
Yuli mengkerutkan keningnya saat melihat Ivan bersama gadis cantik blasteran yang mempunyai rambut pirang di salah satu rumah panggung di daerah Rumbai..
"Loh Itu kan bukannya Ivan?. Sama siapa dia? Dan ngapain dia ke sini?" Batin Yuli.
"Sayang hentikan motornya dong! Itu kelihatannya Ivan deh Tapi sama siapa?" Zaki memberhentikan motornya yang tak jauh berada dengan Ivan dan Virda.
"Sayang bener kan itu Ivan?" Tanya Yuli mau minta kepastian kepada Zaki. Apakah penglihatannya benar atau tidak
Zaki melihat ke arah yang ditunjuk oleh Yuli.
"Iya itu sepertinya Ivan. Tapi sama siapa dia di sana dan ngapain.?" Zaki itu penasaran.
"Apa itu Virda ya?" Tebak Yuli.
"Virda? Virda siapa?" Tanya Zaki tidak mengerti.
"Itu lho yang, sahabatnya Ivan sewaktu Ivan sekolah ke luar negeri dulu. Dan dia itu gadis yang nekat melakukan hal apapun demi mendapatkan Ivan. Dia cinta sama Ivan. Hanya saja Ivan menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih dan kalaupun lebih cuma menganggap sebagai seorang adik" Jelas Yuli.
"Kamu tahu dari mana? "Tanya Zaki penasaran.
"Ya ampun Yang.....Aku kan sahabatnya Diya jelaslah aku tahu karena Diya sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kami kan tidak ada rahasia apapun" Jelas Yuli lagi.
"Ooo" Hanya kaya itu yang keluar dari mulut nya Zaki.
"Tapi tampak nya mereka sedang bertengkar. Ada masalah apa ya? Dan tu lihat wajah nya Ivan sangat tidak bersahabat. Apa gadis itu membuat hal nekat lagi?" Batin Yuli.
"Tapi kata Diya, Ivan sudah tidak mau peduli lagi dengan gadis itu. Tapi kenapa mereka masih bertemu seperti ini?" Katanya lagi dalam hati.
Mereka masih memperhatikan gerak gerik nya Ivan dan Virda yang tempak ngobrol dengan sangat serius.
" Yuli itu mereka masuk ke dalam mobil apa kita ikutin aja mereka pergi ke mana" Ujar Zaki saat melihat Ivan dan Virda masuk ke dalam mobil.
"Nggak usah lebih baik kita pulang aja. Lagian mereka memakai mobil Dan kita hanya memakai motor nggak mungkin bisa terkejar dan aku takut nantinya jika Ivan melihatku dia akan berpikir yang bukan-bukan tentang aku" Jelas Yuli.
"Ya udah kalau begitu ayo kita pulang" Ajak Zaki.
Mereka pun melaju dengan sepeda motor milik nya Zaki.
"Ya Allah, apa Ivan berbohong kepada Diya? Dia bilang tidak peduli dengan Virda. Tapi nyatanya mereka masih berhubungan." Yuli tampak berpikir keras.
"Oh ya sayang aku baru ingat rumah tadi yang didatangi oleh Ivan dan cewek itu aku tahu itu tempatnya apa? Itu adalah tempat di mana orang-orang sering melakukan aborsi. Soalnya kemarin aku pernah menemani teman kantorku di mana pacarnya hamil. Dan mereka tidak menginginkan anak itu. Sehingga ya mereka pergi ke tempat itu dan melakukan aborsi" Jelas Zaki baru ingat tempat yang pernah di datangi nya.
"Aborsi? Yang benar kamu yang" Ucap Yuli tak percaya.
"Beneran yang. Ngapai juga aku bohong"
"Jika benar itu tempat aborsi, ngapain mereka pergi ke tempat itu? Apa jangan-jangan Virda mau melakukan aborsi karena dia sedang hamil? Dan anak itu adalah anaknya Ivan karena takut Diya tahu bahwa Ivan telah menghamili Virda, sehingga membuat Ivan meminta Virda untuk menggugurkan kandungannya demi menutupi kesalahannya" Satu persatu prasangka buruk mulai berdatangan di benak nya Yuli.
"Sebaiknya nanti ketika aku sampai di rumah aku akan bertanya kepada Diya. Apa dia tahu kalau Ivan pergi ke tempat itu? Setahuku Diya dan Ivan tidak ada rahasia-rahasiaan. Ivan selalu terbuka kepadanya namun jika Diya tidak mengetahui tentang ini, atau Ivan berbohong ini patut dicurigai" Batin Yuli.
"Yang kok kamu diam" Ujar Zaki.
"Eh, apa sayang?" Yuli kaget.
"Kamu kenapa diam? Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan tentang Ivan tadi?" Tebak Zaki.
"Iya sih, aku memikirkan tentang Ivan tadi. Aku gak habis pikir deh jika Ivan berbohong kepada Diya. Akuu nggak tahu bagaimana perasaan dia nantinya ketika mengetahui semua ini. Padahal Diya sangat percaya kepada Ivan bahwa Ivan tidak mungkin mengkhianatinya" Jelas Yuli kepada Zaki
"Kamu jangan pikiran buruk dulu tentang Ivan. Siapa tahu mereka ada hal penting atau bagaimana yang kita nggak tahu kan. Jadi kamu jangan suudzon dulu kepada Ivan kita kan belum tahu kepastiannya seperti apa" Jelas Zaki.
"Tetap saja Yang. Bukan nya Ivan bilang tidak mau berhubungan dengan gadis itu lagi. Terus kenapa mereka masih bertemu? Ini patut di selidiki" Ujar Yuli.
***
"Van bener ya kamu akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada diriku ini. Aku tidak mau dibohongi sama kamu" Ujar Virda saat mereka berada di dalam mobil.
"Iya" Jawab Ivan singkat.
"Aku harus mencari tahu mengapa bisa Virda hamil. Dan sebenarnya dia hamil dengan siapa. Aku mempunyai waktu selama 3 bulan untuk menyelidiki anak siapa yang Virda kandung." Batin Ivan.
"Pokok nya selama kehamilan ku, kamu harus berada di samping ku ya Van" Ujar Virda.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Ya kamu harus selalu ada untuk ku selayak nya seperti seorang suami"
"Kamu jangan gila ya Vir. Tidak mungkin aku bersama mu selama dua puluh empat jam. Aku juga mempunyai urusan ku sendiri. Terlebih sekarang aku sudah menikah bersama Diya" Ujar Ivan keberatan.
"Kamu tenang aja Van, aku tidak akan mungkin minta waktumu selama dua puluh empat jam. Aku hanya mau ketika aku butuh kamu, kamu harus datang menemui aku dan membantuku" Jelas Virda.
"Kamu harus menjadi Ayah yang siaga dong untuk anak kamu" Tambah nya lagi.
Kembali memijiti di kepalanya yang terasa berat.
Sungguh perkataan Virda yang mengatakan bahwa anak yang ada di dalam kandungan nya itu adalah anak Ivan membuat laki yang sudah berstatus sebagai suami itu merasa muak.
Namun, ia harus tetap sabar demi menyelidiki apa yang terjadi kepada Virda.
***
"Terima kasih ya Van kamu sudah mengantar ku pulang" Ujar Virda saat diri nya telah tiba di apartemen milik nya.
"Hmm" Jawab Ivan dengan suara datarnya.
"Van, kamu gak mau mampir dulu hanya sekedar minum kopi atau teh gitu"
"Gak, aku mau pulang saja Sudah malam juga Diya pasti menunggu ku di rumah"
"Ya sudah, pamitan dulu dong dengan anak nya" Ujar Virda menunjuk perut nya yang masih terlihat datar.
"Pastikan saja dulu dia anak ku atau bukan" Ujar Ivan.
"Kamu masih ragu sama anak mu. Kita bisa kok melakukan tes DNA besok dengan cara Pengambilan Sampel Chorionic Villus (CVS).. Agar kamu percaya kalau aku tidak berbohong"
"Aduh, jika dia melakukan tes DNA nya besok, artinya aku tidak bisa menyelidiki terlalu jauh siapa sebenarnya ayah dari anak yang di kandung. Lagian, ini juga akan berakibat buruk kepada nya dan juga janin yang tidak berdosa ini" Batin Ivan bergejolak.
"Ya sudah aku pulang dulu ya" Dengan terpaksa Ivan berpamitan dengan janin yang ada di dalam perut nya Virda.
"Gitu dong. Dada hati-hati ya calon ayah dari anak ku" Ujar Virda tersenyum manis.
"Akhirnya Ivan akan segera menjadi milik ku. Gak apa-apa saat ini dia cuek dengan ku. Yang penting dia akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada ku" Ujar Virda tersenyum penuh kemenangan.
***
"Hallo" Jawan Ivan saat ponsel nya berdering.
"Van, sekarang kamu di mana? Bagaimana dengan Virda? Sakit apa dia?" Tanya Ajeng terdengar cemas.
"Virda gak apa-apa kok ma, dia hanya masuk angin saja" Ivan berbohong.
"Oh begitu, jadi apa kalian sudah pulang?"
"Aku sudah mengantar nya pulang kok ma. Dan sekarang aku mau pulang ke rumah" Ujar Ivan lagi.
"Ya sudah kamu hati-hati ya" Ajeng menutup ponsel nya.
Kembai Ivan memukul stir mobil nya. Laki-laki itu tampak kesal kenapa dia tidak bisa mengelak dari Virda.
Harus nya dia biarkan saja Virda melakukan tes DNA agar masalah ini cepat selesai. Namun, dia tidak bisa menyelidiki siap sebenarnya ayah dari anak yang Virda kandung.
Karena janjinya kepada papa dan mama Virda membuatnya bertanggung jawab selayak nya abang yang menjaga adik nya. Dia menjadi buah simalakama, Jika dia membiarkan Virda mengugurkan kandungan nya, Maka itu akan membahayakan nyawa nya Virda.
Dan jika terjadi hal buruk kepada Virda, maka dia pasti akan di salahkan. Dan pasti dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Virda.... Kenapa kamu melakukan semua ini kepada ku" Ucap Ivan berkali-kali memukuli stir mobil nya.
***
"Diy, kamu belum tidur?" Tanya Yuli melihat Diya duduk di sofa.
"Belum Yul. Aku masih menunggu Ivan"
"Loh, Ivan masih belum pulang?"
__ADS_1
"Belum, katanya dia pergi ke rumah mama nya"
"Ke rumah mama nya? Tuh kan benar, Ivan berbohong. Padahal ia baru saja bertemu dengan Virda. Dan bisa-bisa nya dia berbohong dengan alasan pergi ke rumah orang tua nya" Batin Yuli.
"Kami kenapa Yul? Kok bengong?"
"Oh enggak, gak ada apa-apa. Ngapain Ivan ke rumah mama nya?" Tanya Yuli kepo.
"Tadi mama nya telfon. Mama bilang tadi siang Virda datang ke rumah nya. Dan seperti nya Virda sedang sakit karena ia terlihat pucat Bahkan dia muntah-muntah. Jadi mama menghubungi Ivan untuk meminta nya membawa Virda ke dokter" Jelas Diya.
"Mama memberitahu ku agar aku tidak salah paham nanti nya dengan Ivan" Tambah nya lagi.
Yuli menarik napas berat nya.
"Virda? Berarti benar tebakan ku bahwa gadis tadi bernama Virda"
"Tapi tunggu-tunggu, Virda pucat? Sakit? Muntah-muntah? Dan tadi mereka berada di tempat aborsi. Berarti benar jika Virda hamil dan tadi mereka bermaksud ingin menyingkirkan bayi yang ada di dalam perut nya Virda" Satu persatu pertanyaan mulai bermunculan di benak nya Yuli.
"Yul, Yuli kamu kenapa sih dari tadi aku perhatikan kamu banyak bengong deh" Tanya Diya.
"Eh gak, hanya kecapean saja kok" Yuli memberi alasan.
"Ya sudah Diy, aku ke kamar dulu ya mau istirahat" Ujar Yuli.
***
Yuli mondar-mandir di depan kasur yang ada di kamarnya. Hati nya terasa gelisah mengetahui bahwa Ivan berbohong kepada Diya. Bukan membawa Virda ke rumah sakit. Mereka malah pergi ke tempat aborsi.
"Ivan, aku gak menyangka kamu setega ini. Kamu tega berbohong dan mempermainkan Diya" Ujar Yuli berkata kepada dirinya sendiri.
"Apa selama ini aku salah menilai Ivan? Aku gang sangat mendukung hubungan Ivan dan Diya. Aku sangat yakin bahwa Ivan bukan seperti laki-laki kebanyakan yang hanya bisa mempermainkan hati dan perasaan wanita. Aku pikir Ivan berbeda. Tapi ternyata sama saja" Ujar Yuli merasa kecewa.
"Apa aku harus memberitahu semua ini kepada Diya? Bahwa Ivan dan Virda tadi tidak pergi ke dokter melainkan mereka pergi ke tempat aborsi. Diya pasti akan merasakan kekecewaan yang kedua kalinya. Aku tidak bisa membayangkan betapa Hancurnya hati Diya. Dulu Diya ditinggal menikah oleh Ferdi sekarang Diya di khiyanati oleh suaminya sendiri. Oh tuhan.... Kenapa Diya selalu di perlakukan seperti ini oleh laki-laki? Apa Diya tidak berhak untuk bahagia?" Batin Yuli.
"Lebih baik aku akan bicarakan hal ini kepadanya" Ujar Yuli lagi.
***
"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Ivan saat melihat Diya masih menunggu nya pulang.
"Belum, aku masih menunggu mu pulang. Entah mengapa firasat ku tidak enak hari ini. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu" Ujar Diya tersenyum manis menyambut kepulangan suami nya.
"Oh ya bagaimana keadaan Virda?" Tanya Diya.
Deg....
Ivan kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Diya.
"Bagaimana mungkin Diya tahu aku bersama Virda. Padahal aku sama sekali tidak memberitahunya sama sekali" Batin Ivan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Tadi mama mengubungi ku dia bilang kalau Virda sakit. Maka nya mama meminta mu untuk membawa Virda ke dokter" Jelas Diya.
"Virda hanya masuk angin biasa kok Diy, Dda baik-baik saja. Besok juga pasti dia sembuh" Ujar Ivan berbohong.
"Oh begitu, Syukurlah. Oh ya kamu sudah makan?"
"Belum. Aku belum makan"
"Ya sudah sekarang kamu bersih-bersih dulu setelah itu makan malam ya. Aku siapkan makanan nya dulu" Ujar Diya.
Ivan mengangguk setuju. Ivan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Van, entah mengapa hati ini merasa ada yang janggal. Apa yang kamu sembunyi kan dari ku? Hati ini merasa bimbang Van" Batin Diya melihat punggung suaminya yang semakin jauh dari pandangan nya.
***
"Maaf kan aku Diy, telah menyembunyikan keadaan Virda yang sebenarnya..Aku bingung harus bagaimana? Aku tidak .mau kamu berprasangka buruk kepada ku" Ujar Ivan berbicara kepada dirinya sendiri saat ia sudah berada di kamar mandi.
"Tapi, jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, Diya pasti akan semakin curiga kepadaku. Apa sebaiknya aku mengatakan sebenarnya kepada Diya? Tapi bagaimana jika Diya tidak percaya kepadaku? Diya pasti akan meninggalkan ku. Tidak, aku tidak mau kehilangan Diya lagi" Batin Ivan bergejolak.
__ADS_1