
Diya berjalan menikmati udara segar pagi hari. Menyelusuri setiap jengkal jalan komplek yang ia lalui. Minggu cerah, waktu libur seperti ini lebih baik berolahraga menghilangkan sedikit banyak nya lemak yang sudah bersemayam di tubuh. Begitu lah yang di katakan Yuli tadi malam.
"Diy, lihat deh wajah ku"
"Kenapa?" Diya memberhentikan langkah nya.
"Ada yang berbeda gak?" Tanya Yuli masih dengan senyum nya. Begitu ceria nya Yuli pagi ini. Entah apa yang terjadi Diya pun tidak tahu. Yang jelas hari ini Yuli kelihatan bahagia sekali.
Diya memperhatikan wajah Yuli dari ujung kaki hingga ujung kepala. Di perhatian secara seksama.
"Apa ya Yul?" Diya balik tanya.
"Malah balik tanya" Yuli kesal.
"Aku Yul. Gak tahu aku apa yang berbeda dari wajah mu. Bagi ku ya biasa saja" Jawab Diya melanjutkan jalan santai nya dan meninggalkan Yuli yang masih kesal.
__ADS_1
"Aduh Diy, kamu ni ya sahabat yang kurang peka deh. Masa tidak tahu perubahan wajah sahabatnya" Cerutu Yuli.
"Aku tahu Yul, hari ini kamu kelihatan bahagia sekali. Terus apa?"
"Hmm Diya...."
"Sedih aku ni lo" Yuli memanjangkan mulut nya merajuk.
Diya memberhentikan langkah nya. Di lihatnya Yuli masih cemberut. Diya mendekati Yuli.
"Iya, iya maaf Yuli sayang....Aku melihat kok perubahan wajah mu yang sangat bahagia. Coba deh cerita ada apa sebenarnya?" Pinta Diya. Otak nya sedikit lemot pagi ini. Semalaman tidak bisa tidur memikirkan Ivan.
Di ujung pantai tidak jauh dari tempat nya berdiri, terlihat sesosok pemuda yang tidak begitu asing untuk nya. Pemuda itu memakai baju putih bersih berjalan terus maju membelakangi gadis itu.
"Kak Ferdi" Desah Diya dalam mimpi nya.
__ADS_1
"Kak, kak Ferdi" Teriak Diya memanggil nama pemuda yang sangat ia rindukan. Diya berlari menyusul pemuda itu dengan senyuman di wajah. Beberapa butiran air bening mulai mengalir di pipi mulus nya. Bahagia nya ia bertemu kembali dengan pemuda itu. Pemuda yang selama tujuh tahun ini dia tunggu akan kedatangan nya. Kini telah kembali. Diya terus berlari dan terus memanggil nama Ferdi.
Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat sosok itu menghampiri seorang gadis cantik berambut panjang berkulit putih bersih. Mereka bergandengan tangan. Terus berjalan meninggalkan Diya yang masih dengan bingung.
"Kak Ferdi" Kata nya lirih.
"Kak Ferdi" Teriak nya lagi. Namun Ferdi sama sekali tidak menghiraukan nya dan terus bejalan bersama gadis itu.
Diya terjatuh ke pantai. Kakinya tidak bisa lagi menopang berat tubuh nya. Raut wajah yang tadinya gembira, kini berubah pias dengan wajah kesedihan. Diya menangis menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Siapa gadis itu kak? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku" Tangis Diya.
Tiba-tiba ada seseorang menyentuh bahunya. Diya kaget dan menoleh.
"Ivan" Ucapnya.
__ADS_1
Ivan tersenyum mengulurkan tangan nya membantu Diya berdiri. Diya meraih tangan Ivan. Kembali berdiri berhadapan dengan Ivan.
"Jangan menangis Diya, Air matamu terlalu berharga jika di buang begitu saja hanya untuk lelaki yang tidak bisa menghargai mu. Ada aku yang selalu menjagamu" Ucap Ivan mantap memeluk tubuh mungil di hadapannya itu.