Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Keluar bersama


__ADS_3

"Diy" Panggil Ivan. beralih menatap Diya yang masih duduk di sofa berwarna hitam itu. Ivan memberhentikan kegiatan nya.


"Iya" Diya menatap Ivan dengan sedikit ragu. Ada perasaan malu yang menyelimuti hati gadis itu saat mengenang apa yang ia lakukan dengan pemuda itu.


"Hmm.....malam ini kamu sibuk gak?"


"Gak, kenapa?"


"Gimana malam ini kita keluar untuk makan malam dan nonton" Ajak Ivan dengan penuh harapan. Diya tidak menjawab. Gadis itu nampak berpikir sejenak.


"Hanya ingin menghibur mu. Yah sesekali membawa mu keliling kota untuk menikmati suasana malam di kota ini" Sambung nya lagi.


"Jika tidak bisa gak apa-apa. Aku tidak memaksa" Sahut Ivan kembali dengan laptopnya.


"Bisa kok, bisa" Jawab Diya cepat sambil mengangguk menyetujui. Ivan mengukir sedikit senyuman bibir nya. Sungguh perilaku gadis itu membuat nya semakin gemes. Seperti jinak-jinak merpati. Di deketin dia menghindar jika di jauhi dia malah mendekat.


Membuat pemuda itu semakin penasaran. Jika ia bisa mendapatkan gadis itu, ia tidak akan pernah melepaskan nya. Secara ia telah menunggu terlalu lama. Dan ketika sudah menemukan nya, ia masih berjuang untuk memenangkan hati gadis itu. Perjuangan nya sungguh susah untuk mendapatkan gadis bernama Diya itu.


"Oke, nantik jam 20.00 wib aku jemput ya"


"Oke, kalau gitu aku keluar dulu mau melanjutkan pekerjaan ku" Diya bangkit dari duduk nya.


"Yakin?" Tanya Ivan.


"Yakin? Yakin kenapa?" Tanya Diya heran.


"Maksud ku yakin kamu sudah baikan? Gak galau lagi? Udah baikan perasaan mu? Jika belum istirahat saja dulu di sini" Kata Ivan.


"Aku sudah baikan kok Van. Makasih ya kamu telah menjadi tempat ku bersandar saat aku sedih seperti tadi" Jawab Diya sungkan.


"Tidak apa-apa, aku senang bisa membantu mu. Kan sudah ku bilang tadi" Jawab Ivan santai masih sibuk dengan laptop nya.


Diya tersenyum dan mengangguk.


"Aku keluar dulu" Diya langsung berlalu menuju pintu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Aduh....tadi aku kenapa bisa seperti itu dengan Ivan? Sampai memeluk nya pulak. Kenapa tubuh ini tidak bisa di kontrol ya tadi? Bodoh kamu Diya" Kata Diya memaki pada dirinya sendiri saat diri nya telah berada di luar ruangan.


"Ah sudah lah, sudah terjadi juga. Santai saja, tapi perasaan apa ya tadi? Kenapa aku nyaman saat berada di dekat Ivan. Seakan-akan kesedihan ku terhadap kak Ferdi hilang begitu saja" Ucap Diya baru sadar akan perasaan nya. Diya tersenyum mengenang peristiwa saat dirinya memeluk erat Ivan. Dan Ivan membalas dengan membelai lembut rambutnya


***


"Assalamualaikum" Terdengar seseorang memberi salam dari luar rumah.


"Waalaikumsalam" Jawab Yuli membuka pintu.


"Ivan" Sapa Yuli tersenyum ramah.


"Silahkan masuk" Tambahnya lagi.


Ivan tersenyum ramah dan masuk ke dalam rumahnya.


"Mau keluar juga?" Tanya Ivan melihat Yuli berpenampilan rapi.


"hehehe....Iya, mau ngedate sama ayang mbeb" Ucap Yuli malu-malu kucing.


"Dari pada tinggal sendirian di rumah, mending jalan juga kan?" Tambahnya lagi.


"Eh, itu ayang mbeb sudah jemput. Aku duluan ya. Oh iya, Diya lagi siap-siap di kamar tunggu sebentar lagi juga keluar Diya nya" Ucap Yuli kepada Ivan yang duduk di sofa ruang tamu.


"Diy, pangeran mu sudah datang ni. Aku duluan ya, ayang mbeb ku sudah jemput juga. Kamu jangan lama-lama dandan nya. Nanti jenggotan Ivan menunggu mu selesai dandan" Ucap Yuli berteriak kepada Diya.


"Ya sudah aku duluan ya" Ucap nya lagi dan berlalu dari sana. Ivan hanya mengacuhkan jempolnya.


"Maaf ya sudah lama menunggu" Tegur Diya kepada Ivan dari belakang yang duduk di sofa ruang tamu nya.


Ivan menoleh ke sumber suara. Mata Ivan terbelalak kagum melihat sesosok gadis manis di hadapan nya. Dengan memakai baju gaun selutut berwarna tosca, rambut di ikat dengan gaya half twister braid. Hak tinggi setinggi 5 cm berwarna perak menghiasi kaki nya. Anting bulat seperti mutiara menempel di kedua lubang telinga nya. Kalung berwarna putih perak melingkar di leher nya yang jenjang. Sungguh malam ini Diya sangat cantik dan anggun.


Ivan menelan Salva nya masih dengan terbengong melihat Diya yang beda dari biasanya.


Diya menyadari dan melihat penampilan nya sendiri.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada yang aneh dengan penampilan ku?"


"Tidak, kamu cantik sekali Diy" Ucap Ivan masih dengan menatap lekat ke arah gadis itu.


"Menghina apa menghibur ni?"


"Fakta nya Diy, kamu memang cantik dan akan selalu cantik di mata mu. Terlebih malam ini sangat-sangat cantik" Puji Ivan membuat Diya tersipu malu.


"Terima kasih ya van. Jangan terlalu berlebihan memuji ku. Ntar aku terbang melayang lo" Canda Diya tersenyum malu.


"Jika kamu terbang melayang, biar ku tangkap ku masukan kamu kedalam hati ku. Ku kunci kamu dengan gembok. Dan kuncinya ku buang, agar kamu tidak bisa lepas lagi dari hati ku" Ucap Ivan bercanda namun ada nada sedikit serius dengan ucapan itu. Tentu saja Diya tahu karena lelaki itu terus saja mengungkapkan isi hati nya kepada gadis itu.


"Ayo" Ucap Ivan mengulurkan tangan nya ingin bergandengan dengan Diya seperti pasangan yang sesungguhnya.


Diya sedikit ragu untuk menggapai tangan kekar lelaki itu. Namun, membayangkan semua kelembutan Ivan kepadanya membuat gadis itu membuang keraguan nya dan menyambut tangan kekar itu dengan senyuman yang sangat manis membuat hati Ivan kembali bergemuruh.


Mereka saling menggenggam, berjalan keluar rumah dan mata saling menatap masing-masing mengagumi paras yang nyaris sempurna di hadapan mereka.


Sesampai nya di samping mobil, Ivan membuka pintu mobil untuk Diya.


"Silahkan permaisuri ku" Ucap nya menunduk berlaga seperti film-film kerjaan. Diya tersenyum dan membalas dengan mengembangkan kedua sisi roknya dan menunduk


"Terima kasih" Ucap nya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Ivan masuk kedalam mobil. Jika malam hari ia sendiri yang menyetir. Pak Udin hanya bertugas dari pagi sampai sore hari.


Ivan melaju dengan mobilnya membelah jalan raya di ibu kota provinsi Riau itu.


Dalam perjalanan mereka tidak banyak bicara. Mereka larut dalam perasaan nya masing-masing. Perasaan senang dan suka namun sedikit sungkan untuk mengungkapnya. Begitu lah yang di rasakan Diya.


.


Sesekali Ivan melirik gadis di sebelahnya. Tersenyum sendiri melihat gadis manis itu. Bahagia yang tiada ketara telah ia rasakan saat bersama gadis itu.


Ivan memberanikan diri menggenggam jari lentik Diya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau keluar bersama ku" Ucap Ivan dengan lembut.


"Harus nya aku yang berterima kasih kamu begitu baik kepada ku" Balas Diya menggenggam jari jemari lelaki itu dengan tersenyum.


__ADS_2