
"Mama dan papa percaya saja sama aku.. Aku yakin Diya tidak seburuk yang mereka pikirkan. Aku juga telah mengenal Diya lama" Ucap Ivan penuh keyakinan.
"Aku capek ma, pa aku mau bersih-bersih dulu di kamar dan istirahat. Ingat ya ma, pa, lusa kita akan pergi ke kampung halaman nya Diya" Tambah nya lagi meyakinkan mama dan papanya untuk ikut.
"Iya mama dan papa akan ikut kok bersama kamu Van" Jawab Ajeng.
"Aku ke kamar dulu ya ma?"
"Gak makan dulu? Udah terlalu malam ini ko Van, kamu melewati waktu makan malam" Ujar Ajeng.
"Aku udah makan kok tadi ma di rumah Diya" Jawab Ivan dan langsung berlalu dari hadapan kedua orang tua nya.
"Pa, kita harus bagaimana? Apa benar Diya itu seperti apa yang Sonia katakan? Mama merasa sedikit janggal lo pa mendengar ibu nya Diya itu mantan narapidana" Ucap Ajeng.
"Udah, jangan di pikir kan ma. Aku yakin anak kita memilih orang yang tepat. Ma, kamu dengar sendiri kan apa yang di katakan oleh Ivan tadi. Karena hubungan Diya dan Ferdi tidak di restui membuat Ferdi lari dari rumah dan mengalami kecelakaan. Apa mama mau anak kita seperti itu juga? Sudah lah ma, percaya saja sama Ivan. Toh yang menjalani kehidupan nya nanti dia ma. Bukan kita" Jelas Herman memberi dukungan kepada putra nya.
"Iya ya pa, mama gak mau hal yang buruk terjadi sama anak kita pa. Ivan kan anak mita satu-satu nya. Ya sudah mama dengar apa yang papa katakan" Ajeng mengalah.
"Pa, tapi apa gak kecepatan ya mereka akan menikah? Mendadak sekali"
"Ya mau di apakan lagi ma, anak mu udah ngebet. Gak sabaran sama seperti papa mau menikahi mama dulu" Bisik Herman menggoda.
"Biarin aja lah ma, itu kan hal yang baik bagi papa. Ta'aruf lebih baik dari pada harus pacaran. Yah mama tahu sendiri lah kan di zaman sekarang banyak anak muda yang kebablasan. Selama ini positif untuk anak kita, kita harus dukung mereka ma" Sungguh bijak sikap Herman yang selalu mementingkan kebahagiaan putra nya.
Ajeng mengangguk mengerti.
***
Tok....tok...tok....
Terdengar suara pintu kamar Ivan di ketok.
"Siapa sih malam-malam begini ganggu orang mau istirahat saja" Ucap Ivan bangkit dari rebahan nya dan membuka pintu.
"Lo Vir, kamu masih di sini? Maksud ku kamu belum pindah ke apartemen yang papa sarankan ke kamu?" Tanya Ivan setelah mengetahui siapa yang mengetuk pintu nya tadi.
"Besok aku akan pindah kok Van. Kamu teman aja. Tapi aku mau kamu membantuku membereskan yah beberapa barang yang perlu aku tambahkan di apartemen ku nanti. Besok temenin aku belanja ya?" Virda mulai merengek.
"Aduh, aku sibuk Vir" Elak Ivan.
"Jika kamu tidak mau membantu ku, Ya sudah aku tidak akan mau pindah dari sini" Ancam Virda.
"Aduh, ni anak apa-apaan coba pakai mengancam lagi. Ya sudah lah aku akan meng cancel meeting ku besok pagi di ganti dengan siang nya saja. Dari pada ini cewek gak pergi-pergi dari rumah ini. Lagian kan hanya sebentar aku membantu nya untuk berbelanja" Kata Ivan dalam hati.
"Emang besok kamu gak kerja di kantor baru mu?"
"Aduh Ivan, masuk kerja nya awal bulan kok Van. Gimana sih kamu gak baca ya surat yang aku kasih kemaren" Tanya Virda.
"Oh...." Hanya itu yang keluar dari mulut Ivan sejujurnya dia memang tidak membaca secara detail tentang surat tang Virda berikan kepadanya.
"Ya sudah besok aku akan bantu-bantu kamu untuk pindah dan berbelanja beberapa keperluan di apartemen mu"
"Asyik....makasih ya Van" Virda kegirangan memeluk tubuh sixpack yang ada di depan nya dengan erat.
"Aduh Vir, gak usah pakai peluk-peluk segala coba" Ivan merasa keberatan karena di peluk oleh Virda.
"Lo kenapa Van, biasa nya kamu gak keberatan seperti ini jika aku peluk" Ucap Virda masih memeluk Ivan dan semakin erat nya.
"Ya gak enak di lihat sama papa dan mama" Ivan memberi alasan.
Virda melepaskan pelukan nya.
"Besok pagi kita langsung ke mempersiapkan segalanya ya. Besok pagi aku libur ke kantor, siang nya baru aku ke kantor untuk melakukan meeting bersama klien" Ujar Ivan.
"Oke" Ucap Virda membulat kan jari telunjuk dan ibu jari nya membentuk huruf o.
***
Terdengar nada sabungan panggilan terhubung melalui Vidio call di WhatsApp.
Diya tersenyum mengetahui siapa yang menghubungi nya.
"Iya Van" Jawab Diya tersenyum manis.
"Belum tidur?" Tanya Ivan basa basi.
"Belum, baru siap-siap mau tidur" Jawab Diya.
"Kamu sudah sampai di rumah?" Tambahnya lagi.
"Sudah, baru selesai bersih-bersih dan mau istirahat" Jawab Ivan.
"Owh kenapa gak istirahat saja. Kamu pasti capek banget karena lembur tadi" Ucap Diya penuh perhatian.
"Iya nanti juga mau istirahat. Diy aku mau ngomong sama kamu" Raut wajah Ivan menjadi serius.
"Apa?" Jawab Diya dengan serius pulak.
"Maaf sebelum nya tapi ini terus saja menghantui dan membuat aku tidak tenang"
__ADS_1
Degg....
Perasaan Diya mulai tidak enak. Ada perasaan was-was di hati nya dengan apa yang akan di katakan oleh Ivan.
"Apa Ivan akan membatalkan acara lamaran ini? Apa Ivan tidak mau jadi ikut ke kampung ku bertemu dengan ibu?" Satu persatu pertanyaan mulai muncul di benak nya gadis itu.
"Diy, maaf sebelum nya jika pertanyaan ku ini kelak akan membuat mu tersinggung. Aku hanya ingin meminta kepastian dan kejujuran dari mulut mu langsung" Ujar Ivan dengan nada yang serius.
"Iya aku akan menjawab jujur sama kamu" Jawab Diya.
"Diy, apa benar ibu mu mantan narapidana?" Tanya Ivan lemah lembut takut Diya tersinggung dengan pertanyaan nya itu.
Degg....
Diya kaget, terasa seperti petir di siang bolong mendengar pertanyaan Ivan yang ia tidak tahu dari mana itu berasal.
"Narapidana bagaimana maksud mu Van?"
"Narapidana karena ibu mu pernah masuk penjara lantaran menjual bakso dari daging tikus. Apa benar itu semua?"
Degg.....
Jantung Diya berdegup kenjang mengingat peristiwa beberapa tahun silam dimana ibunya telah di fitnah oleh Khetrine dan Tio saat itu yang mengakibatkan ibunya harus di tahan selama beberapa hari.
Diya tampak berpikir mengingat kembali semua kejadian yang menyakitkan itu.
"Diy, kenapa kamu diam? Aku tidak mempermasalahkan jika itu benar adanya. Aku mencintai mu apa adanya. Aku hanya ingin memastikan saja agar tidak ada rahasia di antara kita kelak seburuk apa pun kejadian yang menimpa di masa lalu mu" Ujar Ivan mantap.
Diya menghela napas berat. Sejujurnya ia tidak mau mengingat kembali kejadian yang membuat ibunya di tahan itu.
"Benar ibu ku pernah di tangkap oleh polisi saat itu. Hal itu di karena kan ada orang yang tidak menyukai hubungan ku dan kak Ferdi. Jadi dia memfitnah ibu ku dengan mengatakan dan menaruk barang bukti yang aku tidak tahu bagaimana hal itu dia lakukan. Sehingga ibu di tuduh menjual bakso dari daging tikus" Jelas Diya dengan berat.
"Jadi itu semua hanyalah fitnah Diy?"
"Iya Van. Semua itu fitnah. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Jika tidak percaya tanya saja sama kak Ferdi. Dia lah yang menangkap pelakunya saat ketahuan olehnya" Ucap Diya mengingat peristiwa menyedikan itu.
"Saat di tangkap oleh polisi, ibu drop dan pingsan sehingga di larikan kerumah sakit dalam beberapa hari ibu di rawat. Ibu juga melakukan pemeriksaan tentang tuduhan yang menimpanya di rumah sakit itu. Untung nya ibu tidak terbukti bersalah. Kak Ferdi telah menemukan siapa pelaku semua ini" Jelas Diya lagi.
"Sudah ku duga pasti semua ini ada kaitan nya dengan tante Mira. Karena dari dulu tante Mira tidak menyukai Diya dan Ferdi untuk bersama. Pasti tante Mira melakukan hal serendah itu" Batin Ivan menebak.
"Boleh aku mengetahui siapa dalang di balik semua itu? Aku hanya ingin tahu Diy agar kedepan nya tidak ada rahasia di dalam hubungan kita" Jelas Ivan.
"Khetrine dan Tio. Khetrine adalah gadis yang saat itu satu angkatan sama kak Ferdi. Ia menyukai kak Ferdi sejak lama. Namun kak Ferdi tidak membalas cinta nya. Sedangkan Tio adalah sahabatnya kak Ferdi. Dia mau melakukan hal itu demi Khetrine karena Khetrine mau menjadi pacarnya. Tio memang sudah lama menyukai Khetrine. Oleh karena itu dia mau-mau saja di suruh apa pun oleh Khetrine" Jelas Diya.
Ivan mengangguk mengerti. Sekarang semua telah jelas. Ivan. Sungguh kehidupan gadis ini penuh dengan lika liku. Dimana memang dari dulu orang-orang bagitu licik ingin berbuat jahat kepada nya.
"Diy, sekarang giliran ku yang menjaga mu. Aku akan memastikan akan aman saat bersama ku" Batin Ivan.
"Oh tidak. Semua nya telah jelas. Oh ya Diy, lusa papa dan mama akan ikut bersama kita ke kampung halaman mu. Tolong kamu kabari ibu mu ya bahwa aku dan kedua orang tua ku datang untuk melamar mu"
"Iya nanti aku akan kabari ibu" Jawab Diya tersenyum senang.
"Oh ya Diy, satu lagi. Tolong kamu cancel meeting untuk besok lagi ya. Meeting nya akan di ganti siang hari nya" Kata Ivan.
"Di ganti kenapa?" Tanya Diya.
"Si Virda besok mau pindah ke apartemen baru nya. Dia meminta ku untuk membantu nya pindah dan membelikan beberapa perlengkapan untuk apartemen nya. Yah aku harus membantu nya jika tidak, dia tidak akan mau pindah ke apartemen baru nya dan akan tetap tinggal di sini. Mau tidak mau aku harus menemani nya Diy. Kamu tidak marah kan?" Tanya Ivan jujur.
"Oh....itu, iya gak apa-apa. Besok aku akan kabari klien dan mengatur ulang meeting kita" Jawab Diya dengan nada yang bisa di artikan sebagai cemburu. Namun gadis itu bersikap seperti biasanya saja. Karena ia tidak mau terlalu egois dan mengekang Ivan. Yah karena belum ada ikatan yang sah. Jika sudah ada ikatan yang sah itu baru Diya bertindak.
Gadis itu tidak mau terlalu mengekang karena Ivan belum menjadi suami nya. Ia juga percaya bahwa Ivan bisa menjaga hati dan mata nya hanya untuk dirinya. Meski bagaimanan pun di goda, Ivan pasti bisa menahan semua hal itu. Pikirnya penuh keyakinan.
"Benar kamu tidak mempermasalahakan ini?" Tanya Ivan meminta kepastian.
"Iya gak apa-apa kok Van. Aku tidak masalah jika kamu membantu Virda" Jawab Diya dengan senyuman yang tampak di paksakan. Ia bisa berkata jika ia tidak apa-apa namun hatinya berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan.
"Oh ya Diy, besok pagi kamu pergi nya di jemput sama pak Udin ya"
"Gak perlu deh Van. Nanti kasihan pak Udin nya bolak balik mengantar ku setelah itu balik lagi menjemput kamu. Aku bisa kok pergi ke kantor dengan menggunakan taksi" Diya keberatan.
"Gak Diy, pak Udin besok akan menjemput mu seperti biasanya. Aku bisa kok menggunakan mobil papa. Jadi kamu jangan khawatir tentang hal itu" Jawab Ivan tersenyum dengan khas nya.
"Tapi kan Van...."
"Udah jangan membantah" Potong Ivan cepat.
"Aku akan merasa tenang jika kamu pergi bersama orang kepercayaan ku ke kantor" Tambahnya lagi.
"Ya sudah aku turuti saja kemauan mu. Asal kamu merasa tenang" Diya tersenyum dengan manis nya.
"Begitu dong. Kamu benar-benar calon istri ku yang baik" Puji Ivan menggoda.
"Bisa aja gombal" Diya tersipu malu.
"Ya sudah istirahat Gih, sudah larut malam. Besok kesiangan lagi bangun nya"
"Iya aku kamu juga istirahat ya...." Balas Diya tersenyum.
"Iya, jangan lupa hadirkan aku dalam mimpi indah mu"
__ADS_1
"Iya Van. Kamu akan selalu hadir dalam mimpi indah ku kok"
"Aduh, Diy, aku benar-benar sudah gak sabar akan memeprsunting kamu menjadi istri ku Diy"
"Menemui ibu saja belum sudah ngomong begitu aja sih kamu Van"
"Benar lo Diy, aku ingin mempercepat pernikahan kita. Jika bisa besok kita langsung menikah" Jawab Ivan
"Ya gak bisa gitu juga dong Van"
"Iya maka nya aku gak sabar. Jika bisa aku memutar waktu, aku akan membuat waktu cepat berlalu sampai hari H itu tiba" Kata Ivan berkhayal.
"Iya, doain aja semua nya lancar ya Van"
"Aamiin....Ya sudah tidur lah sayang. Selamat malam, mimpi indah ya" Ucap Ivan penuh dengan rasa cinta di dada.
"Iya, selamat malam juga sayang" Sambut Diya dengan tersenyum malu.
Merekapun mengakhiri vidio call nya masing-masing.
Diya melirik jam di dinding kamar nya.
"Sudah pukul sebelas malam. Ibu sudah tidur belum ya?" Tanya Diya dalam hati.
"Mendingan aku mencoba menghubungi ibu, siapa tahu ibu belum tidur" Tambah nya lagi.
Diya mengetik nomor ibu nya di ponsel milik nya. Melakukan panggilan biasa karena ponsel ibu nya merupakan ponsel biasa tidak secanggih ponsel anak yang sekarang. Maklum orang tua, tidak terlalu canggih dalam memainkan android. Jika Diya mulai kangen sama ibu nya dan ingin melihat wajah ibunya di kampung, biasanya Diya menghubungi Siti orang yang membatu ibu nya di warung saat ibu Diya masih aktif menjual bakso nya. Di mana rumah Siti memang tidak jauh dari rumah nya.
Tut......tut....
Suara sambungan telpon berbunyi.
"Hallo, Diya" Jawab Mirna.
"Buk, maaf menggangu, ibu sudah tidur?" Tanya Diya.
"Belum nak, ibu baru pulang melayat di rumah tentangga"
"Siapa yang meninggal buk?"
"Pak Edi nak,. kecelakaan tadi siang"
"Inalillahiwainnaillahirojiun" Ucap Diya turut beduka cita.
"Ibu apa kabar?" Tambah nya lagi.
"Alhamdulillah ibu sehat kok nak. Kamu gimana kabar nya? Kapan pulang? Ibu kangen sama kamu nak" Ucap Mirna tersengar sedih.
"Aku juga kangen sama ibu. Aku akan pulang lusa buk"
"Benar kah? Wah ibu akan memasak makanan kesukaan kamu jika kamu pulang nanti nak" Mirna terdengar senang.
"Tapi aku pulang nya gak sendiri buk. Aku pulang bersama Ivan dan kedua orang tua nya"
"Ivan? Siapa? Kenapa emang nya?"
"Ivan dan kedua orang tua nya akan datang untuk melamar ku buk"
"Benarkah nak...Alhamdulillah" Ucap syukur di hati Mirna. Rasa bahagia tak tertandingi karena Diya yang dulu nya telah kehilangan separuh jiwa nya karena kepergian Ferdi tanpa kabar, kini telah bangkit kembali dan berbasil move on.
"Oh ya buk, nanti ketika kami pulang ke kota, ibu ikut aku ya tinggal di kota. Aku gak mau ibu tinggal sendirian di kampung. Jika ibu di sini bersama kami, aku akan merasa tenang karena ibu ada yang jagain" Ucap Diya menyampaikan saran dari Ivan.
"Ibu mau kan tinggal bersama kami?" Tanya Diya lemah lembut.
"Iya nak, ibu akan sangat senang tinggal bersama anak ibu. Kita bisa bersama lagi seperti dulu ya nak" Ucap Mirna senang.
"Buk nanti kabari saudara-saudara kita di sana ya jika lusa ada yang datang melamar ku buk. Tapi acara lamaran dan pernikahan nya akan di adakan di sini buk. Gak di kampung kita. Karena Ivan dan aku bisa sambil kerja sambil mempersiapkan acara nya di sini buk. Gak masalah kan buk?" Tanya Diya lagi.
"Iya gak apa-apa kok nak. Ibu ngerti kalian berdua sama-sama sibuk. Jadi ibu ikuti saja mana baik nya" Kata Mirna.
"Ya sudah ya buk aku hanya menyampaikan itu saja. Jadi ketika aku dan keluarga Ivan datang nanti nya tidak akan membuat ibu kaget" Ucap Diya.
"Iya nak. Besok ibu akan kabari sama beberapa keluarga kita ya agar mereka bisa menjadi saksi nanti nya atas lamaran yang Ivan lakukan ke kamu" Jawab Mirna.
"Ya sudah ya buk aku tutup dulu telpon nya. Ibu jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek. Aku sayang sama ibu" Kata Diya penuh dengan perhatian.
"Iya nak, kamu juga jaga kesehatan ya sayang. Apa lagi kamu mau menikah jadi harus jaga diri baik-baik. Kata orang melayu sih saat di pinang nanti akan jadi darah manis kamu nya" Kata Mirna.
"Iya buk doain ya buk semua nya baik-baik saja dan bisa berjalan dengan lancar"
"Aamiin....Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu nak"
"Aku tutup telfon nya dulu ya buk. Asaalamualaiku"
"Waalaikumsalam"
Mereka pun mengakhiri telpon nya.
Note:
__ADS_1
Darah manis maksud nya adalah ketika orang yang telah melakukan pertunangan akan mudah terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Seperti kecelakaan oleh salah satu nya atau peristiwa yang buruk lain nya. Karena itu ketiak sudah bertunangan, orang tersebut harus lebih berhati-hati. Karena cobaan akan terus berdatangan sebagai ujian dalam hubungan yang mereka jalani. (kurang lebih seperti itu ya ma).