Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Ayah si janin


__ADS_3

Diya dan Ivan menikmati masa liburan bulan madu nya di kapal pesiar. Yah kapal yang hanya cukup menumpang ratusan orang saja. Tidak sebesar kapal pesiar di film titanic.


Dan juga kapal itu hanya berlayar di lautan pekanbaru. Karena waktu berlayar hanya tiga hari.


"Makasih ya sayang kamu sudah mewujudkan impian ku" Ujar Diya tersenyum senang memeluk suami nya.


"Iya sayang, aku sudah berjanji sama kamu. Sebisa ku akan menuruti segala keinginan mu" Ujar Ivan.


"Ayo kita turun ke bawah" Ajak suami Diya.


Diya mengangguk.


Mereka pun turun untuk menuju restoran yang berada di lantai bawah.


***


"Mama, itu tante Ivan dan om Ivan" Ujar Junior menunjuk pintu masuk di mana Diya dan Ivan berada di sana.


Sonia dan Ferdi melihat arah yang di tunjuk oleh putra nya. Memang benar ada mereka di sana.


Deg...


Hati Ferdi tersentak. Mengingat kembali masa dimana saat itu ia pulang dari tour ke Pekan baru bersama teman-teman sekolah nya.


"Maksudmu bulan madunya di atas kapal persiar?" Diya mengangguk.


"Dengan segala perlengkapan, serta kecanggihan peralatan mekanisnya. Yah....Pokoknya semua serba canggih dan modern sekali. Bila pagi tiba, aku akan melihat matahari terbit di ufuk timur memancarkan sinarnya di air laut seperti melihat taburan mutiara ditengah-tengah laut. Dan bila senja, cakrawala akan menampakan megahnya yang menghiasi langit dan aku juga ingin melihat bebas bintang-gemintang yang bertaburan di langit. Dan tentu saja dengan bulan purnamanya. Wah...Itu pasti sangat indah dan menarik. Betulkan?" Kata Diya mengakhiri ceritanya. Gadis itu mengerut keningnya.


"Kak....Kak Ferdi kenapa?" Tanya nya melihat pemuda itu tampak bengong.


"Permintaanku terlalu berlebihan ya?" Katanya lagi.


"Gak..." Jawab Ferdi singkat.


"Aku senang mendengarnya. Mudah-mudahan impian kita akan terkabul" Diya tersenyum.


"Kak Ferdi percaya dengan perkataanku tadi?"


"Iya...Kenapa?" Diya tersenyum lagi malahan ia tertawa lepas.


"Ya gak lah kak...Mana mungkin gadis seperti aku bisa berfikir seperti itu"


"Kenapa tidak? Aku akan membuktikan nya nanti"


"Tidak kak...Tidak....Aku tidak mau semua itu, aku hanya ingin kamu selalu di sampingku. Dengan sebuah rumah kecil yang hanya kita berdua saja disana. Yah....Cuma itu saja yang aku mau"


"Benarkah?" Diya mengangguk lalu merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.


"Yah...Hanya itu yang aku mau kak, tidak yang lain"


"Mudah-mudahan apa yang kita impikan akan terlaksana, kita hanya merencanakan tapi ALLAH lah yang menentukan. Betulkan?" Kata Ferdi mengelus lembut rambut gadis itu. Diya mengangguk.


"Tapi kita harus berdoa agar impian ini akan terlaksana" Sambungnya, kini giliran Ferdi yang mengangguk. Keduanya sama-sama tersenyum, sama-sama mempererat pelukan nya masing-masing. Merasakan betapa hangatnya kebersamaan mereka saat ini.


Sungguh indah masa-masa itu. Impian yang dulu nya mereka rencana kan, kini telah hilang di telan bumi. Memang mereka sedang berada di kapal. Pesiar yang sama saat ini. Namun, mereka liburan dengan pasangan mereka masing-masing. Karena kedua nya sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Biar lah rencana yang mereka impikan menjadi sebuah kenangan yang indah yang akan mereka ingat sampai mereka tua. Bagaimana pun Ferdi adalah cinta pertama nya Diya.


Bagaimana pun mereka telah mengukir kisah mereka waktu itu yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tapi untuk bersama seperti dulu itu tidak lah mungkin bagi kedua nya.


"Om Ivan, tante Ivan sini" Teriak Junior.


"Van, itu Junior kak Ferdi sama Sonia" Ujar Diya melihat dari sumber arah suara memangil dirinya dan Ivan.


"Iya" Ujar Ivan melihat arah yang sama.


"Mereka di sini juga?" Tanya Ivan.


"Seperti nya sih gitu"


"Kesana sebentar untuk menyapa Junior. Kasihan dia dari tadi tu melambai kita untuk datang ke sana" Ujar Ivan.


"Tapi Van" Ujar Diya merasa sungkan.


Istri Ivan itu merasa tidak enak.


"Sudah gak apa-apa. Kita hanya menyapa sebentar" Ujar Ivan.


Dengan sedikit paksaan akhirnya Diya mengalah dan mengikuti keinginan suaminya.


"Hai Junior" Sapa Ivan kepada jagoan Ferdi dan Sonia itu.


"Hai Son, Fer" Katanya lagi.


"Hai Van, Diy" Balas kedua nya.


Diya membalas tersenyum dengan kecut. Bagaimana pun sungguh tidak enak bila bertemu dengan mantan bersama keluarga nya seperti ini. Perasaan itu sulit untuk di jelaskan.


"Om, tante, duduk sini sama kami. Kita sarapan sama-sama" Tawar Junior.


"Iya Van, gabung aja sama kita di sini" Ferdi menyempeli.


"Terima kasih, tapi gak enak nanti malah menganggu" Tolak Ivan.


"Gak kok, gak menganggu sama sekali" Ujar Ferdi lagi.

__ADS_1


Dari tadi tampak Sonia hanya diam tampa berkata sepatah kata pun. Wanita hamil itu memang sedikit tidak suka kepada Diya. Bagaimana pun Diya adalah masa lalu nya Ferdi. Apa lagi kemaren Ferdi masih mengejar istri Ivan itu tanpa mempedulikan perasaan nya dan Junior.


Meski Sonia tahu bahwa Diya dan Ivan sudah menikah, dan tidak mungkin bagi kedua nya untuk bersama. Namun tetap saja rasa curiga dan cemburu di hati terus menyelimuti.


Bimbang jika suami nya akan kembali mengejar Diya dan kembali untuk tidak memperdulikan nya seperti sebelum nya.


Ivan dan Diya mengerti akan hal itu. Oleh karena itu mereka memilih untuk tidak mau bergabung bersama keluarga Ferdi agar perasaan nyaman untuk Diya, nyaman juga untuk Sonia.


"Kami ke meja kami dulu ya" Ujar Ivan.


"Ayo Diy" Ajak nya lagi.


Ferdi dan Sonia mengangguk.


Ferdi menatap wajah istri nya yang muram.


"Kamu kenapa?" Tanya Ferdi.


"Ketemu sang mantan terindah ni ye" Ujar Sonia terdengar mengejek.


"Terus kenapa jika ketemu dengan Diya?" Ujar Ferdi tertawa kecil melihat tingkah istrinya seperti itu.


"Senang dong hati nya. Bisa-bisa kisah lama nanti terulang lagi"


"Apa sih sayang. Jangan ngomong yang bukan-bukan seperti itu. Aku dan Diya hanya lah sebuah kenangan. Dan kenangan itu jelas tidak akan bisa terulang lagi. Aku dan Diya sudah memiliki kehidupan masing-masing" Ujar Ferdi dengan lembut kepada istri nya.


"Kamu cemburu banget sih"


"Aku hanya takut kamu seperti kemaren mengabaikan aku dan Junior. Jujur saja rasa itu masih aku kenang sampai sekarang. Jadi ya wajar saja kalau aku bimbang kepada kamu karena aku tidak mau hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya" Jelas Sonia dengan raut wajah sedih nya.


Ferdi tersenyum mendengar penjelasan dari istri nya itu.


Ferdi menggenggam tangan istri nya.


"Sayang, aku sudah berjanji kepada kamu aku akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk kamu dan Junior. Kamu telah memberikan kesempatan kedua jadi nggak mungkin aku akan mengabaikan kesempatan yang kamu beri untukku. Aku sudah memiliki kamu sebagai istriku dan juga aku juga telah memiliki Junior jagoan kita dan sebentar lagi buah cinta kita yang kedua akan hadir mengisi kehidupan kita dengan tangis dan tawanya di dunia ini. Jadi nggak mungkin aku berpaling dari kamu" Jelas Ferdi menenangkan hati istri nya.


"Oke, aku akui kemaren-kemaren aku belum bisa menerima kenyataan bahwa aku dan kamu sudah menikah. Aku masih mengharapkan Diya waktu itu. Tapi sekarang aku sudah sadar bahwa kamu adalah takdir ku. Jadi aku harap rasa curiga kamu kepadaku seperti ini" Tambah nya lagi.


Sonia tersenyum mendengar ucapan dari suami nya.


***


"Sayang" Tegur seseorang dari belakang Virda. Saat dirinya keluar dari indomaret.


Virda menoleh.


Virda membulatkan mata nya. Sungguh ia kaget setelah mengetahui siapa yang menegurnya tadi.


"B... Bos" Ujar nya terbata-bata.


Jantung nya sangat berdebar kencang mengetahui bos nya telah menemui nya secepat itu.


"Bagaimana bisa si tua bangka ini mengetahui aku berada di kota ini" Batin Virda gelisah.


"Kenapa diam? Apa tidak senang ketemu dengan ku?" Tanya lelaki paruh baya itu lagi.


Virda hanya diam tidak bisa berkata apa-apa. Sejujurnya dia masih syok mengetahui bos nya telah berhasil menemuinya di kota ini.


"Aduh, aku harus bagaimana?" Batin Virda.


Lelaki paruh baya itu mencoba mendekati Virda.


Namun, belum sempat ia lebih dekat, Virda pun melarikan diri.


"Virda" Teriak lelaki itu mengejar Virda.


Virda tidak mempedulikan teriakan dari bosnya itu ia terus berlari dan berlari sekuat tenaganya untuk menghindar dari lelaki yang menurutnya sangat berbahaya untuk keselamatannya itu.


"Virda, berhenti" Teriak mantan bos nya itu terus mengejar nya.


Hingga saat Virda melihat ke belakang sambil berlari untuk memastikan apakah bos nya itu tidak bisa mengejarnya atau tidak, ia pun tersandung dan terjatuh.


"Aduh" Virda meringis kesakitan.


"Aduh, Sakit" Ujar nya lagi.


"Nah, tuh kan kamu jatuh seperti ini. Maka nya jangan melarikan diri ku"


"Aduh, pak tolong, tolong saya. Perut saya sakit pak. Tolong bantu saya ke rumah sakit" Ujar Virda meminta belas kasihan.


"Kamu kenapa? Perut mu kenapa?" Tanya bos tadi terlihat panik.


"Ayo, ayo kita ke rumah sakit" Ujar nya membawa Virda menuju rumah sakit terdekat.


***


"Dok, bagaimana keadaan Virda" Tanya bos tadi kepada dokter yang selesai memeriksa Virda.


"Bapak suami nya?" Tanya dokter tadi.


Bos tadi pun bingung harus menjawab apa. Sejujurnya dia masih belum mengerti kenapa dokter tadi bertanya seperti itu kepada nya.


"Untung lah pak, buk Virda baik-baik saja. Begitu pun dengan bayi yang ada di dalam perut nya. Dan kini bayi itu tampak sehat" Jelas dokter itu lagi.


"Bayi? Dia hamil?"

__ADS_1


"Iya pak usia kandungan nya sekarang sudah hampir enam minggu. Bapak tidak tahu bahwa istri nya sedang hamil?"


Lelaki paruh baya itu menggeleng kepala nya. Ia benar-benar tidak mengetahui bahwa Virda sedang mengandung. Apalagi bawa anak yang dikandung oleh Virda itu adalah anaknya.


Karena selama ini Virda tidak pernah memberitahu nya tentang kehamilan nya saat ini.


"Terima kasih dokter. Boleh saya menjenguk nya sekarang?"


"Boleh pak, silahkan masuk" Ujar dokter tadi.


Lelaki paruh baya itu pun masuk ke ruangan tempat di mana ada Virda di sana.


"Virda" Tegur nya.


Virda masih enggan untuk menjawab sapaan nya. Gadis itu tidak ingin terlibat dan berurusan lagi dengan laki-laki itu.


"Vir, aku mau tanya sama kamu. Apa benar kamu sedang hamil?" Tanya nya lagi meski ia tahu dari dokter bahwa Virda sedang hamil, tapi tetap saja ia ingin mendengar langsung dari wanita yang ada di hadapan nya.


Virda masih diam tidak mau menjawab. Ia tetap tidak ingin menatap mata lelaki yang ada di hadapan nya itu.


"Vir, coba kamu katakan pada ku" Ujar nya lagi.


Lagi-lagi Virda tidak menjawab.


"Virda, aku mohon, tolong jawab pertanyaan ku. Apa benar kamu sedang hamil"


"Virda" Ujar nya lagi sedikit membentak.


"Iya, iya aku hamil" Ujar Virda akhir nya membuka suara.


"Kamu hamil anak siapa? Anak siapa yang ada di dalam kandungan mu. Apa, apa itu anak ku?" Tanya nya lagi penuh dengan harapan.


Kembali Virda diam dengan seribu bahasa.


"Virda, jawab pertanyaan ku. Aku hanya ingin kepastian anak siapa yang kamu kandung" Ujar nya lagi.


Virda menangis. Hati nya hancur saat ini Dia bingung harus berbuat apa. Ia ingin menikah dengan Ivan, tapi Ivan tidak membalas cinta nya. Ia juga bingung harus bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan nya ini. Semakin hari akan semakin membesar.


Orang-orang akan tahu tentang kehamilan nya meski berusaha di sembunyikan.


"Virda tolong jangan menangis seperti ini. Jawab lah pertanyaan ku. Jika benar anak itu adalah anak ku, aku akan bertanggung jawab untuk hal itu"


Deg...


Hati Virda sedikit tersentuh mendengar ucapan dari mantan bos nya itu.


Virda menatap bos nya dengan tatapan tersentuh.


"Tanggung jawab seperti apa?" Tanya Virda.


"Aku akan menikahi mu. Kita akan merawat anak kita bersama-sama" Ujar nya lagi meyakin kan Virda.


"Bagaimana dengan istri mu?"


"Istri ku?"


Lelaki itu tampak berpikir.


"Pasti aku kamu tidak akan meninggalkan nya bukan?"


"Vir, aku sangat mencintai mu. Aku memang tidak bisa meninggalkan istri ku. Terlebih ada anak-anak kami yang membutuhkan aku sebagai ayah nya. Tapi aku janji, aku akan bersikap adil kepada mu" Pujuk bos nya itu.


"Apa pun yang istri dan anak ku dapatkan, itu lah yang akan kamu dan calon anak kita dapatkan juga Apa. Lagi aku berharap anak ini adalah anak laki-laki sebagai penerus generasi ku" Ucap nya lagi.


Memang istri nya memberikan tiga zuriat kepada nya. Tapi semua anak-anaknya berjenis kelamin perempuan dan saat ini istrinya tidak bisa memberikan ia keturunan lagi. karena istrinya saat ini sedang sakit kanker.


Itulah mengapa bosnya Virda selalu mencari kepuasan di luar rumah. Bukan dia tidak mencintai istrinya, dia melakukan itu hanya merasa kecewa kepada takdir yang telah membuat istrinya jatuh sakit parah seperti itu.


Ketika ia melakukan pertama kali bersama Virda dia mulai jatuh cinta kepada gadis itu. Rasa cintanya terbagi untuk istrinya dengan Virda. Gadis indabel itu telah berhasil membuat lelaki paruh baya itu terpesona akan kecantikannya


Ditambah dengan pengalaman yang sangat membuat lelaki paruh baya itu ketagihan sehingga membuatnya semakin tidak berdaya dan terus ingin dipuasi oleh Virda.


"Virda, benar itu adalah anak ku?" Ucap nya lagi.


"Iya, ini adalah anak mu. Saat kita melakukan itu telah mengahasilkan benih ini di dalam perut ku" Ujar Virda menangis.


Bos nya tadi mondar mandir di hadapan nya Virda. Ia Seperti tidak percaya bahwa diri nya bisa membuahi Virda hanya sekali sentuhan.


"Virda, jika begitu menikah lah dengan ku, aku tidak mau anak ku nantinya akan lahir tampa seorang ayah" Ujar nya.


"Kamu jangan khawatir. Kamu cukup duduk manis di rumah menjaga anak kita. Aku akan mencukupi kebutuhan kalian semua nya" Tambah nya lagi.


"Tapi, bagaimana dengan istri dan anak-anak mu? Mereka pasti akan sangat marah dan kecewa kepada mu"


"Kamu tenang saja. Mereka tidak akan tahu tentang masalah kita. Kamu aku izinkan untuk tetap di sini. Sebulan sekali aku pasti datang ke sini untuk menjenguk kalian berdua" Ujar nya lagi.


Sejujurnya Virda tidak mau menjadi yang kedua. Apa lagi dia sebagai simpanan seperti ini. Tapi harus bagaimana lagi kandungannya semakin hari akan semakin membesar orang-orang akan tahu tentang keadaannya. Jika dia tidak menerima bosnya ini sebagai suaminya maka apa kata orang-orang tentang dirinya yang sedang hamil tapi tidak mempunyai suami.


Mau tak mau, suka tidak suka dia harus menerima ayah dari anaknya ia kandung itu untuk menjadi suaminya. Karena meminta pertanggung jawaban dari Ivan pun ia tidak bisa. karena Ivan tidak mau bertanggung jawab atas janin yang ada di dalam kandungannya.


Virda tampak berpikir.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Mau kamu menikah dengan ku?" Tanya nya lagi meminta kepastian.


Virda mengangguk setuju. Diri nya tidak ada jalan lain untuk masalah nya saat ini. Dia harus menikah dengan lelaki yang ada di hadapan nya ini untuk kebaikan bersama.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, aku janji akan menjadi suami yang terbaik untuk mu" Ujar nya lagi memeluk gadis yang ada di hadapan nya itu.


__ADS_2