
"Hallo papa, papa katanya mau mengajak kami keluar malam ini. Tapi kenapa papa belum pulang" Ujar Junior kepada Sonia menunggu papa nya pulang.
Malam ini mereka telah berjanji akan pergi nonton bersama. Junior tampak sangat modis dan ganteng memakai celana levis selutut berwarna cokelat muda. Baju kaos berwarna hitam pun ikut serta ia kenakan. Tak lupa jaket kulit pun sebagai pelengkap penampilan nya malam ini. Sepatu sport pun menjadi alas untuk kaki nya. Sungguh anak itu tampak menawan.
Masih kecil saja aura ketampanan udah terlihat dan kelak pasti dia akan menjadi para incaran wanita seperti ayahnya dulu sewaktu masih SMA.
"Sebentar lagi ya sayang. mungkin papa masih banyak pekerjaan di cafenya yang tidak bisa ditinggalkan jadi kita Sabar ya menunggu papa" Ujar Sonia memberi pengertian kepada anak sulung nya.
"Mama coba telfon papa. Apa papa sudah di jalan atau masih di cafe?" Pinta Junior.
"Iya sayang mama mencoba untuk menghubungi papa ya. Tunggu sebentar" Ujar Sonia merogoh tas yang ia bawa tadi untuk mencari ponsel nya.
Malam ini Sonia terlihat anggun dengan mengenakan gaun yang panjang nya selutut berwarna biru toska. Kalung emas bewarna putih dengan permata di tengah nya sebagai penghias leher nya yang jenjang dan putih mulus itu. Gaya rambut yang ia pilih saat ini adalah modern updo agar memperlihat kan leher nya yang jenjang. Anting mutiara tak lupa ia kenakan yang menempel di kedua telinga nya. Hells setinggi lima senti bewarna cokelat muda turut ikut serta untuk melengkapi gaya nya malam ini. Tak lupa tas bewarna senada dengan baju nya pun ia kenakan.
"Hallo sayang, kamu sekarang sudah di mana?" Tanya Sonia saat telfon nya di angkat oleh Ferdi.
"Ini aku sudah mau pulang kok menjemput kalian" Jawab Ferdi.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya. Dari tadi Junior tanyain kamu terus"
"Iya sayang, bilangin sama jagoan kita tunggu sebentar papanya sebentar lagi akan sampai" Ujar Ferdi.
"Oke sayang" Sonia menutup ponselnya.
"Sayang, papa sudah mau pulang. Sebentar lagi papa pasti akan sampai jadi kita tungguin papa sebentar ya" Ujar Sonia kepada Junior dengan lembut.
"Asyik.... Akhirnya papa pulang juga" Ujar Junior berteriak kegirangan.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar ya, mama mau ke atas. Sepertinya dompet mama ketinggalan" Ujar Sonia.
Junior mengangguk.
"Ini dia dompet nya" Kata Sonia ketika telah menemukan dompet nya yang tergeletak di atas tempat tidur. Buru-buru Sonia keluar kamar dan menuruni tangga. Baru beberapa langkah ia turun tangga, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan hingga membuat nya jatuh dari tangga. Berguling-guling hingga sampai ke lantai atas.
Sonia berteriak saat ia terpeleset
Mendengar teriakan dari mama nya, Junior bergegas pergi menuju tangga untuk melihat keadaan mamanya. Begitupun dengan suster nya Junior.
"Ya Allah ibuk" Teriak suster itu. Melihat Sonia tergeletak di lantai dengan bermandikan darah di kaki nya.
"Asstagfirullah ibu" Suster itu mendekati tubuh tak berdaya nya Sonia. Meletakan kepala Sonia di paha nya.
"Mama, mama kenapa?" Ujar Junior menangis melihat mama nya tidak sadarkan diri.
"Bik, Mama kenapa? Kenapa mama jadi seperti ini? Ujar Junior menangis.
"Sayang, aku pulang" Teriak Ferdi membuka pintu.
"Pak, tolong ibu pak. Ibu jatuh dari tangga" Teriak Suster tadi.
"Astaga sayang" Ujar Ferdi mendekati tubuh istri nya.
Begitu kaget nya ia melihat istri nya sudah bersimbah darah.
"Bik, tolong jaga Junior aku mau bawa Sonia kerumah sakit" Ujar Ferdi menggendong istri nya untuk di larikan ke rumah sakit.
"Baik pak" Jawab Suster tadi.
"Papa, aku mau ikut" Ujar Junior.
"Kamu di rumah aja ya nak"
"Gak mau, aku mau sama mama" Tangis nya lagi.
"Ya sudah bik tolong bawa Junior bersama ku" Perintah Ferdi tadi. Tidak ada jalan lain selain membawa Junior bersama. Jika dia tinggal pasti tangisan nya akan semakin pecah saat ini. Sehingga Ferdi memutuskan untuk membawa Junior bersama nya dengan di dampingi oleh susternya.
"Baik pak"
Mereka masuk ke dalam mobil nya Ferdi.
"Kenapa seperti ini sih bik?" Tanya Ferdi cemas. Namun ia tetap fokus mengendarai mobil nya.
"Saya juga gak tahu pak. Saat kejadian saya berada di dapur. Tiba-tiba saya mendengar ibu berteriak. Ketika saya sudah tiba di tempat, ibu nya sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah" Jelas suster tadi.
"Pa, apa mama baik-baik saja?" Tanya Junior yang duduk di bangku depan di samping Ferdi.
Sedangkan Susternya memangku Sonia yang masih tidak sadarkan diri.
"Iya sayang, mama pasti baik-baik saja. Kamu jangan khawatir ya. Doain mama agar mama cepat pulih" Ujar Ferdi menenangkan putra nya.
Junior mengangguk mengerti.
***
__ADS_1
"Suster, suster tolong" Teriak Ferdi menggendong istri nya ketika mereka sudah tiba di rumah sakit.
Melihat itu, beberapa perawat datang membawakan tempat tidur pasien untuk Sonia.
Sonia di larikan ke ruangan IGD.
Ferdi, Junior dan Suster tadi menunggu di luar ruangan dengan sangat cemas.
"Ferdi, bagaimana keadaan Sonia" Tanya Mira ketika tiba di rumah sakit masih dengan mengenakan pakaian dokter nya.
"Mama baru saja tiba di rumah karena jadwal mama hari ini sudah habis. Tapi ketika mendengar kamu mengabari bahwa Sonia jatuh dari tangga, mama langsung bergegas ke sini" Ujar Mira yang kebetulan ia bertugas di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Sonia di rawat sekarang.
"Mama panik banget mendengar Sonia seperti ini. Bagaimana ceritanya sih bisa terjadi seperti ini?"
"Sonia masib di tangani oleh dokter ma. Aku juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Yang jelas ketika aku tiba di rumah, Sonia sudah tidak sadarkan diri dan bersimbah darah seperti ini ma" Jelas Ferdi dengan wajah kesedihan yang mendalam.
Lelaki itu sangat mengkhawatir kan keadaan istrinya yang sedang tidak sadarkan diri saat ini. Hati nya benar-benar takut akan kehilangan orang yang ia sayangi untuk yang kedua kalinya. Ia sudah kehilangan Diya. Dan Ia tidak mau akan kehilangan Sonia lagi.
"Papa mana ma?" Tanya Ferdi mencari keberadaan papa nya yang tidak terlihat dari tadi.
"Papa mu tadi ada pertemuan dengan teman-teman nya. Mama sudah mengabari nya dan katanya dia sedang di dalam perjalanan. Sebentar lagi pasti akan tiba" Jelas Mira.
Mereka menunggu di ruang tunggu.
"Fer, kamu sudah mengabari orang tua nya Sonia?" Tanya Mira.
"Sudah ma, mereka mungkin akan tiba besok hari" Jelas Ferdi. Saat ini kedua mertuanya sedang berliburan ke Singapura menikmati masa-masa bulan madu mereka Untuk yang kesekian kalinya.
"Aduh, semoga saja keadaan nya Sonia baik-baik saja" Ujar Mira.
Dokter yang menangani Sonia keluar dari ruang IGD itu.
"Dengan keluarganya ibu Sonia" Ujar dokter tadi.
"Iya dok, saya suami nya" Ujar Ferdi bangkit dari duduk nya.
"Pak, keadaan buk Sonia dalam keadaan kritis. Kita harus bertindak cepat untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungannya Sonia. Karena kejadian tadi telah mengakibatkan bayi itu tidak bisa diselamatkan. sehingga kita harus mengeluarkan bayi itu secepatnya untuk menyelamatkan ibu Sonia. Kita akan melakukan operasi sekarang untuk kebaikan buk Sonia" Jelas dokter tadi.
"Baik dok, lakukan saja yang terbaik untuk istri saya" Ujar Ferdi memberi keputusan.
"Jika begitu silakan bapak ikut saya untuk menandatangani beberapa berkas"
Ferdi mengikuti dokter tadi.
***
Lampu merah yang terletak di atas pintu ruangan operasi itu menyala pertanda bahwa operasi Sonia telah dimulai.
"Ma, Fer, gimana keadaan Sonia?" Tanya Agus baru tiba di rumah sakit.
"Sedang di tangani dokter pa. Sonia harus kehilangan bayi nya akibat kejadian tadi" Ucap Ferdi sedih.
"Kamu yang kuat ya nak. Harus bersabar dengan semua cobaan ini. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Sonia. Kamu yang kuat ya" Ujar Agus menepuk pundak putra nya untuk memberi semangat kepada putra nya.
"Pa, mama akan baik-baik saja kan?" Tanya Junior.
"Sayang" Ujar Ferdi memeluk erat tubuh putra nya dan mencium hangat puncak kepala sang jagoan.
"Mama pasti akan baik-baik saja. Kamu harus doain mama ya agar mama cepat siuman" Kata Ferdi dengan lembut.
Junior mengangguk.
"Sayang opa, jangan sedih ya. Pasti mama baik-baik saja" Agus menyempeli.
"Bik, tolong bawa Junior pulang ya, hari sudah larut. Dia harus istirahat di rumah" Perintah Ferdi kepada susternya Junior.
"Baik pak"
"Ayo sayang kita pulang"
"Gak mau bik, aku mau di sini temani mama sampai mama siuman" Ujar Junior.
"Sayang, hari sudah malam kamu harus istirahat di rumah. Di rumah sakit ini tidak baik untuk kamu sayang" Jelas Mira mencoba memujuk cucu nya.
"Iya sayang, benar kata oma. Junior sayang kan sama mama?" Tanya Agus ikut-ikutan.
Junior mengangguk.
"Nah, jika sayang sama mama, kamu harus dengar apa kata papa. Nanti jika kamu masih di sini, terus istirahat nya gak cukup, nanti kamu malah ikut sakit. Terus jika kamu sakit siapa yang jagain mama di rumah? Tugas menjaga mama kan kamu, papa tugas nya kerja mencari uang untuk kamu dan mama" Jelas Agus lagi memberi pengertian kepada cucu nya.
Junior tampak berpikir dengan apa yang di katakan opa nya.
"Sekarang, kamu nurut ya sama papa. Kamu gak mau kan jika mama nanti nya sedih melihat kamu gak nurut sama papa" Tambah Ferdi lagi.
__ADS_1
Junior mengangguk setuju.
"Iya pa, aku pulang bersama bibi ya. Papa tolong jagain mama. Nanti, jika mama sudah sadar kabari aku ya pa" Ujar nya lagi.
"Iya sayang, pasti papa akan kabari kamu" Ucap Ferdi mencium lembut kepala anak nya.
***
"Dok, bagaimana keadaan istri saya" Ujar Ferdi saat melihat dokter tadi keluar dari ruang operasi.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Hanya saja saat ini buk Sonia masih tidak sadarkan diri. Buk Sonia akan kita pindahkan ke ruang inap dulu ya pak" Ujar dokter tadi membawa Sonia yang tergeletak pingsang di atas tempat tidur pasien.
"Ma, pa, jika kalian capek, kalian pulang saja. Mama juga harus istirahat di rumah. Karena sudah seharian berada di rumah sakit ini tadi. Jadi mama istirahat saja. Papa juga begitu. Biar Sonia aku saja yang jagain" Saran Ferdi untuk ke dua orang tua nya.
"Sebenarnya mama ingin menemani kamu di sini memastikan keadaan Sonia"
"Gak apa-apa ma, aku saja yang menjaga Sonia di sini. Mama pasti capek besok mama juga harus bertugas kembali di rumah sakit ini" Ujar Ferdi.
"Tadi dokter bilang bahwa Sonia akan segera siuman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan" Tambah nya lagi.
"Ya sudah jika begitu, mama dan papa pulang dulu ya. Ingat jika terjadi sesuatu sama Sonia atau Sonia sudah sadar, tolong kabari mama dan papa ya" Pinta Mira.
"Iya ma, mama dan papa tenang aja. Nanti aku pasti akan kabari kalian"
"Ya sudah mama dan papa pulang dulu"
***
Ferdi datang mendekati tubuh lemah tidak berdaya yang terbaring di atas tempat tidur si ruang inap nya. Oksigen masih terpasang menutupi mulut dan hidung nya.
Ferdi duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur itu. Pandangan nya sendu melihat istrinya yang tidak sadarkan diri.
Malam bahagia yang seharus nya terwujud di malam ini, malah menjadi malam yang sangat menyakitkan bagi diri nya. Di mana ia telah kehilangan cabang bayi nya dan saat ini istri nya sedang terbaring tidak berdaya.
"Maaf kan aku sayang, aku tidak bisa menjaga mu" Ujar Ferdi menggenggam tangan lentik istri nya.
"Andai malam ini aku pulang lebih awal, pasti hal ini tidak terjadi kepada mu. Dan kita masih memiliki cabang bayi kita" Ujar nya lagi menangis menyesali perbuatan nya yang telat pulang malam ini.
"Maafkan aku sayang, aku belum bisa menjadi ayah dan suami yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Aku mohon sayang, cepat lah sadar" Ujar nya lagi terus menangis.
Ferdi menangis sejadi-jadi nya menyesali perbuatan nya yang telah telat pulang malam ini hingga akhirnya ia terlelap di tangan nya Sonia yang menopang kepala nya.
***
Ferdi kaget dan terbangun dari tidur nya saat merasakan ada yang menyentuh kepala nya.
Perlahan Ferdi membuka mata.
Sonia menyentuh dan mengusap lembut kepala suami nya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Tanya Ferdi tersenyum bahagia melihat istrinya telah bangun dari pingsannya.
"Sayang, sekarang jika berada di mana? Ngapain kita ke sini? Terus apa yang terjadi kepadaku?" Tanya Sonia.
Sonia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada nya. Hingga ia baru ingat bahwa barusan ia terjatuh daru tangga rumah nya.
"Sayang, anak kita? Bagaimana dengan anak kita?" Tanya Sonia panik.
"Sayang, sayang, kamu jangan panik dulu. Kamu tenangin diri kamu dulu. Kamu baru sadar dan masih lemah" Pinta Ferdi dengan lembut.
"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan aku tidak tahu bagaimana keadaan anak kita. Apa dia baik-baik saja? Apa tidak ada masalah dengan nya?" Tanya Sonia memegang perut nya yang terlihat sudah datar. Beberapa air bening mengalir di pipinya.
"Sayang jawab" Pinta nya lagi.
"Maaf sayang, anak kita tidak bisa di selamatkan" Ujar Ferdi dengan berat hati.
"Apa? Gak, gak mungkin.. Kamu pasti bohong kan?"
"Sayang, sabar ya. Ikhlas kan, ini semua sudah takdir dari nya" Ujar Ferdi mencoba menguatkan istri nya.
Terdengar suara tangisan yang mengaung di ruangan itu memecah kesunyian malam yang sepi.
Ferdi memeluk istrinya untuk menenangkan hati nya yang sedang hancur saat ini.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik. Aku, aku.... " Ujar Sonia tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Sayang, aku tidak pernah menyalahkan kamu atas kejadian ini. Semua ini sudah takdir dari nya, kita harus ikhlas dan berlapang dada untuk menerima cobaan ini" Ujar Ferdi bijaksana mencoba untuk ikhlas mengahadapi cobaan ini.
"Tapi tetap saja, aku ibu yang buruk yang tidak bisa menjaga bayi yang ada di dalam kandungan ku dengan baik. Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf" Ujar Sonia lagi.
"Sayang, aku sama sekali tidak menyalahkan kamu. Jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini. Aku sudah mengikhlaskan semuanya dan yang paling penting bagiku saat ini adalah kamu baik-baik saja. Anak itu belum rezeki kita sayang. Jika sudah rezeki kita pasti akan kita dapat kembali. Dia belum mau bersama kita kalau dia mau bersama kita pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Karena semuanya sudah ditentukan oleh takdirnya kita harus bisa menerimanya" Ucap Ferdi dengan bijak sana.
Sonia diam dan memikirkan apa yang di katakan oleh suami nya.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya sayang. Kita pasti bisa menghadapi ini semua" Ujar Ferdi memeluk istri nya untuk menenangkan istri nya agar tidak terus-terusan menyalahkan dirinya terus menerus.