Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Cemburu kepada Ivan


__ADS_3

"Asyik...." Virda bersorak kegirangan mendapati Ivan menyetujui keinginan nya. Meski waktu nya masih lama, tapi ia tetap sabar menunggu untuk menantikan hal indah itu terjadi. Dimana dirinya selalu melihat lelaki impian nya.


"Ayo...." Virda merangkul lengan Ivan mengajak nya masuk ke dalam kantor.


"Kemana?" Sahut Ivan.


"Kan tadi aku bilang mau temani kamu kerja dan membantu mu. Lupa?"


"Ayo" Virda menarik lengan Ivan dan Ivan mengikuti nya dengan pasrah.


Diya sedikit merasa keanehan di hati saat melihat Ivan dan Virda masuk ke dalam ruangan Ivan. Virda merangkul lengan Ivan sangat mesra. Hati Diya merasa sakit dan perih saat melihat kejadian itu. Mereka tampak akrab sekali. Entah apa yang mereka bicarakan sampai pada akhirnya Ivan mengabaikan keberadaan Diya yang berdiri tak jauh dari ruangan nya.


Seperti di abaikan itu lah yang di rasakan Diya. Iya tentu saja merasa kehilangan secara, selama ini Ivan selalu ada untuk nya dan mengutamakan dirinya dari apa pun. Namun, karena kedatangan Virda membuatnya berubah.


"Tidak, apakah aku sedang cemburu? Apa benar aku sedang cemburu?" Tanya nya dalam hati. Jelas saja itu adalah perasaan cemburu. Walau bagaimana pun Ivan sudah berhasil mengisi hatinya saat ini.


"Aduh Diy, kamu tidak berhak seperti ini. Kamu tidak harus nya begini. Ivan bukan siapa-siapa kamu. Kamu sendiri yang belum bisa memberikan kepastian atas perasaan mu kepadanya. Jadi untuk itu dia berhak untuk dekat dengan siapa pun dan gadis mana pun" Ucap nya pelan seakan berkata pada dirinya sendiri.


"Sudah lah, lebih baik aku melanjutkan pekerjaan ku" Ucap nya lagi pada akhirnya. Diya pergi menuju meja kerja nya dan melanjutkan pekerjaan nya.


***


"Silahkan duduk Vir"


"Oke terima kasih" Ucap Virda duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


Ivan pergi menuju meja kerja nya.


"Van, tidak bisakah kamu menemani ku sebentar?"


"Vir, pekerjaan ku masih banyak. Aku harus menyelesaikan nya secepat mungkin. Ada proyek yang harus clear dalam minggu ini"


"Ya sudah mana? Sini aku bantu? Apa yang harus aku bantu?" Ucap Virda menuju meja kerja Ivan dan duduk di sana. Membuka dan mengaktifkan layar laptop yang tergeletak manja di meja kerja Ivan.


"A.....Hmmm" Itu lah yang berhasil mulus keluar dari mulut Ivan. Mau di cegah salah takut Virda yang tersinggung. Tapi jika di biarkan sejujurnya Ivan merasa risih bila kerja nya di ganggu. Mau tak mau Ivan pasta dan menuruti kemauan sahabat Indobel nya itu. Bukan nya dia hanya sebentar ada di sini dan besok sudah harus pulang. Pikir nya.


Ivan memberikan beberapa kertas dokumen kepada Virda untuk di salin data nya ke dalam laptop milik nya.


"Ini, tolong kamu salin datang yang ini. Angka-angka ini kamu letak kan di sebelah sini dan keterangan nya kamu letak kan di sebelah sini. Nanti kamu carikan hasil rata-rata nya jika sudah selesai. Ucap Ivan menunjuk kertas dokumen itu dan beralih menunjuk laptop agar Virda mengerti.


"Oke, ini gampang" Seru Virda.


Virda meregangkan kedua tangan nya. Dan kepalanya di putar-putar seperti orang sedang melakukan pemanasan saat akan melakukan olahraga.


Ia pun mulai bekerja. Ivan berdiri di samping nya dan mengawasi pekerjaan nya. Bila ada pertanyaan ia langsung bertanya kepada Ivan dan Ivan akan menjelaskan nya.


Melihat Virda bekerja, Ivan pun beralih duduk di depan Virda. Di mana kursi itu di khusus kan untuk para tamu yang datang dan langsung dokumen lain yang harus ia tanda tangani.


***


Sudah dua jam. Ivan dan Virda tidak kunjung keluar dari ruangan nya. Berkali-kali Diya melihat pintu ruangan Ivan namun tiada seorang pun yang membuka pintu dari dalam untuk keluar. Perasaan Diya mulai aneh, seketika ia merasa sedikit perih di hati.


"Aduh, mereka ngapain sih di dalam sana? Berduaan lagi. Udah dua jam mereka di dalam tidak keluar-keluar. Sedang apa sih mereka" Ucap Diya dalam hati gelisah.


Diya memegang ponsel nya bermaksud ingin menghubungi Ivan dan bertanya sedang apa di dalam sana. Diya mencari nomor kontak Ivan. Dan ingin menghubunginya, setelah di pikir-pikir, ia mengurungkan niatnya dan menaruh kembali ponsel nya di atas meja kerja nya.


"Aduh, ngapain juga aku harus kepo tentang mereka. Nanti jika aku menghubungi Ivan kelihatan dong cemburunya. Ah, malu dong. Mau di tarok di mana muka ku?" Ucap nya pelan kepada dirinya sendiri.


"Lagian aku tidak punya hak apa pun untuk tahu tentang apa yang mereka lakukan di dalam"


"Aduh hati dan perasaan tolong kalian harus kerja sama dengan ku ya. Tenang, tenang dan tenang" Ucap Diya masih dengan posisi duduk di meja kerja nya dan menarik napas dan di hembuskan pelan-pelan dengan kedua tangan nya ikut naik dan turun agar bisa tenang hal itu di lakukan nya beberapa kali.


"Oke lebih baik aku lanjutkan pekerjaan ku" Ucap nya kembali menghadap laptop dan mulai bekerja.


Baru dua kali mengetik kembali pikiran tentan Ivan dan Virda datang dalam benak nya.


"Ah....." Rengek Diya sendiri.


"Kenapa sih masih memikirkan mereka?" Ucap nya frustasi.


"Aduh...." Diya mengusap-usap kasar wajahnya.


Kembali ia menyambar ponsel nya dan bermaksud ingin menghubungi Ivan.


"Aduh tidak harus dong aku menghubungi dia. Ingat Diya, kamu dan dia tidak ada hubungan apa pun. Buang rasa cemburu mu jauh-jauh" Ucap Diya kembali meletakkan ponsel nya ke atas meja yang masih aktif dan tertera nomor Ivan di sana. Tampa sengaja nomor itu terpencet saat Diya meletakan ponsel nya dan langsung menghubungi Ivan.


Nada tersambung terdengar samar-samar di telinga Diya.


"Siapa sih yang menelepon kuat banget speakernya?" Ucap Diya dengan nada yang kesal tampa mengetahui bahwa dia lah yang telang melakukan itu.


Ivan menghentikan kegiatan nya.


"Diya?" Katanya dalam hati tersenyum bila mengetahui gadis nya menghubungi nya.


"Sebentar ya Vir aku angkat telpon dulu" Ucap Ivan berlalu menuju toilet yang ada di ruangan nya.


"Hallo Diy, ada apa?" Tanya nya mengangkat ponsel nya.


"Eh suara situ seperti Ivan. Apa Ivan ya?" Ucap nya dalam hati.


"Diy, ada apa?" Ulang Ivan saat tidak ada tanggapan dari seberang.


"Apa aku benar-benar sudah gila ya. Masa suara Ivan bisa aku dengar sih? Aduh ada apa sih dengan diriku ini. Melihat Virda dan Ivan kok aku jadi seperti ini" Ucap nya lagi kepada diri nya sendiri.


Ivan mendengarkan apa yang di katakan Diya. Ivan tersenyum senang mendengar hal itu. Sungguh hati nya berbunga-bunga mendapati bahwa Diya sendang cemburu.


"Diy, kenapa kamu menelepon?" Tanya Ivan lagi.


"Ha menelepon?" Sahut Diya kaget dan melihat di ponselnya. Benar saja ia sedang menghubungi Ivan lewat via telpon.


Diya salah tingkah. Hal itu benar-benar tidak sengaja ia lakukan dan terpencet nomor Ivan sehingga menghubungi nya. Sungguh otak nya somplak saat itu mendapati sedang memikirkan Virda dan Ivan.


"Eh, iya Van. Maaf aku terpencet tadi" Ucap Diya salah tingkah.


"Aduh, Ivan dengar gak ya apa yang aku katakan tadi?" Batin nya.


"Bilang saja kamu cemburu" Ivan menebak.


"Cemburu? Kenapa? Gak kok" Elak Diya masih dengan salah tingkah nya.


"Benar gak cemburu? Terus ngapai kamu menghubungi ku?"

__ADS_1


"Hmm....itu....hmmm anu" Diya mencari alasan.


"Apa? Tiada alasan lain selain cemburu bukan?"


"Enggak bukan itu. Hmm Nanti jam 10.00 Wib ada meeting dengan klien dari surabaya" Ucap Diya mencari alasan dan membolak-balik buku catatan jadwal kegiatan Ivan di buku nya.


"Untung hari ini ada meeting jadi aku bisa mencari alasan untuk itu. Aduh Diy, ceroboh sekali kamu" Batin nya.


"Kenapa tidak langsung keruangan ku saja untuk mengatakan itu?"


"Hmm...anu, aku gak enak ke ruangan mu. Takut mengganggu mu dan Virda" Sahut nya pelan seakan berbicara pada dirinya sendiri.


"Aduh Diy, kamu kan sekretaris ku. Ngapai juga harus merasa gak enak seperti itu"


Diya hanya menyengir tidak tahu harus berkata apa. Diri nya merasa sangat ceroboh karena tertangkap basah telah cemburu kepada Ivan.


"Ya sudah sekarang hampir pukul 10.00 Wib aku akan siap-siap untuk ke tempat meeting. Terima kasih ya sudah mengingatkan ku. Aku lupa tadi" Ucap Ivan.


"Ya sama-sama" Ucap Diya mematikan ponsel nya.


"Aduh.....ceroboh, ceroboh, ceroboh, ceroboh...." Maki nya memukul pelan kepala nya yang somplak itu.


"Untung saja ada alasan untuk menutupi rasa cemburu ini. Kalau tidak, mau tarok dimana muka aku" Ucap nya lagi.


"Vir, aku mau keluar ada meeting di luar. Kamu mau tetap di sini atau gimana?"


"Aku tinggal di sini aja deh Van. Nanggung tinggal dikit lagi ini kerja ku" Kata Virda sibuk dengan kerja nya sedari tadi.


"Tidak apa-apa ni aku tinggal. Aku merasa tidak enak lo sama kamu Vir. Seharusnya kamu libur kan hari ini. Jadi ikut-ikutan kerja karena ku"


"Gak apa-apa. Kan aku yang mau bukan kamu yang memaksa ku" Jawab Virda.


"Ya sudah aku pergi sebentar ya. Nanti setelah selesai meeting, aku belikan makanan untuk kita makan di kantor bagaimana?" Tawar Ivan.


"Oke deh aku setuju" Ucap Virda.


Virda memang sangat profesional dalam bekerja. Terbukti saat ini ketika sedang membantu Ivan. Dirinya lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Orang yang bertanggung jawab dalam bekerja itulah Virda.


Iva berlalu meninggalkan Virda yang masih sibuk dengan kerja nya.


"Diy, ayo kita berangkat" Ajak Ivan saat dirinya sudah sampai di meja kerja Diya.


"Virda gak ikut?" Tanya Diya melihat Virda tidak mengekori Ivan.


"Enggak, nanti kamu cemburu jika dia ikut" Goda Ivan.


"Siapa yang cemburu? Aku gak cemburu kok" Elak Diya dengan salah tingkah.


"Yakin?"


"Hm....Yakin lah" Ucap Diya tidak berani menatap mata Ivan takut ketahuan bahwa dirinya sedang berbohong.


Ivan tersenyum melihat tingkah gadis di hadapan nya.


"Ya sudah ayo kita pergi" Ucap Ivan.


"Ayo" Ucap Diya mengikuti Ivan dari belakang.


***


"Iya, gak apa-apa kok"


"Nanti kamu makan bareng sama kita ya"


"Gak apa-apa ni?" Diya kurang yakin.


Ivan tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Diya sedikit heran.


"Kamu kenapa sih Diy? Emangnya sejak kapan aku gak bolehin kamu makan bareng bersama ku" Ivan mengulum senyum nya.


"Ya kan ada Virda. Aku jadi gak enak takut mengganggu"


"Gak kok Diy, gak ganggu kok kamu. Virda cuma sebentar kok di sini. Besok juga dia akan pulang. Jadi aku yah mau tidak mau aku harus menemaninya. Gak enak jika aku tolak dia kan hanya sesekali ke sini. Kasihan kan jauh-jauh datang tapi tidak di sambut kedatangan nya" Jelas Ivan.


"Benar juga sih apa yang di katakan Ivan. Virda jauh-jauh datang tidak mungkin kedatangan nya tidak di sambut. Secara hanya Ivan yang ia kenal di sini" Batin Diya.


"Van, lebih baik aku makan siang nya di meja ku saja nanti. Kan kamu sendiri yang bilang jika Virda datang sesekali di sini. Gak enak jika aku mengganggu kalian. Dia ke sini untuk mu. Menghabiskan waktu bersama mu" Dapat di baca oleh Ivan bahwa Diya merelakan mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Namun ada rasa cemburu di hati gadis itu. Tapi ia lebih memilih untuk memberi waktu kedua sahabat itu untuk menghabiskan waktu berdua.


Diya tidak mau egois hanya memikirkan perasaan nya saja ketimbang Virda. Pasti Virda akan sangat kecewa jika dirinya ikut bersama mereka.


"Nanti kamu cemburu" Lagi-lagi Ivan menggoda.


"Apa sih? Enggak ha. Aku gak cemburu"


"Bener? Jangan bohong Diy. Bisa ku baca dari mata mu hati mu sedang bergemuruh" Tebak Ivan memang benar adanya.


Diya hanya diam menunduk kehabisan ngeles nya. Entah bagaimana lagi harus ia mengelak tentang perasaan nya itu.


"Oh ya, nanti malam aku mau keluar bersama Virda. Yah sekedar bawa nya jalan-jalan keliling kota sebelum ia pulang. Apa tidak apa-apa?" Tanya Ivan sedikit tidak enak hati.


"Maaf kan aku ya Diy, jika ini membuat mu tersakiti. Karena itu aku meminta izin dari mu jika kamu mengizinkan aku akan pergi. Jika tidak yah aku tidak akan pergi" Kata Ivan.


"Kenapa kamu meminta izin dari ku. Toh kita tida ada hubungan khusus bukan?"


"Meski hubungan kita belum resmi, tapi kita memiliki perasaan yang sama bukan?" Kata Ivan dengan tatapan yang bila gadis melihat tatapan itu pasti merasa deg-degan. Begitu pun dengan Diya.


"Ya ampun tatapan itu lagi. Aduh jantung ku kembali bereaksi" Ivan memalingkan pandangan nya. Malu saat di tatap oleh laki-laki di samping nya itu.


"Aku gak masalah jika kamu pergi bersama nya. Kan kamu sendiri yang bilang tidak enak untuk menolaknya. Kamu dan dia sudah berteman lama. Dan disini hanya kamu yang dia kenal. Aku gak apa-apa kok" Jawab Diya yakin.


"Ini hubungan seperti apa sih? Di katakan kami pacaran bukan. Secara kami belum meresmikan hubungan ini. Meski Ivan selalu mengungkap kan perasaan nya kepada ku, tapi aku belum memberikan jawaban untuk nya. Jika kami di katakan bukan pacaran, tapi perilaku Ivan kepada ku selayaknya aku ini pacarnya. Terbukti saat ini dia meminta izin dengan ku. Aku jadi bingung sendiri" Ucap Diya dalam hati.


"Benar kamu tidak mempermasalahkan nya" Lagi-lagi Ivan bertanya kurang yakin dengan pernyataan Diya.


Gadis itu mengangguk membenarkan.


Mobil berhenti di sebuah parkiran restoran cukup terkenal di kota itu.


"Ayo kita masuk" Ajak Ivan.

__ADS_1


"Aku tunggu di sini saja ya Van. Gak apa-apa kan?"


"Oh gak apa-apa. Kamu mau pesan makanan apa?"


"Terserah kamu saja. Di samain juga dengan makanan kalian gak masalah" Ucap Diya.


"Baik lah, tunggu sebentar ya" Ivan keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu.


Tak begitu lama, Ivan keluar dari restoran itu dengan membawa beberapa tentengan makanan di tangan nya.


"Ayo jalan pak" Ucap Ivan setelah dirinya masuk ke dalam mobil nya. Mobil Ivan melaju membelah jalan raya di kota itu.


***


"Lama menunggu?" Tanya Ivan melihat Virda duduk santai di sofa yang berasa di ruangan nya dan menghirup secangkir teh hangat yang di minta nya dari OB di kantor itu.


"Gak kok. Aku baru saja selesai mengerjakan pekerjaan mu" Jawab Virda.


"Oh sudah selesai?" Tanya Ivan.


"Sudah, periksa dulu sana. Mana tahu ada yang salah" Ucap Virda.


"Sebentar aku periksa dulu ya" Ucap Ivan meletakan tentangan makanan yang di pesan nya tadi ke atas meja tempat sofa itu berada.


"Bagus kok, semua nya benar. Kamu benar-benar hebat ya" Puji Ivan membuat Virda tersipu malu.


"Ha, biasa saja kok Van"


"Bener lo Vir. Baru sekali aku menjelaskan kamu sudah ngerti. Tidak salah jika perusahaan luar negeri begitu membutuhkan mu"


Virda tersenyum bangga dengan hasil nya. Ternyata Ivan sangat senang dengan hasil kerjanya.


"Ya sudah kita makan dulu ya. Itu sudah ku bawa makanan kesukaan mu"


"Spaghetti. Kamu memang selalu ingat tentang ala yang aku suka Van. Terima kasih ya" Ucap Virda setelah membuka makanan itu.


"Iya sama-sama. Silahkan di makan"


"Kamu gak makan?" Tanya Virda.


"Sebentar lagi. Kamu duluan saja ada sedikit dokumen yang harus aku tanda tangani" Ucap Ivan sibuk dengan beberapa berkas dokumen di meja kerjanya.


"Ayo kita makan sama-sama Van. Kamu bilang mau makan bersama. Jika aku sendiri yang makan, bukan makan bersama dong jadinya." Ucap Virda sedikit cemberut.


"Tapi Vir....."


"Jika kamu tidak makan, aku juga tidak makan ah" Virda cemberut seperti anak kecil yang ngambek.


"Iya, iya. Ayo kita makan" Ivan mengalah pergi ke sofa tempat dimana Virda berada.


Mereka sama-sama menyantap makan siang mereka masing-masing.


"Diya, sudah makan kah dia?" Batin Ivan memikirkan gadis yang sedang cemburu di luar ruangan nya.


"Diy, sudah makan?" Tanya Ivan melalui chat WhatsApp nya.


"Sudah" Balas Diya dengan mengirim foto nya yang sedang menikmati makan siang nya.


Ivan tersenyum melihat foto gadis itu.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri" Tanya Virda sedikit heran dengan Ivan.


"Gak. Bukan apa-apa" Ucap Ivan memasukan kembali ponsel di saku nya.


"Ya ampun Vir, kamu ini seperti anak kecil saja. Masa makan nya belepotan seperti itu sih" Ucap Ivan melihat ada noda makanan di bibir gadis indobel itu.


"Hmm....Mana?" Ucap Virda pura-pura tidak bisa menghapus noda itu berharap Ivan yang menghapus noda di bibirnya.


Benar saja harapan Virda menjadi kenyataan. Ivan mengambil selembar tisu di meja nya dan menghapus noda makanan di bibir gadis yang ada di depan nya. Virda memegang tangan lelaki pujaan nya.


Jantungnya berdebar kencang seperti sedang berlari keliling kota Pekanbaru itu. Virda menatap lekat dan penuh cinta dengan laki-laki di hadapan nya itu.


"Van, aku sungguh mencintai mu. Aku ingin memiliki mu. Apa pun akan aku lakukan untuk mu. Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini saat aku bersama mu. Menghabiskan waktu bersama mu adalah hal yang paling terindah dalam hidup ku" Batin Virda.


"Aku tahu kamu mengetahui perasaan ku. Aku juga tidak ingin memaksa mu untuk menerima ku. Jika kau memaksa mu, pasti hubungan persahabatan kita akan terganggu. Dan kamu pasti menghindar dari ku. Tidak, aku tidak mau itu terjadi. Aku akan berusaha untuk mengambil hati mu Van. Aku akan berusaha membuatmu juga mencintai ku. Aku harus bersabar. Jika pekerjaan mu sudah selesai, aku akan ke sini bersama mu. Menghabiskan waktu berdua setiap saat" Batin Virda.


"Sudah bersih tuh, makan nya pelan-pelan agar tidak belepotan kaya tadi" Canda Ivan.


Virda tersenyum malu.


"Van, nanti setelah pulang kerja, aku ikut kamu ya kerumah. Udah lama gak bertemu dengan tante Ajeng dan pak Herman. Aku kangen sama mereka. Boleh ya" Rengek Virda.


"Oh ya, aku boleh juga ya menginap di rumah mu untuk malam ini aja. Boleh ya Van.....Please" Ucap Virda memohon.


"Aduh, gimana ya" Ivan tambak berpikir. Saat ini ia berada di situasi yang serba salah. Entah apa yang harus ia lakukan. Jika menolak takut Virda tersinggung. Jika mengikuti keinginan Virda takut juga Diya akan salah mengerti nanti. Toh saat ini Ivan harus menjaga hati dan perasaan gadis yang selalu di impikan nya itu.


Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo lah Van. Aku gak lama lo di sini. Cuma semalam kok aku tidur di rumah mu. Boleh ya" Lagi-lagi Virda berkata dengan nada memohon.


Ivan menghirup napas dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat.. Sungguh dalam situasi ini dia bingung harus berbuat apa.


"Ya sudah boleh" Akhirnya Ivan lagi-lagi mengalah.


"Terima kasih ya Van. Kamu memang sahabat yang paling baik dan mengerti aku" Ucap Virda memeluk Ivan dengan bahagia.


"Ya sama-sama. Habis kan makanan mu" Perintah Ivan.


Ivan mengerut kening nya saat ponsel nya berdering.


"Ferdi?" Katanya dalam hati.


"Ada apa ya? Apa dia sudah sembuh? Apa dia sudah mengingat semua nya?" Satu persatu pertanyaan mulai berdatangan di otak Ivan.


"Hallo Fer, ada apa? Apa kamu sudah sembuh?" Tanya Ivan mengangkat ponselnya


"Aku baik-baik saja. Van aku mau meminta tolong kepada mu. Apa kamu bisa membantu ku?" Ucap Ferdi.


Degg.....


Jantung Ivan mulai merasa bergemuruh. Perasaan nya mulai terasa tidak enak.

__ADS_1


__ADS_2