"Lo tenang aja, gue akan coba cari dia di luar. Siapa tahu dia baru nongol" Ujar Rony berlalu dari situ.
"Iya...Iya...Tapi buruan ya, ntar lagi giliran dia" Jawab Neni.
"Iya deh..." Rony pun berlari keluar gedung. Emang benar, belum sampai setengah jalan, Ivan sudah nongol didepannya.
"Lo kemana aja sih? Dari tadi Neni cariin lo" Sembur Rony bila sampai didepan pemuda itu.
"Sorry ya...Tadi gue ada urusan"
"Ya udah...Buruan masuk sana, ntar lagi giliran lo Van"
"Iyaa deh...Ayo...!"
"Semoga...Pertemuan kita ini bukan lah yang terakhir. Kami mengharapkan janganlah perpisahan ini jadi jarak diantara kita. Selamat jalan, semoga perjalanan kalian semua di lindungi ALLAH SWT sampai di tempat tujuan. Sekian, terima kasih" Kata Ivan mengakhiri ucapannya.
*****
"Wah....Sungguh menyentuh sekali" Ujar Yuli.
"Apa nya yang menyentuh?" Tanya Diya heran melihat Yuli perasaan sekali.
"Kamu gak dengar apa yang dikatakan Ivan tadi?"
__ADS_1
"Dengar" Jawab Diya acuh.
"Kamu ngerti gak apa maksudnya?"
"Iya...Iya Yul semua orang pada ngerti kok"
"Kamu lihat gak, waktu ia mengungkapkan kata-kata tadi itu, matanya memandang kearah mana?"
"Ya...Semua-semua yang hadir disini"
"Yah...Berarti kamu gak memperhatikan perubahan wajahnya, mimik bicaranya, dan itu di tunjukan kepada siapa?" Diya menghembus nafas panjang.
"Pertanyaannya aneh-aneh begitu, kaya wartawan aja. Emangnya ada apa sih? To the point aja deh. Pakai tebak-tebakan segala" Kata Diya mulai sebal.
"Oke langsung aja ya...Itu semua ditujukan kepada kamu Diya"
"Apa? Untuk ku?" Kata Diya sedikit berteriak. Cepat-cepat gadis itu menutup mulutnya. Untung suara mikrofonnya lebih keras dari teriakan Diya tadi. Kalau tidak, pasti semua mata memandang mereka.
"Kamu sih...Pakai teriak-teriak segala. Malu kan di dengerin orang. Ntar di bilang apa lagi"
"Habis, kamu geer sih" Balas gadis itu mencubit lengan Yuli.
"Masa Ivan naksir aku? Abis kak Ferdi mau aku kemanain hah?" Tambahnya lagi berusaha bersikap tenang. Walau Diya tahu kalau perkataan Yuli itu benar adanya. Tapi gadis itu pura-pura tidak memperdulikan dan ambil pusing tentang perasaan pemuda itu.
__ADS_1