Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Makan malam


__ADS_3

"Assalamualaikum" Terdengar suara dari luar rumah memberi salam.


"Walaikumsalam" Yuli membuka pintu.


"Eh, Ivan masuk-masuk" Yuli mempersilahkan Ivan untuk masuk ke rumah nya.


"Terima kasih" Ivan duduk di sofa yang terletak di ruang tamu.


"Sebentar ya Van, aku panggil Diya dulu. Anak itu kalau sudah berdandan kelamaan" Ucap Yuli sedikit bercanda.


Ivan mengangguk.


"Diy....kamu sudah siap?" Tanya Yuli masuk ke dalam kamar sahabatnya.


"Wah, cantik benar ini anak. Aku saja sampai pangling di buat nya" Kagum Yuli.


"Ah, yang benar kamu Yul?" Diya salah tingkah.


"Beneran deh, dengan baju dress selengan mu dengan panjang selutut yang berwarna pink muda memperlihat jenjang kaki mu yang mulus. Dan rambut yang kamu kuncir seperti ini memperlihatkan leher mu yang jenang kalung yang melingkar manis dan anting tempel seperti mutiara ini menambah kecantikan dan keanggunan mu Diy" Yuli memberi komentar.


"Aku yakin dan sangat yakin mama dan papa nya Ivan akan sangat terpesona dengan mu"


"Semoga saja ya Yul" Kata Diya penuh harapan.


Diya merasakan debaran di dadanya dengan tangan nya.


"Aduh, aku gugup sekali"


"Tenang, tenang tarik napas buang, tarik napas buang" Yuli menenangkan Diya. Diya pun mengikuti nya.


"Ya sudah Ivan sudah datang tuh ntar dia jenggotan lagi nungguin kamu kelamaan" Canda Yuli.


"Oke doain aku ya Yul"


"Iya aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu"


Diya keluar dari kamarnya di ikuti oleh Yuli.


"Maaf menunggu lama" Ucap Diya.


Ivan menoleh ke arah sumber suara yang berada di belakangnya.


Ivan membuka mulut nya betapa ia kagum melihat sosok wanita di hadapan nya. Begitu cantik begitu anggun. Sungguh gadis itu selalu membuat hati nya tersihir oleh semua yang ada pada diri gadis itu.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah?"


"Iya salah, salah banget padahal" Jawab Ivan.


"Salah ya? Aduh apa yang harus ku perbaiki? Apa pakaian ku yang tidak pantas?" Jawab Diya ketar ketir.


"Gak bukan itu. Salah mu karena berpenampilan secantik dan seanggun ini membuat hati ini semakin tersihir oleh mu" Puji Ivan dengan tulus.


"Menghina atau menghibur sih Van?"


"Gak menghina, gak menghibur tapi ini fakta dan kenyataan nya"


Yuli yang sedari tadi melihat kedua manusia yang berlainan jenis itu terasa geli dan iri. Geli karena merasa sok-sok romantis dengan puji-pujian. Dan iri lantaran dia menjadi obat nyamuk di sana.


"Aduh....sepertinya aku jadi obat nyamuk ni?" Ucap Yuli.


"Eh Yuli, sejak kapan kamu di situ?" Canda Ivan.


"Tu kan....Dari tadi juga aku di sini kalian gak sadar lantaran terlalu asyik saling tatap menatap" Kesal Yuli.


"Iya, iya, hanya becanda kok Yul" Ucap Ivan.


"Kamu gak keluar?" Tanya Diya.


"Gak Diy, ayang mbeb ku lagi lembur malam ini" Ucap Yuli.


"Owh, gak apa-apa kan jika kami tinggal" Ucap Ivan.


"Ya gak apa-apa lah, emang nya aku kenapa?" Tanya Yuli.


"Ya siapa tahu kamu takut di tinggal sendiri"

__ADS_1


"Hahaha ya enggak lah emang aku anak kecil apa"


"Sebenarnya aku takut juga sih. Takut di culik" Canda Yuli.


"Hahaha....mana ada orang yang mau menculik mu Yul. Yang ada si penculik rugi besar lantaran kamu makan nya banyak" Canda Diya.


"Hahaha....Biarin siapa suruh dia menculik ku. Lagian kapan lagi aku di merasakan makanan dari sang penculik" Ucap Yuli membalas candaan sahabat nya itu.


"Jadi kamu beneran mau di culik?" Tanya Ivan serius.


"Ya enggak lah Van. Kan cuma bercanda. Lagian nanti jika aku di culik, kasihan ayang mbeb ku mencari ku. Pasti ia akan merasa sangat sedih dan kehilangan" Yuli menghayal.


"Ah...Mulai deh" Diya memutar matanya muak dengan sahabatnya yang suka berkhayal.


"Ya sudah pergi sana. Nanti kemalaman kalian pulang nya" Usir Yuli.


"Oh iya ayo Diy" Ajak Ivan mengulur tangan nya agar di sambut oleh gadis impian nya itu.


Diya menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum malu.


Yuli tersenyum melihat sahabat nya saat ini.


"Semoga kalian berjodoh. Dan semoga Ivan bisa menjadi lelaki yang selalu baik kepada mu ya Diy. Aku bahagia sangat sangat bahagia melihat mu bahagia" Doa Yuli dalam hati melihat kedua punggung manusia berlainan jenis kelamin itu menjauh dari pandangan nya.


***


"Assalamualaikum" Ucap salam Ivan memasuki ruang tamu yang megah menuju ke ruang makan.


"Waalaikumsalam" Sambut Ajeng dengan ramah.


Diya mencium tangan mama nya Ivan dengan penuh hormat.


"Van, ini yang kamu bilang gadis yang akan menjadi menantu mama?" Ucap Ajeng dengan tersenyum ramah. Memperhatikan penampilan Diya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Iya ma"


"Yang nama nya Diya itu kan?" Tebak Ajeng lagi.


"Iya ma, nama Diya"


"Wah, cantik sekali. Kamu pintar ya memilih gadis" Puji Ajeng.


"Ayo nak kita makan" Ajak Ajeng yang dari tadi tampak sibuk menyajikan makan malam di meja megah rumah nya itu.


Diya duduk di samping Ivan.


"Hallo semua...." Sapa Virda dengan ramah. Sontak senyuman yang tadi begitu lebar menjadi murung karena melihat sosok Diya gadis yang menjadi saingan nya untuk mendapatkan Ivan.


"Vir, ayo kita makan" Ajak Ajeng.


Dengan tatapan sini yang melekat ke arah Diya gadis itu melangkah dan duduk di hadapan gadis yang bernama Diya itu.


Diya menunduk merasa tidak nyaman saat Virda menatap nya seperti itu.


"Papa mana ma?" Tanya Ivan.


"Lagi di kamar, sebentar lagi juga turun" Ucap Ajeng.


"Wah udah pada ngumpul ya?" Herman datang menghampiri.


"Nah ini papa. Panjang umur baru juga di ceritain" Ajeng tersenyum melihat suaminya datang.


Diya bangkit dari kursi nya dan menyalami papanya Ivan.


"Pa, kenalin ini Diya gadis yang telah mencuri hati nya anak kita. Gadis yang selama ini di tunggu-tunggu oleh Ivan" Jelas Ajeng.


Degg.....


Diya kaget. Ternyata mama dan papa Ivan mengetahui bahwa Ivan menunggu nya selama ini. Ternyata dirinya memang penting sehingga begitu bangganya Ivan menceritakan dirinya kepada orang tua nya.


"Oh ya? Bagus dong, akhirnya kamu mendapatkan nya juga" Canda Ivan menepuk pundak anak semata wayang nya.


"Ayo pa kita makan" Ajak Ajeng. Herman duduk di kursi dimana kursi makan itu di khusus kan untuk kepala keluarga.


"Jadi tante Ajeng dan Om herman menyetujui hubungan mereka? Apa hebat nya sih ini cewek sampai-sampai semua orang begitu mengagumi nya.?" Batin Virda geram.

__ADS_1


"Vir ayo makan" Tegur Diya dengan ramah ingin mencair kan suasana yang sedikit dingin oleh Virda.


"Hmm" Jawab Virda dingin.


Mereka pun menyantap makanan mereka masing-masing.


"Vir, Ivan bilang kamu sudah mendapatkan pekerjaan di kantor lain ya?"


"Iya om"


"Lo, kenapa dengan kantor lama mu? Bukan nya di kantor lama mu itu posisi mu sudah bagus kan? Dan gaji mu juga besar di sana. Kenapa malah berhenti dan kerja di kantor yang posisi mu menurun dan gaji mu juga yah tidak sebesar gaji mu dulu" Tanya Herman.


"Oh, iya om aku cuma mau di sini aja dulu om Ingin mencoba suasana di kota ini"


"Lo jika hanya ingin menikmati suasana bisa hanya liburan kan. Tidak harus berhenti juga. Mencari pekerjaan susah lo. Apa lagi selagi mendapati posisi seperti mu sekarang. Padahal banyak orang yang berharap bisa bekerja seperti kamu" Ucap Herman lagi.


Virda hanya tersenyum kecut menanggapi.


"Aku rela kok om kehilangan semua nya demi Ivan. Aku tidak mau om jika aku kerja terus-terusan di sana, nanti Diya semakin leluasa mendekati Ivan. Itu akan membuat mereka semakin dekat. Oh aku tidak mau itu terjadi. Dan sebelum mereka semakin dekat, ada baik nya aku di sini untuk mengawasi dan membuat rencana agar mereka tidak bisa bersama" Batin Virda.


"Oh ya Diy, jika boleh tahu kamu mempunyai saudara? Boleh dong ceritakan semua tentang mu bersama kami" Pinta Ajeng.


"Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran ke sana? Aku tidak menanyakan tentang keluarga Diya selama ini. Kenapa aku bisa ceroboh begini sih?" Batin Ivan menyalahkan dirinya.


"Aku tidak mempunyai saudara om, tante. Aku anak tunggal. Ibu ku di kampung membuka usaha warung bakso. Ayah sudah lama. meninggalkan aku dan ibu di dunia ini" Cerita singkat Diya.


"Owh...jadi orang tua mu hanya pedagang bakso?" Tanya Virda terdengar merendahkan.


"Iya,. dari hasil bakso itu bisa menghidupi kami. Tapi sekarang ibu sudah tidak jualan lagi semenjak aku bekerja. Kasihan ibu sudah tua. Aku tidak meminta nya untuk berjualan lagi"


"Wah, bagus dong Diy, kamu benar-benar anak yang berbakti. Sekarang memang harus giliran kamu yang memberikan nafkah untuk ibumu di kampung. Yah biarkan lah ibu mu menikmati masa tua nya seperti om dan tante" Ucap Herman.


"Bagus apa nya? Ini kenapa sih orang-orang semua. Apa bagus nya coba? Kenapa mereka begitu tersihir dengan gadis ini? Apa jangan-jangan Diya memakai guna-guna untuk memikat hati semua orang?" Batin Virda. Hati nya terasa sangat sakit dan pilu karena orang di rumah itu sangat welcome terhadap dia berbanding terbalik dengan dirinya.


"Tante, tante yakin setuju dengan hubungan mereka? Tante dengar sendiri kan bahwa Diya berasal dari keluarga yang sederhana. Dan dari kampung lagi. Apa tante tidak malu nantinya jika mempunyai menantu dari kampung?" Bisik Virda ke telinga Ajeng memanas-manasi.


"Apa kata tentang teman-teman tante nanti nya. Status Diya dan Ivan tidak setara lo tante. Pikir deh lagi tante jangan nanti salah ambil keputusan" Tambah nya lagi.


"Emang nya kenapa jika Diya berasal dari kampung? Emang nya kenapa jika Diya hidup nya sederhana? Tante tidak menghalang-halangi Ivan untuk dekat dengan siapa pun. Kecuali dengan gadis yang prilakunya tidak benar. Dengan gadis yang tidak memiliki etika" Ucap Ajeng berbisik kembali ke telinga Virda.


"Tapi kan tante....."


"Sudah jangan di bahas hal yang tidak penting lagi. Yang menjalani hidup adalah Ivan. Dan Diya adalah gadis yang Ivan pilih. Tante dan om tidak melarang selama Ivan bahagia bersamanya" Potong Ajeng.


Virda merasa sakit hati dan jengkel terhadap Ajeng yang tidak mempan dengan hasutan nya.


"Si*al hasutan ku tidak mempan lagi dengan tante. Aku harus cari cara lain agar tante mau percaya dan menghalangi Ivan dan Diya bersama" Batin Virda.


"Oh ya Vir, kamu sudah mendapatkan tempat tinggal mu yang baru? Ivan bilang kamu mau mencari tempat tinggal baru"


"Wah, kesempatan apa aku bohong aja ya untuk bilang sama om jika aku belum menemukan tempat tinggal baru? Jadi om pasti mau mengizinkan ku untuk tetap tinggal di sini" Batin Virda.


"Hmm....belum sih om. Aku belum mendapatkan tempat tinggal baru. Kemaren aku sudah mencari namun tidak ada yang sesuai dengan ku" Bohong Virda.


"Nah kebetulan, om ada kenalan dengan salah satu pemilik apartemen yang tidak jauh dari tempat mu bekerja nanti nya. Besok om akan kenalkan kamu dan dia ya?" Ucap Herman.


"Si*al, aku pikir om Herman meminta ku untuk tinggal. Ternyata dia juga mengusir ku" Virda tampak kesal.


"Nanti om akan tanya sama dia ya tentang apartemen nya. Dan besok kamu bisa pindah ke sana" Tambah Herman lagi.


"Emang gak bisa ya om aku tinggal di sini?" Ucap Virda.


"Maaf Virda, om tidak mengizinkan kamu tinggal di sini. Secara kamu adalah anak perempuan dan om mempunyai anak laki-laki. Om takut nanti nya kalian akan jadi omongan para tetangga. Meski ada om dan tante di rumah ini, tetap saja orang-orang akan berpikir lain. Yah kepala orang boleh sama hitam, tapi hati mereka tidak tahu bagaimana bukan. Secara kamu juga tidak mempunyai hubungan darah dengan kami. Jika kamu keponakan atau yah saudara jauh masih bisa om dan tante terima kamu di rumah ini. Tapi jika untuk menginap beberapa hari, om dan tante akan izinkan. Tapi tidak untuk tinggal selamanya" Jelas Herman dengan lemah lembut agar Virda tidak tersinggung.


"Kamu ngerti dan paham kan maksud om?" Tanya Herman lagi


"Ya om, aku ngerti kok. Aku akan secepatnya pindah kok om. Maaf telah merepot kan kalian ya" Ucap Virda kemudian pergi meninggalkan meja makan itu.


"Sudah selesai makan nya?" Tanya Ajeng heran. Terlihat makanan di piring Virda masih banyak.


"Sudah tante. Aku sudah kenyang" Jawab Virda datar dan langsung pergi ke kamarnya.


"Pa, apa kita keterlaluan sama Virda?" Tanya Ajeng merasa tidak enak hati.


"Gak kok ma, mendingan kita ngomong jujur kepada dia. Dari pada hanya berbohong., Toh apa yang papa bilang tadi demi kebaikan mereka juga kan?"

__ADS_1


"Tapi kelihatan nya Virda tersinggung deh pa dengan kita"


"Kelihatan nya gitu sih. tapi dari pada kedepan nya menjadi omongan orang, lebih baik sekarang kan kita jujur" Jawab Herman.


__ADS_2