
"Aku berani taruhan kalau Ivan masih mencintai mu" Kata Yuli dengan kesibukan menyuap nasi ke dalam mulut nya.
"Ah....jangan berpikir begitu Yul. Aku tidak mengharapkan dia. Kamu tahu sendiri jika aku masih mencintai dan mengharapkan kak Ferdi untuk kembali kepadaku."
"Kak Ferdi lagi, kak Ferdi lagi. Udah deh Diy jangan kamu sebut-sebut nama lelaki itu di hadapanku. Aku bisa muntah nanti" Kata Yuli melanjutkan makannya.
Diya tidak menjawab. Gadis itu tahu kalau Yuli sangat membenci nama itu. Nama yang membuat hati dan perasaan nya jadi pedih dan sakit. Diya hanya tersenyum dan menghela nafas panjang.
***
Diya berlari memasuki gedung megah itu. Wajahnya yang cantik seketika terlihat cemas karena ia sudah terlambat di hari pertamanya kerja. Pasti Ivan tidak suka akan hal itu.
Dengan mempercepat langkahnya, ia pun sampai di depan ruangan tempat lelaki itu bekerja. Dengan mengatur nafas ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"Masuk" Terdengar suara dari dalam.
Dengan hati-hati Diya membuka pintu.
"Maaf pak, saya terlambat" Katanya deg degan. Ivan tidak menjawab. Ia sibuk membolak balik berkas-berkas yang mau di tanda tangani.
"Duduk" Perintahnya tidak memperhatikan Diya yang cemas dan salah tingkah atas kesalahannya.
Pelan-pelan dan sangat hati-hati sekali Diya mematuhi dan duduk di hadapan lelaki itu.
"Kamu harus membaca berkas-berkas ini dan mempelajarinya" Kata Ivan menyerahkan beberapa map kepada Diya.
"Sekarang kita haru bergegas ke kantor gubernur karena saya ada rapat disana dan mulai besok jangan terlambat lagi" Lanjut Ivan bangkit dari duduknya bergegas keluar yang di ikuti oleh Diya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf pak, saya janji tidak akan terlambat lagi"
"Bagus. Ayo masuk" Perintah Ivan lagi saat sampai di pintu mobil yang sedari tadi menunggunya datang. Tanpa di suruh dua kali, Diya pun menurutinya dan Ivan duduk di sebelah Diya. Mobil pun melaju meninggalkan gedung itu.
***
Diya membolak balik berkas yang di berikan Ivan kepadanya. Membaca dan memahami apa isinya.
"Jika ada pertanyaan atau apa-apa saja yang belum kamu ketahui dan pahami silahkan. Masih ada waktu sebelum kita sampai"
"Sepertinya tidak ada pak Saya cukup memahami isi dari berkas-berkas ini. Saya akan bekerja semaksimal mungkin dengan kemampuan saya" Jawab Diya mantap, Diya hanya tidak ingin terlihat lemah di depan lelaki itu
"Bagus" Kata Ivan melebarkan senyuman nya.
"Kenapa terlambat?" Tanya nya lagi.
"Pacarmu?" Tanya Ivan curiga.
"Bukan....teman perempuan ku pak. Diya ada urusan kerja di jakarta"
"Siapa?"
"Yuli"
"Yuli teman SMA mu dulu?" Tanya Ivan lagi penasaran. Nadanya pun mulai lembut tidak datar seperti tadi.
Diya mengangguk
__ADS_1
"Dia titip salam buat bapak"
"Kamu cerita tentang aku kepada nya?"
Diya mengangguk.
"Dia ingin sekali bertemu dengan bapak. Tapi ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.
"Ya saya mengerti. Apa dia sudah menikah?"
"Belum"
"Kalau kamu?"
"Belum juga pak"
"Kenapa?"
"Belum ada yang mau pak"
"Ada"
"Siapa" Jawab Diya mengerutkan keningnya.
"Saya"
Diya tersenyum kecut. Kenapa pertanyaan nya sampai ngelantur ke situ.
__ADS_1
"Aduh....Gusti.....cari gara-gara lagi aku ini" Kata Diya dalam hati menyalahkan dirinya kenapa bisa-bisa ia memancing kata-kata pemuda itu yang memang ingin mencari kesempatan akan hal itu.