
Sonia sangat terpukul kehilangan janin yang ada di dalam kandungan nya. Ia begitu menyesali apa yang terjadi kepada nya saat ini.
Ia terus saja melamun.
"Jika aku tidak ceroboh, pasti semua nya akan baik-baik saja" Batin nya.
"Sayang, Kenapa melamun?" Tanya Ferdi mendekati istri nya yang sedang terbaring dengan tatapan kosong ke depan.
"Sayang, maaf kan aku" Ujar nya lagi menitikkan air mata.
"Sudah sayang, jangan di kenang lagi kejadian itu. Nanti kamu bisa tambah sakit. Anak bisa kita cari sayang, tapi jika kamu yang tidak selamat, pasti aku sangat sedih. Aku tidak mau kehilangan kamu sayang" Ujar Ferdi dengan lembut.
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu seperti ini ya. Aku yakin pasti ada hikmah di balik cobaan ini" Ujar Ferdi menyemangati.
"Kamu harus tetap semangat, kita masih ada Junior yang membutuhkan kita"
Sonia menatap Ferdi dengan tatapan sendu.
Ferdi tersenyum memberi semangat kepada sang istri tak lupa mengecup kening nya dengan kehangatan.
***
"Hallo ma" Ujar Ferdi saat ponsel nya berdering.
"Bagaimana keadaan Sonia?"
"Sonia sudah sadar ma. Dia sedang istirahat. Seperti nya dia sangat terpukul karena telah kehilangan bayi nya"
"Kamu harus selalu ada di samping nya Ferdi. Kamu harus menyemangati nya agar tidak sedih lagi" Jelas Mira.
"Iya ma, aku itu pasti aku lakukan" Ujar Ferdi. Ferdi menutup ponsel nya.
Kring...
Kembali ponsel nya berdering.
Ferdi kembali merogoh saku celana nya.
"Hallo Van" Jawab Ferdi mengangkat ponsel nya.
"Hallo, Fer, kamu di mana sekarang? Aku lagi di cafe mu. Kata karyawan mu, kamu nya gak masuk hari ini" Tanya Ivan.
"Iya, aku di rumah sakit"
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Sonia, tadi malam ia jatuh dari tangga yang mengakibat kan ia kehilangan bayi nya" Jelas Ferdi.
"Sonia jatuh dari tangga? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu pasti. Yang jelas tadi malam kami merencanakan untuk pergi ke bioskop untuk menonton bersama. Setelah aku pulang, tahu-tahu Sonia sudah terbaring tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di bawa tangga" Jelas Ferdi lagi.
"Ya ampun... Terus sekarang bagaimana keadaan nya" Tanya Ivan.
"Sekarang dia sudah sadar. Hanya saja dia terlihat terpukul karena kehilangan bayi nya. Ia seperti menyalahkan dir nya sendiri atas musibah yang terjadi pada nya"
"Ya ampun, aku turut berduka cita ya atas kehilangan bayi mu. Semoga kamu dan Sonia tabah menghadapi ini semua ya. Tetap kuat dan semangat" Ujar Ivan.
"Iya terima kasih Van" Ferdi menutup ponsel nya.
***
"Sayang, kok jam segini sudah pulang?" Tanya Diya heran melihat suami nya tiba di rumah baru pukul sembilan pagi.
"Aku mau menjemput mu sayang"
"Menjemput kemana?"
"Ayo kita ke rumah sakit"
"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Sonia sayang"
"Apa? Sakit apa?"
"Aku juga gak tahu pasti sayang, yang jelas tadi Ferdi bilang Sonia jatuh dari tangga rumahnya sehingga mengakibatkan ia kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya"
"Astagfirullah, pasti sekarang dia sedih banget"
"Oleh karena itu, ayo kita pergi menjenguk mereka dan memberi semangat agar mereka tetap kuat dalam menghadapi musibah ini" Ujar Ivan.
Buang jauh-jauh rasa tidak enak di hati saat bertemu Ferdi nanti. Yang jelas aku harus ke sana untuk menjenguk keadaan Sonia. Bagaimana pun Sonia adik sepupunya Ivan yang kini telah menjadi suami ku. Batin Diya.
***
"Assalamualaikum" Ujar Diya masuk ke kamar nya Sonia di rawat.
"Diy, Van" Ujar Ferdi membuka pintu.
"Masuk" Ujar nya lagi.
"Sayang, ada Ivan dan Diya" Ujar Ferdi dengan lembut.
Sonia melihat ke arah orang yang di maksud tadi.
__ADS_1
Diya datang mendekati Sonia
"Son, gimana keadaan mu sekarang?"
"Sudah mendingan kok Diy. Makasih ya sudah mau datang"
"Iya sama-sama. Bagaimana pun kamu adalah adik sepupunya Ivan. Itu berarti adik ku juga. Kamu yang tabah dan kuat ya mengahadapi ini semua"
"Iya Diy, makasih" Ujar nya lagi.
"Mama" Teriak Junior yang tiba-tiba datang bersama susternya.
"Sayang" Sambut Sonia dengan memeluk hangat putra nya.
"Mama, gimana keadaan mama. Mama jangan sakit lagi ya seperti tadi malam. Aku jadi sedih" Celoteh nya.
"Iya sayang"
"Eh ada tante Ivan dan om Ivan. Mau jengukin mama?"
"Iya sayang, kita datang untuk melihat kondisi mama mu"
"Tuh ma, banyak yang sayang sama mama. Tante Ivan dan om Ivan juga sayang sama mama. Bukti nya mereka datang ke sini untuk jengukin mama. Mama harus cepat sembuh ya" Ucap nya lagi.
"Iya sayang.. Mama janji pasti mama kan cepat sehat demi kamu dan papa" Sonia tersenyum.
Kesedihan di hati nya seketika hilang melihat putra kecil yang sangat celoteh itu di hadapan nya.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah sayang sama mama dan telah menjaga mama"
"Iya ma, itu sudah menjadi tugas ku untuk menjaga mama dan papa tugas nya kerja mencari nafkah untuk aku dan mama" Jelas nya lagi.
Semua yang ada di sana tersenyum senang mendengar celotehan jagoan kecil itu.
***
"Sayang, aku sudah mendapat cuti selama seminggu dari kantor. Jadi besok kita akan pulang ke kampung halaman mu untuk mempersiapkan pernikahan kita di sana" Ujar Zaki saat mereka makan siang.
"Iya, aku juga sudah meminta cuti untuk libur. Gak nyangka ya waktu kita tinggal satu minggu lagi untuk melepas lajang kita" Ujar Yuli tampak senang.
"Iya sayang. Semoga rumah tangga kita nanti bisa menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warohmah"
"Aamiin, pasti itu sayang. Yang terpenting tak harus saling melengkapi saling mengerti, saling menyemangati. Jika kita sudah melakukan hal itu aku yakin kita pasti akan mencapai rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah kamu dan aku harus saling percaya" Ujar Yuli.
"Iya kamu benar sayang. Di setiap rumah tangga itu pasti akan ada lika-liku kehidupan. Yang penting kita harus bisa menghadapinya bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain. Meskipun kita ini sudah lama pacaran tapi tetap saja kita belum terlalu kenal dengan pasangan kita masing-masing. Jadi lima tahun pertama itu adalah masa pengenalan kita dan masa penyesuaian kita dalam menjalani rumah tangga kita. Pasti akan banyak cobaan dan rintangan selama lima tahun pertama. Saling ego, tidak mau mengalah pasti itu akan kita hadapi nantinya" Ujar Zaki dengan bijak.
"Iya kamu benar. Pasti masa itu akan kita hadapi nanti nya. Yang penting nanti kita harus menurunkan ego kita nantinya ya demi mempertahan kan rumah tangga kita. Pasti kita bisa melakukan itu" Jelas Yuli.
Zaki tersenyum senang mendengar apa yang di sampaikan oleh calon istrinya itu.
***
"Iya, kalian hati-hati dan terima kasih atas kenjungan nya"
"Son, cepat sehat ya"
"Terima kasih Van, Diy" Ujar Sonia.
***
"Ternyata begini enak nya menjadi istri orang kaya. Apa-apa tinggal minta kepada suami kita tanpa harus bekerja keras. k
Kenapa nggak dari dulu saja ya aku seperti itu?" Ujar Virda berbicara pelan seolah olah kepada dirinya sendiri. Saat ini ia sedang duduk santai di balkon apartemennya. sambil membaca majalah dan tak lupa cangkir kopi menemani sorenya.
"Semua karena Ivan yang telah membuat ku buta dengan cinta nya" Tambah nya lagi.
"Aku harus menyusun rencana untuk memberikan pelajaran kepada Ivan. Aku tidak mau dia enak-enakan hidup bahagia di atas penderitaanku. Bagaimanapun caranya aku mau dia merasakan apa yang aku rasakan. Terlebih lagi dia sudah berani-beraninya membuat aku malu di depan kedua orang tuanya dan aku juga mau kedua orang tuanya itu juga ikut merasakan pedihnya dipermalukan seperti kemarin" Ujar Virda.
"Tunggu saja Ivan tunggu permainanku. Kamu akan menyesal karena telah membuat aku seperti ini. Aku hanya tunggu waktunya saja ketika Bram sudah memutuskan sebagian hartanya menjadi milikku dan atas nama aku dan si cabang bayiku. Rencanaku untuk balas dendam kepada kamu akan segera dimulai" Ujar Virda tersenyum sinis.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar di apartemen Virda.
"Mbak, tolong bukain pintu nya" Ujar Virda kepada asisten rumah tangga nya.
Ya semenjak Ia menikah dengan Bram, kini ia sudah menjadi nyonya besar yang hanya duduk di rumah tidak perlu bekerja terlalu keras karena suaminya merupakan pengusaha kaya raya di Singapura.
"Sayang" Sapa Bram melihat istri nya duduk di balkon rumah nya.
"Eh, sayang. Kamu sudah pulang? Kata kamu pulang nya lusa. Kenapa sekarang sudah tiba?" Ujar Sonia memeluk suami nya.
"Urusanku sudah selesai di sana. Karena sudah selesai, aku pulang ke sini untuk menjenguk kamu dan anak kita aku sudah kangen sama kalian makanya aku cepat pulang" Jawab Bram.
Virda tersenyum mendengar ucapan suami nya.
"Terus bagaimana dengan istri mu? Bagaimana kabar nya?"
"Masih seperti kemaren.. Belum ada perubahan" Jawab Bram.
"Bagus lah, semoga saja istri mu akan tetap seperti ini. Dan semoga saja cepat dia menuju ke alam bakah agar semua harta mu jatuh ke tangan ku" Batin Virda.
"Jika sudah begitu, aku semakin berkuasa dan bisa melancarkan balas dendam ku nanti nya" Tambah nya lagi.
"Sayang ada yang mau aku tunjukan sama kamu" Ujar Bram.
"Apa?"
__ADS_1
"Ayo ikut aku ke bawah" Ujar Bram lagi mengajak istri nya turun ke lobi apartemen.
Virda mengikuti suami nya.
"Tara... " Ujar Bram memperlihat kan sebuah mobil mewah bermerek Mercedes Benz berwarna hitam dan di kaca mobil tersebut masih dihiasi dengan pita berwarna merah.
"Wow Sayang ini mobil untukku" Tanya Virda kaget bahagia melihat mobil baru nya.
"Iya dong sayang" Ujar Bram.
"Bukankah aku sudah mengatakan apapun yang didapatkan oleh istriku dan juga anakku di sana kamu dan anak kita juga akan mendapatkan hal yang sama" Jelas Bram.
"Sayang, terima kasih banyak ya... Aku senang sekali kamu memberikan aku hadiah seperti ini" Ujar Virda memeluk suami nya.
"Masih ada lagi yang mau aku tunjukan sama kamu"
"Ada lagi?"
Bram mengangguk.
"Ayo ikut aku" Ujar nya mengajak istri nya mencoba mobil baru nya untuk menuju ke sesuatu tempat.
***
"Sayang, ngapain kita ke sini? Rumah siapa ini" Tanya Virda kaget dan mengangumi rumah mewah bewarna putih itu.
Rumah itu berdomisilir bewarna putih berlantai dua dengan gerbang tinggi menjulang.
"Ini adalah rumah kamu. Rumah yang aku belikan untuk kamu dan anak kita" Ujar Bram.
"Benar untuk ku?" Tanya nya lagi.
"Iya, ini sertifikat rumah nya yang sudah ku ganti atas nama mu" Bram menyerah kan sebuah dokumen yang berisi sertifikat rumah.
Virda mengambil dokumen itu dengan bahagia. Dan di lihat nya ternyata benar itu adalah atas nama nya.
"Terima kasih sayang" Lagi-lagi Virda memeluk suami nya.
"Ayo kita masuk ke rumah" Ajak Bram.
"Ayo"
Mereka masuk ke rumah megah itu. Saat pintu utama di buka, terdapat ruang tamu yang sangat megah. Warna ruang tamu itu di domisilir dengan warna gold menambah kemegahan rumah itu. Sofa mewah yang berwarna hita.mdan pernak pernik perhiasan rumah menghiasi ruangan itu.
Ada lemari yang di isi dengan hiasan guci-guci kecil yang berasal dari berbagai negara.
Lanjut ke ruang keluarga yang tak kalah megah nya. Tapi warna di ruang tamu itu di domisilir dengan warna biru dan putih. Televisi besar, sofa serta karpet besar pun ikut menghiasi ruangan itu. Rumah itu terdapat tiga kamar di lantai bawah dan empat kamar di lantai atas dengan kamar mandi di setiap masing-masing kamar
Di setiap sudut ruangan juga terdapat vas besar yang tinggi menjulang yang berasal dari berbagai negara yang menghiasi setiap sudut ruangan.
Di lantai atas pun ada ruangan keluarga lagi. Rumah itu memiliki dua ruang keluarga. Ruang keluarga di lantai atas terdapat sofa dan karpet besar sebagai pelengkap di ruangan itu. Kamar utama terdapat di lantai dua.
Dimana kamar itu yang paling besar. Kasur besar pun menghiasi kamar itu. Lemari sofa pun ada di kamar utama itu..
Dapur besar dan megah pun bertema minimalis pun ada di dalam rumah itu. Fasilitas di dapur pun lengkap dengan berbagai peralatan masakan di sana. Dua kamar mandi di lantai bawah untuk tamu pun ada di sana.
Rumah itu juga terdapat sebuah taman di belakang rumah. Halaman yang luas pun ada di sana. Ada kolam renang yang cukup luas.
"Bagaimana sayang, apa kamu suka dengan rumah ini?"
"Suka banget sayang. Terima kasih banyak ya. Rumah ini sangat megah dan mewah. Aku gak menyangka kamu bisa membeli rumah semewah ini untuk ku" Ujar Virda.
"Iya sama-sama sayang. Aku juga ikut senang jika kamu suka dengan rumah ini"
"Mulai besok, kita pindah ke rumah ini ya" Ujar Bram.
"Sayang, aku mau ke atas dulu ya untuk melihat-lihat rumah ini" Ujar Virda.
"Iya, aku juga mau menghubungi klien ku sebentar" Ujar Bram mengetik nomor ponsel klien nya.
"Wah, megah banget rumah ini. Aku gak menyangka aku bisa tinggal di rumah yang megah dan mewah ini. Bahkan rumah ini lebih besar dari rumah nya Ivan" Ucap nya setelah sampai di lantai atas.
"Van, kamu sekarang tidak ada apa-apa nya di bandingkan suami ku. Suatu saat nanti aku pasti akan bisa membeli mu" Ujar Virda.
"Kita hanya menunggu waktu nya saja. Dan setelah waktu itu tiba, kamu akan bertekuk lutut dengan ku. memohon dan meminta ku untuk mengampuni mu" Ujar Virda tersenyum sinis.
"Sayang, aku sangat senang perlakuan mu seperti ini. Aku sangat beruntung menikah dengan kamu" Ujar Virda menghampiri suami nya yang ada di lanta bawah.
"Iya sayang, apa pun akan aku lakukan untuk mu. Apa pun itu" Ujar nya.
Virda tersenyum senang mendengar ucapan suami nya.
"Kini, aku hanya tinggal memberi saham untuk mu sebagai tabungan kamu dan anak kita nanti nya"
"Saham?"
"Iya, ada satu perusahaan di kota ini yang saat ini sedang mencari investasi. Jadi aku mempunyai rencana untuk membeli saham itu atas nama mu"
"Benar itu?"
"Iya sayang"
"Terima kasih sayang. Anak kita pasti senang mendapat ayah yang baik seperti mu. Belum apa-apa kamu sudah memikirkan masa depan kami berdua" Ujar Virda senang.
"Iya sayang, pasti aku memikirkan kalian. Karena kalian orang yang paling berharga bagi ku" Ujar Bram mencium pucuk kepala istri nya.
__ADS_1