
Ferdi kini merasa sangat syok mendapati kenyataan ini. Sungguh perasaan nya kini kacau balau. Dimana ia tidak menyangka bahwa Ivan mencintai gadis yang sama dengan nya selama ini. Ia sama sekali tidak kepikiran tentang Ivan sepupunya Sonia. Ia pikir Ivan yang lain di mana nama Ivan tidak lah satu di dunia ini. Pikirnya.
"Tapi tunggu, itu artinya Diya dan Ivan sudah saling kenal lama? Tapi bagaimana bisa? Kapan waktu mereka kenalan nya. Toh selama masa tour aku tidak melihat mereka pernah berduaan. Diya hanya bersama Yuli kemana pun mereka pergi. Apa mereka bermain api di belakang ku selama di tour?" Pikiran-pikiran buruk kini mulai berdatangan di benak nya Ferdi.
"Ini tidak bisa di biarkan aku harus mendapatkan penjelasan semua ini kepada mereka" Ujar Ferdi dalam hati. Ia pun ingin keluar kamar untuk menemui Diya dam Ferdi.
Baru saja Ferdi hendak membuka pintu kamar, Junior telah membuka pintu kamarnya terlebih dahulu.
"Papa, papa mau pergi lagi ya?" Tanya anak polos itu.
"Iya sayang papa ada urusan" Ujar Ferdi menjawab dengan lembut.
"Kok papa pergi lagi sih. Papa kan baru pulang. Selama ini papa selalu sibuk tidak ada waktu untuk aku. Aku kan jadi kangen sama papa. Kangen main bola bareng, kangen makan di suapin sama papa, kangen mewarnai bareng, pokok nya semua nya deh" Protes Junior.
"Tapi sayang papa ada urusan penting yang harus di selesaikan. Besok kalau papa gak sibuk kita lakukan kebiasaan itu seperti biasanya ya" Rayu Ferdi lagi.
"Gak mau pa, aku mau mya sekarang aku mau di bacain dongeng sama papa sebelum tidur. Ini aku bawain buku dongeng nya" Jelas Junior memperlihatkan buku dongen yang ia pegang.
"Aduh sayang papa benar-benar gak bisa. Papa harus pergi sekarang" Tolak Ferdi lagi.
"Ya sudah Junior baca dongeng nya sama mama aja ya. Biar mama yang ceritain semua yang ada di buku itu sama Junior ya" Bujuk Sonia.
"Gak mau, aku mau nya sama papa. Ayo pa....Ayo" Junior menarik tangan Ferdi agar mau menuruti kemauan nya.
"Sayang tolong ngertiin papa ya. Papa harus selesaikan urusan papa malam ini juga" Lagi-lagi Ferdi menolak.
Junior marah, ia melepas tangan Ferdi yang ia pegang tadi dengan kasar. Bocah itu benar-benar merasa kecewa kepada papa nya yang kini selalu tidak ada waktu untuk nya.
"Papa jahat. Papa gak sayang aku lagi. Papa selalu sibuk, papa gak ada waktu untuk ku lagi. Papa jahat....." Teriak Junior penuh dengan rasa kecewa di dada. Menangis, lalu berlari menuju kamar nya.
"Junior" Teriak Sonia mengejar putra semata wayang nya.
Sonia berhenti mengejar saat dirinya telah sampai dan depan Ferdi yang berada di depan pintu kamar nya.
"Lihat Fer, lihat apa yang kamu lakukan sama anak kamu sendiri. Dia benar-benar kecewa kepada mu karena kanu memang tidak bisa meluangkan waktu sedetik pun untuk nya" Ujar Sonia marah.
"Anak sekecil itu membutuhkan sosok ayah nya yang ia selalu banggakan sebagai hero nya. Tapi kenapa kamu tidak bisa memberikan waktu untuk memperhatikan nya? Salah apa dia sama kamu? Sampai-sampai waktu mu hanya habis memikirkan gadis yang bernama Diya itu sehingga anak mu sendiri menjadi korban. Kamu benar-benar egois Fer. Kamu hanya mementingkan perasaan mu tanpa memikirkan perasaan orang lain" Ujar Sonia dengan suara yang bergetar. Beberapa air bening meleleh di pipinya.
"Oke, aku terima jika kamu menyakiti ku selama ini dengan selalu memikirkan Diya. Aku terima jika kamu tidak mempunyai waktu untuk ku. Aku terima kamu bersikap dingin kepada ku selama ini. Aku terima semua itu Fer. Tapi aku tidak akan pernah terima saat kamu telah membuat anak mu kecewa seperti ini" Tambah nya lagi.
"Aku kecewa sama kamu. Aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa membuat anak mu sendiri, darah daging mu seperti ini" Ujar Sonia meninggalkan Ferdi yang berdiri mematung tidak bisa berkata apa-apa.
Ferdi tampak berpikir. Hati nya juga merasa bersalah karena telah membuat Junior kecewa seperti itu.
"Junior sayang mama. Lo kok jagoan mama menangis sih? Jagoan mama gak boleh cengeng dong" Ujar Sonia mengusap lembut kepala putra semata wayang nya saat ia telah sampai di kamar Junior. Junor duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Papa jahat ma. Papa gak sayang lagi sama aku. Papa selalu sibuk. Kapan papa ada waktu untuk aku ma. Aku kan kangen sama papa" Ujar anak polos itu menangis.
"Oh, sayang anak mama. Sini, sini" Sonia memeluk anak nya yang sedang kecewa itu.
"Sayang dengerin mama ya, papa sibuk karena papa kerja nak. Papa mencari uang untuk Junior dan mama. Untuk memenuhi kebutuhan kita sayang. Untuk sekolah Junior nanti nya, untuk hidup kita, pokok nya semua nya deh sayang. Oleh karena itu papa harus kerja. Junior harus ngerti ya nak dengan kesibukan papa" Ujar Sonia memberi alasan.
__ADS_1
"Dulu papa juga kerja ma. Tapi papa selalu sempetin waktu untuk aku. Papa gak sesibuk sekarang" Jawab Junior.
"Ya dulu kan cafe nya papa belum sebanyak sekarang sayang. Sekarang cafe papa sudah ada di mana-mana. Oleh karena itu papa jadi lebih sibuk karena mengurusi cafe nya yang banyak itu" Lagi-lagi Sonia memberi alasan. Meski benar cafe yang di dirikan oleh Ferdi telah memiliki beberapa cabang. Namun, jika ia mau bisa saja ia memberikan sedikit waktu untuk anak nya.
Namun waktu Ferdi hanya habis memikirkan tentang gadis yang bernama Diya itu yang jelas-jelas akan menikah dengan orang lain.
"Gak ma, papa sekarang telah berubah. Papa gak sayang sama aku. Aku benci sama papa" Junior berteriak.
"Hei sayang, gak boleh seperti itu. Itu papa nya kamu lo nak. Gak baik membenci orang tua seperti itu. Nah sekarang lebih baik kamu berdoa supaya Allah memberikan keringanan kerajaan untuk papa di lancarkan segala urusan nya sehingga papa bisa ada waktu untuk kamu ya nak" Ujar Sonia dengan lemah lembut memberi pengertian kepada putra nya.
Junior mengangguk. Akhirnya Sonia berhasil membujuk putra nya.
Ferdi yang sedari tadi berdiri di depan pintu merasa tersentuh dengan sikap Sonia yang tidak memburukkan dirinya di depan putranya. Padahal bisa saja ia memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Junior semakin membenci nya. Namun Sonia tidak bersikap demikian. Ia justru memberikan pengertian untuk putra nya agar mengerti dengan situasi ini.
"Mana sayang buku dongeng nya, biar mama yang bacain ya" Pinta Sonia.
"Sekarang kamu berbaring ya nak. Mama akan bacakan dongeng untuk kamu" Tambahnya lagi.
Melihat itu Ferdi menitik kan air mata nya. Hati nya sedikit tersentuh oleh sikap Sonia. Dan merasa bersalah kepada putra nya.
Junior berbaring di tempat tidur nya. Sonia membuka buku dongeng yang di bawa oleh Junior tadi untuk di baca.
"Sonia, biar aku saja yang bacakan buku dongen nya untuk Junior" Ujar Ferdi yang muncul dari pintu kamar Junior.
Ferdi datang mendekat ke arah mereka. Dan mengambil buku yang di pegang oleh Sonia. Sonia bangkit dari duduk nya dan di ganti oleh Ferdi yang duduk di sana.
"Sayang maafin papa ya nak. Sekarang papa akan bacakan dongen nya untuk kamu ya" Ujar Ferdi mengelus lembut kepala anak mya dengan kasih sayang tak lupa sebuah ciuman di tancap nya pada kening putra sulung nya.
Perlahan Sonia keluar dari kamar putra nya meninggalkan kedua anak itu di dalam kamar.
"Ya Allah semoga Ferdi bisa membuka hati untuk ku kembali seperti pada sebelumnya. Aku sangat merindukan dia seperti dulu lagi. Berilah kesabaran kepada ku untuk menghadapi suami ku yang sekarang ya Allah. Dan buka lah pintu hati nya agar dia bisa menerima ku seperti dulu" Doa Sonia dalam hati saat dirinya menutup pintu kamar Junior.
***
"Diy, ada yang mau aku tanyakan sama kamu. Aku mau kita bicara berdua. Tapi tidak di sini" Ujar Ferdi menemui Diya yang berada di ruang nya.
Diya melihat sekeliling takut jika Ivan melihat Ferdi di sana. Bisa jadi perang dunia ketiga. Pikirnya.
"Kamu ngapain lagi sih ke sini?" Ujar Diya.
"Ada yang kamu aku tanyakan sama kamu. Kita bicarakan ini di tempat lain saja. Tidak enak jika di sini"
"Mau bicarakan apa sih. Aku sedang sibuk Kamu tahu sendiri aku sedang bekerja di sini kak" Jawab Diya.
"Iya aku tahu. Tapi aku meminta waktu mu sebentar ada hal penting yang mau aku katakan" Ferdi memohon.
"Bicara di sini saja. Tidak haru pergi ke tempat lain" Jawab Diya dengan ketus nya.
"Ya sudah jika kamu tidak mau membicarakan ini di tempat lain. Nanti jangan menyesal jika terjadi keributan" Ancam Ferdi. Maksud nya yah takut jika dengan pertanyaan nya kelak akan membuat kedua nya adu mulut. Namun Dya berpikir bahwa Ferdi akan bertengkar dengan Ivan jika mereka saling bertemu nanti nya.
"Ya sudah, kita ke kantin lantai bawah saja" Diya mengalah.
__ADS_1
***
"Sekarang apa yang kamu tanya kan kepada ku" Tanya Diya saat mereka telah sampai di kantin.
"Jadi benar kamu mau menikah sama Ivan?" Tanya Ferdi menyidik.
Diya menghela napas nya.
"Iya aku akan menikah dengan Ivan. Apa ada masalah?" Tanya Diya dengan ketus nya.
"Jadi gadis yang Ivan incar selama tujuh tahun itu adalah kamu?"
Degg....
Jantung Diya mulai berdegup kencang.
"Apa Ivan menceritakan kepada Ferdi bahwa ia menunggu ku selama ini?" Batin gadis itu.
"Iya" Jawan Diya.
"Jadi Ivan yang menelepon mu sewaktu pulang dari tour kemarin adalah Ivan yang akan kamu nikahi ini?"
"Iya"
"Dan Ivan yang telah mengirim beberapa surat kepada mu itu adalah Ivan yang kamu akan kamu nikahi juga?"
"Iya benar"
Ferdi menarik napasnya dalam-dalam lalu di hembusnya kuat-kuat.
"Selama ini kalian sudah saling kenal? Kapan kamu berkenalan dengan Ivan? Setahu ku selama di tempat tour kamu selalu bersama Yuli. Aku tidak pernah melihat kamu bersamanya" Ujar Ferdi sedikit emosi.
"Apa selama masa tour kamu telah bermain api di belakang ku bersama Ivan Diy? Aku salut dengan cara main mu sampai-sampai aku tidak bisa mengetahui bahwa kamu seperti itu" Tuduh Ferdi.
"Tunggu, tunggu, kamu bilang bermain api? Kamu bilang aku mengkhianati mu? Kak aku tidak pernah mengkhianati mu sedikit pun. Selama masa tour Ivan mengejar ku dan mengungkap kan perasaan nya kepada ku. Tapi aku tidak memperdulikan hal itu karena aku mencintai kamu kak" Jelas Diya dengan mata yang berkaca-kaca. Hati nya terasa sakit saat Ferdi menuduhnya yang bukan-bukan seperti itu.
"Aku mencoba menghindar selama itu kepada Ivan karena aku masih berpikir akan perasaan mu saat itu. Dan masalah ponsel itu yah Ivan yang memberikan nya kepada ku sebagai tanda persahabatan. Dan aku menerima nya hanya karena waktu itu jika aku tidak menerima nya dia akan terus mengejar ku. Dengan terpaksa aku menerima agar nantinya kamu tidak salah paham dengan ku saat melihat ku bersamanya" Tambahnya lagi
"Dan jika masalah surat, aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Dan ternyata benar selama Ivan mengirim surat untuk ku kamu yang membalasnya. Yang aku tidak tahu isinya apa" Ujarnya lagi.
"Kak, masa tour kamu terlalu sibuk untuk berfoto ria bersama gadis-gadis cantik. Kamu yang sebagai ketua osis sangat populer di masa itu sehingga kamu tidak melihat bahwa aku pun di incar oleh lelaki lain" Ujar Diya mengingat momen tour di masa itu.
"Sudah, sekarang tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Semua sudah jelas" Ujar Diya.
"Oh ya kamu sekarang sudah mengetahui aku akan menikah dengan siapa. Jadi aku harap kamu jangan menganggu hidup ku lagi" Ujar nya lagi dan berlalu meninggalkan Ferdi yang berdiri mematung.
Tampa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik mereka dan memotret beberapa poto mereka berdua.
"Ini akan menjadi bahan bagus untuk menghancurkan kamu Diy dan menggagalkan semua rencana kalian" Ujar orang itu dengan marahnya.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi Ivan saat melihat gadis yang ia puja-puja dan dia bangga-banggakan masih menemui mantan nya secara diam-diam" Ucap orang tadi tersenyum dengan puas.
__ADS_1