
"Maaf telat, sudah lama menunggu?" Tanya Ivan menghampiri seseorang yang ia kenal dengan begitu baik. Mereka memang sudah janjian untuk ketemuan di sebuah cafe yang sangat di minati oleh anak remaja hanya sekedar nongkrong di sana. Cafe nya tidak terlalu besar. Namun, sangat nyaman untuk di tempati. Apa lagi ada ruang private di sana. Jadi jika ingin bertemu dengan klien untuk membahas tentang masalah bisnis bisa di tempat itu.
Di dinding-dinding cafe itu terdapat berbagai lukisan abstrak dari berbagai seniman. Dan cafe yang berdomisili warna brown itu terdapat tempat hiburan berupa karaoke. Jika ingin menyumbangkan lagu, bisa di sana secara gratis. Dan WiFi gratis juga tersedia di sana. Itu lah yang membuat cafe itu di minati banyak pengunjung. Apa lagi bagi para mahasiswa yang ada tugas di kampus nya. Mereka banyak nongkrong di sana menikmati WiFi gratis untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
"Gak terlalu lama kok, aku juga baru saja sampai" Sahut orang itu
"Ada apa? Tumben kamu mengajak ku ketemuan" Tanya nya lagi.
"Enggak, aku hanya yah sekedar ingin ngobrol sama kamu. Sudah lama juga kita tidak ketemu. Eh apa kabar anak dan istri mu?" Tanya Ivan.
"Oh, mereka baik kok. Dan Junior lagi aktif-aktif nya dia. Apa lagi sekarang sudah memasuki usia empat tahun"
"Wah, pasti bahagia sekali hidup mu mempunyai keluarga yang lengkap. Aku jadi iri sama kamu" Seru Ivan.
"Maka nya kamu cepat menyusul dong. Udah ada calon nya kan?" Tanya orang itu lagi.
"Sudah kok" Jawab Ivan mantap.
"Doain aja, sekarang kami dalam masa pendekatan" Tambah nya lagi.
"Jadi benar kamu sudah bisa membuka hati mu? Dan tidak menunggu gadis itu lagi?" Orang tadi tampak kaget.
"Gak, aku belum bisa membuka hati untuk gadis mana pun"
"Jadi"
"Karena gadis yang ku dekati sekarang adalah Diya gadis yang ku tunggu selama ini" Jawab Ivan bangga. Orang tadi tidak tahu saja nama gadis yang di maksud Ivan itu Diya. Di sangka nya dia sebutan lain dari ia atau beliau. Padahal Diya yang di maksud adalah nama gadis itu.
"Waw, kok bisa, memang berjodoh berarti kamu dan dia. Sudah tujuh tahun menunggu dan sekarang akhirnya ketemu juga. Gak jadi bujang lapok dong kamu ya" Gelak tawa orang tadi. Ivan tersenyum mendengar nya sembari menggeleng kepala nya melihat suami dari sepupunya itu.
"Bagaimana dengan bisnis cafe mu?" Tanya Ivan mengubah topik pembicaraan.
"Yah seperti yang kamu lihat. Lancar dan aman, Sekarang aku sedang membuka cabang baru di daerah Bengkalis. Kamu tahu sendiri kan cafe ku selalu ramai dengan pengunjung. Dan aku mencoba keberuntungan di kota Terubuk itu. Semoga saja disana juga di penuhi oleh pengunjung" Jelas orang tadi. Suami dari sepupu Ivan merupakan pebisnis. Ia membuka beberapa cabang di kota Pekanbaru itu. Dan sekarang ingin membuka di kota Bengkalis yang di juluki dengan kota Terubuk karena di sana terdapat banyak ikan Terubuk (jika tidak tahu ikan terubuk seperti apa, cari di google ya mak).
"Semoga usaha mu selalu lancar dan semoga di sana akan ramai dengan pengunjung seperti di tempat cafe mu yang baru" Doa Ivan.
"Ya, doain saja"
Seorang pelayan cafe datang memberikan dua gelas minuman.
"Silahkan Van di minum"
"Terima kasih" Tampa di tawarkan yang ke dua kalinya, Ivan meneguk minuman itu.
"Ini adalah minuman andalan dari kami Van. Kopi cappucino di cafe ku tiada duanya. Itu yang membuat para pengunjung kangen selalu dengan rasa kopi cappucino ku" Seru orang tadi dengan berbisik.
"Owh, iya memang ku akui rasa kopi cappucino nya sangat unik" Komentar Ivan.
"Aduh..." Tiba-tiba orang tadi meringis kesakitan memegang kepalanya yang teras nyeri.
"Kenapa?" Tanya Ivan panik.
"Gak tahu Van, Akhir-akhir ini kepala ku sering nyeri seperti ini. Seketika aku teringat peristiwa yang hampir merenggut nyawa ku" Seru orang tadi. Yah Dia orang tadi tak lain tidak bukan adalah Ferdi.
Ferdi lelaki yang sangat Diya cintai. Ferdi lelaki yang membuat Diya menunggu selama ini. Ferdi yang selalu membuat Diya menutup pintu hati nya untuk lelaki mana pun. Ferdi yang telah mengubah hidupnya penuh dengan warna dan semenjak kepergian lelaki itu membuat Diya jadi kesepian. Yah Ferdi lah orang nya.
Itu sebab nya mengapa Ivan meminta Diya melupakan Ferdi. Hal itu karena Ivan mengetahui bahwa lelaki yang di tunggu oleh Diya sudah memiliki keluarga kecil nya. Dan istri dari Ferdi itu adalah sepupunya. Anak dari adik papa nya Ivan.
Ivan tidak mengetahui jika Diya dan Ferdi adalah sepasang kekasih. Toh waktu mereka datang ke sekolah nya untuk melaksanakan pertandingan persahabatan Ferdi maupun Diya tidak menceritakan apa pun tentang mereka. Hingga pada akhirnya Ivan mengetahui itu semua dari buku diary milik Diya dan di sana terdapat sebuah foto lelaki yang selama ini Diya tunggu kedatangan nya. Ferdi orang nya. Entah lah Ivan juga tidak tahu masalah Ferdi dan Diya selama ini. Apa yang membuat Ferdi pergi meninggalkan Diya dan pada akhirnya Ia menikah dengan sepupu nya Ivan.
__ADS_1
Mungkin karena mereka tidak berjodoh maka nya terpisah. Sehingga Ivan memantapkan hati untuk mencuri hati Diya dan menjaganya sampai maut memisahkan mereka. Begitu lah pikir Ivan saat itu.
Toh Jodoh sudah ada yang mengatur bukan? Dan sekarang adalah hasil dari penantian nya selama ini. Bertemu kembali dengan gadis misterius yang selalu menghantui setiap malam nya.
Seperti Diya, Ivan pun menutup rapat-rapat pintu hatinya demi menantikan kedatang orang yang sangat berarti untuk nya. Dan sekarang, sepertinya Diya sudah memberi lampu kuning pertanda bahwa Ivan harus siap-siap jika harus maju ke lampu hijau.
Terkadang perasaan itu memang sulit untuk di tebak. Dulu Diya sangat menutup rapat hati nya, dan setelah bertemu dengan Ivan kembali ia merasa nyaman dan aman bersama laki-laki itu. Membuat sedikit demi sedikit hatinya terbuka.
Ivan mengerut kening nya mendengar apa yang di katakan oleh Ferdi.
"Peristiwa yang hampir merenggut nyawa nya?" Batin Ivan. Namun ia enggan menanyakan lebih lanjut peristiwa apa yang di maksud oleh Ferdi. Apa lagi Ferdi sedang meringis kesakitan saat ini. Tentu saja ia tidak tega bertanya lebih lanjut tentang apa yang pernah terjadi kepada suami sepupunya itu.
Ferdi masih memegang kepalanya yang masih nyeri. Sedikit memukul kepalanya sendiri untuk menghilangkan rasa nyeri di kepalanya. Mata nya terpejam dan kembali tangan nya menarik sedikit rambut di kepalanya.
"Sssss" Ringis Ferdi lagi.
"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit" Ajak Ivan.
"Gak usah Van. Sebentar lagi juga hilang kok" Jawab Ferdi.
"Sejak kapan kamu sakit seperti ini? Sonia tahu kamu sakit?" Tanya Ivan.
"Tidak, Sonia tidak tahu sama sekali. Dan aku mohon kamu jangan memberi tahu kepada ya. Aku tidak mau dia khawatir kepada ku. Apa lagi saat ini dia sedang tidak enak badan" Pinta Ferdi.
"Sonia sakit juga?" Tanya Ivan cemas.
"Sakit apa?" Tambahnya lagi.
"Sakit biasa, sakit di cari kok" Canda Ferdi. Ivan mengerut keningnya sungguh ia tidak mengerti apa maksud perkataan dari suami adik sepupunya itu.
Ferdi tersenyum melihat ekspresi Ivan yang kebingungan. Sedikit demi sedikit rasa nyeri di kepalanya mulai hilang.
"Dia hamil Van" Sontak Ivan ternganga mendengar nya.
Ferdi mengangguk membenarkan.
"Sudah jalan tiga bulan" Tambah Ferdi lagi.
"Berarti, saat dia pingsan di acara pembukaan cafe mu di wilayah Perawang itu....." Ivan menggantungkan perkataannya.
"Iya, dia sedang hamil saat itu. Baru empat minggu" Jelas Ferdi lagi.
Ivan menarik sedikit bibir kirinya. Tersenyum memikirkan bagaimana perasaan Diya saat ini jika Diya mengetahui bahwa Ferdi sudah memiliki keluarga kecil. Bahkan saat ini istrinya sedang mengandung anak kedua nya. Entah lah hati gadis itu pasti akan hancur berkeping keping. Bahkan bisa jadi hatinya akan sangat sulit di satukan kembali.
Penantian yang di lakukan oleh gadis itu tidak membuahkan hasil. Hanya ke sia-siaan yang ia dapat. Sungguh dirinya harus membuat gadis itu bahagia melupakan masa lalu yang membuatnya terpuruk seperti ini.
"Kenapa Van?" Tanya Ferdi melihat Ivan tersenyum seperti itu.
"Tidak, hanya memikirkan seseorang"
"Gadis itu?" Tanya Ferdi.
"Jangan bilang kamu memikirkan jika gadis itu mengandung anak mu" Tebak Ferdi. Ivan tersenyum mendengar nya. Sungguh saat ini dia tidak memikirkan arah ke sana. Namun, entah mengapa Ferdi menebak nya begitu saja.
"Makanya, kamu cepat nikah biar bisa merasakan indahnya berumah tangga" Saran Ferdi.
"Ya, doa kan saja. Semoga gadis ku akan membuka hatinya secepat nya" Pinta Ivan.
"Tapi bagaimana jika Ferdi mengetahui jika gadis yang Ivan harapkan itu adalah mantan kekasihnya? Apa dia akan mendukung Ivan seperti ini juga? Atau bersikap sebaliknya? Ah sudah lah. Kita lihat saja seperti apa alur cerita nya" Batin Ivan.
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong tentang penyakit mu? Apa kamu sudah memeriksanya ke dokter?"
"Belum, Aku belum memeriksa nya. Aku takut kemungkinan buruk menghampiriku. Aku tidak mau memikirkan itu semua. Aku hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecilku. Menikmati setiap detik kebersamaan kami. Terlebih melihat Junior tumbuh menjadi dewasa. Apa lagi sekarang Sonia sangat membutuhkan dukungan ku. Aku tidak mau dia tahu dan membuat nya kepikiran. Aku tidak mau nanti nya dia sedih dan kandungan nya terganggu" Jelas Ferdi.
"Kamu memang suami yang baik Fer. Tidak salah Sonia memilihmu sebagai suami" Puji Ivan. Ferdi tersenyum senang mendengar nya.
"Namun, kekasih yang buruk untuk Diya. Gadis itu kamu buat menunggu selama ini tanpa kamu memberi kabar kepadanya" Batin nya lagi.
"Oh ya Van..." Ferdi tidak melanjutkan perkataanya.
"Hallo. Ada apa sayang?" Kata Ferdi saat ponselnya berdering.
"Iya nanti aku belikan ya. Aku masih di cafe ada sedikit pekerjaan di sini yang harus aku selesaikan" Kata nya lagi. Ivan hanya diam tidak mau mengeluarkan suara saat suami istri itu sedang bertelepon.
"Sayang, disini ada Ivan juga lo, nih aku lagi bersamanya. Katanya ia akan menikah lo"
"Iya, nanti saat sampai di rumah aku akan ceritakan semua nya sama kamu ya. Sebentar lagi aku pulang kok"
"Iya sayang, nanti akan ku sampaikan" Ferdi menutup ponselnya.
"Van, Sonia titip salam untuk mu" Kata Ferdi memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Wakaikumsalam. Tadi kamu mau mengatakan apa Fer?" Tanya Ivan penasaran.
"Apa ya? Aku jadi lupa" Seru Ferdi.
"Kamu ini cepat benar lupa nya" Ivan tertawa.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Mulai dari masalah bisnis hingga sampai masalah pribadi pun di bahas nya.
"Ya sudah Van, aku duluan ya. Untuk minuman gak usah di pikirkan. Aku yang traktir kok. Sama saudara sendiri apa salahnya kan" Seru Ferdi mengernyitkan matanya. Ivan tersenyum
"Oke Van aku duluan ya. Setelah ini aku mau mampir ke sesuatu tempat. Istriku lagi ngidam sesuatu"
Ivan mengajukan jempol tanda menyetujui Ferdi pergi meninggalkan nya.
"Oh ya Van, Jam segini masih buka gak ya ayam geprek. Sonia lagi ngidam itu sih. Tidak bisa tidur dia nya menunggu ku pulang"
Ivan melirik jam dilihat nya sudah pukul 23.30 Wib.
"Kurang tahu sih aku. Ayam geprek nya terserah kan mau belinya di mana saja" Tanya Ivan.
"Iya, katanya sih terserah yang penting ayam geprek ya enak. Dia maunya sekarang Van gak mau besok. Nanti dia gak bisa tidur lagi karena pengen makan ayam geprek" Jelas Ferdi.
"Sebentar ya, aku telfon teman ku dulu. Kebetulan dia di restoran nya menu ayam geprek. Dan ayam geprek nya enak kok" Jelas Ivan mengambil ponselnya mencoba menghubungi orang yang di maksud.
"Iya, tiga porsi ya" Kata Ivan memesan tiga porsi ayam geprek kepada teman nya dan mengakhiri.
"Tiga porsi? Kenapa banyak sekali?" Tanya Ferdi.
"Untuk ku satu porsi dan kamu dua porsi" Jawab Ivan.
"Untungnya mereka mau membuat nya" Tambahnya lagi.
"Wah, syukurlah jika begitu. Anak ku tidak ngiler nanti nya"
"Ya sudah ayo kita ke sana"
"Ayo" Mereka pun menaiki mobil mereka masing-masing untuk pergi bersama mengambil pesanan mereka. Ivan memandu jalan karena Ferdi tidak tahu dimana letak restoran teman nya Iva tadi.
__ADS_1
Entah mengapa bertemu dengan Ferdi membuatnya sangat merindui gadis impian nya. Ketiak Ferdi menceritakan tentang kebahagiaan yang ia alami bersama keluarga kecilnya, membuat hati Ivan pilu. Tentu saja pilu secara Diya menunggu kekasih nya untuk kembali kepadanya malah ia pergi membangun sebuah biduk rumah tangga dengan gadis lain tampa memberi kabar apa pun. Seolah-olah Ivan lah yang menjadi Diya. Mungkin itu lah yang di namakan cinta sejati yah.
"Diy, Jika kamu mengetahui sebenarnya? Apa kamu masih menunggunya kembali? Apa kamu masih setia kepadanya? Apa kah hati mu masih seutuhnya milik nya? Pasti itu akan hancur. Selama ini kamu sudah hancur Diy. Aku tidak ingin kamu hancur untuk yang kesekian kalinya. Aku di sini Diy, aku lah yang akan mengobati lukamu dan menghapus air matamu" Ucap Ivan mantap berjanji pada dirinya untuk selalu menjaga gadis impian nya itu.