Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Kampung halaman


__ADS_3

"Sonia, Sonia....." Teriak Ferdi bila tiba di rumah nya.


"Ada apa sayang kok teriak-teriak begitu?" Tanya Sonia keluar dari arah dapur rumah nya.


"Aku mau tanya sama kamu. Apa kamu pernah menemui Diya dan mengatakan hal yang bukan-bukan dengan nya?" Ferdi bertanya dengan nada meninggi.


"Diya? Diya siapa sih Fer? Aku gak tahu" Jawab Sonia.


"Diya, Diya gadis ku. Pasti kamu kan menghasut Diya agar Diya menghindar dari ku? Pasti kamu telah mengancam Diya yang bukan-bukan hingga Diya tidak mau lagi bertemu dengan ku" Tuduh Ferdi ke Sonia.


"Apaa sih Fer. Aku gak pernah bertemu dengan Diya" Sonia berkata jujur.


"Bohong, pasti kamu yang mengancam nya untuk tidak mau mendekati ku lagi. Sudah aku bilang kepada mu agar memberi aku waktu untuk menerima semua ini. Kenapa kamu malah bertindak sesuka hati mu?" Bentak Ferdi.


"Aku? Aku katamu yang bertindak sesuka hati ku? Bukan nya kamu yang selama ini bertindak sesuka hati mu. Di depan ku kamu menyebutkan Diya gadis ku. Kamu mengejar gadis yang jelas-jelas tidak seharusnya kamu lakukan itu. Apa aku yang bertindak sesuka hati ku? Tidak bukan? Justru kamu lah bertindak sesuka hati mu tanpa memikirkan perasaan ku" Bentak Sonia.


"Jujur ya Fan, selama ini aku sudah sabar mengahadapi kamu. Aku tetap melayani mu dengan sebiasa mungkin agar kamu betah di rumah dan tetap bersama ku. Tapi apa yang ku dapat? Kamu masih saja mengejar gadis itu. Aku capek Fer, capek dengan semua ini. Aku juga punya hati. Aku juga punya perasaan. Aku bukan boneka yang bisa pasrah kamu mainkan perasaan nya begitu saja" Ujar Sonia meneteskan air mata.


"Sekarang terserah apa mau mu. Aku tidak mau memperdulikan nya lagi. Aku lelah terus mempertahankan namun kamu selalu ingin melepaskan. Aku tidak sanggup Fer jika hanya aku yang mempertahan kan mu. Aku lelah" Ujar Sonia lagi menunduk menutupi wajah yang basah karena air mata.


"Meski aku memang tidak menyukai dia, tapi sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan Diya kecuali di rumah sakit saat kamu pingsan di bioskop kemaren" Ujar Sonia lagi kemudian berlalu meninggalkan Ferdi yang terpaku tidak bisa berkata sepatah katapun.


"Jika buka Sonia yang mengancam Diya lalu siapa?" Ferdi mulai berpikir.


"Apa mama? Apa mama yang membuat Diya menjauhi ku? Mama memang dari dulu tidak menyukai Diya. Yah pasti mama yang memalukan nya" Tebak Ferdi dalam hati nya.


***


"Kamu benar-benar kejam Fer, kamu tega memarahi ku hanya demi gadis kampung itu. Segitu besar nya cinta mu kepadanya hingga kamu rela membentak ku yang sudah jelas sebagai istri mu. Hati ku hancur Fer. Hancur karena ulang mu" Ujar Sonia berkata kepada dirinya sendiri saat ia telah berada di dalam kamarnya. Sonia menangis karena ulah Ferdi yang menuduhnya tanpa bukti.


***


Waktu untuk berkunjung ke rumah Diya telah tiba masa nya.


Kini Diya, Ivan, kedua orang tua Ivan tak lupa Yuli dan Zaki ikut bersama dalam satu mobil.


Diya dan Ivan berada di depan, papa dan mama nya berada di tengah. Zaki dan Yuli berada di tempat duduk paling belakang.


Untuk sampai di tempat kampung halaman Diya dari kota Pekanbaru menuju Sejangat, Sungai pakning memakan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam.


Bahagia tiada ketara yang dirasa kan Diya saat itu. Di mana dirinya kini akan bertemu dengan ibu yang sudah beberapa bulan ini tidak ia temui hanya melalui vidio call saja saat ingin bertatap muka dengan orang yang telah melahirkan nya itu.


Kurang lebih tiga sampai empat jam perjalanan, mereka pun sampai di tempat tujuan. Berhubungan hari sabtu dan minggu libur, serta senin nya tanggal merah jadi ada waktu tiga satu hari mereka untuk menikmati suasana di kampung halaman ini. Yah mereka berangkat pukul delapan pagi. Dan sampai di kampung halaman Diya kurang lebih pukul dua belas siang tepat pada waktu makan siang.


Saat sampai di kampung, mereka di sambut oleh sanak saudara Diya yang begitu ramah dan telah menunggu akan kedatangan mereka sedari tadi.


"Eh....sudah sampai, ayo silahkan masuk" Sapa Mirna kepada Ajeng dengan ramah nya. Dan beralih ke Herman juga Ivan.


"Ibu" Sapa Diya memeluk erat tubuh yang tidak sekuat dulu lagi. Lama Mereka saling berpelukan menghilangkan rasa rindu yang begitu lama tidak bertemu. Tidak terasa beberapa air bening mengalir di pipi kedua nya.


"Aku rindu sama ibu. Rindu sangat" Kata Diya semakin mempererat pelukan nya.


"Iya nak ibu juga" Jawab Mirna. Mereka saling melepas pelukan nya. Kemudian Mirna menancapkan beberapa ciuman hangat untuk putri tercinta nya itu.


Melihat momen itu keluarga Ivan jadi tersentuh. Mereka tersenyum senang melihat kedua nya telah bertemu kembali.


Yuli dan Zaki sudah di antar duluan ke rumah orang tua Yuli sebelum Ivan, Diya dan kedua orang tua Ivan sampai ke rumah Diya.


"Ayo, ayo masuk" Kata salah satu bibik Diya yang merupakan adik dari mendiang ayah nya.


Kedua orang tua Ivan memperhatikan rumah sederhana yang di tempati oleh Diya dan ibu nya dulu.


Memang terlihat sebuah warung di depan rumah itu dimana yang dulu nya pernah menjadi tempat penghasil pundi-pundi rupiah untuk Diya bersekolah hingga pada akhirnya tamat dari kursus komputer nya selama setahun saja.


Setelah masuk ke ruang tamu, tampak hidangan makanan tersaji di meja ruang tamu.

__ADS_1


"Silahkan di cicipi makanan kami tuan dan nyonya. Maaf seadanya" Kata Mirna dengan sungkan.


"Oh iya, terima kasih....ini sudah lebih dari cukup kok buk" Jawab Ajeng tersenyum ramah.


Di rumah Diya hanya ada beberapa anggota keluarganya yang memang sudah di kabari oleh ibu nya karena akan ada lelaki yang akan melamar Diya. Tidak terlalu ramai hanya ada orang terdekat saja. Seperti adik perempuan ayah berserta suami nya, abang dari ibu nya Diya beserta keluarga nya, dan ada beberapa orang tertua kampung yang akan menjadi saksi untuk acara lamaran ini.


"Wah, masakan nya enak sekali buk" Puji Ajeng. setelah selesai menyantap makanan yang di sajikan.


"Bisa saja nyonya" Mirna tersipu.


"Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Panggil saja Ajeng dan ini suami saya Herman" Kata Ajeng memperkenalkan keluarga nya.


"Dan yang satu ini laki-laki yang paling tampan kebanggaan kami adalah anak kami satu-satu nya Ivan namanya" Tambahnya lagi.


Mereka pun saling ngobrol seadanya di ruang tamu itu. Saling bercanda gurau menghilangkan rasa canggung karena baru bertemu.


"Begini buk dan para hadiri yang ada di sini sekalian" Ujar Herman akhirnya berbicara maksud dan tujuan mereka datang ke kampung halaman nya Diya.


"Maksud dan tujuan kami datang ke sini karena ingin bermaksud dan berniat baik untuk anak ibu Mirna. Kebetulan anak saya Ivan sudah mencintai dan menyayangi anak ibu yaitu Diya sejak lama. Mereka sudah saling kenal dan saling dekat sejak beberapa bulang belakangan ini. Hingga timbullah percikan cinta di hati kedua nya. Hingga anak saya Ivan menyampaikan maksud ingin melamar anak ibu untuk di jadikan pendamping hidup nya kelak. Bagaimana menurut ibu? Apa ibu setuju?" Tanya Herman akhirnya menyampaikan tujuan nya.


"Jika kami sih jelas setuju-setuju saja. Kami tidak memilih siapa yang akan menjadi imam Diya kelak. Jika Diya merasa senang, maka kami pun akan lebih senang lagi. Karena kelak yang menjalani kehidupan berumah tangga adalah Diya dan Ivan nya. Oleh karena itu semua terpulang kepada Diya jika Diya setuju, kami pun lebih setuju lagi" Ujar adik laki-laki dari ibu ku.


"Iya pak kami mengikuti saja apa yang menjadi keputusan Diya" Mirna menambahkan.


"Bagaimana Diya, apa kamu setuju?" Tanya bibik Diya yang merupakan adik dari mendiang ayah nya.


Diya tertunduk malu. Kemudian dengan senyuman yang tersipu malu Diya mengangguk pelan.


"Alhamdulillah, Diya setuju dan menerima lamaran ini" Ucap adik laki-laki ibu nya.


Ivan menyematkan cincin di jari manis Diya di mana cincin tersebut pernah ia pasangkan ke jari manis nya Diya saat ia mengungkapkan perasaan nya kemaren. Kini cincin itu telah menjadi pengikat hubungan antar dirinya dengan gadis yang ia cintai itu.


"Maaf sebelumnya kami juga akan mengadakan acara pertunangan Ivan dan Diya di kota. Dan beberapa minggu setelah nya akan di adakan acara pernikahan mereka. Apa para keluarga pihak Diya merasa keberatan?" Tanya Herman dengan lembut nya.


"Iya bapak-bapak dan ibu-ibu, berhubungan Ivan dan Diya ada pekerjaan di kota, jadi alangkah lebih baik nya akan di adakan acaranya di kota saja. Karena mereka bisa mempersiapkan pernikahan mereka sambil bekerja. Bagaimana apa kalian setuju?" Tambah Ajeng lagi.


Begitu lah acara lamaran sederhana oleh Diya dan Ivan Hanya sekadar lamaran keluarga sebagai tanda keseriusan Ivan. Hanya tinggal acara pertunangan nya dan juga nikah nya yang akan di adakan di kota.


***


"Maaf ya buk kamar di rumah kami hanya dua. Ibu dan bapak tidur saja di kamar Diya ya. Biar Diya tidur sama saya" Ujar Mirna.


"Iya gak apa-apa kok buk Mirna. Saya sudah merasa bersyukur sekali bisa di sambut dengan baik sama keluarga ibu" Jawab Ajeng saat mereka sedang ngumpul di ruang tamu di malam hari nya.


"Van kamu tidur di ruang tamu gak apa-apa ya" Tanya Mirna lagi.


"Iya buk gak apa-apa. Tidur di mana saja tidak masalah bagi ku" Jawan Ivan tersenyum.


Mereka pun saling ngobrol seadanya. Bercengkrama menghabiskan malam yang tersisa di malam itu.


***


"Maaf terlambat. Sudah lama menunggu" Tanya Sonia baru sampai di sebuah taman kota tempat mereka janjikan tadi malam bersama Virda.


"Gak kok, aku juga baru nyampai lima belas menitan" Jawab Virda.


"Ada apa kamu mengajak ku ketemuan di sini?" Tanya Sonia.


"Son, apa kamu tahu bahwa hari ini adalah hari dimana Ivan dan keluarganya pergi ke kampung halaman nya Diya"


"Oh ya? Kenapa? Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu lo Vir" Ujar Sonia.


"Iya, Ivan akan melamar Diya maka nya mereka pergi ke kampung halaman Diya untuk menemui keluarga Diya di kampung" Jelas Virda.


"Mungkin lebih baik Diya menikah dengan Ivan. Jika Diya telah menikah dengan Ivan pasti akan membuat Ferdi sadar bahwa Diya bukan lah jodoh nya seperti apa yang ia harapkan selama ini. Lebih baik aku mendukung Ivan dan Diya saja agar rumah tangga ku tetap utuh" Batin Sonia.

__ADS_1


"Son, kita harus menggagalkan pernikahan mereka pernikahan itu akan di laksanakan beberapa minggu setelah mereka pulang dari kampung nya Diya" Jelas Virda menyampaikan maksud nya kepada Sonia.


"Kamu harus mencari tahu info di mana acara itu berlangsung dan kapan pasti nya acara itu" Tambah nya lagi.


"Vir, aku tidak akan mau ikut-ikutan dalam hal ini. Mungkin lebih baik Ivan dan Diya bersatu dengan begitu Ferdi lebih sadar bahwa Diya bukan lah jodohnya" Ujar Sonia.


"Lo, kok kamu mau menyetujui hubungan mereka sih Son. Bukan nya kamu mau bekerja sama untuk menyingkir kan Diya" Kata Virda mulai gelisah karena orang yang mau bekerja sama dengan nya dalam hal menyingkirkan Diya tidak mau bekerja sama lagi dengan nya.


"Aku harus bagaimana? Aku lelah lo Vir. Aku tidak mau ikut-ikutan dalam permainan mu. Masalah rumah tangga ku sudah cukup membuat ku tertekan. Jadi jangan kamu tambah masalah baru lagi dalam hidup ku" Ujar Sonia.


"Tapi Son....Ingat apa yang kamu katakan sama tante Ajeng bahwa ibu nya Diya mantan narapidana. Kamu mau keluarga mu jadi bahan omongan orang-orang lantaran memiliki besan seperti itu?" Virda mulai menghasut kembali.


"Vir, aku tegaskan ya sama kamu. Jika tante Ajeng dan om Herman tidak mempermasalahkan hal itu kenapa kamu yang repot. Aku tahu kamu dari dulu memang menyukai Ivan. Tapi Ivan hanya menganggap mu sebagai adik angkat nya saja. Seperti dia menganggap ku juga. Sayang dia ke kamu sama dengan sayang nya ke aku. Tidak lebih, tidak sebagai kekasih. Kamu harus nya mengerti. Jangan memaksa kehendak mu" Ujar Sonia menasehati.


"Tapi kan Son....."


"Sudah ya Vir, aku tidak mau mendengar apa pun tentang Diya" Potong Sonia cepat langsung meninggalkan Virda yang masih tidak percaya karena Sonia telah membatalkan kerjasama nya.


***


"Nak, tak terasa sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang.. Ibu bahagia sekali melihat anak ibu telah tumbuh dewasa dan bisa melewati masa-masa sulit seperti kemaren. Ibu sangat bersyukur nak. Kamu telah menemukan orang yang tepat untuk menjadi imam di dalam hidup mu" Ujar Mirna meneteskan air mata saat ia dan Diya berada di kamar nya.


"Iya buk. Aku tidak menyangka Ivan begitu sabar menghadapi ku bu. Ia sabar menantikan balasan cinta ku. Ibu tahu, sebelum ini, aku memang pernah bertemu dengan Ivan buk sewaktu aku masih duduk di bangku SMA"


"Bertemu bagaimana?" Mirna tidak mengerti.


"Iya buk. Pada waktu SMA kami kan pernah pergi tour ke Pekanbaru. Dan di SMA Pekanbaru itu lah sekolah nya Ivan buk.. Kami bertemu di sana kebetulan saat itu ia menjabat sebagai ketua osis. Ibu tahu dulu dia pernah mengungkapkan perasaan nya kepada ku. Namun aku tidak menjawab nya karena saat itu aku kaget mendadak dia mengatakan hal itu. Terlebih dulu aku bersama kak Ferdi" Jelas Diya.


"Aku tidak menyangka buk, dia masih menunggu ku sampai saat ini. Yah mungkin karena kami ditakdirkan untuk bersama. Karena itu dia setia menungguku .meski banyak gadis-gadis cantik yang mendekati nya. Dan karena takdir juga aku bisa membuka hati ku untuk nya buk" Jawab Diya tersenyum membayangkan kejadian di masa lalu nya.


"Iya ya nak. Semua yang terjadi sudah di tentukan dengan Allah kita hanya menjalani apa yang telah di tentukan nya. Ya sudah hari sudah larut.. Ayo kita tidur" Ajak Miran.


"Iya buk sebentar lagi. Aku mau keluar ke kamar mandi sebentar" Jawab Diya.


Sepulangnya dari kamar mandi, Diya tidak melihat Ivan di ruang tamu.


"Kemana pergi nya tuh orang?" Pikirnya lalu pandangan nya tertuju pada pintu depan yang terbuka.


"Ngapain duduk sendirian di luar malam-malam begini?" Tanya Diya setelah melihat orang yang ia cari sedang duduk bersantai di kursi teras rumah nya.


"Entar Kesambet lo" Tambah nya lagi.


"Eh, Diy, belum tidur kamu?" Jawab Ivan.


"Di tanya malah tanya balik" Diya duduk di samping calon suami nya.


"Gak kok Diy, aku hanya menikmati suasana malam di kampung mu. Tenang, aman, tanpa kebisingan dan hiruk pikuk kendaraan seperti di kota" Jawab Ivan menatap jalanan yang kelihatan sepi dengan orang-orang yang lewat.


"Waktu baru menunjukan jam sepuluh malam ya Diy, tapi keadaan di sini sudah sepi"


"Namanya juga di kampung Van. Gak ada hiburan jadi ya ketika sudah selesai solat isya pada tidur semua" Jawab Diya.


"Kampung mu memang enak jika di jadikan tempat menenangkan pikiran karena terlalu sibuk bekerja di kantor" Kata Ivan.


"Sebentar ya. Kamu tunggu di sini dulu" Kata Diya bangkit dari duduk nya. Tanpa menunggu jawaban dari Ivan Diya pun pergi masuk. ke rumah .ya.


Setelah beberapa menit kemudian Diya kembali ke tempat Ivan yang masih setia duduk menikmati suasana malam di kampung nya.


"Nih, jika sedang menikmati suasana malam seperti ini, alangkah nikmatnya lagi jika sambil menikmati secangkir teh hangat" Ujar Diya menyerahkan secangkir teh hangat kepada Ivan.


Ivan menyambut nya dengan tersenyum.


Mereka pun duduk dan menghirup teh hangat yang telah di buat oleh Diya dengan sangat nikmat nya.


"Diy, Terima kasih ya Diy, kamu telah mau menerima ku" Ujar Ivan memegang jari jemari lentik calon istri nya.

__ADS_1


"Aku yang harusnya mengucapkan terima kasih kepada mu Van.. Karena kamu selalu ada untuk ku. Aku sangat bersyukur telah di pertemukan kembali dengan mu. Jika tidak ada kamu,. aku tidak tahu bagaimana nasib ku sekarang" Jawab Diya menatap sendu ke arah Ivan.


Diya menyandar kan kepala nya di bahu Ivan. Mereka menikmati suasana malam yang sepi dan tenang bersama dengan menikmati secangkir teh hangat mereka masing-masing.


__ADS_2