
Virda meminta Ivan untuk menemani nya di apartemen nya. Ia memang mengatur siasat untuk membuat Diya cemburu dengan berpura-pura sakit.
"Diy, kamu gak apa-apa ya kamu pulang di antar sama pak Udin?" Tanya Ivan.
"Kasihan juga jika sakit begini dia tinggal sendiri. Takut jika sesuatu buruk terjadi padanya nanti" Jelas nya lagi.
Diya tersenyum kecut mendengar ungkapan Ivan barusan.
"Kamu gak masalah kan Diy? Setidak nya sampai dia merasa baikan. Gak sampai nginap juga kok Diy" Jelas nya lagi.
"Iya Van gak apa-apa. Aku di sini saja bersama Virda. Kasihan dia sendirian" Ujar Diya.
"Ya sudah aku pulang dulu ya. Kasihan juga. Ibu pasti nungguin" Tambah nya lagi.
"Ya sudah kamu hati-hati ya. Nanti jika sudah sampai kabari aku ya" Pinta Ivan.
"Aku antar kamu ke depan ya" Ujar Ivan lagi.
Diya mengangguk dan bangkit dari tempat duduk nya kemudian keluar dari apartemen nya Virda bersama Ivan.
Virda mendengar semua obrolan mereka dari balik pintu kamar. Gadis itu tersenyum puas karena kali ini dia merasa telah menang. Yah menang karena Ivan kini berada di dekat nya.
"Diya sudah pulang, sekarang aku harus melakukan rencana ku selanjut nya" Ujar Virda.
Beberapa menit kemudian Ivan kembali ke apartemen nya Virda. Dan Virda kini telah kembali ke tempat tidur nya.
"Vir, Gimana? Apa masih pusing?" Tanya Ivan duduk di samling tempat tidur nya Virda.
Virda memegang kepalanya berlaga seperti orang merasa pusing beneran.
"Udah agak mendingan sih Van. Mungkin aku terlalu capek maka nya jadi seperti ini keadaan ku" Jelas Virda berakting seperti orang sakit.
"Syukurlah kalau begitu" Ivan melirik jam tangan nya. Waktu telah menunjukan hampir waktu nya makan malam.
"Vir, ini sudah hampir waktunya makan malam. Kamu mau makan apa? Aku pesanin ya" Ujar Ivan memainkan ponselnya untuk memesan makanan melalui aplikasi.
"Terserah kamu aja Van. Aku akan makan apa yang kamu pesan" Ujar Virda.
"Oke sebentar aku pesanin makanan nya" Ivan pun memesan makanan untuk dirinya dan Virda.
"Diy, sudah sampai di rumah?" Pesan Ivan masuk di ponsel nya Diya.
"Belum masih di jalan Van. Sebentar lagi akan sampai kok di rumah" Balas Diya dengan emot tersenyum.
"Nanti jangan lupa kabarin ya" Balas Ivan lagi.
"Iya, nanti aku kabari kok" Balas Diya lagi.
"Ya sudah Vir kamu istirahat saja ya. Aku mau kebelakang untuk membuat teh hangat. Kamu mau?" Tawar Ivan.
"Boleh Van" Jawab Virda.
"Oke sebenar ya" Ujar Ivan kemudian berlalu dari hadapan Virda.
Beberapa menit kemudian, Ivan kembali dengan dua gelas yang berisi teh hangat di tangan nya.
Virda berusaha bangkit dari tempat tidur nya melihat Ivan datang.
"Eh Vir, sebentar, biar ku bantu kamu" Ujar nya menaruh kedua gelas teh itu di atas meja samping tempat tidur.
Ivan membantu Virda untuk duduk di tempat tidur nya. Di susun nya bantal sebagai tempat sandaran Virda duduk.
"Ini teh nya. Awas masih panas" Ujar Ivan memberikan secangkir teh untuk Virda.
"Terima kasih ya Van" Ujar Virda dan meneguk teh tersebut.
Beberapa saat kemudian kurir yang mengantar makanan yang Ivan pesan kini telah sampai di apartemen nya Virda.
Ivan membuka pintu apartemen untuk mengambil makanan yang ia pesan tadi.
Kesempatan itu Virda gunakan. Ia masuk sesuatu bubuk di teh nya Ivan yang bubuk itu memang ia persiapkan untuk menjalankan rencana nya.
__ADS_1
Setelah mengambil makanan, Ivan pun kembali ke kamar mya Virda.
"Ini makan dulu kamu Vir biar cepat sembuh nya" Ujar Ivan lagi membuka makanan yang ia pesan tadi.
"Van, boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Virda.
"Apa?" Tanya Ivan menatap serius.
"Boleh aku meminta kamu suapin aku makan?" Pinta Virda.
"Aku mohon Van.. Kepala ku masih pusing. Tubuh ku merasa lemas semua. Mau ya bantuin aku makan?" Tanya Virda mencoba merayu.
Lagi-lagi Ivan menghela napas berat nya.
"Boleh ya Van, aku mohon" Ujar Virda memohon.
"Ya sudah aku suapin kamu makan ya. Tapi kamu harus janji jika aku suapin bubur ini harus habis" Ujar Ivan membuat kesepakatan.
"Oke Van aku akan memakan buburnya sampai habis" Balas Virda tersenyum senang.
"Van aku sudah sampai di rumah" Pesan dari Diya masuk ke ponsel nya Ivan.
Ivan mengambil ponsel nya dan membaca isi pesan itu.
"Syukurlah. Sekarang kamu mandi dan istirahat ya sayang" Balas Ivan dengan emod love.
"Iya. Kamu jangan lupa makan ya" Balas Diya dengan emod tersenyum.
Ivan membalas dengan stiker Oke.
"Van, kata nya mau menyuapi ku. Malah sibuk dengan ponsel nya" Protes Virda yang memang dari tadi menunggu suapan dari tangan Ivan.
"Iya, maaf ya Vir hanya ingin memastikan Diya sampai rumah dengan selamat" Ujar Ivan tersenyum.
"Aduh Van, Diya kan pulang nya dengan pak Udin. Orang kepercayaan kamu. Pasti selamat lah sampai nya" Jawab Virda dengan ketus.
"Hanya memastikan Vir. Kenapa kamu yang marah begitu? Apa ada yang salah?" Tanya Ivan mulai merasa tidak enak dengan sikap nya Virda ketus begitu.
"Gak Van bukan begitu. Kamu seperti tidak percaya saja sama pak Udin. Ya sudah jangan di bahas lagi. Aku lapar Van suapin aku sekarang" Pinta Virda mengubah topik pembicaraan agar Ivan tidak merasa risih kepada nya.
Ivan menghela napas berat. Kemudian Ivan menyendok sesuap bubur untuk di sodorkan ke mulut nya Virda.
Virda makan dengan lahap nya tidak lupa ia mengambil foto Ivan yang sedang menyuapi nya makan itu.
"Kenapa malah main ponsel sih Vir? Katanya sakit. ayo tarok lagi ponsel nya" Ujar Ivan tidak sadar bahwa Virda telah memotret nya.
"Iya Van. Aku hanya mengecek beberapa email kerajaan" Balas Virda dengan berbohong.
Ivan terus menyuap bubur ke mulut nya Virda sampai habis.
"Ini suapan terakhir ya" Ujar Ivan.
"Terima kasih ya Van sudah mau menyuapi ku makan" Ujar Virda dengan tersenyum manis.
Iya sama-sama.
"Aku kebelakang dulu ya mau makan di luar saja" Ujar Ivan bangkit dari tempat duduk nya. Tidak lupa ia membawa makanan untuk nya dan secangkir teh tadi.
Ivan duduk di meja makan dan menikmati makanan nya sampai habis. Kemudian ia meneguk teh tadi sampai habis juga.
Beberapa saat kemudian, mata Ivan terasa berat. Ia mengantuk karena bubuk yang di masukan Virda di dalam teh nya adalah obat tidur.
Ivan berbaring di sofa ruang tamu. Tak sadar ia pun terlelap.
Virda memperhatikan gerak gerik Ivan dari balik kamar tidur nya.
Gadis itu lagi-lagi tersenyum puas melihat Ivan yang kini terlelap di sofa apartemen nya.
"Bagus, sekarang kamu sudah tertidur Van. Dengan begitu kamu telah mengingkari janji kepada Diya. Yah janji nya tidak tidur di sini. Malah kamu nginap di sini" Ujar Virda lagi mengukir senyuman kemenangan di bibir nya.
Virda mendekati Ivan yang tertidur lelap.
__ADS_1
"Van, aku sungguh mencintai mu. Apa pun sanggup aku korban kan untuk mu. Rasa ini dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah untuk mu Van" Ujar Virda mengelus lembut pipi lelaki pujaan nya itu.
"Tapi mengapa kamu tidak pernah melihat cinta ku? Kenapa kamu tidak membalas cinta ku? Aku sedih Van cinta ku bertepuk sebelah tangan. Maaf kan aku jika aku telah melakukan hal ini. Aku tidak sudi ada gadis lain yang bisa memiliki kamu Van. Kamu hanya untuk aku" Tambah nya lagi kini Virda mengecup lembut kening lelaki itu.
Saat kecupan di kening nya Ivan, Virda lagi-lagi memotret dirinya dan Ivan. Kemudian tangan Virda menggenggam tangan nya Ivan membuat mereka seolah-olah saling menggenggam dan tentu saja itu di abadikan oleh Virda.
Lagi-lagi Virda tersenyum puas melihat hasil fotonya.
Oke, sekarang kita kirim foto yang pertama ke Diya. Foto dimana Ivan menyuapi ku makan. Caption nya "Terima kasih karena selalu perhatian kepada ku seperti dulu" Tulisan itu langsung Virda kirim ke ponsel nya Diya.
Notifikasi ponsel nya Diya berbunyi. Pesan dari Virda kini mulus masuk ke ponsel nya.
"Nomor siapa ini? Pakai acara kirim-kirim gambar segala" Ujar Diya membuka isi pesan ponsel nya. Yah Diya memang tidak menyimpan nomor nya Virda. Karena selama ini mereka memang tidak pernah saling berkomunikasi.
Mata Diya membulat melihat foto yang di kirim oleh Virda. Matanya mulai terasa panas. Hati nya kini nyilu karena foto itu.
"Ivan? Kamu?......Gak, gak. Aku gak boleh berpikir yang bukan- bukan. Ivan melakukan ini karena Virda sahabat nya yang dia sudah anggap seperti adik nya sendiri. Aku gak boleh seperti ini. Aku harus berpikir positif" Ujar Diya sendiri pada dirinya yang saat itu Diya berada di kamar nya.
"Tunggu, tunggu, ini pasti nomor nya Virda. Terus mengapa dia mengirim ku foto seperti ini? Apa dia mau membuat ku cemburu atas perhatian nya Ivan kepada nya?" Ujar Diya lagi mulai berpikir.
"Ah sudah lah aku gak boleh berpikir yang bukan-bukan" Diya menaruh kembali ponselnya di atas meja samping tempat tidur.
"Lebih baik aku makan dulu. Ibu dan Yuli pasti sudah menunggu ku" Ujar nya lagi bangkit dari tempat duduk nya dan pergi menuju dapur.
Diya, Yuli, dan Mirna duduk di ruang keluarga menikmati acara televisi sebagai hiburan mereka malam ini. Saling bercanda dan bercerita mereka di sana. Hingga Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Buk, Yul, sudah jam sepuluh aku ke kamar dulu ya, sudah ngantuk juga" Ujar Diya bangkit dari duduk nya dan pergi ke kamar nya.
Ternyata Virda mengirimkan foto lagi kepada Diya. Kini foto itu terlihat bahwa Virda mencium mesra kening Ivan dengan mesra nya.
Di foto itu pun tertulis caption "Lelah sekali diri mu menjaga ku hingga membuat mu tertidur pulas seperti ini" Terlihat emod love pada akhir teks nya.
"Ini maksud Virda apa? Kenapa dia mengirimkan foto-foto ini kepada ku? Apa dia ingin aku cemburu?" Tebak Diya lagi.
Meski Virda telah berhasil membuat nya cemburu, namun ia tahan rasa cemburu itu dan tidak membalas pesan yang Virda kirim tadi.
Mata Diya kembali memanas. Diya meneteskan air mata nya membasahi pipi. Yah meski Diya bisa mengatakan Diya baik-baik saja, tapi kini hati nya telah terluka karena rasa cemburu terhadap Ivan.
Meski kejadian itu bukan lah keinginan nya Ivan, namun tetap saja Diya merasakan nyeri di hati nya. Cemburu jelas ada karena kini Diya telah mencintai Ivan.
"Sudah lah, lebih baik aku tidur dan jangan memikirkan hal ini lagi. Virda sengaja melakukan ini agar bisa memanas-manasi ku" Batin Diya. Gadis itu memilih untuk bersiap-siap tidur tidak mau larut dalam kecemburuan yang telah di buat oleh Virda.
Baru saja berbaring, tiba-tiba Diya bangkit duduk kembali di tempat tidur nya.
"Tapi tunggu, jika Virda bermaksud ingin membuat ku cemburu, apa sakit yang ia katakan tadi hanyalah akting agar Ivan bisa perhatian sama dia. Dan membuat rencana kami untuk memboking hotel untuk acara pertunangan dan pernikahan kami batal hari ini?" Kata Diya pelan berbicara pada diri nya sendiri.
Gadis itu tampak berpikir keras dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang kini muncul di otak nya.
"Pantas saja dari tadi aku merasakan hal yang janggal. Hati ku terasa gelisah seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Ternyata ini dia. Ivan telah di jebak sama Virda" Ujar Diya lagi.
"Tidak aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak boleh diam saja. Ivan harus tahu tentang kebohongan nya Virda" Ujar Diya lagi
Diya mencari nomor kontak Ivan di ponsel nya. Suara nada tersambung berbunyi namun tidak di angkat.
"Ayo dong Van. angkat" Ujar nya gelisah.
Diya melakukan panggilan ulang kepada Ivan.
"Hallo Diy, Ivan nya sedang tidur. Sepertinya dia kelelahan kerena telah menjaga ku dengan baik. Lebih baik kamu biarkan saja dia beristirahat bersama ku malam ini ya" Jawab Virda langsung mematikan ponsel nya Ivan.
"Virda? Apa yang Virda lakukan sama Ivan kenapa dia yang mengangkat ponsel nya Ivan?" Diya benar-benar gelisah malam itu.
"Aku harus ke apartemen nya Virda. Aku gak bisa biarin ini terjadi" Ujar Diya bangkit dari tempat tidur nya beranjak keluar dan memesan taksi online.
"Diy, kamu mau kemana?" Tanya Yuli yang kebetulan lewat untuk membuang air kecil.
"Yul, jika ibu tanya bilang saja aku keluar sebentar ya. Ya alasan apa kek gitu. Aku harus pergi ke apartemen nya Virda. Aku harus menyelamatkan Ivan. Tapi kamu jangan memberi tahu ibu sebenarnya ya. Kamu bilang aja aku kemana kek gitu" Ujar Diya dengan cemas nya.
"Emang kenapa? Ivan kenapa?" Tanya Yuli yang ikutan panik.
"Nanti saja aku ceritain. gak ada waktu untuk menceritakan nya sekarang. Tolong ya Yul. Makasih ya Yul" Ujar Diya langsung berlari keluar rumah tampa menunggu respon dari Yuli yang memang sangat bingung saat itu.
__ADS_1