
"Selamat pagi mama" Sapa Ivan menuju meja makan untuk melaksanakan rutinitasnya bersama wanita paruh baya yang telah melahirkan nya.
"Selamat pagi sayang" Balas bu Ajeng masih sibuk dengan menata piring dan makanan di atas meja. Yah memang mereka mempunyai asisten rumah tangga, namun bu Ajeng lebih senang jika ia ikut serta dalam menyajikan makanan untuk Ivan anak semata wayang nya.
Jika untuk memasak makan untuk keluarga bu Ajeng lah yang jadi kokinya. Sedangkan asisten rumah tangga nya hanya mengerjakan pekerjaan lain seperti mengepel, menyapu, mencuci pakaian. Yah biasa yang di kerjakan asisten rumah tangga lah, tapi tidak dengan memasak.
Bagi bu Ajeng, dirinya akan menjadi istri dan ibu yang sempurna dan lebih berarti jika menyajikan makanan yang sehat dan enak untuk keluarga nya.
Meski sudah paruh baya, namun buk Ajeng masih kelihatan segar dan cantik. Nama nya juga orang kaya. Jelas saja perawatan nya bagaimana kan. Sekali melakukan perawatan yang harganya bisa di katakan wah. Dan harga itu sama dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga beberapa bulan bahkan setahun.
Ivan mendekat pada mama nya dan mendaratkan kecupan sayang kepada sang mama. Buk Ajeng tersenyum mendapat perlakuan itu.
"Papa mana ma?" Tanya Ivan mencari sosok papa nya di ruangan itu. Masih d belakang, siram tanaman di kebun.
Yah di belakang rumah mereka ada sebuah kebun yang di tanami dengan berbagai jenis tumbuhan hias. Seperti bunga anggrek hitam, janda bolong, philodendron florida beuty, dan masih banyak.yang lain nya.
Yah itu adalah kebiasaan baru untuk nya selama beberapa tahun belakangan ini. Semenjak perusahaan telah di pindah alihkan kepada Ivan dan ia pensiun, jadi dirinya mencari kesibukan sendiri dengan menanam tanaman hias di rumah nya. Jika ada tanaman yang sendang viral saat itu, maka ia akan langsung mencari dan membelinya.
Yah bisa di katakan lelaki paruh baya itu sebagai pencinta tanaman hias, toh bisa di lihat berbagai jenis tanaman hias yang langka dan viral tersusun rapi di kebun nya. Kebun yang di atapi kaca dan dinding kanan kiri serta belakang juga di tutupi oleh kaca. Hanya bagian depan saja yang terbuka menghubungkan taman dan pintu belakang rumah mereka berhadapan secara langsung.
Bu Ajeng kelihatan heran dengan anak semata wayang nya. Sedikit ada yang berbeda dengan anak itu. Buk Ajeng memperhatikan Ivan yang berdiri di samping nya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kenapa ma? Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Ivan curiga.
"Kamu kelihatan beda hari ni Van. Hari libur seperti ini mau kemana udah rapi begini" Tanya buk Ajeng.
"Wangi lagi" Tambahnya lagi setelah mencium aroma wangi dari tubuh Arga.
"Ada keperluan sebentar ma dengan karyawan kantor. Penting" Jawab Arga duduk di kursi yang telah di sediakan seraya mulai menyantap sarapan pagi yang di sediakan oleh mama nya.
"Penting? Tumben, biasa nya jika ada masalah penting gimana pun sama karyawan atau masalah kantor kamu pasti nunggu sampai waktu kerja nya tiba. Waktu libur kamu hanya menghabiskan waktu di rumah" Tanya buk Ajeng mulai mengintrogasi.
Ivan tidak menjawab. Ivan hanya menarik sedikit bibirnya ke atas. Yah tersenyum sendiri. Entah lah semenjak perasaan nya di utarakan blak-blakan kepada Diya, kini hati nya merasa lega dan senang. Apa lagi respon Diya semalam yang meminta bantuan agar Diya bisa melupakan masa lalunya.
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Ivan, tatapan mata yang penuh harapan kepada nya sungguh membuat gemuruh di jantung nya kembali beraksi.
"Diya" Spontan nama itu keluar mulus tanpa di sengaja oleh Ivan.
"Apa?" Tanya buk Ajeng yang memang dari tadi terus memperhatikan gerak gerik anak semata wayang nya.
"Diya siapa?" Ivan balik bertanya.
"Hmm.....Apa dia cantik?" Tanya buk Ajeng menggoda.
"Cantik gimana maksud mama?" Ivan kembali ngeles. Tidak berani menatap mata mama nya takut jika ketahuan perasaan sebenarnya.
"Pada ngomongin apa? Serius banget kelihatan nya" Tegur pak Herma muncul dari arah belakang rumah nya.
"Ini lo pa, anak kita seperti nya ada yang berbeda dengan nya akhir-akhir ini" Sindir bu Ajeng.
Pak Herman turut mengamati putra kesayangan nya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Berbeda? Berbeda bagaimana ma? Biasa saja dia ma. Mata nya tetap dua, hidung nya satu, lubang hidung nya dua, alis nya dua, bulu mata? masih ada, telinga juga. Apa yang berbeda nya ma? Seru pak Herman tidak peka apa maksud dari sindiran istri nya.
"Aduh pa......Bukan itu yang mama maksud" Bu Ajeng menepuk jidat nya. Sungguh suami yang sangat tidak peka apa yang aku maksud. Pikirnya
"Terus apa ma? Papa benar-benar gak ngerti deh" Kembali pak Herman berkata dan duduk di meja makan berhadapan dengan putra kesayangan nya.
"Tuh papa lihat wajah nya"
__ADS_1
"Kenapa dengan wajah nya? Masih tetap ganteng kok seperti papa nya" Mulai kumat PD (percaya diri) nya pak Herman.
"Pa...." Buk Ajeng menatap kesal pada suami nya.
"Iya, iya, apa sih ma? Udah deh mama bilang aja terus terang. Papa benar-benar tidak ngerti deh maksud mama. Entah karena perut lapar jadi papa tidak bisa berpikir maksud mama barusan" Tanpa menunggu tanggapan istri nya pak Herman langsung menyantap sarapan dengan lahap nya.
"Aduh ma....Masakan mama memang top, tak ada dua nya" Puji pak Herman mengajukan dua jempol. Buk Ajeng tersipu malu mendengar pujian itu.
"Menghina atau menghibur?" Seru buk Ajeng sesekali wanita paruh baya itu menaikan alisnya mengintimidasi.
"Ya, fakta lab ma. Masa menghibur sih apa lagi menghina. Mana mungkin lah ma" Kembali pak Herman melanjut kan sarapan nya.
"Cie, cie....." Seru Ivan aksi kedua orang tua nya. Meski sudah tua namun rasa sayang dan cinta mereka tidak pernah pudar. Terutama pak Herman, selalu bisa menyenangkan hati sang istri. Walau pun hanya memuji sedikit masakan istri nya. Itu sudah membuat hati sang istri berbunga bunga.
"Apa sih Van" Buk Ajeng memukul lengan anak nya malu karena di goda.
"Papa sama mama seperti orang muda aja"
"Eh Van, umur papa sama mama boleh tua, tapi jiwa kita masih muda kok. Ya kan ma?" Pak Herman meminta dukungan kepada istrinya.
Buk Ajeng tidak merespon, Ia hanya tersenyum senang melihat kelakuan dua lelaki yang paling berharga untuk nya.
"Aduh kok jadi lain sih bahas nya. Tadi kan kita sedang bahas Ivan pa"
"Aduh mama, udah deh bilang aja apa sebenarnya yang mau mama katakan" Pak Herma tampak memijit keningnya. Sungguh otak nya tidak bisa bekerja untuk memahami maksud dari istrinya.
"Siapa dia?" Kembali Buk Ajeng mengintrogasi.
"Dia siapa ma?" Ivan balik bertanya.
"Tuh lihat pa, pipinya merah pa saat mama tanya tentang dia. Gadis nya pa, gadis yang berhasil mencuri hati anak kita" Buk Ajeng tampak senang.
"Uhuk...uhuk...." Spontan Pak Herman tersedak mendengar ucapan istrinya.
"Hmm....hmm....Belum jadi pacar sih pa. Masih dalam proses. Doain ya pa ma?" Ivan meminta restu kepada kedua orang tua nya..
Buk Ajeng berteriak kesenangan mendengar penuturan anak nya. Ivan dan pak Herman heran melihat tingkah aneh istrinya. Mata mereka bergantian menatap satu sama lain dan beralih ke buk Ajeng. Hal itu terjadi beberapa kali.
"Aduh Van....mama seneng banget lo dengar nya. Akhirnya anak mama normal juga" Sahut Buk Ajeng duduk di samping anak nya dan memeluk penuh dengan nya kasih sayang.
"Gak normal? Mama sama papa selama ini memikirkan aku tidak normal?" Ivan kaget.
"Iya nak, habis nya kamu gak mau pacaran semenjak tamat SMA. Terakhir kamu pacaran sama......Siapa pa pacar Ivan kemaren sewaktu SMA itu lo pa, anak nya pak Budi siapa pa?" Buk Ajeng tampak berpikir.
"Dinda ma" Jawab Ivan cepat.
"Ha iya si Dinda itu. Mama pikir kamu gak bisa move on sama dia. Jadi gak mau pacaran hingga sekarang. Dan mama pikir kamu jadi kurang gairah sama cewek. Terlebih banyak anak gadis temen mama yang mama kenalkan sama kamu cantik-cantik lagi. tidak ada satu pun yang mencuri hati mu" Ujar buk Ajeng.
"Aku bukannya gak bisa move on ma sama Dinda, hanya saja semenjak pertemuan pertama dengan Diya hati ini sudah terpikat ma. Hingga saat ini hati ini masih milik nya" Jelas Ivan
"Siapa nama nya?" Tanya pak Herman.
"Diya pa"
"Iya dia gadis yang telah mencuri hati mu. Siapa namanya?"
"Nama nya Diya pa, Diya Nuraniza" Jelas Ivan tersenyum membayang kan gadis itu tersenyum menatap nya.
"Oh, tidak konek papa tadi. Jaringan pada lelet" Ucap pak Herman seenak nya.
__ADS_1
"Hp kali pa" Seru buk Ajeng.
"Diya, nama yang bagus ya pa. Unik sih nama nya"
"Iya ma, seunik orang nya" Seru Ivan.
"Tuh pa lihat, apa sih istilah anak sekarang tu pa, yang kalau terlalu cinta itu lo pa apa sih nama nya?" Kembali buk Ajeng bertanya.
"Bucin?" Tebak Ivan.
"Ha iya, bucin....cerita dong sama kami awal mula nya ketemu di mana?" Pinta Buk Ajeng menumpukan tangan ke wajah seperti anak kecil yang antusias mendengar dongeng dari orang tua nya.
"Awal ketemu sih sudah lama ma. Sewaktu aku masih kelas 3 SMA dan Diya sekolah di Sungai Pakning" Mulai Ivan bercerita.
"Datang ke sekolah ku untuk turn sekalian bertanding berbagai olahraga. Yah, pertandingan persahabatan. Aku bertemu dengan nya di dalam bus sekolah milik nya. Di situ ia tampak kesulitan mengambil salah satu barang nya yang jatuh di bawah kursi" Cerita Ivan membayang kan kembali kejadian yang membuat hati dan perasaannya bergetar hebat.
"Aku mencoba membantu, dan di situ lah kami kenalan Namun sayang nya pertemuan itu tidak lah lama. Saat Diya pulang ke Sungai Pakning, aku kehilangan kontak dengan nya. Aku telah memberikan ponsel agar aku bisa menghubunginya. Yah sekedar bertanya kabar tentang Diya. Namun, nomornya tidak bisa di hubungin. Bahkan, aku mencoba mengirim surat ke kampung nya. Namun, lagi-lagi......"Ivan tidak melanjutkan ceritanya tentang surat yang di balas Diya. Yah sungguh surat yang isinya membuat hati nya begitu perih.
"Terus apa kamu pernah mengungkapkan perasaan mu kepadanya?" Buk Ajeng kembali bertanya.
"Mama kok kepo sih ma. Itu kan urusan Ivan ma, urusan anak muda. Kita sudah tua jangan kepo gini ah" cerutu pak Herman.
"Pa, gimana mama gak kepo, anak kita udah lama jomblo. Mama pikir anak kita gak bakalan nikah" Celoteh buk Ajeng.
"Belum mau nikah ma" Jawab Ivan.
"Ya setidak nya jika sudah ada calon, kan tidak menutup kemungkinan Van"
"Iya ma....Tapi Diya nya belum pasti ma"
"Belum pasti gimana? Jadi Diya tidak tahu perasaan kamu?"
"Waktu Diya belum kembali ke kampung nya, aku sudah mengutarakan isi hatiku padanya. Bukan nya menjawab, Diya malah kabur" Ivan menggeleng sembari tersenyum hambar mengingat kejadian yang sedikit membuat patah hatinya.
"Tapi sekarang, takdir telah mempertemukan kami kembali. Beberapa hari yang lalu Diya datang melamar pekerjaan di kantor ku. Aku yakin ma, pa, Diya jodoh ku" Yakin Ivan.
"Aamiin, mama sama papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu ya Van. Mama sama papa tidak melarang kami berhubungan dengan siapa pun. Karena itu akan membuat kamu tidak bahagia. Selagi orang itu baik mama sama papa setuju-setuju aja" Sahut buk Ajeng. Di ikuti oleh anggukan tanda setuju oleh pak Herman yang masih sibuk mengunyah sarapan nya.
"Benar apa kata mama mu Van. Toh yang menjalani nya itu kamu kok bukan kami. Untuk apa kami menentang pilihan mu" Timpal pak Herman.
"Jadi mama sama papa setuju?" Tanya Ivan meminta kepastian.
"Ya setuju lah nak" Seru pak Herman.
Tampak wajah tampan nan itu tersenyum senang mendengar hubungan nya di restui.
"Kini hanya kamu Diy, Hanya kamu yang masih belum setuju dan ragu akan perasan ku" Batin Ivan.
"Kapan-kapan kamu bawa ya Diya ke rumah. Kenalin sama mama dan papa. Mama sama papa penasaran sama gadis itu. Gimana sih rupa nya dan pesona nya sampai-sampai anak mama bisa menutup hati nya sekian lama hanya untuk menunggu nya" Seru buk Ajeng.
" Iya ma, pasti aku bawa Diya ke sini jika hubungan kami resmi"
"Jadi sekarang kamu akan menemuinya?" Kembali buk Ajeng bertanya.
Ivan hanya mengangguk kecil sebagai respon.
"Pantesan ganteng kali dia hari ini pa"
Yah Ivan memang terlihat sangat macho dan ganteng dengan berbalut baju kemeja putih bersih menutup badan sixpack nya. Lengan panjang yang di gulung di setengah tangan nya. Celana chino berwana hitam melingkari seluruh bagian bawah nya menambah kesan ketampanan yang tiada tara pada dirinya. Tentu saja gadis mana pun yang melihat akan klepek-klepek atau bahkan bisa pingsan melihat Ivan lewat dihadapan mereka. (Hanya perumpamaan).
__ADS_1
"Mau ajak Diya liburan?" Tanya buk Ajeng. Sungguh wanita paruh baya itu semangat sekali melihat anak nya kembali jatuh cinta..
"Bukan liburan sih ma, Hanya saja aku ingin merasakan masakan Diya" Buk Ajeng mengerut keningnya.