
"Belum, masih berlangsung kok"
"Tapi kamu....."
"Yah...Tidak ada kamu disitu gak semangat aku nya" Jawab Ivan memotong pembicaraan Diya.
"Jadi aku keluar, yah...Tau-tau kamu ada disini. Lagian kamu sedang apa disini?" Kini balik pemuda itu yang bertanya.
"Gak...Gak ada apa-apa. Tadi aku....Aku di panggil ibu Yani" Kata Diya berbohong.
"Dan aku....Aku...Malas ke sana lagi. Lebih baik aku...Aku disini baca buku" Kata gadis itu lagi tergagap-gagap memberi alasan.
"Lagian disini sejuk dan nyaman aku jadi betah sambil baca buku" Lagi-lagi gadis itu berbohong dan memperlihatkan bukunya kepada Ivan agar pemuda itu percaya kepadanya.
"Aku fikir, kamu marah sama aku. Karena sikap ku kurang sopan tadi kepadamu" Ivan tampak menyesali.
"Emang benar kok" Kata Diya dalam hati.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya Diy atas sikap ku tadi. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu dan membuatmu tersinggung. Itu benar-benar tidak disengaja. Maafkan aku ya" Kata pemuda itu memohon dengan wajah memelas.
"Please...." Kata Ivan lagi seraya menyentuh jari gadis itu. Diya kaget.
"I....I......Ya...Aku maafkan kok" Jawab Diya gelisah dan terkejut melihat pemuda itu menyentuh jarinya. Pelan-pelan gadis itu menarik tangannya dari genggaman pemuda itu agar Ivan tidak merasa tersinggung.
"Terima kasih....Sekali lagi maaf" Kata Ivan sadar kalau sekali lagi ia membuat kesalahan dengan menggenggam jari gadis itu. Diya tersenyum kecut mendengar kata-kata pemuda itu tadi. Sungguh gadis itu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghindar. Diya jadi takut dan cemas jika nanti tiba-tiba teman-teman yang lain melihat mereka berdua. Apa lagi kak Ferdi. Wah...Bisa berabe nantinya.
"Diya....Diya....Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Ivan heran dengan sikap gadis itu. Diya sadar.
"Kamu melamun ya? Atau tidak suka aku disini?"
"Gak...Gak...Malahan aku senang kok karena kamu mau menemaniku disini" Jawabnya.
"Ih....Celaka enam belas. Kenapa aku bisa ngomong seperti itu? Aduh...Itu pasti akan membuatnya tambah bersemangat untuk tidak pergi dari sini. Bodoh...." Diya menyalahkan dirinya sendiri.
"Tu kan...Melamun lagi" Tegur Ivan tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang kamu fikirkan?"
"Gak...Gak ada apa-apa. Cuma gak enak saja sama teman-teman, ntar tersebar gosip lagi"
"Kenapa? Kamu takut?" Diya mengangguk.
"Jika gosip itu benar?" Kata Ivan memancing. Diya kaget spontan wajahnya berubah.
"Maksud mu?" Ujar Diya pura-pura bertanya walau ia tahu arah mana pemuda itu berkata. Ivan tersenyum lagi, ia pun sudah tahu kalau Diya pura-pura bertanya.
"Kita jadian...Kamu dan aku pacaran karena aku mencintaimu" Ucap Ivan langsung dan berani.
Laksana petir di siang bolong begitulah perasaan Diya saat itu. Bukannya ia senang dengan perkataan Ivan barusan. Malahan itu menjadi momok baginya menambah masalah diantara hubungannya dengan Ferdi.
Ivan sabar menunggu jawaban dan reaksi gadis itu.
"Diya....Apakah kau mencintaiku?" Tambah Ivan lagi memegang kedua bahu gadis itu. Diya tidak bisa menjawab. Perasaan dan fikiran nya berkecamuk mengapa bisa terjadi seperti ini? Mengapa ia bisa bertemu dengan Ivan? Toh merumitkan masalah. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mungil gadis itu. Tanpa disadarinya, Diya pun pelahan melangkah menjauh dari pemuda itu. Dan ia pun berlari meninggalkan Ivan yang sempat terbengong dan heran serta mengerut kening melihat Diya seperti itu.
__ADS_1