Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Merencanakan rangkaian acara


__ADS_3

"Ah, akhir nya kita sampai juga ya buk" Ujar Diya merebah kan dirinya di Sofa rumah nya di kota.


"Iya, badan ku pegel-pegel semua nih. Aku ke kamar dulu ya buk, mau istirahat" Ujar Yuli berpamitan.


Mirna mengangguk.


"Yuk Diy, duluan ya" Ujar nya lagi kepada sahabat nya.


"Oke" Jawab Diya menyatukan jari telunjuk dan ibu jari nya membentuk huruf O.


"Oh ya buk, ibu tidur nya di kamar depan ya. Rumah ini terdiri dari tiga kamar buk. Jadi ibu tidur di kamar utama saja di bagian depan" Ujar Diya menunjuk di mana arah kamar itu.


"Iya Diy, besar juga ya rumah nya?" Komentar Mirna memperhatikan setiap jengkal rumah yang di tempati oleh putri nya.


"Iya buk, ini rumah Ivan. Rumah yang ia bangun sendiri ketika dia berkeluarga nanti nya" Jawab Diya tersenyum.


"Wah, ternyata anak itu sudah mempersiapkan semua nya ya. Tinggal calon bini nya aja lagi yang belum ada" Canda Mirna melirik putri nya.


"Kan calon bini nya udah ada buk. Anak ibu yang cantik jelita ini lo" Diya membalas candaan ibu nya.


Mereka sama-sama tertawa bahagia.


"Ayo buk aku antar ke kamar. Biar ibu bisa istirahat juga" Ajak Diya mengangkat beberapa tas tempat baju ibu nya.


Mirna mengikuti kemauan anak nya.


"Ini lo buk kamar nya. Silahkan masuk...." Ujar Diya menunduk mempersilahkan ibu nya masuk seperti adegan para pengawal mempersilahkan tuan ratu nya lewat.


Mirna tersenyum melihat kelakuan putri nya. Sebelum masuk, wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala putri nya. Kemudian masuk ke kamar tersebut memperhatikan setiap jengkal ruangan itu.


"Di samping ibu kamar nya Yuli. Dan Di sebelah sana kamar ku buk" Ujar Diya lagi.


Mirna mengangguk mengerti.


"Kamar nya saja sebesar ini. Kamar ini saja besarnya seperti rumah kita ya Diy" Mirna berdecak kagum.


Diya tersenyum mendengar apa yang ibunya katakan.


"Ya sudah, ibu istirahat aja ya, aku mau ke kamar juga. Hari juga sudah mulai sore mau mandi. Udah acem bau matahari" Ujar Diya mencium badan nya.


"Iya Diy, ibu juga mau mandi. Di mana kamar mandi nya?" Tanya Mirna.


"Di sana buk. Di kamar ibu ini kamar mandi nya di dalam lo buk Tuh di sebelah sana. Kalau di kamar ku dan Yuli iya gak ada kamar mandi nya" Jelas Diya.


"Oh gitu" Ujar Mirna manggut-manggut mengerti.


"Ya sudah Diya ke kamar dulu ya buk" Ujar Diya.


"Iya Diy" Jawab Mirna.


***


"Diy, aku masuk ya" Teriak Yuli dari luar kamar.


"Iya masuk aja Yul"


"Wah, nyantai aja ni" Ujar Yuli melihat Diya duduk santai bersandar di pinggir tempat tidur.


"Iya lagi nonton drakor. Kenapa Yul?" Tanya Diya. Yuli duduk di samping Diya.


"Diy, kata ibu acara pernikahan mu dan Ivan gak lama lagi ya jarak beberapa minggu saja setelah melakukan acara pertunangan nya. Iya?"


Diya mengangguk.


"Kenapa emang nya Yul?"


"Jika kamu dan Ivan nanti sudah menikah, Aku harus tinggal di mana? Secara ini kan rumah nya Ivan. Yah aku jadi gak enak juga tinggal sama kalian" Jelas Yuli merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa kok Yul. Lagian kamu juga akan menikah dengan Zaki bukan?" Tanya Diya.


"Iya sih, tapi gak secepat kamu juga sih Diy. Zaki meminta waktu sebulan untuk datang bersama keluarganya bertemu dengan orang tua ku di kampung dan melakukan acara pertunangan di sana. Dan mungkin jarak dari pertunangan itu tiga bulan, enam bulan, bahkan setahun atau dua tahun. Zaki kan gak seperti Ivan yang sudah mapan Diy. Dia kan mau mengumpulkan uang juga untuk meminang ku" Jawab Yuli dengan raut yang sedih.


"Jadi selama itu aku mau tinggal di mana? Sendirian pulak. Aduh Diy, jadi galau deh aku" Keluh Yuli.


"Jadi kamu gak mau nih ceritanya jika aku menikah dengan Ivan secepatnya? Kamu sendiri yang mendukung ku untuk bersama Ivan dan mendoakan aku berjodoh bersamanya. Kok sekarang malah keberatan sih" Ujar Diya dengan nada menyelidik.

__ADS_1


"Bukan gitu Diy maksud aku. Aku senang kok kamu dan Ivan akan menikah. Aku senang kamu bahagia dan menemukan jodoh mu laki-laki baik seperti Ivan. Malah yang terbaik menurut ku. Sudah bisa move on dari masa lalu yang menyakitkan. Hanya saja nasib ku gimana Diy? Aku, aku harus tinggal sendirian lagi seperti awal-awal dulu?" Ujar Yuli sedih memanyunkan bibir nya seperti anak kecil yang sedang sedih yang memang tampak di buat-buat.


Diya tersenyum melihat sahabatnya yang bertingkah seperti anak kecil itu.


"Gak apa-apa kok. Bukan nya dulu kamu tinggal sendiri juga ya tanpa aku?" Canda Diya.


"Iya, tapi kan setelah sekian lama kita bersama. Sudah biasa ada temen nya. Ketika tinggal sendiri nanti aku pasti merasa kesepian. Gak ada temen curhat, gak ada yang bisa masakin aku makanan yang enak-enak. Hmmm....Aku kan jadi sedih Diy" Ujar Yuli lagi mulai menangis.


Diya menahan tawa nya melihat Yuli yang memang seperti anak kecil itu.


"Jadi aku harus gimana? Apa aku harus membatalkan pernikahan aku sama Ivan? Atau mengundur waktu nya sampai Zaki akan menikahi mu kelak?" Tanya Diya bercanda. Yah memang dari tadi gadis itu bercanda terhadap sahabat nya yang sedikit gendut itu.


"Gak gitu juga sih Diy, Ya...gimana ya...Aku juga bingung harus ngomong nya...." Yuli menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, iya Yul. Aku ngerti kok masud kamu. Gini aja kamu akan tetap tinggal di sini sampai nanti waktu nya kamu menikah dengan Zaki. Lagian rumah ini juga cukup besar kok untuk kita tempati. Jadi aku pikir gak masalah jika kamu tetap berada di sini. Tapi ingat ya hanya sampai kamu menikah sama Zaki. Gak mungkin kan setelah menikah nanti kamu juga tinggal di sini bareng Zaki" Jawab Diya.


"Benar Diy kamu mengizinkan aku masih tinggal di sini kelak? Tapi bagaimana dengan Ivan? Apa dia juga mengizinkan ku tinggal bersama kalian?"


"Nanti aku akan ngomong sama Ivan ya" Ucap Diya tersenyum.


"Terima kasih ya Diy, kamu benar-benar sahabat yang terbaik yang aku miliki. Aku beruntung mempunyai sahabat seperti kamu" Ujar Yuli memeluk sahabat nya itu.


"Iya Yul sama-sama. Aku juga berterima kasih kepada mu. Kamu juga orang yang selalu ada untuk ku. Di saat aku terpuruk kamu selalu menghibur ku. Hingga aku bangkit kembali dan bisa move on dengan keadaan ini" Ujar Diya membalas pelukan sahabat nya itu.


Mereka sama-sama berpelukan menikmati indahnya persahabatan yang mereka jalani selama ini.


***


"Assalamualaikum" Sapa seseorang dari luar rumah.


"Waalaikumsalam" Jawab Mirna membuka pintu.


"Eh nak Ivan. Ayo masuk nak"


"Iya buk terima kasih" Ivan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Maaf ya buk datang malam-malam begini. Diya nya ada buk?"


"Ada, Diya nya di kamar. Sebentar ya ibu panggilin" Ujar Mirna berlalu dari hadapan Ivan menuju kamar Diya.


"Ibu tinggal dulu ya" Ujar Mirna berlalu dari kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu.


Mereka mengangguk sebagai respon.


"Ada apa Van? Kenapa gak kabari dulu jika mau datang?" Tanya Diya.


"Gak sempat. Habis nya rasa kangen ini terus memburu ku"


Diya tersipu malu.


"Emang nya kamu gak kangen sama aku?"


"Enggak, aku gak kangen sama kamu" Jawab Diya tersenyum bercanda.


"Beneran Diy kamu gak kangen sama aku?" Yakin Ivan lagi.


Diya tertawa lepas melihat ekspresi Ivan yang serius itu.


"Kangen lah Van. Masa ia gak kangen sama calon suami sendiri" Ujar Diya tersenyum


Ivan tersenyum senang mendengar apa yang Diya katakan kepada nya. Hati lelaki itu terasa berbunga-bunga karena rasa kangen nya terbalas.


"Ini teh nya, silahkan di minum mumpung masih hangat" Ujar Mirna membawa dua gelas teh dari dapur.


"Iya buk makasih ya" Ujar Ivan.


"Buk duduk di sini dulu. Ada yang mau aku sampaikan sama kalian" Ujar Ivan sedikit serius


"Begini, buk besok aku meminta izin sama ibu bahwa setelah pulang kerja Diya aku ajak untuk mencari hotel yang bagus untuk di boking sebagai tempat acara pertunangan yang akan di laksanakan minggu depan. Dan juga hotel itu juga akan di pakai untuk acara pernikahan kami juga buk" Jelas Ivan.


"Aku merasa gak enak jika hanya aku yang memutuskan semua ini. Alangkah baiknya jika aku juga mengajak Diya karena Diya juga mempunyai hak untuk menentukan bagaimana dan dimana nya acara ini di langsungkan" Tambah nya lagi.


"Oh begitu, ibu tidak mempermasalahkan asal Diya nya di jaga dengan baik ya nak" Ujar Mirna tersenyum ramah.


"Pasti buk, aku pasti menjaga calon istri ku dengan baik"

__ADS_1


"Dan mungkin untuk beberapa hari bahkan minggu kami akan terus pulang telat buk karena yah mengurus segala sesuatu untuk acara ini" Ujar Ivan lagi.


"Emang harus di hotel ya Van? Kenapa gak membuat acara seadanya saja si Van. Ya seperti di rumah gitu resepsi nya. Seperti acara kami di kampung-kampung" Ujar Diya merasa sedikit keberatan.


"Bisa sih Diy, hanya saja aku ingin membuat mu jadi ratu sehari. Pernikahan sekali dalam seumur hidup Diy, yah hanya ingin membuat acara ini bisa di kenang sampai kita tua nanti" Jawab Ivan.


"Gak masalah kan?" Tanya Ivan lagi.


"Terserah kamu saja Van. Tapi aku mau menjunjung tinggi adat melayu ku. Kita pakai tema adat melayu ya" Pinta Diya.


"Iya terserah kamu saja. Oleh karena itu aku mengajak mu juga untuk memberi saran mana yang bagus nya untuk kita" Ujar Ivan.


"Jika kamu meminta saran ku, aku mau di acara pernikahan kita kelak pakai adat melayu ya. Di mana sebelum hari H yaitu tepat nya H-2 malam nya akan di adakan acara berinai pada malam berinai itu biasanya akan di iringi dengan bermain rebana, berdah, dan kompang, marhaban dan aku pilih bermain rebana saat berinai itu berlangsung. Dan setelah selesai memasang inai di kedua mempelai aku mau ada acara main berdah sampai larut malam. Terus sore nya akan di adakan acara berandam (di lakukan hanya mempelai wanita) yang di iringi oleh musik gendang, ketawa dan gong. Terus Malamnya akan di adakan acara akad nikah setelah acara akad nikah, langsung di adakan acara tepuk tepung tawar (di lakukan oleh kedua mempelai) yang di iringi dengan bermain gendang, ketawak dan gong lagi seperti acara berandam itu. Di hari H akan di adakan katam al-quran (bisa di lalukan oleh salah satu mempelai bisa juga kedua nya), Setelah nya akan di adakan berarak (di mana mempelai laki-laki berarak dari suatu tempat menuju tempat acara itu berlangsung dimana mempelai wanita telah menanti kehadiran nya di tempat tersebut) yang di iringi dengan bermain kompang. Setelah acara berarak akan ada acara buka pintu (di mana ada kain pembatas yang menghalangi mempelai laki-laki untuk bertemu dengan mempelai wanita. Sehingga di saat itu akan terjadi balas pantun antara kedua belah pihak sampai selesai pantun baru lah kain penghalang itu di buka) Baru kita akan bersanding" Jelas Diya memperkenalkan adat melayu nya.


"Oh ya, satu lagi, sebelum acara buka pintu itu. Setelah berarak nanti ada satu singgah sana kamu duduk di sana dan menyaksikan pertunjukan silat. Sebagai ucapan selamat datang kepada mempelai laki-laki. Dan juga setelah kita bersanding, aku mau ada penari yang menampilkan tarian persembahan. Tarian itu juga sebagai sambutan kepada mempelai laki-laki yang telah hadir. (Tari persembahan menang sering di tampilkan sebagai tari sambutan kepada orang-orang besar seperti Bupati, Gubernur, dan lain-lain sebagai nya)." Jelas Diya lagi.


"Sama satu lagi, setelah acara semua selesai, besok nya akan di adakan acara mandi pengantin" Tambah nya lagi.


"Bagaimana kamu setuju kan Van?" Tanya Diya lagi.


Ivan dan Mirna tampak bengong mendengar penjelasan rangkaian acara yang Diya rencanakan itu.


"Kenapa kalian bengong? Apa rangkaian acara nya salah ya? Atau ada yang kurang?" Tanya Diya heran melihat keduanya bengong seperti itu.


"Waw sangat detail ya Diy" Ujar Mirna.


"Iya, memang sedetail itu" Ivan menempeli.


"Baik lah jika itu yang kamu mau, kita akan memakai adat melayu saja. Kebetulan mama ku juga bersuku melayu. Bagaimana pun darah melayu masih mengalir di tubuh ku" Ujar Ivan tersenyum.


"Oke, pokok nya pelaminan nya memakai adat melayu juga ya. Gak mau aku pakai yang modern-modern gitu. Aku mau melestarikan adat ku. "Tak hilang melayu di bumi" Ujar Diya dengan bangganya.


"Iya, iya aku turuti saja kemauan mu Diy"


"Wah, udah membahas tentang pernikahan saja nih. Lah kalian membahas pernikahan tidak mengajak ku ikut serta gitu?" Tiba-tiba Yuli muncul dari arah dapur.


"Telat kamu nya, kita sudah selesai membahas nya" Jawab Diya.


"Yah....." Yuli tampak kecewa.


Sontak mereka pun tertawa bersama.


***


"Mau kemana kamu Fer? Baru juga pulang masa pergi lagi?" Tanya Sonia melihat Ferdi tampak berpakaian rapi di kamarnya.


"Ada urusan di cafe" Jawab Ferdi cuek sibuk memasang kancing pada lengan nya.


"Udah malam kok Fer, lebih baik istirahat saja di rumah. Besok saja ke cafe nya. Sudah ada manager dan para karyawan yang mengurus semua nya" Ujar Diya lagi memberi saran.


"Ini urusan sangat penting yang harus aku selesaikan malam ini juga" Jawab Ferdi.


"Benar urusan nya di cafe? Gak bertemu dengan gadis itu kan?" Tuduh Sonia.


"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Jika benar pun aku mau bertemu dengan nya apa salah nya?" Jawab Ferdi dengan sedikit emosi.


"Apa salah nya? Apa salah nya kamu bilang? Ya salah lah Van. Ya salah dong Fer kamu sama sekali tidak bisa menjaga perasaan ku. Istri mana yang sudi jika suaminya bertemu dengan gadis lain apa lagi gadis itu pernah ada di dalam hidup nya. Bahkan menjadi sosok yang paling spesial dalam hidup nya. Siapa yang setuju? Gak ada yang setuju Fer" Ujar Sonia dengan nada bicara sedikit meninggi. Tangan nya gemetar, napas nya kembang kempis menahan emosi yang bergejolak di hati.


Ferdi hanya diam. Ia tampak berpikir. Sonia pin ikut diam. Beberapa kali wanita hamil itu tampak mengatur napasnya agar lebih tenang.


"Fer, lupakan saja Diya. Diya sebentar lagi akan menikah. Biarlah Diya hidup dengan lelaki pilihan nya dengan bahagia" Tambah nya lagi. Kini nada bicara nya sedikit terasa tenang.


"Apa? Tunggu, tunggu dari mana kamu tahu Diya akan menikah? Diya juga mengatakan hal yang sama. Apa itu artinya kamu pernah bertemu dengan Diya bukan? Ternyata benar kamu yang mengancam Diya hingga Diya memutuskan menghindari ku dan mencari pelampiasan dengan ingin menikah secepat ini" Tuduh Ferdi.


"Apa sih yang kamu katakan? Pertama kamu telah membuat hati ku terluka, dan sekarang kamu menuduh ku lagi. Untuk yang kesekian kali nya aku benar-benar kecewa sama kamu Fer. Ujar Sonia menitik kan air mata nya. Hati nya kini terasa hancur lagi.


"Jika bukan kamu yang bertemu dengan Diya, mengapa kamu dan Diya membicarakan hal yang sama. Jika ini semua bukan rencana kalian, terus mengapa bisa sama seperti ini ha?" Tuduh Ferdi lagi.


"Asal kamu tahu ya Fer, Diya akan menikah dengan saudara ku. Dan orang itu adalah orang yang dekat juga sama kamu. Aku mengetahui semua ini karena Virda yang memberitahu ku" Jelas Sonia.


"Apa? Orang yang aku kenal? Dekat dengan ku? Saudara mu? Siapa?" Ferdi tampak berpikir siapa yang Sonia maksud.


"Ivan" Jawab Sonia.


Degg....

__ADS_1


Ferdi kaget. Jantung nya terasa berdegup kencang. Hati nya kini tidak karuan. Kembali ia teringat bahwa Ivan sedang menantikan gadis yang ia incar dari SMA selama tujuh tahun. Dan ternyata gadis itu adalah Diya gadis yang sama. Sontak Ferdi kembali teringat dimana saat Diya mendapatkan ponsel saat mereka pulang dari tour di Pekanbaru. Ia teringat bahwa panggilan di ponsel itu tertera bernama Ivan sehingga membuatnya cemburu hingga melemparkan ponsel itu ke luar jendela bus. Dan kembali juga Ferdi teringat tentang berbagai surat yang ia dapati berasal dari Ivan. Ternyata ini Ivan tersebut adalah Ivan yang merupakan sepupunya Sonia.


__ADS_2