Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Surat


__ADS_3

"Benar?" Tanya Diya.


Ivan mengangguk membenarkan.


"Syukurlah" Kata Diya dalam hati.


"Kalau surat ku? Apa kamu tidak menerimanya juga?"


"Su...Surat?" Ulang Diya penasaran.


"Iya...Surat! Aku selalu mengirim mu surat agar aku tidak kehilangan kontak dengan mu. Aku rasa dengan itu aku bisa lebih dekat dengan mu. Tapi...Lagi-lagi semua tidak ada jawaban" Kata Ivan mendesah berat.


"Tapi pernah sekali aku menerima surat balasan dari mu" Kata Ivan lagi.


"Tapi...." Ivan tidak meneruskan kalimatnya.


"Yah...Sudah lah. Cerita lama gak usah di bahas lagi" Pemuda itu berusaha untuk tidak mengingat kembali isi surat itu yang sungguh tidak menyenangkan hati. Diya mengerti.


"Maaf...Aku telah membuatmu kecewa. Sekali lagi aku minta maaf" Kata Diya lirih merasa bersalah atas kejadian itu.


Diya tahu kalau dia tidak pernah menerima surat dari Ivan sewaktu SMA dulu.


"Tapi siapa yang membalas surat itu" Diya berfikir sejenak.


"Ferdi...Yah...Pasti kak Ferdi yang menerima surat itu dan membalasnya" Gadis itu menghembus nafas panjang.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu fikir kan" Tegur Ivan seketika membuyar lamunannya.


Diya tersenyum kecil.


"Gak apa-apa" Jawab Diya singkat.


Pelayan pun datang menghidangkan menu yang dipesan oleh kedua orang muda mudi tadi. Keduanya pun langsung menyantap makan yang ada di hadapan mereka.


*****


"Terima kasih atas makan siang nya" Ujar Diya setelah sampai di depan kostnya.


"Sama-sama. Harusnya aku yang harus berterima kasih karena kamu sudah mau menemaniku makan siang" Mereka pun sama-sama tersenyum.


"Gak masuk dulu" Kata Diya basa-basi.


"Ya..." Diya mengangguk mengerti. Lalu keluar dari mobil mewah itu.


"Oh ya Diy" Sapa Ivan baru ingat.


"Besok pagi kamu jangan lupa datang ke kantorku dan langsung kerja"


"Terima kasih...Terima kasih Van" Kata Diya sambari tersenyum dengan wajah yang sumringah.


"Oke...Aku pergi dulu. Sampai ketemu besok. Da...."

__ADS_1


"Da..."Diya melambai tangan saat mobil itu menjauh dari nya sampai hilang di pandangan matanya.


"Terima kasih ya ALLAH karena telah mengabulkan permintaan hamba mu ini" Katanya dalam hati sambil memejamkan matanya.


Dengan langkah yang mantap, ia masuk kedalam rumah kostnya yang senantiasa menanti kepulangan nya.


Ivan tersenyum-senyum sendiri bila mengingat kisah silamnya bersama Diya. Kenangan yang selalu bermain dibenaknya. Tidak mungkin ia bisa melupakan dimana pertama kali ia bertemu dengan gadis itu. Yah....sungguh Diya gadis yang luar biasa baginya.


Tok....Tok...Tok....tiga kali pintu ruangan nya di ketuk membuat Ivan sadar dari lamunan nya.


"Masuk..." Sahutnya sambil membenarkan posisi duduknya.


"Hallo....Surprise...." Seru seorang gadis cantik menyelonong masuk membuat Ivan kaget.


"Virda....Kamu...." Tanya nya langsung bangkit menyambut uluran tangan gadis itu.


"Aku sangat merinduimu Van" Ujar gadis itu sambil memeluk pemuda itu dengan erat seakan-akan ingin melepas kerinduan yang selama ini ia pendam.


"Aku juga" Jawab Ivan membalas pelukan gadis itu. Lama mereka saling berpelukan melepaskan kerinduan masing-masing.


"Aku gak menyangka kamu datang kesini. Kenapa kamu tidak menghubungi ku dulu? Yah...setidak nya, aku bisa menjemputmu dibandara" Kata pemuda itu melepaskan pelukan nya dan mempersilahkan gadis itu duduk.


"Aku sengaja kok tidak menghubungimu terlebih dahulu. Jika aku menghubungi mu, berarti bukan Surpise dong namanya" Balas gadis itu lagi.


"kagetkan melihat aku ada di sini? kamu pasti sangat tidak percaya kalau aku bisa datang ke indonesia dan menemuimu seorang diri" tambah nya lagi.

__ADS_1


"iya...iya...aku percaya, nyatanya kamu sudah ada di depanku" sahut Ivan bercanda.


__ADS_2