
Saat ini Virda tidak ada jalan lain selain dengan laki-laki yang telah menghamilinya saat ini.
Dia harus menikah secepatnya dengan laki-laki itu agar kandungannya bisa tertutupi. Jika dia sudah menikah nanti dan orang-orang pasti tidak akan curiga bahwa dirinya itu telah hamil di luar nikah.
***
"Assalamualaikum" Terdengar suara seseorang dari luar rumah memberi salam.
"Waalaikumsalam" Jawab Mirna dari dalam rumah.
Mirna membuka pintu.
"Eh nak Zaki. Silahkan masuk nak" Ujar Mirna.
Zaki masuk dalam. rumah itu dan duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu.
"Sebentar ya nak ibu panggil Yuli dulu" Ujar Mirna.
Zaki mengangguk.
Terlihat Yuli berlenggang lenggok berjalan dari arah kamar nya menghampiri Zaki yang sedari tadi menunggu nya.
"Hai sayang, tumben berkunjung ada apa? kangen ya sama aku?" Tanya Yuli terdengar menggoda.
"Iya, kangen sama kamu" Jawab Zaki seadanya.
"Sepi di rumah, Diya dan Ivan kemana?" Tanya Zaki melihat keadaan rumah itu sepi.
"Oh, mereka sedang pergi berbulan madu di kapal pesiar"
"Liburan bulan madu maksudnya? Di kapal pesiar? Luar negeri?"
"Enggak di luar negeri. Kapal kapannya belajar di di laut Pekanbaru ini aja. Nggak kemana-mana cuma 3 hari kok" Jelas Yuli.
"Nanti jika kita menikah, apa mau juga liburan nya di kapal pesiar?" Tanya Zaki.
"Gak juga sih, dan gak seharus nya juga. Tapi jika ada rejeki lebih dan kamu mau mengajak ku, tentu nya dengan senang hati aku menyambut nya" Ujar Yuli terlihat senang.
"Nanti aku usahain ya untuk kita bisa liburan ke kapal pesiar" Ujar Zaki.
"Makasih ya sayang" Yuli tampak kegirangan.
"Ini minuman nya" Mirna menyajikan teh hangat untuk kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu.
"Makasih ya buk" Jawab Yuli menyambut minuman itu.
"Silahkan kalian ngobrol-ngobrol. Ibu ke kamar dulu ya" Ujar Mirna pergi menuju kamar nya.
Kedua nya mengangguk.
***
"Sayang. Ngapain masih di luar?" Tanya Ivan melihat istri nya masih berada di luar kamar berdiri di geladak kapal.
"Kamu lihat deh sayang. Malam ini sangat indah, bintang gemintang berkilauan di atas langit.
Ivan berdiri di samping istrinya ikut menyaksikan keindahan malam di tengah laut.
Diya menyender kepala nya ke dada bidang suami nya itu. Merangkul tangan nya lingkari pinggang sang suami.
"Ini lah yang aku impikan selama ini sayang. Terima kasih karena kamu sudi mewujudkan impian ku. Aku sangat senang karena kamu telah mewujudkan impianku seperti ini. aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu" Ujar Diya memeluk erat tubuh sang suami.
Ivan pun membalas pelukan itu. Tak lupa sekecup ciuman hangat mendarat di pucuk kepala sang istri.
"Sama-sama sayang. Aku pasti akan mengikuti semua keinginan mu karena aku sangat mencintai mu" Ujar Ivan.
Mereka sama-sama tersenyum menikmati malam ini dan indah itu bersama.
***
"Biar ku bantu. Hati-hati" Ujar mantan bos nya Virda membantu Virda untuk berjalan memasuki apartemennya.
Meskipun ia sangat tidak menyukai lelaki itu namun tidak ada cara lain untuk menutupi kehamilannya saat ini.
Toh semua harapannya untuk menikah dengan Ivan sudah hancur karena Ivan telah mengetahui semua kebohongannya.
Mau tak mau dia harus menerima ayah dari sang cabang bayi untuk mendampingi hidupnya.
"Terima kasih pak" Ujar Virda duduk di sofa nya.
"Jangan panggil aku pak. Panggil aku dengan sebutan Bram saja" Ujar lelaki yang merupakan mantan bos nya tadi.
"Iya pak, eh Bram" Ujarnya.
Jarak mereka memang terlalu jauh. Usai mereka berjarak lima belas tahun. Seharus nya jika Virda saat ini berusia tiga puluh tahun maka usia empat puluh lima tahun.
Namun raut wajah Bram terlihat masih muda dan Fresh. Nama nya juga bekerja di ruangan ber Ac Mungkin jika kerja berat seperti menjadi kuli, mungkin terlihat tidak semuda ini lagi.
"Sekarang kamu istirahat saja. Kamu mau makan apa? Atau mau minum apa? Aku buatin" Ujar nya.
__ADS_1
Terlihat Bram sangat perhatian kepada Virda. Ia memang sudah mencintai gadis indobel itu sejak dulu. Dan rasa cinta itu semakin kuat karena adanya secabang bayi yang ada di dalam perut Virda.
Entah mengapa perasaan sayang itu semakin kuat kepada Virda. Padahal Bram sudah mempunyai anak sebelumnya dan juga seorang istri yang sedang berjuang melawan penyakitnya.
Ia merasakan seolah-olah baru kali ini yang memiliki seorang anak yang ada di dalam kandungan Virda.
Perasaan jiwa mudanya kembali kambuh saat itu entah karena Virda yang masih muda membuat jiwa mudanya kembali lagi atau memang masa puber kedua nya telah tiba. Entah lah, sulit untuk di katakan.
"Bagaimana keadaanmu saat ini apa merasa lebih baik kan?"
"Aku sudah mendingan kok hanya saja kakiku masih terasa sakit mungkin karena keseleo tadi" Ujar Virda berkata jujur.
"Maaf ya sayang, karena aku kamu jadi seperti ini" Ujar Bram merasa bersalah.
"Gak, bukan salah kamu kok. Aku aja yang terlalu over terhadap mu. Melarikan diri seperti itu" Ujar Virda.
"Kamu sih, ngapain juga melarikan diri dari ku?" Tanya Bram.
Virda hanya tertunduk diam tidak bisa menjawab.
Tidak mungkin dia mengakui bahwa ia mau menghindar dari laki-laki itu karena tidak mau berurusan lagi dengan laki-laki yang bernama Bram itu yang merupakan mantan bosnya.
Namun takdir berkata lain ia harus menikah dengan laki-laki yang bernama Bram itu untuk menutupi kehamilannya. karena tidak ada cara lain untuk masalahnya saat ini. Ia harus rela menjadi yang kedua.
"Apa kamu lapar?" Tanya Bram.
Virda yang Saya dari tadi yang duduk di atas kasurnya mengangguk membenarkan bahwa ia sedang lapar saat ini.
"Ya sudah, aku akan memasak nasi goreng untukmu. Kamu tunggu di sini sebentar ya" Ujar Bram tersenyum manis kepada nya.
Virda mengganggu dan tersenyum membalas Apa yang diucapkan oleh Bram.
Bram berlalu menuju dapur untuk menyajikan makanan untuk calon istri nya yang sedang sakit saat itu.
Hati nya sangat bersemangat saat ini. Pada akhirnya ia mendapatkan wanita yang ia cintai dan tengah mengandung anak nya lagi. Ini merupakan nilai plus untuknya karena sekali dayung Dua pulau terlampaui.
"Ini nasi goreng nya sudah siap" Ujar Bram menyajikan nasi goreng ke piring dan membawanya kepada Virda agar Virda bisa menikmati nasi goreng buatannya.
"Terima kasih ya" Ujar Virda menyambut nasi goreng yang di berikan oleh Bram.
"Eits biar aku suapin saja. Bukankah kamu lagi sakit jadi biar aku suapin aja kamu makannya. Kamu duduk manis saja" Titah Bram.
Virda mengangguk menuruti kemauan Bram.
Bram menyodorkan sesuap demi sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya Virda.
"Apakah begini rasanya punya suami yang perhatian dan sayang sepenuhnya kepada kita" Batin Virda.
"Andai saja Ivan bisa memperlakukan aku semanis ini, mungkin Akulah orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Namun nyatanya aku tidak mendapatkan perlakuan manis dari Ivan malahan aku mendapatkan itu dari orang lain yang aku tidak harapkan kehadiran nya" Tambah nya lagi.
"Kenapa? Malah melamun" Tanya Bram melihat Virda melamun menatap nya.
"Gak, aku hanya tersentuh saja melihat perlakuan manismu kepadaku seperti ini. Jujur aku belum pernah merasakan seperti ini. Dimana kamu perlakukan aku selayaknya seorang putri" Ujar Virda berkata jujur.
"Ya ampun Vir, itu memang seharus nya aku lakukan. tidak mungkin aku membiarkan kamu dalam keadaan seperti ini sendirian dan mengabaikan kamu. Apalagi aku tahu kamu sedang mengandung anakku otomatis aku harus menjadi Ayah yang siaga untuk kamu dan anak kita" Jelas Bram.
Virda tersenyum senang mendengar ungkap dari Bram.
"Saatnya aku hanya bisa pasrah menikah bersama kamu Bram. Tapi jika waktunya Nanti telat juga aku akan balas dendam kepada Ivan yang telah mengabaikan aku seperti ini" Batin Virda.
"Aku berjanji akan membuat mereka merasakan kepedihan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak mau mereka bahagia di atas penderitaanku" Tambah nya lagi merasa geram dengan Ivan yang sama sekali tidak peduli kepada diri nya.
"Vir, malam ini aku akan menginap di sini. Aku gak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Nanti bisa kamu butuhkan apa-apa kamu bilang aja sama aku" Ujar Bram.
"Tapi... "
"Kamu tenang aja aku tidak akan ngapa-ngapain kamu kok. Karena aku tahu kamu masih sakit seperti ini tidak mungkin maksa kamu melakukan hal yang akan membahayakan janin kita nantinya dan aku akan tidur di sofa" Ujar Bram tersenyum.
Kembali Virda merasa tersentuh dengan perlakuan lembut Bram kepadanya.
Selama ini ia menilai bahwa laki-laki paruh baya itu hanya ingin melampiaskan nafsunya saja kepadanya. dan tidak memikirkan keadaan dirinya saat ini. Namun ini dirinya salah menilai laki-laki itu. Ternyata Bram juga bisa bersikap manis dan perhatian kepadanya.
Sikap itu yang tidak dia ketahui selama ini. Semua pikiran dan penilaian buruk Virda terhadap Bram kini hilang seketika.
Sebaliknya ia malah mulai tersentuh dan merasa kagum dengan Bram yang sangat lembut kepadanya..
***
"Sayang apa Junior sudah tidur?" Tanya Ferdi kepada Istri nya. Ferdi memilih ruangan di kamal pesiar itu yang di mana ruangan yang ia pilih terdapat dua buah kamar yaitu kamar untuk utama juga kamar untuk Junior.
"Sudah kok sayang" Ujar Sonia duduk di samping suami nya.
Ferdi menatap Sonia dengan sangat tajam seperti harimau yang telah menemukan mangsa nya.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu" Ujar Sonia saat merasa tatapan suami nya seperti itu.
"Kamu cantik, Aku beruntung memiliki istri seperti kamu" Ujar Ferdi membelai rambut sang istri.
Sonia tersipu malu mendapati hal mani seperti itu.
__ADS_1
"Sonia"
"Ya"
"Dari kemaren kita belum menikmati bulan madu kita di kamar ini" Ujar Ferdi mendekatkan wajah nya ke wajah Sonia.
"Mau apa? Mau apa?" Ujar Sonia menghindar.
"Jika mau, ayo tangkap aku dulu" Ujar Sonia berdiri mencoba main kejar-kejaran dengan suami nya.
Ferdi tersenyum melihat kelakuan istri nya.
Sekali, dua kali Sonia berhasil menghindar untuk tidak ditangkap oleh Ferdi. Namun saat pergerakan yang ketiga Ferdi berhasil menangkap Sonia.
Kedua nya tertawa bahagia.
Keduanya saling menatap satu sama lain. lama-kelamaan tatapan itu menjadi hangat hingga wajah Ferdi semakin mendekat ke wajah Sonia.
Semakin dekat, dan semakin dekat hingga bibir Sonia yang halus dan hangat menempel di bibir Ferdi yang hangat. Mereka saling mencium, saling memberi kehangatan. Saling menikmati kebersamaan mereka di malam yang dingin.
Sonia melingkari tangan nya ke leher Ferdi menarik kepala Ferdi agar semakin dalam mereka saling berc*uman.
Lama mereka saling mengulum hingga lid*h kedua nya kini masuk dan menjelajahi setiap rongga mulut mereka masing-masing. Semakin panas, dan semakin hangat nya malam itu. Jantung kedua nya kini semakin terus berdetak dengan sangat kencang nya.
Tak sampai di situ, Kini tangan Ferdi turun menyelusuri gunung kembar yang kenyal dan hangat milik Sonia, mere m*s dengan lembut, meng us*p dengan hangat, hingga memainkan permen berwarna merah muda yang tampak terpampang di balik piyama milik nya.
Sonia mendesah keenakan, saat j*ri nakal Ferdi mulai mencubit lembut permen berwarna merah muda yang menempel di gunung kembar milik nya.
"Ah...." Desah Sonia menikmati permainan yang di berikan oleh Ferdi kepada nya. Yah malam ini mereka akan menikmati perjalanan menuju surga bersama-sama di kapal pesiar.
Mendengar Sonia berdesah, Ferdi semakin semangat untuk menjelajahi setiap jengkal leh*r Sonia yang putih mulus itu. Tak ketinggalan tangan nya semakin nakal dan liar masuk kedalam piyama Sonia.
Sonia semakin memejamkan matanya terbuai dengan sentuhan demi sentuhan yang Ferdi berikan.
Mereka pun berjalan menuju tempat tidur tampa melepaskan pangutan mereka berdua.
Sonia merebah kan tubuh nya di atas kasur..
Bisa Sonia rasakan sosis nya Ferdi yang berada di dekat inti nya mulai mengeras pertanda bahwa hasr*t Ferdi sedang naik.
Perlahan namun pasti Ferdi membuka sehelai demi sehelai baju piyama yang menutupi tubuh polos milik istrinya, hingga terlihatlah tubuh p*los putih bersih tampa ada cela sedikit pun. Selesai itu, dia pun membuka sehelai demi sehelai kain yang menutupi tubuh nya.
Kembali Ferdi menyelusuri rongga m*lut Sonia turun ke leh*r hingga mendarat ke gunung kembar yang nampak berdiri tegak menantang di sana. Dengan lahap Ferdi meng h*sap, dan memainkan permen merah muda yang berdiri di atas gunung itu dengan lidah nya. Dengan lembut dan sesekali sedikit agresif.
"Ah...." Kembali Sonia mend*sah.
Gunung sebelah nya di kuasai oleh tangan Ferdi yang nakal. Lelah bermain di kedua gunung, kini tangan nakal nya turun ke inti milik Sonia dimana terdapat donat kenyal di sana. Mengelus dengan lembut, memijat nya dengan penuh kehangatan. Dan ketika tangan nya mulai terasa basah, Ferdi menancapkan j*ri teng*h nya ke donat itu.
"Ah" Sonia menggelinjang menikmati permainan itu. Semakin lebar wanita itu membuka k*ki nya agar memberi ruang yang lebih luas untuk Ferdi menjelajahi donat itu.
Merasa sudah puas bermain bersama jari nya, kini wajah Ferdi turun ke apam kenyal milik istrinya.
Di lihat nya dengan penuh seksama, bentuk yang indah dengan d*ging sedik*t menonjol di tengah nya berwarna merah muda membuat Ferdi ingin segera menikmati nya.
Donat itu merupakan makanan yang sangat membuat nya candu. Ingin ia nikmati lagi, lagi dan lagi.
Ferdi membenamkan kepalanya di bagian surga itu. Dengan lihai dia men jil*ti, menyelusuri setiap celah yang ada dengan lidah nya.
Semakin keenakan dan menggelinjang Sonia, Tanpa di sadari Sonia *******-***** dengan kuat dan menekan kepala Ferdi agar lebih dalam lagi ia bermain dengan lidahnya di sana.
Lama Ferdi berada di posisi itu, hingga akhir nya...
"Ferdi, Ferdi....aku, aku...." Ucap Sonia terbata-bata. Ferdi mengerti maksud nya. Kemudian ia melanjutkan permainan itu dengan menggunakan j*ri t*ngah nya.
Semakin kuat ia melakukan nya dengan bergerak maju mundur di lembah surga itu. Hingga akhir nya..
"Ah...." Sonia mengangkat bokong nya, dan mengerang panjang tanda ia sudah mencapai kenikmatan yang pertama.
Melihat itu, Ferdi merasa senang bahwa diri nya telah berhasil membuat istrinya merasa puas. Kini waktu nya ia memuaskan diri nya sendiri.
Kembali Ferdi menjelajahi l*her istrinya yang jenjang, dan bermain di gunung kembar milik istri nya.
Sambil bermain di atas, tentu saja sosis yang sudah berdiri tegak kini ingin menyusuri donat yang telah membuat nya candu selama ini.
Dengan sekali hentakan sosis itu pun berhasil masuk di lembah surgawi nya.
"Ah...." Ferdi mengerang terasa sosis nya berada di tempat yang hangat dan sempit di sana. Maju, mundur, maju, mundur beriringan dengan irama sosisnya itu bermain di sana.
Ferdi memejamkan matanya, kini keringat mengalir di tubuh kedua nya. Sungguh malam ini adalah pertama mereka melakukan nya di kapal pesiar. Kamar itu menjadi saksi bisu percintaan yang mereka lakukan.
Gemercik irama yang keluar dari apam yang telah di kuasai oleh benda p*saka itu membuat Ferdi semakin semangat untuk berpacu. Di tambah des*han dan ekspresi wajah Sonia yang memejamkan mata dengan mengigit bibir nya yang bawah menambah membangkitkan hasrat nya yang telah bergejolak.
Semakin cepat, semakin cepat....Hingga akhir nya...
"Ah...." Kedua nya mengerang panjang pertanda permainan telah selesai. Kedua nya telah berhasil melepaskan rasa kenikmatan itu bersama-sama.
Ferdi berbaring di samping istri nya. Memeluk erat tubuh sang istri. Tak lupa kecupan kasih sayang ia berikan kepada sang istri. Lama mereka saling berpelukan menghilang kan lelah karena telah upgrade di malam yang sunyi dan dingin ini.
Hingga pada akhirnya mereka berdua terlelap
__ADS_1