
"Diy gimana wawancaranya tadi pagi? apa sukses?" Tanya Yuli sewaktu pulang dari kantor nya dan duduk di samping Diya yang sedang melipat baju-bajunya.
"Kamu pasti kaget kalo tau siapa GM nya" Jawab Diya menggantung kalimatnya ingin melihat perubahan wajah gadis itu bila lagi penasaran.
"Siapa??" Tanya nya antusias dan menghentikan kegiatannya.
"Ivan"
"Ivan?" Tanya Yuli mengerut kening nya
"Ivan siapa??" Katanya lagi menatap wajah sahabatnya itu.
"Ivan....Ivan...." Yuli mengulang berulang kali nama itu sambil memutar keras otak nya untuk berpikir.
"Ivan saputra, yang waktu SMA dulu kita pernah pergi ke sekolah nya itu lo. Di kota ini.....Masih ingat??" Jawab dia membatu memberikan gambaran kepada Yuli tentang pemuda tampan itu.
"Oh....Ivan saputra, yang mengincar kamu waktu SMA dulu?" Tebak Yuli baru ingat.
"Benar" Sahut Diya.
"Yang ganteng itu?" Lagi-lagi Diya mengangguk membenarkan apa yang di katakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dia jadi GM mu??" Diya mengangguk. Yuli ternganga seakan-akan tidak percaya.
"Benar Diya??"
"Iya"
"Wah......Kapan-kapan pertemukan aku dengan dia ya. Ya ampun......Pasti akan heboh sekali, kisah lama pasti akan terulang lagi. Betul kan??" Tebaknya mulai menggoda
"Ya gak lah Yul. Itu kan sudah lama sekali tujuh tahun yang lalu. Perasaannya sudah berubah. Bahkan barangkali dia sudah memiliki kekasih. Tidak mungkin kan cowok ganteng seperti dia menunggu ku yang, yah apa lah ini...." Jawab Diya melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi bisa jadi dia setia menunggu mu"
Diya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Kenapa? Ada yang lucu?" Ujarnya cemberut melihat Diya tidak menanggapi perkataanya itu.
"Kamu lucu bila cemberut seperti itu. Kayak anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya namun tidak di hiraukan oleh ibunya"
"Kamu meledek ku ya" Yuli tambah cemberut di ledekin Diya seperti itu.
Diya tidak menjawab melainkan menambah lebar senyumannya. Yuli geram acuh tak acuh lalu menggantungkan baju kantornya di tepi lemari pakaian dan mengambil baju ganti. Diya akhirnya mengalah dah berkata.
__ADS_1
"dia masih bersikap ramah dan masih ganteng seperti dulu Yul. Malahan dia terlalu baik kepadaku. Tanpa wawancara, dia sudah menerimaku bekerja di perusahaan miliknya" Diya diam sejenak. Sedangkan Yuli mendengarkan sambil mengganti pakaian nya.
"Dia mengajak ku makan, jalan-jalan, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan nya lagi.
"Itu tandanya kalian berjodoh" Potong Yuli.
"Aku yakin itu" Sambungnya lagi mengambil di rak piring mini yang tersusun rapi di atas meja samping kompor di rumah kost nya itu sambil menyendok nasi.
"Kamu udah makan Diy?"
"Udah"
"Apa maksud kamu berkata seperti itu Yul? Apa Ivan jodohku?" Yuli mengangguk membenarkan lalu menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
"Ah kamu bisa saja Yul. Bukan kah sudah ku katakan tadi semua telah berbeda. Bisa jadi sekarang Ivan telah mempunyai kekasih"
"Aku yakin Ivan pasti menaruh sebuah harapan kepada mu Diy. Buktinya dia masih bersikap baik kepadamu. Bahkan tanpa wawancara kamu dengan mudah nya bisa masuk bekerja di sana. Apa itu namanya?"
"Kamu ini bisa saja, emangnya kamu ini peramal apa? Mana mungkin itu terjadi. Aku ini siapa dan dia siapa. Bagaikan langit dan bumi." Celoteh Diya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan Yul"
__ADS_1