
"Sssss" Ferdi meringis kesakitan memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Ma, Selama ini apa yang terjadi?" Tanya Ferdi kepada mama nya. Sonia perlahan menjauh dari Ferdi. Duduk di sofa berwarna hitam di ruangan itu. Pandangan nya kosong. Pikiran nya entah kemana mendapati suami nya berubah sikap seperti itu. Meski Ferdi bisa mengingat bahwa dirinya telah menikah dengan Sonia, namun hati nya masih sulit untuk menerima Sonia.
Karena bayang-bayang Diya masih bergelantungan di pikiran nya.
Mira terdiam tidak tahu harus menjelasakan bagaimana kronologi kejadian yang menimpa anak semata wayangnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Hal yang paling aku takuti kini telah terjadi" Batin Mira.
"Diya mana?"
Deggg.....
Hati Sonia bergetar mendapati bahwa Ferdi menanyakan orang lain. Bukan dirinya atau bahkan Junior darah daging nya sendiri.
"Diya? Diya siapa?" Tanya Sonia.
"Gadis ku namanya Diya" Sambut Ferdi. Entah lah, Saat ini perasaan Ferdi sulit untuk di tebak. Hati nya benar-benar merintih memanggil gadis nya. Dia benar-benar merindui kekasih hati nya.
"Fer, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa memikirkan gadis lain. Ingat kamu sudah mempunyai istri. Tidak baik memikirkan gadis lain apa lagi menanyakan hal itu di depan istri mu" Mira menasehati.
"Ya ma, aku tahu. Aku ingat, meski aku mengingat semua kejadian bersama Sonia, tapi hati ku sulit untuk menerima nya"
Degg....
laki-laki hati wanita hamil itu merasa nyeri seperti di tusuk sembilu. Betapa nyeri nya hati wanita itu mendapati suami yang sangat ia cintai kini sulit menerima dirinya.
"Fer, jangan begitu nak. Kamu lihat Sonia dia sedang hamil Dia hamil anak mu" Sahut Mira.
"Ya aku tahu ma, aku tahu semua nya. Tapi tolong, tolong beri aku waktu untuk bisa menerima semua ini" Pinta Ferdi.
"Fer, kasihan istri mu jangan begitu. Jangan membuat nya sedih dan banyak pikiran. Ingat ada nyawa lain di dalam perut nya"
"Ma, aku tahu ma. Tolong jangan memaksa ku untuk menerima semua ini ma. Aku belum bisa menerima nya" Jawab Ferdi menatap lurus kedepan tidak ingin menatap wajah mamanya.
Sesungguhnya hati nya begitu sakit mendapati dirinya telah menikah dengan gadis bernama Sonia bukan Diya. Hati nya pilu, perasaan nya terluka. Meski Sonia tidak bersalah dalam hal ini. Tapi tetap saja dirinya belum siap menerima kenyataan ini.
"Pasti ini semua gara-gara mama. Kejadian itu merupakan kesempatan besar bagi nya untuk memisakan ku dan Diya" Pikiran itu muncul di benak nya Ferdi. Sebab selama ini mama nya lah yang paling menentang atas hubungan nya dan Diya. Jika papanya yah ikut-ikutan saja. Bisa di bilang papa nya hanya menuruti keinginan istri nya.
Bukan apa-apa hanya tidak ingin bertengkar dengan istrinya yang memiliki sifat keras kepala.
"Ma, tolong bawa Sonia pulang. Biarkan dia istirahat di rumah.. Kasihan dia jika tidur di sini"
"Tapi, kamu gimana? Gak mungkin aku kamu di sini tanpa ada yang menemani" Sahut Sonia merasa keberatan. Hati Sonia tersentuh karena sedikit banyak nya Ferdi masih memperdulikan nya saat ini. Terbukti dia tidak ingin istrinya istirahat di rumah sakit ini.
"Aku tidak apa-apa. Mama juga pulang. Biarkan aku sendiri. Aku butuh waktu sendiri. Tolong" Ucap Ferdi memalas.
"Benar tidak apa-apa?" Tanya Mira kurang yakin.
Ferdi hanya mengangguk memberi keyakinan kepada mama dan istrinya.
"Baik lah jika begitu. Kami akan pulang. Jika butuh sesuatu panggil saja perawat"
Ferdi hanya mengangguk tampa menatap sedikit pun wajah mama nya. Hati nya benar-benar kecewa saat ini kepada mama nya.
"Mama pamit ya sayang" Mira mendekat kan wajah nya kepada pipi Ferdi bermaksud ingin mencium anak semata wayang nya. Namun, Ferdi menghindar. Mira mengerti akan kemarahan anak nya.
"Yah, baik lah jika begitu" Ucap Mira sedikit tidak enak melihat perubahan sikap Ferdi.
"Sayang, aku pulang dulu ya" Ucap Sonia mendekat bermaksud ingin memberi salam kepada suami nya untuk berpamitan.
Ferdi sedikit ragu menyambut salaman istrinya. Selang beberapa detik ia pun menyambut salaman itu.
__ADS_1
"Hati-hati. Jaga anak kita baik-baik" Ucap Ferdi datar. Pandangan nya masih lurus ke depan.
"Baik lah" Ucap Sonia dan langsung meninggalkan ruangan itu bersama Mira.
***
"Ma, ada yang mau ku tanyakan sama mama" Ucap Sonia setelah mereka keluar dari ruangan tempat Ferdi di rawat.
"Apa?" Mira sedikit gugub mendapati menantu kesayangan nya ingin bertanya.
"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Ferdi. Dan pasti Sonia akan bertanya tentang Diya. Apa yang harus aku katakan kepadanya?" Ucap Mira dalam hati.
"Diya? Siapa Diya ma? Apa gadis yang bersama Ivan tadi?" Tebak Sonia.
"Kenapa kamu bisa berpikir gadis bersama Ivan tadi itu adalah Diya? Gadis yang sama di maksud oleh Ferdi?" Mira mulai menghindar.
"Karena gadis yang bersama Ivan juga nama nya Diya. Dan saat mama bertemu dengan gadis tadi kelihatan dan sangat jelas mama tidak menyukainya. Tampak mama sudah kenal lama dengan nya" Jelas Sonia.
"Sekarang Sonia mohon, tolong mama jujur sama Sonia" Pinta Sonia.
Mira menarik napas nya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat. Ia benar-benar bingung harus seperti apa menjelaskan nya kepada Sonia. Harus di mulai dari mana semua ini.
"Ia gadis tadi namanya Diya. Dan Diya lah orang yang di maksud oleh Ferdi tadi"
"Ada hubungan apa mereka sampai ia bertanya seperti itu? Apa mereka pernah mempunyai hubungan sepesial?"
"Maaf kan mama Sonia karena telah menyembunyikan semua nya"
"Ma, mama tidak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Sekarang aku hanya ingin meminta penjelasan dari semua ini ma agar aku tahu semua nya"
"Dulu sewaktu Ferdi duduk di kelas tiga SMA, Ferdi menjalin hubungan asmara dengan gadis itu. Tapi mama tidak setuju atas hubungan mereka. Mama tidak suka sama gadis itu"
"Kenapa?" Tanya Sonia.
"Mama sudah mempunyai jodoh untuk Ferdi. Diya gadis miskin. Diya mempunyai maksud tertentu mendekati Ferdi. Mama yakin itu" Yakin Mira.
"Mama tidak mau Ferdi memiliki hubungan dengan gadis yang tidak jelas asal usul nya, bibit bobotnya" Jelas Mira lagi.
Jujur saja Sonia tidak bisa menerima begitu saja penjelasan dari Mira. karena yah hanya karena status yang miskin membuat orang tidak berhak mendapatkan cinta nya. Dirinya kini berpikir jika Sonia juga hidup dalam kesederhanaan pasti Mira tidak merestui juga hubungan mereka. Pasti Mira menentang hubungan mereka. Pikirnya.
"Pada saat acara ulang tahun Ferdi yang ke 19 tahun, di acara itu lah Ferdi mengenalkan gadis itu dengan mama dan papa. Padahal di acara itu sudah mama siapkan untuk Ferdi bertunangan dengan gadis pilihan mama dan papa" Jelas Mira.
"Ferdi telah membuat mama dan papa malu. Di depan para tamu undangan ia menentang perjodohan itu dan lebih memilih gadis itu. Karena gadis itu Ferdi jadi kurang ajar sama mama dan papa. Dia tidak mau mendengarkan omongan mama dan papa lagi" Tambahnya.
"Kenapa mama begitu? Dia hanya menilai orang begitu saja. Hanya dengan sekali bertemu? Padahal ia tidak tahu bagaimana sebenarnya gadis itu" Batin Sonia.
"Malam itu, kami bertengkar hebat dan Ferdi pergi dari rumah. Setelah nya di malam itu juga mama mendapat kabar bahwa Ferdi kecelakaan. Dan mengalami amnesia. Dan di desa tempat kami tinggal tidak memiliki perlengkapan rumah sakit yang memadai, jadi kami memutuskan untuk membawa Ferdi ke kota ini. Dan selama Ferdi mengalami koma, kami memutuskan untuk pindah di kota ini. Dan ini juga kesempatan kami untuk memisahkan Ferdi dari pengaruh buruk gadis itu. Hingga pada akhirnya mereka bertemu lagi. Dan kamu lihat, gara-gara gadis itu, Ferdi masuk ke rumah sakit lagi bukan?" Mira berkata dengan nada yang sedikit marah.
Sungguh Sonia tidak habis pikir atas apa yang di pikirkan mama nya. Semua ini bukan lah salah nya Ferdi. Ini semua salah nya Mira sendiri. Jika ia tidak menuruti keegoisan nya, semua ini tidak akan terjadi. Pikirnya.
Sonia menarik napasnya dan di hembusnya kuat-kuat. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun ia urungkan semua itu, karena tubuhnya mulai merasa lelah dan perut nya terasa kram.
"Ya sudah ma, ayo kita pulang" Pinta Sonia. Mira mengangguk dan menuntun menantunya berjalan.
***
"Diya? Bagaimana keadaan mu sekarang?" Ternyata kamu berada di kota ini. Maafkan aku tidak bisa menepati janji ku. Ini semua bukan salah ku, takdir telah memisahkan kita Diy" Ucap Ferdi lirih meratapi nasibnya.
"Diy, tunggu aku. Aku akan datang mencari mu dan menjelaskan semua nya. Aku sungguh ingin bersama mu. Meski ku tahu aku sudah menikah, tapi hati ini masih untuk mu. Kenangan indah yang kita lalui masih tersusun manis di dalam ingatan ku. Aku mohon Diy, kembalilah kepada ku" Ucap Ferdi merintih. Sungguh hati nya terasa hancur saat ini. Hati sungguh sangat mencintai Diya. Namun, ia masih memikirkan Sonia yang sekarang sudah menjadi istrinya. Terlebih Sonia sedang mengandung anak yang ke dua hasil dari benih yang ia tanam.
"Apa yang harus aku lakukan Diy? Kamu pasti kecewa kepadaku. Kamu pasti marah kepadaku. Maaf kan aku Diy. Aku berharap kamu akan memaafkan ku dan bisa menerima ku" Tambahnya lagi sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sungguh pikiran nya merasa lelah dan hatinya merasa letih mendapati kenyataan ini.
Ferdi memejamkan kedua matanya. Saat itu terbayang kenangan-kenangan indah bersama Diya. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipinya. Ferdi menangis dalam tidurnya.
__ADS_1
***
"Malam ini kamu tidur di rumah mama ya sayang. Junior kan ada di sana. Jika kamu sendirian di rumah, mama takut akan terjadi apa-apa sama kamu" Saran Mira. saat mereka di dalam mobil menuju pulang ke rumah nya.
Sonia mengangguk setuju.
"Ma, jika nanti Ferdi ingin kembali bersama Diya bagaimana?" Akhirnya Sonia memberanikan diri bertanya hal yang paling menakutkan yang terus muncul di benak nya saat ini.
"Tidak sayang, mama tidak akan biarkan itu terjadi. Mama akan buat Ferdi tetap bersama mu. Mama yakin Ferdi juga tidak akan mungkin mau meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini. Sedikit banyaknya ia pasti menyayangi kamu" Yakin Mira.
"Tapi ma, jika Ferdi hanya menuruti ego nya bagaimana? Aku tidak mau kehilangan suami ku ma"
"Tenang lah sayang. Saat ini kamu harus bersabar. Beri Ferdi waktu untuk menata dan menenangkan hati nya. Dan kamu harus bisa menarik hati Ferdi agar terus menyayangi mu seperti sebelumnya" Ucap Mira.
Sonia mengangguk.
"Tentu saja aku akan melakukan apa pun agar aku tidak kehilangan suami ku. Aku sangat mencintai Ferdi. Aku tidak mau kehilangan nya. Aku tidak mau anak-anak ku kelak tidak mempunyai ayah. Meski aku tahu semua ini bukan salah nya Ferdi maupun Diya. Tapi tetap saja sekarang Ferdi sudah menjadi suami ku. Aku tidak mau kehilangan nya" Batin Sonia.
"Aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumah tanggaku" Tambahnya lagi
***
"Hallo" Sapa Diya mengangkat ponselnya saat berdering.
"Maaf menganggu, sudah tidur?" Jawab Ivan.
"Iya sudah tidur" Jawab Diya.
"Terus sekarang yang bicara siapa?"
"Lagi mengigo aku nya" Canda Diya.
Ivan tersenyum mendengar candaan Diya. Hati nya mulai terasa tenang saat mendengar Diya sudah bisa bercanda. Ivan takut kejadian tadi akan membuat Diya terus terpuruk. Oleh karena itu lah dia ingin memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja.
"Lagi ngapain?" Tanya Ivan basa-basi.
"Baring saja nih di kamar. Mau tidur udah capek seharian banyak kegiatan" Ucap Diya.
"Oh..... sudah mau tidur ya? Ya sudah istirahatlah Diy. Sampai berjumpa besok di kantor ya. Seperti biasa aku akan menjemputmu" Ucap Ivan.
"Maaf ya menganggu. Hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja" Tambahnya lagi.
"Emang aku kenapa?" Tanya Diya pura-pura tidak tahu.
"Ya takut aja kamu masih memikirkan kejadian tadi. Aku tidak mau kamu sedih" Ucap Ivan lirih.
"Aku baik-baik saja Van. Dan Semua itu karena kamu. Terima kasih untuk semua nya. Jika tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang terjadi pada ku. Kamu sungguh pahlawan ku" Ucap Diya tulus.
"Biasa saja Diy, jangan terlalu memuji ku. Nanti hidungku bisa ngembang membesar" Canda Ivan.
Terdengar suara gelak tawa Diya dari seberang. Suara tawa itu sungguh membuat hati Ivan senang. Ivan tersenyum senang mendengar nya.
"Aku baru tahu lo Van, Hidung mu bisa mengembang jika di puji" Ucap Diya masih dengan tawanya.
"Tapi benar kok Van. Kamu memang pahlawan ku. Terima kasih semua nya ya"
"Iya sama-sama. Dari tadi kamu terus aja bilang makasih sama aku. Ya sudah istirahat gih" Ucap Ivan.
"Oke"
"Selamat malam Diy, hadirkan aku dalam mimpi indah mu ya" Ucap Ivan.
"Iya, Aku usahain kamu hadir dalam mimpi indah ku. Dan aku usahain juga kamu selalu hadir di hati ku" Balas Diya.
__ADS_1
mendengar ucapan Diya membuat getaran hati Ivan bergemuruh.
"Selamat malam kembali Ivan" Diya mematikan ponselnya.