
Ivan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Pemuda itu benar-benar tidak mengerti dengan sikap Diya tadi siang membuat dirinya tidak habis fikir. Pemuda itu mendesah berat, untuk menghilangkan kegelisahan dihatinya.
"Aakah aku salah ngomong? Atau...Ah..." Ivan mengucek rambutnya yang tidak gatal. Seraya bangkit dari rebahan nya dan duduk di pinggir kasur.
"Siapa nama gadis itu?" Tegur seseorang membuyarkan lamunannya.
"Diya" Ivan sadar.
"Gadis? Gadis yang mana ma?" Tanya pemuda itu bila tahu siapa yang menegurnya tadi. Ratna yah mama Ivan yang sejak tadi memperhatikannya.
"Yang membuat kamu gelisah" Ivan tersenyum.
"Gak ada siapa-siapa ma" Jawabnya bersikap tenang dihadapan mamanya. Walaupun Ivan tahu ia butuh seseorang untuk berbagi cerita suka maupun duka. Apalagi otak nya benar-benar mumet memikirkan gadis misterius itu. (Emang nya hantu?)
Ratna tersenyum dan duduk di samping anaknya. Ia tahu betul sikap anaknya jika ada masalah ia akan menyembunyikan dari nya. Namun akhirnya dia akan menceritakan nya juga. Seperti sekarang ini, meski membutuhkan waktu Ratna sabar menunggu.
"Dimana gadis itu tinggal?" Tanya Ratna setelah beberapa saat terdiam.
"Pakning"
"Alamatnya?"
"Tidak tahu"
"Terus, ketemunya?"
"Disekolah"
"Kamu mencintainya?"
__ADS_1
"Sepenuh hati"
"Diya?"
"Tidak tahu" Ratna mengerut keningnya heran.
"Kamu sudah menyatakannya?"
"Sudah"
"Jawabanya?" Ivan menggeleng.
"Tidak tahu" Ratna tambah heran.
"Kok bisa begitu?"
"Waktu aku menyatakan cinta padanya, Diya tidak memberikan jawaban. Malahan Diya lari meninggalkan ku tanpa memberikan sepatah kata pun" Ivan tampak kecewa. Lagi-lagi Ratna di buat bingung.
"Jadi itu yang membuat kamu kepikiran?" Sambung mamanya simpati. Ivan mengangguk membenarkan. Tidak biasanya Ivan dikecewakan oleh seorang gadis. Malahan, selama ini para gadis-gadis lah yang selalu dibuat kecewa karena tidak mendapat balasan cinta darinya. Ratna ikut berfikir.
"Seperti apa gadis itu hingga ia bisa menolak cinta anaknya" Ratna jadi penasaran.
"Apa yang tidak dimiliki Ivan? Ia tampan, baik, gaya nya macho, modalnya oke, simpati lagi. Terus..."
Ratna ikut menghembuskan nafas panjang.
"Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu harus berusaha untuk mendekatinya dan mencari tahu apa masalahnya"
"Itu tidak mungkin ma"
__ADS_1
"Kenapa"
"Karena besok ia akan pulang ke Pakning"
"Emangnya Diya mau pindah?"
"Bukan mak...Diya anak SMA Pakning, datang berkunjung ke sekolah kami" Jelas Ivan terang-terangan agar mamanya mengerti.
"O....O...." Hanya itu yang keluar dari mulut Ratna. Hening...
"Apa kamu mau menyerah begitu saja?"
"Ya gak lah ma...Mama kan tahu sendiri gimana Ivan. Ivan gak akan menyerah jika menginginkan sesuatu"
"Bagus itu" Sahut Ratna bersemangat.
"Jika kamu sudah bertekad seperti itu, sekarang tunggu apa lagi? Kamu harus bisa mendapatkan cintanya. Mama yakin kamu bisa" Kata Ratna memberi semangat.
"Benar ma?" Yakin Ivan ikut bersemangat. Ratna tersenyum sambil mengangguk.
"Terima kasih ma...Mama adalah yang terbaik dari pada mama-mama yang lain" Puji Ivan berkobar-kobar dan menggenggam tangan mamanya. Ratna tersenyum.
"Aku akan berusaha agar Diya mencintai ku. Aku yakin aku bisa" Gumam pemuda itu berkata seperti pada dirinya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ma" Kata Ivan bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" Tegur Ratna.
"Mau siap-siap. Malam ini ada acara disekolah. Besok pagi mereka mau pulang ke Pakning"
__ADS_1