
"Bagaimana Diya? Kamu suka rumah nya?" Ivan bertanya saat mereka telah sampai di rumah milik nya.
"Bagus kok Van" Jawab Diya sambil mengamati setiap celah ruangan yang di dalam rumah itu.
"Bagus jika kamu suka. Rumah yang sederhana dan nyaman untuk kamu tinggali bersama Yuli nanti" Kata Ivan sambil tersenyum manis menatap Diya yang masih plangak-plongok melihat rumah itu.
Rumah yang begitu luas memiliki ruang tamu, ruang keluarga, tiga kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur, di belakang rumah itu juga terdapat taman yang cukup luas. Serta rumah yang mendominasi warna biru dan putih itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Dimana ruang tamu nya sudah di lengkapi dengan Sofa yang berwarna putih bersama dengan meja kaca persegi panjang yang terlihat manis di hadapan nya. serta di sudut ruangan terdapat lemari dengan berbagai hiasan seperti bunga, vas-vas kecil yang berbentuk hewan menambah mesan indah nya ruangan itu, dan juga di dinding rumah itu terdapat berbagai gambar tergantung rapi di sana.
Di ruang keluarga terdapat karpet di lantai yang begitu indah berwarna biru dan terdapat sofa santai untuk keluarga. di depan nya terdapat televisi yang cukup besar dan tak lupa ada berbagai hiasan kecil yang berjejeran di atas meja hias di samping televisi itu.
Di dalam kamar juga sudah lengkap dengan kasur dan lemari serta dengan meja hias sudah terdapat di sana. Dan di dapur juga sudah sangat lengkap dengan fasilitas yang ada di dapur seperti pada umum nya.
Sengaja Ivan telah mempersiapkan semua ini jika dia sudah berumah tangga kelak, sudah ada tempat dimana mereka akan berteduh menghabis kan masa-masa indah bersama keluarga kecil nya di rumah itu.
__ADS_1
Diya mengerut kening nya sedikit agak bingung atas ungkapan Ivan tadi saat lelaki itu mengatakan rumah nya sederhana.
Yah, untuk gadis seperti Diya itu bukan rumah yang sederhana. Tetapi itu rumah mewah yang pernah dia tempati.
"Kenapa?" Tanya Ivan sedikit bingung dengan ekspresi Diya.
"Gak, aku cuma bingung" Jawab Diya masih mengamati seluruh isi ruangan rumah itu.
"Bingung kenapa?"
Ivan tidak menjawab ia hanya tersenyum mengamati wajah gadis cantik di hadapan nya. Wajah polos, senyum yang manis membuat malam-malamnya selalu di dihantui oleh gadis ini.
"Kenapa kamu melihat ku begitu?" Tanya Dia kikuk saat di lihat Ivan terus menerus.
__ADS_1
"Kamu cantik" Jawab Ivan spontan.
Mendengar itu Diya jadi salah tingkah. Ada rona warna merah mulai muncul di pipinya yang halus. Sungguh entah mengapa ia merasa sedikit senang saat Ivan memuji nya.
Diya tersenyum malu, Dua mata saling beradu. Mengamati dan mengagumi keindahan mahkluk ciptaan tuhan.
"Ya ampun, ternyata Ivan ganteng juga. Kenapa aku baru menyadari nya?" Diya baru menyadari.
"Kemana saja aku selama ini?" Pekik batin nya.
Yah baru Diya menyadari betapa ganteng nya lelaki di hadapannya. Sudah tampan, mapan, dan baik lagi. Apa lagi dengan body sixpack milik nya membuat nilai plus untuk lelaki itu.
"Kenapa? Aku tampan?" Tebak Ivan membuat Diya kaget
__ADS_1
"Ha? Dia bisa membaca pikiran ku? Apa di australia dia juga belajar menjadi neuron cermin?" Pikirnya salah tingkah.
Ivan tertawa riang melihat ekspresi Diya dan berlalu dari hadapan gadis itu.