
Begitu kaget nya kedua preman itu saat salah satu dari mereka tersungkur ke jalanan begitu pun dengan Diya. Ada rasa kaget, takut, dan senang bercampur menjadi satu. Kaget setelah tahu siapa yang menolong nya itu. Takut pada kedua preman dan senang karena telah di tolong.
"Jangan pernah mengganggu gadis ku" Suara lantang bergema beriringan dengan rahang yang mengeras dan tangan yang menggenggam erat di samping nya. Mata memerah penuh dengan kemarahan terhadap kedua preman itu.
Diya membulat kan matanya betapa kaget nya ia saat mendengar pernyataan lelaki yang menolong nya itu
"Ivan? Gadis ku?" Tanya dia dalam hati.
"Kurang hajar" preman berbaju hijau menyerang Ivan dengan sangat brutal. Namun bisa di tangkis dan di hadapi dengan santai oleh sang GM. Tidak sia-sia ia belajar bela diri ketika umur 7 tahun.
Bruk....
__ADS_1
Preman baju hijau tersungkur memegang pipi yang di tinju oleh Ivan. Melihat teman nya tersungkur, preman berbaju hitam bangkit dan mencoba menyerang Ivan. Lagi-lagi dengan santai Ivan menghadapi nya. Kembali preman baju hitam terjungkal ke belakang saat perut nya di tendang oleh Ivan.
Hanya tampang mereka yang menyeramkan. Namun, kekuatan nya tidak lh seseram tampang mereka. Begitulah kira-kira pikiran Ivan saat berkelahi dengan kedua preman itu. Bagaimana tidak dengan mudah bertubi-tubi ia menghantam dan menghajar ke dua preman itu dengan mudah nya.
"Ayo kita pergi" Kata salah satu preman mengajak teman nya melarikan diri. Tahu mereka kalah talak sama Ivan. Jika memaksa untuk melawan lagi, di pastikan mereka K.O beberapa menit lagi.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ivan mendekati Diya yang masih gemetaran.. Baru kali ini dia melihat secara langsung perkelahian ketiga sosok lelaki itu. Selama ini dia tidak pernah melihat sesiapa pun berkelahi. Jangan kan berkelahi seperti itu. Mendengar tetangga nya yang terkadang adu mulut dengan tetangga yang lain sudah membuat jantung nya hampir copot. Sungguh lemah nyali Diya. Diya hidup dengan penuh kasih sayang tidak pernah di bentak atau di kasari oleh Ibu nya. Sehingga ketika ia melihat hal-hal demikian membuat nya takut.
"Hei...." Ivan memberanikan diri menarik kepala Diya agar masuk kedalam pelukan nya. Dengan tatapan kosong dan tangan yang masih bergetar ia membiarkan Ivan memeluk nya.
"Sudah, telang lah. Semua sudah selesai. Kamu baik-baik saja. Ada aku disini" Ivan memeluk dan membelai rambut indah gadis itu. Diya memejamkan mata. Ada rasa sedikit kenyamanan di hati saat bersama Ivan. Kenyamanan yang dulu pernah di rasa saat bersama Ferdi yang kini entah di mana.
__ADS_1
Tampa di sadari kedua tangan nya membalas pelukan Ivan. Ivan tersenyum ketika pelukan nya di balas oleh Diya.
Diya sadar, cepat-cepat Diya melepaskan pelukan nya.
"Maaf" Katanya menundukkan kepala. Malu atas apa yang terjadi barusan.
"Terima kasih telah menolong ku" Kata nya lagi.
"Sama-sama" Ivan tersenyum
"Kamu mau ke kantor? Mari pergi bersama" Ivan menawarkan. Diya mengangguk takut menolak niat baik lelaki itu.
__ADS_1