
"Duh...Yuli maaf ya....Maaf banget. Aku ngaku aku salah. Aku minta maaf atas ucapanku tadi. Ya udah...Aku percaya sama kamu. Tapi please kamu jangan cengeng begitu...Jelek tau" Diya tidak menyangka jika perkataannya menyinggung Yuli.
"Udah nyakitin hati orang, dibilang jelek lagi" Kata Yuli jadi terisak dan ketus.
"Maaf...Maaf ya Yul. Aku benar-benar telah menyakiti hati mu. Aku minta maaf, please" Diya memohon sambil memujuk sahabatnya itu.
"Nanti, aku traktir bakso deh" Tambahnya lagi.
"Sekarang, siapa yang menyogok ni? Kamu atau kak Ferdi?" Diya nyengir.
"Tapi kamu mau kan?" Kata Diya tenang ketika melihat sobatnya berhenti menangis, Diya menghapus air mata Yuli.
"Benar?" Ujar Yuli meyakinkan seperti anak kecil. Diya mengangguk.
"Maaf ya..." Katanya sambil memeluk sobatnya itu.
"Aku telah banyak menyakiti hatimu Yul. Aku benar-benar sobat yang tidak pandai menjaga perasaan teman"
"Tidak masalah, yang penting kamu mau mengaku dan minta maaf. Itu sudah cukup" Kata Yuli melepaskan pelukan mereka.
"Tapi yang terpenting, bakso nya jangan lupa" Ujarnya sambil tersenyum menggoda. Diya balas tersenyum.
"Tapi, apa benar kak Ferdi tidak ada hubungan apa-apa sama Kethrine?" Ucap Diya lirih setelah mereka lama terdiam.
__ADS_1
"Iya...Bener"
"Tapi kenapa Kethrine melarang ku untuk bertemu dengan kak Ferdi?"
"Apa? Jadi dia mengancam mu?" Yuli terkejut.
"Maka nya aku selalu menghindar dari kak Ferdi. Lagian aku juga gak mau jadi perusak hubungan mereka"
"Nah...Makanya kak Ferdi ingin penjelasan darimu. Mengapa kamu selalu menghindar saat ketemu dia. Lagian gak ada salahnya kan kalau kamu berterus terang"
"Tapi...Rasanya aku gak percaya deh kalau mereka gak ada apa-apanya"
"Kamu harus ketemu sama kak Ferdi dan minta penjelasan"
"Harus" Tegas Yuli mantap.
Diya tidak berkomentar apa-apa lagi. Gadis itu berfikir keras
"Apa benar mereka tidak ada apa-apanya?" Katanya dalam hati. Diya belum yakin dengan penjelasan Yuli.
"Rasanya...." Diya tidak jadi meneruskan kalimatnya karena bu Rani guru yang terkenal cerewet itu sudah keburu masuk ke kelas mereka.
"Selamat siang anak-anak" Sapanya dengan wajah yang sedikit ramah.
__ADS_1
"Langsung saja, buka buku halaman 142" Katanya membolak-balik buku pelajaran yang ia ajarkan. Semua murid kelas 1A menuruti. Yuli menyenggol siku Diya saat melihat sobat nya melamun.
"Keluarkan bukunya" Ujarnya pelan. Diya kaget buru-buru membukakan tas dan mengeluarkan buku pelajarannya.
Bu Rani mulai mengajar dengan bermacam-macam pertanyaan. Sedangkan Diya sibuk melamun.
"Diya...sekarang giliran kamu" Ujar bu Rani saat melihat gadis itu tercenung dan melamun.
"Diya...Kamu dengar gak?" Sergahnya sedikit kesal melihat murid didiknya tidak menanggapi pertanyaannya.
"Diya..." Lagi-lagi Yuli menyenggol siku sobatnya.
"Bu Rani bertanya sama kamu" Katanya berbisik.
"Eh...Ada...Ada apa bu?" Tanya nya kaget dan terbata-bata menjawab saat dirinya terpergok sedang melamun.
"Kamu masih mau mengikuti pelajaran ini kan?"
"Iya...Iya bu mau" Jawabnya berdebar.
"Jika begitu, sekarang jawab pertanyaan ibu tadi!"
"Duh...Pertanyaan yang mana?" Bisik Diya ke Yuli. Gadis itu jadi bingung, malu, dan salah tingkah. Diya tidak tau pertanyaan apa yang di persoalkan kepadanya tadi. Karena dirinya sibuk memikirkan tentang Ferdi, ya Ferdi cowok macho itu.
__ADS_1