Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Surat panggilan kerja


__ADS_3

"Yah....Baik-baik saja. Malahan aku di pindah tugaskan di tempat lain"


"Kenapa?" Tanya Diya tidak jadi membaca surat yang ada di tangan nya. Perhatian nya tertuju kepada sahabatnya yang sedikit kecewa.


"Yah...Karena aku sudah menjadi seketaris bos ku sekarang"


"Benarkah?" Ujar Diya senang.


"Selamat ya" Ucap nya lagi seraya memeluk sahabatnya itu.


"Tapi kenapa kamu kelihatan sedih? Bukan kah itu suatu berita gembira" Tanya Diya sedikit heran.


"Gimana gak sedih, aku akan berjahuan dengan Anto pacar ku. Bukan kah aku pernah menceritakan nya kepada mu?"


"Oh...Itu...Iya... Kasihan kamu" Ucapnya matanya langsung tertuju pada isi surat itu.


"Surat panggilan kerjaan?" Tanya Diya mengerut kening nya.


"Perasaan aku tidak pernah melamar pekerjaan dimana pun...Kok..." Katanya lagi heran.


"Iya...Kenapa? Kaget?"

__ADS_1


"Tapi, aku gak pernah melamar pekerjaan dimanapun. Kok tiba-tiba...."


"Ibu yang menyuruh Yuli melamar pekerjaan untuk mu Diy" Sela ibunya mendengar percakapan kedua sahabat itu sejak dari tadi.


"Ibu?" Gumam Diya kaget dan merasa heran kok tiba-tiba ibunya menyuruh Yuli melamar pekerjaan untuknya.


"Tapi kenapa bu?" Tanya nya.


Marni datang menghampiri anak nya.


"Ibu tidak mau melihat mu melamun dan bersedih setiap hari Diy. Ibu tidak tega melihat mu seperti itu" Jawab nya.


"Tapi kenapa buk? Bukan kah ibu tahu kalau aku gak akan pergi kemana-mana dan meninggalkan desa ini. Dan kenapa ibu tidak memberi tahu ku dulu tentang hal ini" Tegas gadis itu sedikit ketus dan kecewa dengan sikap ibunya yang bertindak sendiri tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.


"Ibu sengaja tidak memberitahu mu tentang hal ini. Karena ibu tahu, kamu pasti tidak akan menyetujuinya" Bela Marni.


Diya kesal sekali dan merasa sedih karena ibunya tidak mengerti perasaan nya saat ini, merasakan betapa pahitnya dimasa penantian.


"Ibu sudah bosan ya melihat ku disini tanpa melakukan pekerjaan apa-apa?" Katanya dengan mata berkaca-kaca. Marni kaget.


"Bukan nak....Bukan itu maksud ibu"

__ADS_1


"Habis kenapa ibu menyuruhku pergi dan berpisah dari ibu?"


"Bukan itu maksud ibu Diya, ibu hanya ingin mengembalikan anak ibu. Diya yang dulu periang, mudah tersenyum, dan selalu membuat orang bahagia. Hanya itu nak, tidak ada maksud lain"


Jawab wanita itu mengusap air mata anaknya.


"Apakah aku berubah buk?" Tanya nya.


"Iya..." Potong Yuli cepat.


"180° kamu berubah total" Sambung nya lagi.


"Dulu kamu tidak cengeng seperti ini Diy. Kamu tegar mengahadapi sesuatu tidak lembek seperti sekarang. Itu semua karena siapa? Karena menatikan seseorang yang sama sekali tidak pernah ingat tentang mu" Ujar Yuli emosi.


Diya diam dan berfikir apa yang dikatakan Yuli tadi.


"Mungkin, apa yang dikatakan Yuli benar" Katanya dalam hati. Kalau kak Ferdi masih mencintainya dan mengigatnya, tentu pemuda itu akan memberi kabar dimana dia sekarang. Tapi....


"Apakah dia benar-benar melupakan aku? Atau dia sudah punya...Ah..." Diya tidak berani membayangkan nya.


"Tujuh tahun Diya....Tujuh tahun bukan lah waktu yang singkat untuk masa penantian. Sadar Diya....Sadar! Sekarang waktunya bangkit dan lupakan masa lalu. Dan sekarang, waktu yang tepat untuk membuktikan kalau kamu tidak selemah dan serapuh yang aku bayangkan" Kata Yuli memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2