Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Bimbang


__ADS_3

"Sekarang kamu di mana?"


"Sudah di jalan pak dalam taksi"


"Aduh Diya kenapa mendadak sekali"


"Saya baru mendapatkan telfon pak, keperluan mendadak"


"Emang seberapa penting sih?"


"Sangat penting pak, penting sekali buat saya"


Ivan menghela nafas panjang.


"Ya sudah. Tapi benar ya setelah urusan mu selesai, kamu kembali ke kantor segera" Perintah Ivan.


"Baik pak, terima kasih" Jawab Diya akhirnya bernafas lega.

__ADS_1


Dengan langkah yang cepat, ia pun keluar dari restoran itu dan menunggu ojek online yang sudah dari tadi ia pesan sebelum menelepon atasannya. Tak berapa lama, bang ojek online pun datang dan Diya langsung naik di motor itu setelah memakai helm pemberian bang ojek.


"Mau kemana mbak?" Tanya bang ojek setelah beberapa lama mereka berdiam. Diya tidak segera menjawab. Ia tampak berpikir sejenak.


"Antar saya ke alamat ini ya bang" Jawab Diya menyodorkan Ponselnya ke depan supaya abang ojek bisa melihat jelas alamat yang mau di tuju. Bang ojek melihat sejenak.


"Oke, baiklah" Jawab bang ojek terus fokus mengendarai motornya.


***


Diya turun dari motor saat sampai ke tempat tujuan nya. Dan membayar ongkos ojek itu dan menyerahkan helm yang tadi melekat di kepalanya.


Diya menghela napas panjang dan melangkah masuk ke gedung dimana tempatnya bekerja. Ia meletakkan tas yang sedari tadi di kenakan nya ke atas meja kerjanya setelah dia sampai pada tempat kerja yang sudah di siapkan Ivan sebelumnya.


Diya menghempas kan tubuh ramping nya di atas kursi kerja nya. Tampak ada sedikit keraguan dan hati yang cemas di dalam wajah nya


"Harus bagaimana aku sekarang?" Katanya dalam hati.

__ADS_1


"Baru sehari kerja, apa aku di pecat? Dan Virda mengantikan posisi ku? Atau apa aku akan di pindahkan ke posisi yang lain? Aduh....." Diya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh percakapan yang di dengar nya tadi membuat bimbang hati dan perasaannya.


***


Di tempat lain


"Jadi, besok aku sudah mulai masuk kerja Van" Tanya Virda dengan antusias. Ivan tidak menjawab nampak ia masih bimbang atas keputusan nya barusan.


"Jika dia menjadi sekretaris ku, Diya bagaimana? Tidak mungkin dia membuat gadis itu bergeser dari posisi nya sekarang atau bahkan memecatnya hanya dalam satu hari" Batin nya bergejolak padahal dia tahu betul bahwa Diya sudah mulai bisa menguasai bidang nya hanya dalam waktu sehari. Namun, pemuda itu juga tidak bisa menolak permintaan sahabat yang begitu di sayangi nya yang telah di anggap sebagai adik nya sendiri itu.


"Apa secepat itu Vir?" Ivan bertanya dengan wajah yang masih bimbang.


"Harus dong Van. Aku kan harus profesional dalam bekerja?"


"Terus, bagaimana dengan pekerjaan mu sekarang?"


"Aku akan berhenti sekarang juga" Virda menjawab mantap.

__ADS_1


"Itu tandanya kamu tidak profesional dalam bekerja. Dan bagaimana janjian kontrak yang telah kamu tanda tangani di kantor mu? Buka nya kamu akan membayar denda 3 kali lipat sebesar gaji mu jika telah memutuskan pekerjaan secara sepihak tanpa alasan yang jelas seperti itu" Jelas Ivan berharap bahwa gadis di hadapannya itu memikirkan kembali atas keputusan nya secara mendadak tadi.


Itu sangat membuat lelaki itu tidak tenang. Jika dia yang menganti posisi Diya bagaimana bisa dia melakukan pendekatan kembali terhadap cinta lamanya itu.


__ADS_2