Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Hasutan Virda


__ADS_3

"Diy, apa kabar?" Tegur seseorang dari belakang saat Diya sedang berbelanja di minimarket yang tidak jauh dari rumah nya. Diya menoleh membulatkan matanya melihat siapa yang menegurnya tadi.


Degg.....


Entah mengapa jantung Diya berdetak kencang seperti baru selesai berlari 100 km mendapati siapa yang menegurnya tadi.


"Kak Ferdi" Ucap nya lirih masih dengan gugup nya.


"Untung aku pergi sendirian ke sini. Biasa nya selalu ada Ivan yang menemani ku. Untung hari ini Ivan ada kerja lembur dan menyuruhku pulang duluan yang di atar oleh pak Udin. Jika tidak, pasti akan terjadi perang dunia ke tiga yang akan membuat hubungan mereka akan menjadi renggang" Batin Diya berkata.


Ferdi tersenyum dengan khas nya senyuman yang selalu ia perlihatkan kepada gadis itu saat mereka berpacaran dulu.


"Sedang belanja ya?" Tanya nya basa basi.


Diya mengangguk dengan ragu.


"Sendirian? Mau aku temenin?" Tawar Ferdi dengan senyuman yang menggoda.


Degg....


Semakin kencang lah jantung gadis itu memompa aliran darah nya.


"Ini orang ngapain lagi sih? Bukan nya kemaren sudah sangat jelas aku bilang kepada nya? Kenapa masih saja nekat menemui ku seperti ini? Nanti jika Sonia lihat bagaimana? Pasti Sonia akan marah kepadaku dan berpikir bahwa aku lah yang menggoda suami nya" Batin Diya gelisah.


"Malah bengong. Mau gak aku temenin. Hitung-hitung yah bisa membantu mu membawakan barang-barang belanjaan" Ucap nya lagi penuh dengan harapan.


"Gak perlu deh kak. Aku bisa sendiri membawa nya. Lagian aku bersama teman" Diya berbohong.


"Siapa? Yuli? Sudah bertemu dengan Yuli? Mana dia?" Celoteh Ferdi mencari keberadaan Yuli.


Diya tidak menjawab. Sungguh ia bingung harus menghindar seperti apa terhadap lelaki yang di hadapan nya itu. Kenapa saat dirinya ingin menghindar dan melupakan lelaki itu dia selalu muncul di hadapan nya? Pikirnya.


Diya pergi meninggalkan Ferdi tidak menghiraukan apa yang Ferdi tanyakan tadi. Bukan nya pergi, Ferdi malah mengikuti Diya kemana pun gadis itu pergi.


"Dimana teman mu Diy?" Tanya Ferdi masih setia mengikuti dari belakang seperti anak yang membututi ibunya dari belakang.


Bukan nya menjawab, Diya hanya diam dan menatap dengan sinis kearah Ferdi. Malah orang yang di tatap tersenyum manis seperti tidak mengerti bahwa gadis itu tidak mengharapkan keberadaan nya saat itu.


Saat Diya mau mengambil sabun mandi, Ferdi terlebih dahulu mengambilnya dan memasukan sabun itu ke dalam keranjang yang Diya bawa.


"Sini keranjang nya biar aku yang bawa" Tawar Ferdi lagi.


"Gak usah kak. Aku bisa membawanya sendiri" Balas Diya dengan dingin.


Diya berjalan lagi mencari beberapa buahan dan bahan makanan lain nya. Namun belum sempat Diya mengambil, Ferdi terlebih dahulu mengambilnya dan memasukan nya ke dalam keranjang yang di bawa oleh Diya.


"Nih orang apa-apaan sih? Kenapa juga membuntuti ku seperti ini. Risih sangat-sangat risih di buat nya" Batin Diya memandang risih ke arah Ferdi.


Namun orang yang di lihat malah kepedean dan semakin tersenyum khas nya.


Diya menghela dengan napas berat. Sungguh saat ini rasa nya ia ingin membentak Ferdi karena bertingkah seperti ini yang membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, ia masih berpikir jika ia bertindak seperti itu, pasti semua orang yang berada di minimarket itu akan memperhatikan mereka dan membuat mereka malu nantinya.


"Uufff...." Diya mengeluh dan meninggalkan Ferdi lagi.


Yah itu lah ia yang dapat ia lakukan saat ini. Yah mungkin kesabaran nya masih ada maka nya masih bertahan. Begitu lah kira-kira ya mak.


"Kamu beneran dengan Yuli? Dari tadi aku tidak melihat Yuli lo Diy. Apa kamu bohong?" Tanya Ferdi lagi.


Diya hanya diam dan terus berjalan tidak menghiraukan dengan apa yang di katakan Ferdi. Semoga dengan bertingkah seperti itu membuat Ferdi bosan dan pergi meninggalkan nya. Pikir gadis yang memiliki rambut sepinggang itu.


Lagi-lagi Ferdi membuntuti Diya kemana pun gadis itu pergi. Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya dia bertindak.


"Kak, kenapa sih mengikuti ku dari tadi?" Tanya Diya sedikit meninggi.


"Lo,. kenapa? Apa ada yang salah? Aku kan hanya ingin membantu kamu Diy" Ujar Ferdi tanpa rasa bersalah.


"Ya salah lah kak. Kamu mengikuti ku seperti ini membuat ku tidak nyaman lo kak. Lagian bukan nya kemaren sudah jelas ya apa yang aku katakan? Bahwa kita tidak bisa bersama lagi. Apa itu belum cukup jelas?" Diya sedikit emosi.


"Jelas kok, sangat-sangat jelas"

__ADS_1


"Kalau sudah jelas kenapa masih bersikap seperti ini? Nanti jika Sonia melihat kamu mendekati ku seperti ini bagaimana? Apa yang akan dia pikirkan terhadap ku? Pasti nantinya aku lah yang jadi pelakor karena telah merayu mu. Kamu mau aku di benci sama orang yang jelas-jelas bahwa aku tidak melakukan hal itu" Ujar Diya lagi.


Ferdi diam tidak menjawab. Dia tampak berpikir atas apa yang di ucap kan oleh Diya tadi.


"Aku gak mau kamu di benci sama orang Diy"


"Jika tidak mau kenapa masih bersikap seperti ini? Kita hanyalah masa lalu dan masa lalu kita itu tidak akan bisa terulang lagi" Tegas Diya.


"Tapi aku butuh waktu Diy untuk menerima semua ini. Aku sangat mencintai mu" Ferdi memohon mencoba memegang kedua tangan gadis di hadapan nya. Namun Diya menepisnya.


"Maaf kak aku tidak mau ada yang salah paham dengan kamu menyentuh ku kak" Ujar Diya.


"Jika kamu tidak ingin aku sentuh tidak apa-apa Diy. Aku tahu aku yang salah. Tapi aku mohon, berilah aku waktu Diy"


"Waktu untuk apa? Untuk mendekati ku seperti ini? Waktu untuk membuat orang berpikir bukan-bukan terhadap ku? Waktu untuk Sonia berpikir bahwa aku adalah pelakor yang telah merayu suami nya? Waktu itu yang kamu maksud?" Diya sedikit membentak.


"Bukan itu maksud ku Diy" Ucap Ferdi lembut.


"Lalu apa? Harus nya kamu bisa belajar untuk menerima semua ini dengan terus berusaha mencintai dan menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak mu. Harus nya waktu seperti itu yang kamu butuhkan.. Bukan malah lari dan mendekati ku seperti ini kak. Jika kakak seperti ini kamu malah tidak bisa menerima semua ini nanti nya. Tolong lah kak jangan membuat ku seperti ini. Hati ku jadi serba salah. Aku tidak mau memberikan harapan kepada mu kak. Maka dari itu aku sudah menjelaskan semua nya dari awal kita bertemu. Agar kamu tidak mengharapkan ku lagi." Jelas Diya.


Ferdi diam dan tampak berpikir dengan ucapan Diya.


Melihat Ferdi hanya diam tidak merespon Diya pun pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaan nya.


Saat ingin keluar dari minimarket, Ferdi membuka kan pintu untuk Diya. Kembali lagi Diya menatap risih terhadap nya.


"Hufff" Diya mengeluh. Menarik napasnya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat. Diya melangkah keluar dari minimarket dengan terpaksa.


Ferdi masih mengikuti nya dari belakang.


"Aduh kak kenapa lagi sih masih mengikuti ku? Apa sih mau kakak?"


"Diy, izin kan aku menjadi teman mu ya? Masa sebagai teman saja tidak boleh sih" Ujar Ferdi.


Diya tampak berpikir.


"Ya udah hanya sebagai teman ya. Tidak lebih" Tegas Diya dengan ketus nya. Dengan berat hati Diya pun menyetujui permintaan Ferdi agar lelaki itu cepat pergi dari nya saat itu.


Diya tampak ragu untuk menyambut salaman dari Ferdi. Dengan penuh keraguan ia pun menyambut salaman itu agar Ferdi cepat pergi meninggalkan nya dan tidak mengikutinya terus menerus seperti ini.


"Benar ya sekarang kita sebagai teman" Ucap Ferdi lagi meminta kepastian.


Diya mengangguk dengan ekspresi bosan nya.


"Jadi boleh dong sebagai teman aku bertindak sebagai teman terhadap mu?" Tanya Ferdi.


"Ha?" Diya mengerut alisnya merasa tidak mengerti apa maksud dari Ferdi katakan barusan.


"Maksud nya?" Tanya nya lagi.


"Pokok nya sebagai teman deh" Ucap Ferdi tidak mau menjelaskan apa maksud dari perkataan nya itu.


"Aduh,,,aku benar-benar pusing karena lelaki yang ada di hadapan ku ini. Sungguh membuat ku tidak bisa berpikir panjang dengan kak Ferdi katakan" Ucap Diya dalam hati.


"Terserah lah" Ucap Diya merasa lelah dan tidak mau ambil pusing lagi dengan semua ini. Sungguh hari ini dia benar-benar lelah dengan perbuatan Ferdi. Tadi ketika di kantor dan sekarang membuntuti nya seperti ini. Belum lagi lelah karena banyak pekerjaan nya di kantor tadi. Yah harus nya ia ikut lembur bersama dengan Ivan hari ini Tapi, Ivan lebih meminta nya pulang untuk beristirahat.


Maklum mak, Ivan tidak mau membuat gadis yang nanti nya akan menjadi calon istrinya kelelahan. Jadi, ia lebih baik bekerja dengan beberapa karyawan lelaki nya saja. Yah jika lelaki pulang malam kan tidak mengapa. Tidak ada yang mau menjahati mereka. Jika perempuan, yah tau sendiri lah kan mak jika hidup di kota banyak para preman yang jahat suka mengganggu gadis-gadis hanya untuk senang-senang sesaat dan meninggalkan nya begitu saja.


Tampa mereka sadari dari seberang jalan tepat di mana mereka berdiri ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi dengan sangat marah. Orang itu menggenggam erat tangan nya karena marah nya.


"Awas kamu Diy, berani-beraninya kamu mendekati Ferdi. Kamu ingin merebutnya dari ku? Kamu ingin membuat anak-anak ku kehilangan sosok papa nya? Tidak, aku tidak terima itu. Dasar wanita murah*n" Maki orang tadi yang tidak lain adalah Sonia istri sah nya Ferdi.


"Son, Kamu ngapain di sini?" Tegur seseorang mengalihkan perhatian Sonia terhadap Ferdi dan Diya.


"Eh Vir, kamu ngapain di sini?" Sonia balik tanya.


"Lagi melihat apartemen ku yang mau aku tempati besok yang tidak jauh dari sini" Ucap Virda.


"Kamu ngapain?" Tanya nya lagi.

__ADS_1


"Tuh kamu lihat" Sonia menunjuk ke arah Ferdi dan Diya di seberang jalan. Terlihat Diya meninggalkan Ferdi yang hanya terdiam melihat Diya pergi meninggalkan nya.


"Diya?" Ucap Virda.


"Iya, kamu kenal?" Tanya Sonia.


"Diya kan gadis yang dekat sama Ivan. Ivan juga sudah memperkenal kan Diya dengan tante Ajeng dan om Herman"


Sonia membulatkan mata nya mendengar hal yang begitu mengejutkan itu.


"Serius kamu Vir? Ivan sudah mengenalkan gadis kampung itu kepada tante dan om? Terus kenapa gadis kampungan itu masih mendekati Ferdi? Benar-benar gadis yang murah*n. Sudah dekat sama Ivan dan sekarang malah merayu suami orang" Ucap Sonia marah.


"Iya Son. Dari awal saat Ivan mengenali ku dengan gadis itu aku sudah mempunyai firasat bahwa gadis itu memang tidak baik. Pasti dia mempunyai maksud tertentu mendekati Ivan. Yah secara Ivan kaya dan dia orang yang miskin. Yah untuk menjadi kaya dengan cepat ya harus seperti ini mendekati orang-orang kaya. Bahkan mereka pasti mau menjadi simpanan para om-om" Ucap Virda semakin menghasut Sonia agar percaya dengan apa yang ia katakan.


"Pasti Sonia termakan oleh omongan ku. Ini akan menjadi sangat mudah bagiku untuk menyingkirkan Diya di dalam hidup Ivan. Sonia pasti mau membantu ku saat ini karena dia juga mempertahankan suami nya si Ferdi agar tidak di rebut oleh Diya. Pasti Sonia akan meyakini tante Ajeng untuk tidak menerima gadis kampungan itu. Secara Sonia adalah keponakan nya jadi dia lebih percaya kepada Sonia bukan. Wah, kejadian ini sangat menguntungkan ku" Ucap Virda dalam hati tersenyum menang dengan semua yang terjadi.


"Kami benar Vir, Diya benar-benar ganjen sudah dekat dengan Ivan dan sekarang malah mendekati suami orang. Aku harus memberinya pelajaran" Geram Sonia.


"Wah, jika kamu membutuhkan bantuan, aku siap membantu mu. Aku juga tidak rela Ivan mendekati gadis itu dan memanfaatkan nya begitu saja. Diya menyalah gunakan kebaikan orang hanya untuk kepentingan nya sendiri" Virda semakin memanasi.


"Apa lagi ibu nya seorang janda yang mempunyai usaha warung bakso yang kini sudah tidak di buka lagi karena sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Jelas dong Diya lebih membutuhkan banyak uang untuk mengobati dan memenuhi kebutuhan dirinya dan ibunya di kampung" Ucap Virda lagi.


"Kamu tahu dari mana selak beluk tentang Diya?"


"Tadi malam Ivan membawa nya makan malam ke rumah dan bertemu dengan om dan tante. Dan di situ lah Diya menceritakan semua tentang dirinya" Jelas Virda.


"Oh ya, bagaimana kita bekerja sama untuk menyingkirkan Diya? Yah buat dia enyah dari kota ini atau bahkan buat dia di telan oleh bumi untuk selamanya. Dengan begitu aku mendapatkan Ivan kembali dan kamu mendapatkan suami mu kembali. Sehingga kehidupan kita kembali bahagia seperti dulu nya" Tambahnya lagi.


"Tawaran yang bagus. Aku setuju. Apa rencana mu?" Sonia tersenyum puas dengan tawaran Virda.


Virda membisikkan rencana jahat nya ke telinga Sonia.


Sonia tersenyum senang mendengar rencana yang Virda bisikan. Rencana itu terdengar bagus di telinganya.


"Rencana yang bagus. Aku setuju dengan rencana itu" Mereka sama-sama tersenyum puas dengan rencana jahat nya.


***


"Diy, kenapa muka mu seperti malam yang tidak ada bertaburan bintang seperti itu sih?" Tegur Yuli melihat sahabat nya pulang dengan wajah yang di tekuk seperti itu.


"Lagi bad mood" Ucap Diya menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang berada di teras rumah.


Yuli yang duduk di kursi sebelahnya meletakan ponsel nya di atas meja yang terletak di tengah-tengah kedua kursi itu. Yah dari tadi Yuli sibuk chattingan dengan ayang mbeb nya.


"Baru juga bahagia tadi malam, malah bad mood lagi Kenapa? Bertengkar dengan Ivan?" Tebak Yuli.


Diya menggeleng.


"Terus kenapa?"


"Tadi sewaktu di minimarket ketemu dengan kak Ferdi" Ucap Diya dengan ketus.


"Ha? Ngapain tuh orang?" Yuli kaget.


"Dia nekat ingin meminta ku kembali. Dia terus mengikuti ku kemana pun aku pergi. Aku merasa tidak nyaman di ikuti seperti itu. Sudah ku tegaskan sama dia bahwa kita tidak bisa seperti dulu lagi. Namun dia masih saja memohon seperti itu" Jelas Diya dengan cemberut.


"Benar-benar ya itu orang. Aku gak tahu deh harus berkata apa sama kamu Diy, aku jadi pusing deh sama kisah cinta mu yang ribet ini. Di saat kamu menemukan kebahagiaan mu malah cinta lama mu datang kembali" Ujar Yuli memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Kamu tahu di kantor tadi dia juga nekat. Masa iya dia memberiku bunga dengan kata-kata cinta yang begitu indah di rangkai. Aku jadi gak enak sama Ivan dan Sonia. Nanti mereka bisa salah paham kepada ku. Apa lagi Sonia, pasti dia berpikir aku lah yang telah merebut suami tercinta nya. Padahal aku tidak melakukan apa pun. Suami nya saja yang ngejar-ngejar aku seperti itu" Jelas Diya.


"Apa Ivan tahu dengan bungan itu?"


Diya menggeleng.


"Tidak, Ivan langsung masuk ke ruangan nya karena ada berkas yang harus ia selesaikan secepatnya. Dan bunga itu berada di meja ku. Aku suruh saja office girl di kantor untuk membuang nya" Jelas Diya.


"Apa aku memberikan harapan ya sama kak Ferdi Yul?" Tanya Diya merasa heran.


"Kalau mendengar cerita mu sih, kamu sama sekali tidak memberikan harapan apa pun kepada Ferdi. Kamu sudah bilang dengan tegas kepadanya tetang kamu dan dia tidak bisa bersama lagi. Menurut ku itu bukan harapan sih yang kamu berikan. Ferdi nya saja yang entah lah pusing aku mau bilang dia apa. Sudah mempunyai keluarga, masih saja bersikap seperti itu kepada mu" Ujar Yuli.

__ADS_1


"Aku tidak mau Yul Ivan dan Sonia berpikir bukan-bukan terhadap ku. Aku tidak mau di bilang sebagai gadis perebut suami orang yang membuat ayah dan anak nya terpisah nantinya. Aku juga tidak mau Ivan akan berpikir aku hanya memainkan perasaan nya yah bisa saja dia berpikir aku mendekati nya karena Ferdi juga dekat dengan nya. Padahal aku sungguh mencintai nya Yul. Aku tidak mau kehilangan nya" Jelas Diya.


"Kamu tenang ya Diy, aku akan membantu mu untuk menjelaskan semua nya jika Ivan berpikir bukan-bukan tetang mu" Ucap Yuli menenangkan hati sahabatnya dengan menepuk-nepuk pundak Diya untuk memberi semangat kepada nya.


__ADS_2